NovelToon NovelToon
Tiga Puluh Hari Untuk Arven Jatuh Cinta

Tiga Puluh Hari Untuk Arven Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: @Caramel_Machiato

Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.

Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.

Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.

Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 ( Aku Tidak Akan Pergi )

Pagi ini,

Alena masih memikirkan kondisi Arven..

Bahkan sejak malam hingga saat ini, Alena belum sedikitpun tidur.

Ia ingin mencoba mengabaikannya, tapi sayangnya ia justru semakin memikirkan Arven

Pagi ini tak ada pesan masuk dari Arven, biasanya Alena akan bertanya kemana Arven.

Tapi kali ini Alena lebih memilih diam..

Bukan karena ia marah kepada Arven, tapi ia sendiri merasa bingung dengan perasaannya.

...

Sudah hampir 15 menit Arven terus mengecek ponselnya.

Tak ada pesan dari Alena..

Arven pun merasa gelisah, ia takut jika Alena pergi begitu saja atau menjauhi dirinya.

Akhirnya Arven pun mengirim pesan kepada Alena pagi itu.

[Arven : Selamat pagi, Alena ]

[Arven : Udah bangun kan ?? ]

Arven menunggu cukup lama, hingga akhirnya Alena pun membalas pesan Arven

[Alena : Udahlah, Lo ga liat sekarang jam berapa ?]

Arven tersenyum membaca pesan Alena

[Arven : Gue cuma nanya udah bangun atau belum Alena, bukan ngajak perang. Galak banget]

[Arven : Hari ketujuh]

[Arven : Jangan lupa progres hari ini ]

Arven cukup lama menunggu balasan Alena..

Hingga akhirnya Alena pun membalas pesan miliknya.

[Alena : Hari ini gue ga ada misi]

Arven terdiam membaca pesan itu.

....

Dikantor Arven merasa sangat gelisah..

Biasanya ia dengan antusias menunggu kedatangan Alena..

Tapi kali ini, ia merasa takut..

Takut jika nantinya Alena menjauh dari dirinya

Arven takut jika Alena tau penyakitnya seperti apa

Untuk pertama kalinya..

Arven takut kehilangan seseorang dalam hidupnya.

...

Sore hari seperti biasa Alena pun datang ke kantor Arven..

Ia tetap menemui Arven..

Tapi ia tidak bersikap seperti biasanya.

Tidak membawa makanan

Tidak membawa misi

Tidak banyak bicara

Ia hanya duduk dan memperhatikan Arven yang sedang bekerja.

Hal itu justru membuat Arven tidak nyaman, hingga akhirnya Arven memberanikan dirinya bertanya.

" Lo kenapa sih Al ? "

Tanya Arven

" Ga kenapa-kenapa "

Jawab Alena dengan datar

" Lo marah soal kemarin ? "

Alena menghela nafasnya kasar, kemudian ia menatap wajah Arven.

" Cape ga sih "

" Cape kenapa ? "

" Harus pura-pura kuat terus setiap hari "

Untuk sesaat Arven kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Alena.

Saat Arven tiba-tiba batuk, Alena pun dengan cepat menghampiri Arven.

Alena mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Sebuah kotak obat yang berisi obat milik Arven didalamnya.

Arven pun mengenali obat itu.

" Itu.. "

" Obat lo " jawab Alena dengan cepat

" Dokter Reza yang nitip ke gue "

Arven menghela nafasnya

" Reza ngomong banyak ke lo ya ? "

" Engga "

" Dia cuma ngomong kalau pasien nya keras kepala "

Alena mengeluarkan obat itu..

Ia juga memberikan air yang tepat ada diatas mejanya.

" Minum "

" Alena "

" Minum Arven "

Arven pun menuruti perintah Alena, kali ini ia tidak membantah sedikitpun.

Alena kembali duduk di sofa setelah memastikan Arven yang sudah selesai meminum obatnya.

Kali ini Arven pun berpindah duduknya..

Ia berpindah duduk disamping Alena.

Setelah suasana cukup tenang, Arven mulai mengajak Alena berbicara.

" Lo takut sama gue ? "

" Takut ? Takut apa gue ? "

" Ya takut Deket sama orang sakit "

Alena langsung menoleh

" Kalau gue takut, ngapain gue kesini. Mending gue pulang "

Arven terdiam..

Tapi tidak dengan jantung nya yang berdebar dengan kencang.

" Kalau emang lo tau soal hidup lo, kenapa lo nyuruh gue bikin lo jatuh cinta sama gue ? "

" Karena gue pengen ngerasain jatuh cinta sebelum gue pergi Alena "

" Terus kalau ternyata gue juga jatuh cinta sama lo gimana ? "

" Ya jangan dong Al "

" Kenapa ? "

" Gue ga mau lo ngerasa sakit karena kehilangan Alena "

" Lo tau kan tentang penyakit gue ? Lo juga tau kan harapan gue buat bertahan hidup itu ga lama Alena "

Alena tersenyum pahit kepada Arven

" Lo cuma takut Arven "

" Lo pengecut "

" Lo terlalu mudah buat nyerah "

Arven terdiam dan mendengarkan apa yang Alena katakan kepadanya.

" Lo bisa bertahan lebih lama Arven, bisa "

" Lo bisa berbagi rasa sakit itu ke gue kalau lo mau "

Suara Alena mulai bergetar

" Jangan tahan semuanya sendiri Arven, ada gue sekarang. Lo bisa berbagi apapun itu ke gue "

Arven tanpa sadar meneteskan air matanya, namun dengan cepat ia menghapusnya.

...

Malam hari seperti biasa Arven mengirimkan pesan kepada Alena.

[Arven : Nilai lo 7/10 ]

Alena langsung membalas pesan itu

[Alena : Kenapa engga 10 sih ?]

[Arven : Karena hari ini, lo ga jalanin misi apapun]

Beberapa detik kemudian pesan pun kembali masuk dari Alena.

Pesan yang membuat Arven terdiam dan terpaku.

[Alena : Kata siapa gue ga jalanin misi ? ]

[Alena : Jalanin ko ]

[Alena : Tapi bukan misi buat bikin lo jatuh cinta]

[Alena : Misi gue hari ini itu, bikin lo bertahan hidup lebih lama Arven ]

Arven membaca pesan itu berkali-kali

Senyumnya perlahan memudar

Bukan karena ia sedih

Tapi karena ia merasa terharu.

Arven keluar kamar dan berdiri di balkon kamarnya.

Untuk pertama kalinya, setelah satu tahun ia tau melawan penyakitnya.

Ada seseorang yang tidak memandang dirinya sebagai pasien.

Tidak memandang sebagai CEO

Tidak memandang sebagai orang yang akan segera mati.

Tetapi sebagai orang yang layak di perjuangkan.

Arven tersenyum kecil..

Lalu ia berkata dengan pelan :

" Gimana caranya gue ga jatuh cinta sama Lo, Alena ? "

Arven membuka kembali ponselnya, kembali ia menatap foto Alena.

" Gue pengen hidup lebih lama, Alena "

" Gue pengen bisa lebih lama sama lo "

Arven menghapus air matanya...

Untuk pertama kalinya, ia kembali menangis karena seseorang yang berarti untuk dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!