NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Skenario Hari Minggu

Sisa malam di kafe modern itu berubah menjadi siksaan perlahan bagi Doni. Dia tidak berani membalas pesan Olivia, melainkan langsung menyusupkan ponselnya dalam-dalam ke saku celana. Sepanjang sisa makan malam, cheesecake pesanan Marcella terasa sehambar kertas di lidahnya. Di seberang meja, Olivia dengan santai melahap mi goreng spesialnya sambil sesekali menanggapi cerita Marcella dengan tawa renyah. Kontras yang mengerikan itu membuat kepala Doni berdenyut kaku sampai mereka pulang.

Keesokan paginya, hari Minggu yang cerah sama sekali tidak membawa ketenangan.

Begitu membuka mata, hal pertama yang dilakukan Doni adalah memeriksa ponselnya. Begitu layar menyala, baris pesan dari Olivia semalam masih bertengger di sana, seolah memperingatkannya bahwa hari penjemputan itu adalah hari ini.

Berusaha mengusir rasa cemas yang mulai menggerogoti pikirannya, Doni buru-buru bangkit. Dia perlu mengalihkan pikirannya. Dia mengganti pakaiannya dengan jersey Chelsea kebanggannya, lengkap dengan celana training. Dia melangkah keluar dari kamar kos-nya untuk jogging santai di sekitar area kompleks. Dia berharap hembusan angin pagi dan keringat bisa menjernihkan otaknya. Namun, tidak berhasil. Setiap langkah kakinya yang beradu dengan aspal justru berirama sama dengan detak jantungnya yang cemas. Bayangan wajah meremehkan Olivia dan tuduhan 'pencuri' itu terus berputar-putar di kepalanya. Sampai dia tiba kembali di depan pagar kos-kosannya, bayangan itu tak pernah keluar dari pikirannya.

Doni duduk dengan napas terengah-engah. Sambil melepas tali sepatunya, dia mulai memikirkan kegiatan lain yang bisa mengalihkan pikirannya. Setibanya di kamar kos, dia akhirnya mempunyai ide saat dia melihat tumpukan baju kotornya. Dia langsung bergerak mengambil ember, sikat, dan deterjen. Kamar mandi kos menjadi pelampiasan berikutnya. Doni mencuci baju-bajunya, menyikat celana jeans-nya dengan tenaga ekstra, membersihkan sol sepatu kuliahnya hingga bersih, lalu lanjut menyapu dan mengepel setiap sudut kamar kosnya yang sebenarnya tidak terlalu kotor. Dia butuh kesibukan agar otaknya berhenti memikirkan situasi tadi malam.

Setelah semua sudut kamar tampak bersih dan mengkilat, Doni yang merasa kelelahan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan napas terengah-engah. Dia menatap langit-langit kamar, mencoba tenang. Namun, begitu matanya tidak sengaja melirik ke arah meja belajar, dia melihat dua tumbler biru Chelsea FC yang merupakan miliknya dan milik Olivia berdiri berdampingan. Pikiran itu akhirnya datang lagi. Rasa frustrasinya kembali naik. Salah paham ini benar-benar menjebaknya.

Drrt... drrt...

Ponselnya di atas kasur bergetar. Doni refleks terbangun dari posisinya, mengira itu dari Olivia. Namun saat layarnya dibuka, ternyata itu pesan dari grup WhatsApp teman sekelasnya.

Guys, jangan lupa siang ini jam 1 kita kumpul di kosan adit ya buat ngoding lagi. Modul backend buat aplikasi e-commerce kita udah harus cepet2 kita kelarin. Minggu depan progresnya udah harus di demo ke dosen soalnya.

Doni memijit pangkal hidungnya yang terasa pening. Benar, tugas project mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak.

Siang harinya, atmosfer di kosan Adit sangat kontras dengan isi kepala Doni. Tiga temannya sibuk menatap layar laptop masing-masing, jemari mereka menari cepat di atas keyboard mengetik baris-baris kode pemrograman. Sementara Doni, yang biasanya paling cepat mendeteksi error atau bug dalam coding, hari itu berkali-kali melakukan kesalahan sepele.

“Don, lo masukin syntax-nya kok malah muter-muter ke sini sih? Ini database-nya jadi nggak sinkron”, tegur Rian, salah satu anggota kelompok Doni, sambil menunjuk layar laptop-nya. “Lo kenapa sih dari tadi nggak fokus banget? Kurang tidur? Pacaran mulu, sih”, ejek Rian diikuti tawa dari teman-temannya yang lain.

“Ah... sori, sori. Gue agak pusing aja hari ini”, bohong Doni, buru-buru menghapus baris kode yang salah.

Drrt... drrt...

Ponsel Doni yang tergeletak di samping laptop bergetar pendek. Sebuah pesan baru tanpa nama pengirim muncul di layarnya.

Kak Doni, ini udah mau selesai latihannya. Kata pelatih sih mungkin sekitar jam 5an.

Mata Doni terbelalak melihat pesan itu. Dilema besar yang sejak tadi berusaha dia lupakan, tiba-tiba diingatkan kembali. Pesan Olivia muncul bagaikan deadline dari Bos yang harus dikejar. Doni melirik sudut bawah kanan laptop-nya. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore lewat sembilan belas menit. Kepanikannya naik ke puncaknya. Jika dia memilih mengabaikan pesan Olivia dan tetap tinggal di sini untuk menyelesaikan tugas kelompoknya, anak SMA itu bisa saja langsung menelepon Marcella dan membeberkan semuanya. Tapi jika dia pergi, dia harus bersiap menghadapi jebakan apa pun yang sudah disiapkan Olivia untuknya di sore hari. Waktunya tersisa empat puluh menit untuk memutuskan.

Doni menarik napas panjang, menutup laptop-nya dengan cepat hingga membuat teman-temannya menoleh bingung.

“Guys… gue... ada urusan mendadak. Bentar doang sih, nanti gue balik lagi ke sini buat lanjutin. Gue tinggal bentar, ya!” ucap Doni kaku sambil menyambar kunci motor dan jaketnya di atas meja. Akhirnya dia memutuskan untuk menjemput Olivia.

Doni memacu sepeda motornya membelah jalanan sore yang mulai mendingin. Pikirannya kalut. Sepanjang jalan, dia menyusun berbagai kalimat di kepalanya untuk menggertak balik anak SMA itu, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa dia adalah seorang mahasiswa yang tidak sepatutnya dikendalikan oleh remaja belasan tahun.

Namun, begitu roda motornya melewati gerbang sekolah Olivia yang terbuka separuh, seluruh keberanian yang dia kumpulkan sepanjang jalan mendadak menguap.

Suasana sekolah di hari Minggu terasa sangat sepi, kontras dengan bunyi pantulan bola basket dan suara decit sepatu yang terdengar dari arah lapangan basket. Doni memarkirkan motornya di bawah pohon rindang di seberang lapangan itu, sengaja tidak mematikan mesinnya agar bisa langsung pergi begitu Olivia naik.

Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul lima kurang dua menit. Seharusnya sebentar lagi Olivia selesai. Doni bisa melihat para siswi yang masih sibuk berlatih dari tempatnya menunggu, walaupun wajah mereka tidak terlalu jelas karena cukup jauh.

Tak lama kemudian, suara peluit panjang terdengar dari pinggir lapangan, disusul oleh suara riuh anak-anak perempuan yang mulai bubar. Jantung Doni berdegup kencang. Dia meremas stang motornya, menatap lurus ke arah lapangan. Dari banyaknya siswi, sesosok gadis berjalan menghampirinya.

Adik dari kekasihnya yang sore ini memainkan peran ‘tuan putri’. Walaupun, penampilannya tampak tidak mencerminkan perannya itu. Rambut panjangnya diikat asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang basah oleh keringat menempel di pelipis dan lehernya. Dia mengenakan jersey latihan tanpa lengan berwarna merah, memperlihatkan lengan atletisnya yang sekilas tampak berkilau diterpa cahaya matahari sore. Sebuah handuk kecil dia kalungkan di lehernya. Dia berjalan sambil menenteng tas olahraga dengan santai. Visualnya terlihat begitu segar, namun entah mengapa memancarkan aura intimidasi yang kuat bagi Doni.

Begitu sepasang mata tajam Olivia menangkap sosok Doni yang menunggu di atas motor, sudut bibirnya langsung terangkat. Senyuman puas seorang bos yang melihat ‘budak’-nya patuh pada perintah.

Olivia berjalan menghampiri, mengabaikan beberapa teman satu timnya yang menatap bingung ke arah Doni. Begitu tiba di samping motor, aroma keringat bercampur dengan wangi tipis dari sabun wajah langsung mengusik penciuman Doni, membuat pria itu refleks menahan napas.

“Makasih ya, Kak Doni yang penurut. Tepat waktu banget. Mantap!” ucap Olivia tersenyum tipis menahan tawa, nadanya terdengar renyah tanpa beban sama sekali, seolah obrolan menegangkan di kafe semalam tidak pernah terjadi.

“Bawel… cepetan naik!” sahut Doni ketus, matanya menolak untuk menatap wajah Olivia langsung. Dia hanya ingin urusan ini cepat selesai.

Olivia terkekeh kecil melihat tingkah Doni. Dia terlebih dahulu menaikkan tasnya ke belakang punggung Doni, lalu dengan gerakan luwes naik ke atas jok belakang. Meski terhalang tas besar itu, jok motor matic Doni yang sempit tetap membuat jarak mereka terkikis.

Sebelum Doni sempat menarik gas, dia merasakan sepasang lengan terjulur melewati sisi kanan dan kiri tas itu, lalu dengan sengaja melingkar erat di pinggangnya. Tubuh Doni mendadak kaku seperti batu.

“Liv! Kamu ngapain?!” Doni menoleh panik, mencoba melepaskan tangan Olivia dari pinggangnya.

Olivia justru sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan hingga tas olahraganya menekan punggung Doni, lalu berbisik pelan tepat di dekat telinga pria itu, membuat bulu kuduk Doni menegang seketika.

“Biar nggak jatuh, Kak”, jawab Olivia santai. “Oh iya, Kak... kita nggak langsung pulang ke rumah, ya? Ada yang mau aku datengin dulu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!