Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA YANG KEMBALI TERBUKA
“Maira, ini Ibu. Tolong angkat teleponnya, Ibu mau bicara sama kamu!”
Layar ponsel pintar di atas meja rias berkedip, menampilkan barisan pesan singkat yang langsung membuat atmosfer kamar yang semula tenang berubah menjadi mencekam.
Maira, yang sedang memegang kuas eyeshadow, menghentikan gerakannya. Matanya menatap tajam ke arah layar itu dengan perasaan yang teramat kesal.
Mau apa lagi orang ini? batin Maira. Rahangnya mengatup rapat, menahan gemuruh yang tiba-tiba bangkit di dalam dadanya. Ia sama sekali tidak menggubris pesan itu dan memilih melanjutkan riasan matanya, mencoba abai.
Namun, benda pipih itu tidak membiarkannya tenang. Detik berikutnya, ponsel itu kembali berdering nyaring. Getarannya di atas meja kayu terdengar seperti ketukan egois yang memburu. Suara dering itu terus berulang, menembus gendang telinga dan membuat kepala Maira berdenyut pusing.
Hilang kesabaran, Maira menyambar ponselnya dengan sentakan kasar. Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan benda itu ke telinganya tanpa menunggu si penelepon bersuara.
“Saya bukan Maira,” jawabnya singkat, dingin, dan penuh penekanan.
Tanpa memberikan kesempatan bagi suara di seberang sana untuk membalas, Maira langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Jari-jarinya yang gemetar dengan cepat bergerak di atas layar, menekan menu pengaturan, lalu memblokir nomor itu secara permanen. Ia melempar ponselnya ke atas kasur seolah benda itu baru saja membakar tangannya.
Malam itu, Maira sebenarnya sudah bersiap untuk pergi clubbing dengan teman-temannya. Gaun malam hitam ketat sudah melekat di tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang pucat. Riasan wajahnya malam ini sengaja dibuat lebih tebal dari biasanya—sebuah topeng yang selalu ia gunakan untuk menyembunyikan kerapuhan jiwanya.
Tepat saat ia selesai merapikan lipstik merah menyala di bibirnya, sebuah suara ketukan terdengar dari arah depan. Rumah peninggalan neneknya yang sepi itu mendadak terasa asing.
Tok... tok... tok...
Ketukan itu terdengar tidak sabaran. Maira menghela napas panjang, mengira itu adalah ojek daring yang ia pesan atau barangkali sahabatnya yang menjemput.
“Iya, bentar!” teriak Maira sembari melangkah lebar, berjalan ke arah pintu depan.
Namun, begitu selot pintu digeser dan daun pintu terbuka, seluruh pasokan udara di paru-paru Maira seolah tersedot habis. Maira terdiam sesaat, tubuhnya kaku seperti batu. Matanya menatap tajam, penuh dengan kilatan amarah dan luka mendalam ke arah sosok paruh baya yang berdiri di ambang pintu. Orang itu tak lain adalah ibunya sendiri. Wanita yang selama bertahun-tahun ini telah membuangnya.
Rasa syok itu dengan cepat berubah menjadi kepanikan yang membakar. Saat Maira bergerak cepat hendak menutup kembali pintu rumahnya, tangan ibunya bergerak tidak kalah cepat. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, tangan ringkih itu menahan pinggiran pintu, mencegah Maira menguncinya dari dalam.
“Ra, tolong... Ibu mau bicara sama kamu. Tolongin Ibu, Nak,” ucap ibu Maira yang bernama Maya. Suaranya bergetar, sarat akan keputusasaan.
Maira mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga, tidak peduli jika tangan ibunya akan terjepit. “Jangan ganggu saya! Saya tidak mau mendengar omongan apa pun dari Anda!” sentak Maira. Panggilan 'Ibu' telah lama mati di lidah dan hatinya.
“Maira... Maira, tolong maafin Ibu...” Isakan Bu Maya akhirnya pecah. Air matanya lolos begitu saja, mengalir membasahi pipinya yang kini tampak begitu keriput dan kusam dimakan usia.
Melihat air mata itu, hati Maira tidak melunak. Justru rasa perih yang teramat sangat menusuk ulu hatinya. Di mana air mata itu saat ia membutuhkannya dulu?
“Saya tidak butuh permintaan maaf Anda. Saya hanya ingin Anda jangan pernah lagi muncul di hadapan saya, seperti biasanya!” ucap Maira dingin, tanpa sudi menatap mata ibunya. Bagi Maira, tatapan wanita itu hanya akan menarik kembali monster-monster dari masa lalunya.
Dengan satu sentakan penutup, Maira berhasil melepaskan tangan Bu Maya dari celah pintu. Ia menutup pintu kayu tebal itu dengan keras. Suara dentuman pintu yang beradu dengan kusen menggema di dalam rumah sepi itu, mengabaikan suara tangisan dan ketukan lirih Bu Maya yang masih terdengar dari luar.
Di balik pintu yang tertutup, Maira menyandarkan punggungnya. Napasnya memburu terengah-engah. Dadanya bergemuruh hebat menahan emosi yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.
Detak jantungnya berpacu liar. Sialan, kemunculan wanita itu barusan bertindak seperti sakelar otomatis. Bayangan-bayangan hitam, aroma obat ngengat yang pekat, dan trauma tentang masa kecilnya berputar kembali di otaknya bagai film dokumenter terkutuk.
Maira mencengkeram kepalanya sendiri, meremas rambutnya yang sudah tertata rapi.
Kenapa... kenapa saat gue mulai bisa tenang dengan kehidupan ini, selalu ada aja hal yang bikin hancur ketenangan gue? batin Maira menjerit. Air matanya menggenang, tapi ia menolak untuk menangis di sini. Ia tidak boleh terlihat lemah.
Drtt... drttt... drt...
Ponsel Maira yang tergeletak di kamar kembali bergetar hebat. Maira melangkah kasar mendekati kasur dan meraih benda itu. Layarnya menampilkan sebuah nama: “Naomi call”. Maira hanya menatap layar yang menyala itu dengan pandangan kosong, sama sekali tak berniat mengangkatnya. Kepalanya terlalu bising untuk mendengar suara siapa pun saat ini.
Saat ponsel itu akhirnya berhenti berdering karena tidak terjawab, beberapa pesan beruntun dari Naomi masuk secara instan.
“Ra, Lo masih dimana? ini gue udah di club.”
“Cepetan anjir, Rayn nanyain Lo terus.”
“Kabarin gue kalo Lo udah di depan pintu masuk club.”
Deretan pesan itu hanya ia baca dari gelembung notifikasi di layar kunci tanpa niat untuk membukanya. Maira menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya yang hampir meledak. Ia berjalan mendekati jendela, menyibak sedikit gorden tipis untuk memastikan bahwa ibunya sudah pergi dari halaman rumah. Setelah melihat siluet wanita tua itu berjalan menjauh di bawah temaram lampu jalan, Maira langsung menyambar tas kecilnya.
Ia harus pergi. Ia harus melangkah keluar malam ini, menuju bisingnya dunia malam, untuk setidaknya menenggelamkan bayang-bayang trauma yang terlintas kembali di benaknya akibat kemunculan ibunya tadi. Baginya, alkohol dan dentuman musik adalah satu-satunya obat bius yang bisa membungkam isi kepalanya.
Tiga puluh menit kemudian, Maira tiba di depan kepulan asap dan lampu neon warna-warni sebuah club malam ternama di pusat kota. Ia berjalan masuk menembus penjagaan di pintu depan. Begitu melangkah ke dalam, aroma alkohol yang bercampur dengan parfum mahal dan asap rokok langsung menyengat indra penciumannya.
Dentuman musik DJ berfrekuensi rendah seolah menggetarkan lantai yang ia pijak.
Tanpa peduli untuk mencari di mana keberadaan Naomi ataupun Rayn yang sejak tadi menunggunya, Maira langsung melangkah lurus menuju meja bar yang terletak di sudut ruangan.
“Vodka, double shot,” ujar Maira setengah berteriak pada bartender di balik meja, mencoba mengalahkan riuh musik.
Begitu gelas kecil berisi cairan bening itu disodorkan, Maira langsung meneggaknya dalam satu kali tegukan. Rasa membakar langsung menjalar dari tenggorokan hingga ke perutnya. Tidak cukup sampai di situ, ia memesan lagi, dan lagi. Ia melampiaskan seluruh amarah, kekecewaan, dan rasa sesak di dadanya ke dalam minuman beralkohol tinggi itu. Ia ingin mabuk. Ia ingin jiwanya mati rasa.
Beberapa waktu berlalu, efek alkohol mulai bekerja. Saat Maira sudah berada dalam kondisi setengah sadar—di mana pandangannya mulai mengabur dan kepalanya terasa berputar—ia memutuskan untuk beranjak dari kursi bar. Dengan langkah yang agak limbung, ia berjalan membelah kerumunan manusia yang sedang berjoget ria, tenggelam menikmati musik DJ di lantai dansa.
Maira berniat mencari toilet atau mungkin udara segar. Namun, tepat saat ia melewati area yang sedikit temaram di dekat pilar besar, matanya menangkap dua siluet tubuh yang sangat ia kenal di bawah kilatan lampu strobe yang berkedip-kedip cepat.
Langkah kaki Maira terhenti seketika. Rasa pusing di kepalanya mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh.
Itu Naomi dan Rayn.
Namun, apa yang sedang mereka lakukan di sudut gelap itu benar-benar membuat Maira mematung di tempat. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Maira melihat dengan mata kepalanya sendiri, Naomi—sahabat yang selama ini menjadi tempatnya bersandar—sedang berciuman dengan sangat mesra di bawah remang lampu club dengan Rayn, kekasihnya sendiri. Pria yang katanya tulus mencintainya.
Kejadian itu telak membuat Maira semakin kesetanan. Rasa sakit hati, dikhianati, dan tidak dihargai menumpuk menjadi satu pusaran amarah yang dahsyat. Dengan langkah gontai namun sarat akan emosi yang meledak-ledak, ia berjalan cepat memotong kerumunan menuju ke arah mereka berdua.
Plakk!
Satu tamparan keras dan nyaring mendarat sempurna di pipi kanan Rayn, mengalahkan suara bising musik di sekitar mereka untuk beberapa detik. Tenaga Maira begitu besar hingga membuat wajah Rayn terlempar ke samping.
Naomi dan Rayn terlonjak syok. Mereka terengah-engah, menatap Maira dengan mata melotot tidak percaya. Wajah Rayn seketika memucat saat menyadari siapa yang berdiri di depan mereka dengan napas memburu dan mata yang merah padam.
“Bajingan!” desis Maira, suaranya bergetar menahan tangis yang kini bercampur amarah yang meluap. “Mulai sekarang kita putus!”
Tanpa memberikan kesempatan bagi keduanya untuk bersuara, Maira langsung membalikkan badan. Ia melangkah pergi keluar dari tempat terkutuk itu dengan air mata yang akhirnya luruh, merusak riasan wajahnya.
“Ra... Maira! Tunggu, gue bisa jelasin!” teriak Rayn, mencoba mengejar langkah Maira yang bergerak cepat menembus kerumunan.
Namun, baru dua langkah Rayn bergerak, sebuah tangan dengan kuku-kuku cantik menahan lengannya dengan kuat. Itu tangan Naomi.
“Rayn, biarin ajalah. Toh dia udah tahu,” ucap Naomi santai, tanpa ada guratan rasa bersalah sedikit pun di wajah cantiknya.
“Tapi, Nom, Maira...” Rayn tampak bimbang, matanya masih memandang ke arah pintu keluar di mana punggung Maira perlahan menghilang.
“Udah, kita have fun lagi aja. Ngapain dipikirin,” ucap Naomi acuh tak acuh, lalu menarik kembali tubuh Rayn ke dalam pelukannya. Rayn hanya bisa terdiam, pasrah menatap ke arah luar sementara dirinya kembali ditarik masuk ke dalam kegelapan club.
Sementara itu, Maira sudah berada di luar. Ia berjalan menyusuri trotoar jalan raya yang sepi di bawah langit malam yang dingin. Tubuhnya oleng ke kanan dan ke kiri akibat pengaruh alkohol yang kembali menguasai kesadarannya yang retak. Air matanya mengalir deras, membasahi leher dan dadanya. Ia tidak tahu bagaimana cara pulang, pikirannya mati total. Ia merasa berjalan di atas duri, hancur lebur tanpa sisa.
Entah bagaimana caranya, dengan sisa-sisa kesadaran yang hampir habis, Maira akhirnya berhasil sampai kembali ke rumah peninggalan nenek dari ayahnya. Rumah tua yang sunyi itu menyambutnya dengan keheningan yang mencekam.
Maira melangkah terseok-seok masuk ke dalam kamar mandi, lalu menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas lantai keramik yang dingin. Di dalam ruangan sempit itu, tangis Maira yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah sejadi-jadinya.
“Haaaaaa...! Rayn... Naomi... kalian semua sialan! Bajingan! Keparat!” teriak Maira histeris. Suaranya menggema pilu, membentur dinding-dinding kamar mandi yang bisu.
Ia memukul-mukul lantai keramik dengan kepalan tangannya hingga memerah. Rasa perih di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya dada Maira saat ini.
“Tega Lo berdua ngekhianatin gue! Tega!” jeritnya lagi, meratapi nasibnya yang begitu malang. Orang-orang yang ia jadikan pelarian dan pegangan hidup ternyata adalah orang-orang yang paling dalam menghujamkan pisau ke punggungnya.
Maira mendongakkan kepalanya yang terasa berat ke atas langit-langit kamar mandi, matanya yang sembap menatap kosong ke kekosongan.
“Tuhannn... di mana Lo?!” teriaknya dengan suara parau yang menyayat hati. “Kenapa Lo bikin gue hancur kayak gini? Buat apa Lo nyiptain gue kalau cuma buat bikin gue menderita?!”
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya yang bergetar. Sebuah protes keras kepada Sang Pencipta yang selama ini ia rasa tidak pernah adil padanya. Pikirannya kini sudah kalut total. Tidak ada lagi waras yang tersisa di kepala Maira. Hari ini benar-benar menjadi hari yang paling hancur, titik paling rendah di dalam sejarah hidupnya yang malang.
Setelah suaranya habis dan napasnya menyengal, Maira tiba-tiba terdiam. Di tengah kesunyian kamar mandi yang dingin itu, dalam posisi meringkuk memeluk lututnya sendiri, benaknya justru perlahan ditarik paksa mundur ke belakang. Di bawah pengaruh sisa alkohol dan rasa sakit yang bertubi-tubi, ia terdiam mengingat kembali sebuah trauma kelam di masa lalu—sebuah titik awal yang menjadi akar dari seluruh kehancuran hidupnya yang sekarang.