Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Kabar Dari Rumah Sakit
"Tuan..." ujar Kirana sambil menggenggam ponselnya lebih erat dan mengangkat layar ke arah Aiden.
Wajahnya yang biasanya tenang terlihat pucat setelah membaca pesan yang baru saja masuk.
"Ada apa?" tanya Aiden sambil berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat untuk melihat isi pesan tersebut.
"Tolong baca ini." pinta Kirana sambil menyerahkan ponselnya.
Aiden segera membaca pesan yang tertera di layar, sorot matanya langsung berubah serius saat memahami isi pesan itu. Sementara suasana di dalam ruangan mendadak terasa lebih berat dibanding beberapa detik sebelumnya.
"Ayahmu pingsan?" tanya Aiden sambil mengembalikan ponsel itu.
"Iya," jawab Kirana sambil menelan ludah. "Pesannya dari Rendra."
"Kamu sudah menghubungi siapa pun?" tanya Aiden sambil mengambil kunci mobil dari atas meja.
"Belum," jawab Kirana sambil menggeleng pelan. "Saya baru membacanya."
"Hubungi keluargamu sekarang," pinta Aiden sambil mengenakan jasnya kembali. "Kita berangkat ke rumah sakit."
"Tuan tidak perlu ikut," tolak Kirana sambil berusaha tetap tenang.
"Aku tidak sedang meminta izin," balas Aiden sambil berjalan menuju pintu.
"Bos mau ke mana?" tanya Gavin sambil masuk ke ruangan dan langsung menghentikan langkahnya saat melihat ekspresi mereka berdua.
"Rumah sakit," jawab Aiden sambil mengambil dompetnya.
"Siapa yang sakit?" tanya Gavin sambil mengernyit bingung.
"Ayah saya," jawab Kirana sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Wajah Gavin langsung berubah.
"Kondisinya bagaimana?" tanya Gavin sambil berdiri lebih tegak.
"Kami belum tahu," jawab Kirana sambil menghela napas pelan.
"Kalau begitu saya ikut," putus Gavin sambil mengambil kunci mobilnya sendiri.
"Kamu tidak perlu ikut," tolak Aiden sambil menatap sahabatnya.
"Saya sopir cadangan," jawab Gavin sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu bukan sopir."
"Tapi saya setia."
Aiden memejamkan mata.
"Bos tidak mungkin mengusir saya sekarang," lanjut Gavin sambil berjalan mengikuti mereka keluar ruangan. "Kalau Bos mengusir saya saat ada keadaan darurat seperti ini, citra Bos sebagai CEO tampan akan rusak."
"Aku tidak pernah punya citra itu," bantah Aiden sambil menekan tombol lift.
"Punya," jawab Gavin sambil mengangguk yakin. "Setidaknya di kepala Bos sendiri."
Kirana yang berdiri di samping mereka tidak ikut menanggapi, pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus bermunculan sejak membaca pesan dari Rendra. Meskipun hubungannya dengan sang ayah tidak selalu dekat, pria itu tetap orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
"Angkat teleponnya," pinta Aiden sambil melirik Kirana yang terus mencoba menghubungi keluarganya.
"Tidak diangkat," jawab Kirana sambil menatap layar ponselnya.
"Coba lagi," pinta Aiden sambil membuka pintu lift yang baru saja tiba.
"Saya sudah tiga kali mencoba," jawab Kirana sambil melangkah masuk.
Gavin yang berdiri di belakang mereka memilih diam untuk pertama kalinya hari itu, bahkan dirinya yang biasanya tidak bisa berhenti bercanda tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk melontarkan komentar aneh.
"Tolong cepat," pinta Kirana kepada sopir beberapa menit kemudian sambil duduk di kursi belakang.
"Kita akan sampai secepat mungkin," jawab Aiden sambil duduk di sampingnya.
"Saya seharusnya pulang kemarin," gumam Kirana sambil menatap keluar jendela.
"Kamu tidak mungkin tahu ini akan terjadi," jawab Aiden sambil memperhatikan wajah wanita itu.
"Tetap saja," balas Kirana sambil menundukkan pandangan.
Kalimat berikutnya tidak pernah keluar, kekhawatiran yang memenuhi pikirannya membuatnya kehilangan keinginan untuk berbicara. Sementara itu, Aiden hanya duduk di sampingnya tanpa mencoba menghibur dengan kata-kata kosong yang tidak akan membantu apa pun.
"Telepon masuk," ujar Gavin sambil menunjuk ponsel Kirana yang kembali berdering.
"Kak Rani," jawab Kirana sambil segera mengangkat panggilan tersebut.
"Kirana, kamu di mana?" tanya Rani dari seberang telepon dengan suara yang terdengar lelah.
"Aku sedang menuju rumah sakit," jawab Kirana sambil duduk lebih tegak.
"Jangan panik dulu," pinta Rani sambil menarik napas panjang.
"Kondisi Ayah bagaimana?" tanya Kirana sambil menggenggam ponselnya erat.
"Sudah sadar," jawab Rani sambil mencoba menenangkan adiknya.
Kirana langsung memejamkan mata untuk pertama kalinya sejak menerima pesan itu, ia bisa bernapas sedikit lebih lega.
"Benarkah?" tanya Kirana sambil menahan emosinya.
"Iya," jawab Rani sambil mengangguk meskipun tidak terlihat. "Dokter masih melakukan pemeriksaan."
"Aku segera sampai,'' jawab Kirana sambil menatap ke depan.
"Pelan-pelan saja," pinta Rani sambil berusaha terdengar tenang. "Ayah juga menanyakanmu."
Panggilan itu berakhir beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi masih melaju di tengah kepadatan lalu lintas tetapi setidaknya kabar terbaru membuat beban di dada Kirana sedikit berkurang.
"Bagaimana?" tanya Aiden sambil memperhatikan perubahan ekspresi wanita itu.
"Ayah sudah sadar," jawab Kirana sambil mengembuskan napas panjang.
"Syukurlah," balas Aiden sambil bersandar ke kursinya.
"Saya pikir..." ujar Kirana sambil menghentikan kalimatnya sendiri.
"Kamu terlalu panik," lanjut Aiden sambil menatapnya.
"Mungkin," jawab Kirana sambil mengangguk pelan.
"Dan itu wajar," tambah Aiden sambil mengalihkan pandangannya ke depan.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara namun kali ini keheningan tidak terasa menyesakkan seperti sebelumnya.
"Kita sudah sampai," ujar Gavin sambil melihat bangunan rumah sakit yang mulai terlihat di depan.
"Terima kasih," jawab Kirana sambil segera membuka pintu begitu mobil berhenti.
"Tunggu," panggil Aiden sambil ikut turun.
"Saya bisa sendiri," tolak Kirana sambil menyesuaikan tas di bahunya.
"Aku tahu," jawab Aiden sambil berjalan di sampingnya. "Tetapi aku tetap ikut."
Kirana tidak membantah lagi, saat ini ia tidak punya tenaga untuk memperdebatkan hal-hal kecil.
"Kirana," panggil seorang wanita dari ujung koridor sambil melambaikan tangan.
"Kak," jawab Kirana sambil mempercepat langkahnya.
Rani langsung memeluk adiknya begitu mereka bertemu, wajah wanita itu terlihat lelah karena sejak pagi berada di rumah sakit tetapi setidaknya tidak terlihat panik seperti sebelumnya.
"Bagaimana kondisi Ayah?" tanya Kirana sambil melepaskan pelukan.
"Jauh lebih baik," jawab Rani sambil mengusap lengannya pelan.
"Boleh aku masuk?" tanya Kirana sambil menoleh ke arah pintu kamar perawatan.
"Tentu," jawab Rani sambil mengangguk.
"Ayah," panggil Kirana sambil memasuki ruangan dengan langkah hati-hati.
"Kamu akhirnya datang." jawab pria paruh baya itu sambil tersenyum lemah dari atas ranjang.
"Kondisi Ayah bagaimana?" tanya Kirana sambil duduk di samping tempat tidur.
"Masih hidup," jawab ayahnya sambil mencoba bercanda.
"Jangan bercanda seperti itu," tegur Kirana sambil menahan napas.
Melihat putrinya bereaksi seperti itu, pria tersebut justru tersenyum lebih lebar. Meskipun wajahnya terlihat pucat, semangatnya masih sama seperti biasanya.
"Kamu terlihat kurus," komentar sang ayah sambil memperhatikan putrinya.
"Ayah juga," balas Kirana sambil menggeleng pelan.
"Itu berbeda," bantah pria itu sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Bedanya apa?" tanya Kirana sambil mengangkat alis.
"Ayah memang tua," jawab pria itu sambil tertawa kecil.
Kirana akhirnya tersenyum tipis, senyum yang jarang muncul dalam beberapa minggu terakhir itu membuat Rani ikut merasa lega.
"Siapa mereka?" tanya sang ayah sambil melirik ke arah pintu yang masih terbuka.
"Mereka teman kerja," jawab Kirana sambil menoleh.
Aiden dan Gavin yang sejak tadi memberi ruang akhirnya masuk ke dalam ruangan.
"Selamat sore,'' sapa Aiden sambil mengangguk sopan.
"Selamat sore," sambung Gavin sambil ikut tersenyum.
"Terima kasih sudah mengantar anak saya," ujar sang ayah sambil menatap keduanya bergantian.
"Itu sudah seharusnya," jawab Aiden sambil berdiri tenang.
"Saya hanya ikut numpang," tambah Gavin sambil mengangkat tangan.
Suasana yang sebelumnya tegang perlahan berubah lebih hangat, namun tidak seorang pun di ruangan itu menyadari bahwa di ujung koridor rumah sakit seseorang baru saja tiba dan berhenti begitu melihat pintu kamar yang terbuka.
Rendra berdiri di sana sambil menatap ke dalam ruangan, wajah pria itu berubah saat melihat Aiden berada di sisi Kirana. Sementara keluarganya tampak menerima kehadiran CEO tersebut dengan baik dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, sebuah perasaan baru muncul di dalam dirinya. Perasaan takut, takut kehilangan.