NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

​Taksi yang membawa mereka kembali dari rumah sakit berhenti tepat di lobi hotel mewah tempat mereka menginap sebelumnya. Sepanjang perjalanan, Zara hanya diam dengan melipat tangan di dada, menatap keluar jendela dengan bibir yang mengerucut sebal. Fahri yang duduk di sampingnya hanya senyum-senyum sendiri, tahu betul kalau bom waktu di kepala istrinya tinggal menunggu momen untuk meledak.

​Begitu pintu kamar Suite Room nomor 2012 tertutup rapat, Zara langsung melempar tas kecilnya ke atas sofa marmer. Ia berbalik, berkacak pinggang, dan menatap Fahri dengan mata bulatnya yang melotot tajam.

​"Fahri! Kamu bener-bener ya!" omel Zara, suaranya naik satu oktav. "Bisa-bisanya di depan Reza tadi kamu malah ngelawak? 'Mas Kopi Mahal' lah, 'salam kelon' lah, terus pake bawa-bawa jurus paku bumi segala! Aku tuh udah jantungan, takut kamu beneran berantem sama dia di koridor rumah sakit!"

​Fahri dengan santai menaruh tas ransel usangnya di sudut ruangan, lalu berjalan menuju minibar untuk mengambil sebotol air mineral. "Lah, daripada saya tegang kayak mau ujian nasional, mending dibawa santai, Zar. Lagian si Reza itu tipe-tipe cowok yang kalau digertak pakai otot malah makin songong, tapi kalau dicengin pake logika langsung kena mental."

​"Tapi gak gitu juga, Fahri Ahmad!" Zara melangkah mendekat, jarinya menunjuk-nunjuk dada Fahri yang dilapisi kemeja flanel. "Terus apa-apaan tadi di kamar rawat? Bisa-bisanya kamu salah sebut nama Ibu! Bu Murni katanya? Bu Murni itu tukang gorengan di pesantren! Nama ibu aku tuh Bu Ratna! Malu-maluin banget tahu gak? Untung akting pura-pura pingsannya Ibu langsung bubar jalan gara-gara kamu, kalau gak, mungkin sekarang kita masih didebat sama Ayah!"

​Zara terus saja mengomel tanpa henti. Napasnya naik turun, pipinya yang putih bersih mendadak berubah menjadi kemerahan karena emosi, ditambah beberapa anak rambutnya yang keluar dari tatanan, membuatnya terlihat sangat berantakan namun... luar biasa menggemaskan di mata Fahri.

​Fahri yang sedang meneguk air mineralnya hampir saja tersedak. Ia menurunkan botolnya, matanya terpaku pada wajah Zara yang masih sibuk menggerutu, mengabsen semua kesalahan Fahri sejak dari lobi rumah sakit sampai koridor lift.

​"Terus ya, kamu tadi ngapain pake ngerangkul-ngerangkul segala pas di depan lift? Sengaja banget kan mau manas-manasin Reza? Iya tahu kita udah sah, tapi kan gak usah searogan itu juga di depan orang yang lagi emos—"

​Plop.

​Ucapan Zara terputus seketika saat Fahri tiba-tiba maju satu langkah dan menggunakan dua jari tangan kanannya untuk menjepit bibir Zara yang sejak tadi tidak bisa diam, membuat bibir gadis itu mengerucut seperti paruh bebek.

​"Mmpfhh?! Fahwiii!" protes Zara dengan mata membelalak sempurna, mencoba melepaskan jepitan jari Fahri.

​Fahri bukannya melepas, malah makin gemas. Ia sedikit menundukkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan Zara, menampilkan senyum usil andalannya yang sangat dekat.

​"Duh, Teteh Jakarta... kalau ngomel bibirnya biasa aja, gak usah digitu-gituin. Saya yang lihat jadi gemes sendiri, bawaannya pengen nyubit terus," bisik Fahri dengan nada bercanda yang mendadak membuat jantung Zara berdegup dua kali lebih cepat.

​Fahri melepaskan jepitan jarinya, lalu dengan lembut beralih mencubit kedua pipi Zara hingga gadis itu memekik pelan. "Lagian, kamu harusnya terima kasih sama suamimu yang cerdas ini. Kalau saya gak salah sebut nama jadi Bu Murni, sandiwara bapak dan ibumu gak bakal kebongkar secepat itu, Zar. Begitu nama 'Murni' disebut, jiwa kepo ibumu langsung meronta-ronta sampai lupa kalau lagi pakai masker oksigen."

​Zara memegangi kedua pipinya yang terasa panas—bukan karena cubitan Fahri, melainkan karena efek kedekatan mereka yang tiba-tiba. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar sampai ke leher.

​"Tau ah! Alasan aja kamu mah!" gumam Zara pelan, menyilangkan tangannya kembali untuk menutupi rasa gugupnya.

​Fahri tertawa kecil melihat tingkah laku istrinya yang mendadak salah tingkah. Ia berjalan menuju kasur king size yang empuk dan menjatuhkan dirinya di sana dengan posisi telentang, berbantalkan kedua tangannya.

​"Udah, gak usah ngomel lagi. Sekarang yang penting urusan di Jakarta udah beres. Orang tuamu udah tahu kalau kita sah, si Reza juga udah dapet pelajaran," ucap Fahri sambil menatap langit-langit kamar hotel.

"Sekarang, mending kamu istirahat. Nanti sore kita check-out beneran, terus langsung pulang ke Tasik. Abah sama Ummi pasti udah nungguin menantu kesayangannya pulang."

​Zara menoleh, menatap sosok Fahri yang kini memejamkan mata dengan wajah lelah namun tetap terlihat tenang.

Rasa kesal yang tadi menggebu-gebu di dadanya perlahan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menyusup ke lubuk hatinya. Di balik sifat tengil dan menyebalkannya, santri di depannya ini benar-benar telah menjadi benteng pelindung yang membuatnya merasa sangat aman.

​Kasur king size yang empuk itu berderit pelan saat Fahri membuka matanya. Setelah hampir dua jam terlelap untuk mengganti waktu tidurnya yang hilang di jalan tol, ia meregangkan otot-otot badannya yang kaku. Hal pertama yang ia lihat saat duduk adalah Zara, yang sedang bersandar di sofa dekat jendela, tertidur pulas dengan buku tebal yang terbuka di atas pangkuannya.

​Fahri tersenyum tipis. Ia bangkit berdiri tanpa suara, melangkah mendekat, lalu mengambil buku itu dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan istrinya. Setelah menyelimuti tubuh Zara dengan selimut miliknya, ia berjalan menuju cermin untuk merapikan peci hitamnya.

​"Eungh..." Zara melenguh, kelopak matanya perlahan terbuka karena merasakan sedikit pergerakan di dekatnya. Ia mengucek mata, menatap Fahri yang sudah rapi dan tampak bersiap untuk pergi. "Fahri? Kamu mau ke mana?"

​"Eh, kebangun ya? Maaf," ucap Fahri sambil menoleh. "Ini, saya mau keluar sebentar. Ada urusan mendesak di daerah Jakarta Selatan, mumpung lagi di ibu kota. Kamu mau ikut gak? Sekalian jalan-jalan, biar gak kuper-kuper amat di kamar terus."

​Zara meraba jaket flanel Fahri yang membungkus pundaknya, lalu menggeleng lemas. "Enggak ah... badanku rasanya remuk banget, Fahri. Pengen rebahan aja di sini sampai sore."

​"Ya udah, kalau gak mau ikut jangan dipaksa. Nanti kalau kamu pingsan di jalan, saya repot harus ngegendong bidadari Jakarta siang-siang bolong," guraunya dengan kedipan mata usil. "Kamu istirahat aja di sini. Dikunci pintunya dari dalam, jangan sembarangan buka pintu kalau bukan saya yang ketuk. Paham?"

​"Iya, paham, Ustadz Fahri..." jawab Zara malas, namun hatinya menghangat.

​Sebelum melangkah keluar pintu, Fahri sempat berhenti di meja lobi kamar untuk menekan tombol room service. "Halo, Mbak. Tolong antarkan menu Club Sandwich, jus alpukat tanpa gula, sama air putih hangat ke kamar 2012 ya. Sekarang. Terima kasih."

​Fahri menutup telepon, lalu menoleh ke arah Zara yang memperhatikannya dengan dahi berkerut. "Itu saya pesenin makanan. Jangan sampai gak dimakan ya. Saya tahu kamu tadi cuma makan bubur setengah mangkuk karena gengsi. Jangan sampai pas kita balik ke Tasik nanti, badan kamu makin mirip tripleks berjalan."

​"Fahri! Badan aku gak semirip tripleks ya!" semprot Zara ketus, namun wajahnya merona merah.

​Fahri hanya tertawa lepas, lalu melambaikan tangannya seiring pintunya yang tertutup rapat dengan bunyi klik yang halus.

​Suasana kamar kembali hening. Zara terdiam di atas sofa, memandangi pintu yang baru saja tertutup itu. Pandangannya kemudian beralih ke nampan makanan yang tak lama kemudian diantarkan oleh pelayan hotel—persis seperti menu yang dipesan Fahri, lengkap dengan jus alpukat kesukaannya tanpa gula yang bahkan ia sendiri belum pernah ceritakan pada Fahri. Dari mana cowok itu tahu?

​Zara menyuap sepotong roti ke dalam mulutnya, meresapi rasa hangat yang perlahan menjalar di dadanya.

​Pikiran Zara mendadak melayang pada masa lalunya bersama Reza. Dulu, selama hampir dua tahun bertunangan, jangankan memesankan makanan yang sesuai seleranya, Reza bahkan jarang sekali memikirkan hal-hal kecil seperti apakah Zara sudah makan atau belum. Bagi Reza, perhatian itu dinilai dari barang-barang bermerek, makan di restoran mahal yang tempatnya harus ditentukan oleh ego Reza sendiri, atau sekadar pamer di media sosial. Reza selalu menuntut pelayanan dari Zara, menuntut Zara tampil sempurna sebagai pendampingnya demi nama baik bisnis keluarga.

​Sementara Fahri?

​Santri yang penampilannya hanya modal kemeja flanel dan peci miring itu selalu menunjukkan perhatiannya lewat tindakan nyata yang spontan. Acts of service yang tulus. Fahri yang pasang badan memblokir kemarahan ayahnya, Fahri yang meminjamkan jaket tebalnya saat di mobil travel karena tahu Zara kedinginan, Fahri yang sengaja mengalihkan traumanya dengan banyolan konyol, dan kini Fahri yang memastikan perutnya terisi sebelum ditinggal pergi.

​Fahri tidak pernah mengumbar janji manis atau memamerkan kekuasaan, namun setiap tindakan kecilnya selalu berhasil membuat Zara merasa sangat dihormati dan dilindungi sebagai seorang wanita.

​Zara memeluk jaket flanel milik Fahri yang masih menyisakan kehangatan tubuh suaminya. Air mata haru menetes kecil di sudut matanya, namun kali ini bukan karena sedih. Di bawah atap hotel bintang lima ini, Zara menyadari satu hal: Tuhan tidak sedang menghukumnya lewat kegagalan pernikahan dengan Reza, melainkan sedang menyelamatkannya dengan mengirimkan seorang pelindung sejati asal Tasikmalaya ke dalam hidupnya.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!