Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.
Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.
Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.
Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Sarapan pagi pertama.
"Kenapa kamu enggak menyentuh makananmu, Jenny?" tanya Nyonya Malinda melihat cucu perempuannya hanya asyik bermain ponsel sejak tadi.
"Aku tidak berselera, Oma," jawab Jenny tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
Asia menoleh sekilas. Dia tahu betul alasan sebenarnya gadis itu tidak menyentuh makanannya adalah karena hidangan pagi ini dimasak olehnya.
Hugo, yang sejak tadi dengan tenang menyantap sarapannya, mendongak melihat ke arah putrinya. Namun, pria itu memilih diam dan tidak berkata apa-apa. Membiarkan situasi tersebut lewat apa adanya.
"Bolehkah aku bawa roti dan susu saja Oma? Itu buat makan siang aku," pinta Jenny kemudian.
"Boleh. Bibi, siapkan roti dan susu untuk Jenny," titah Nyonya Malinda pada pelayan rumah.
"Baik, Nyonya," sahut bibi pelayan sigap.
Jenny menggeser menjauh piringnya, lalu kembali sibuk bermain ponsel sembari menunggu bekalnya disiapkan.
"Ayo makan, Nero," pinta Nyonya Malinda, beralih membujuk cucu bungsunya.
"Enggak." Nero melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah cemberut.
"Tapi kamu harus makan. Anak kecil itu harus makan banyak supaya cepat besar," bujuk Nyonya Malinda lagi.
"Tapi aku enggak mau!" tolak Nero keras kepala.
"Mau makan denganku?" tawar Asia mencoba mencairkan suasana.
"Sama aja, aku enggak mau!" Nero menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak mentah-mentah tawaran ibu tiri barunya.
Di sudut meja, Jenny melirik dengan sudut matanya. Ia tampak puas melihat adiknya bersikap menolak dan tidak bersahabat pada Asia.
"Sepertinya sudah siang. Aku harus berangkat sekolah," ujar Jenny berdiri dari kursinya saat melihat jam dinding.
"Ini bekalnya, Nona," kata bibi pelayan sambil menyerahkan sebuah kantong berisi roti dan susu.
"Terima kasih, Bi," ujar Jenny ramah pada bibi pelayan, namun segera menarik senyumannya dan memasang wajah datar saat tatapannya melewati Asia.
"Oma, aku berangkat." Jenny memeluk Nyonya Malinda erat dan mencium pipinya sayang.
Setelah itu, ia menghampiri kursi roda ayahnya. "Aku berangkat, Papa," pamitnya sembari mencium punggung tangan Hugo dengan takzim.
"Aku berangkat!" teriak Jenny dengan suara sengaja dikeraskan, melangkah begitu saja melewati Asia. Dia benar-benar enggan berpamitan atau sekadar menoleh pada wanita itu.
"Hati-hati!" teriak Nyonya Malinda melepas kepergian cucunya.
Beliau kemudian melirik cemas pada Asia karena melihat menantu barunya itu sama sekali tidak dipedulikan oleh Jenny. Sementara itu, Asia hanya menarik kursinya untuk duduk dengan tenang. Dia sendiri memang belum sempat sarapan. Ada secuil rasa tidak nyaman di hatinya karena Jenny bersikap menganggapnya tidak ada, namun Asia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya.
"Cepat sarapan," kata Hugo memecah keheningan, matanya tertuju pada Asia.
"Baik," jawab Asia singkat.
Karena melihat Asia tidak memberikan reaksi berlebihan atau mendramatisir keadaan, Nyonya Malinda akhirnya bisa bernapas lega dan berusaha mengabaikan sikap tidak sopan cucunya tadi.
Hugo juga mulai menyelesaikan sarapannya. Ia menyeka mulutnya dengan serbet, lalu menoleh ke arah ibunya. "Aku berangkat," kata Hugo.
Mendengar itu, Asia segera berdiri dari kursinya lalu melangkah mendekat ke arah Hugo. Pria itu melirik dengan sorot mata ingin tahu, bingung kenapa wanita ini tiba-tiba menghampirinya.
"Aku antar," kata Asia sambil memegangi kedua pegangan kursi roda Hugo.
Hugo sama sekali tidak berpikir akan dibantu seperti ini. Namun, ia memilih diam dan menerima perlakuan itu karena di depan semua orang—terutama ibunya—mereka memang harus tampak sebagai sepasang suami istri yang harmonis.
"Aku berangkat, Ibu," pamit Hugo sekali lagi.
"Ya, hati-hati di jalan," sahut Nyonya Malinda dengan senyum hangat.
"Nero, Papa berangkat. Makanlah walau sedikit," pinta Hugo pada putra bungsunya.
Bocah itu tidak menyahut secara verbal, ia hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan perhatian dari mainannya.
"Ibu, aku antar Mas Hugo dulu," kata Asia, mencoba membiasakan panggilan baru untuk pria ini. Ia kemudian mulai mendorong kursi roda Hugo menuju ke arah pintu depan, meninggalkan ruang makan.
"Aku baru tahu kamu bisa memanggilku dengan panggilan itu," ucap Hugo pelan begitu mereka sudah berada di koridor depan, cukup jauh dari jangkauan rungu ibunya.
"Maaf, Pak. Saya harus mendalami peran, bukan? Itu spontan saja," bisik Asia tak enak hati. Asia tahu panggilan itu tidak ia diskusikan lebih dulu dengan Hugo, sehingga wajar jika terdengar sangat asing di telinga pria tersebut.
"Setidaknya bicara padaku lebih dulu," sahut Hugo datar, meski sebenarnya ia tidak benar-benar marah.
"Maafkan saya."
"Tidak apa-apa. Kamu pasti memikirkannya dengan keras hingga bisa terdengar sangat fasih seperti itu," balas Hugo yang mulai paham cara kerja Asia dalam memenuhi kontraknya.
"Terima kasih," jawab Asia.
Sebenarnya, Asia sendiri juga merasa enggan dan risih luar biasa saat mengucapkannya tadi. Lidahnya terasa kaku. Tapi menurutnya, panggilan 'Mas Hugo' adalah pilihan yang paling tepat dan paling aman untuk menggambarkan hubungan suami istri di depan publik, daripada ia harus memanggilnya dengan sebutan 'Pak'.
Pintu depan dibuka, menunjukkan mobil dinas dan Gilang yang sudah bersiap di samping kemudi. Akhirnya, Hugo pun berangkat bekerja bersama Gilang, meninggalkan Asia yang kini harus bersiap menghadapi babak baru di rumah tersebut.
Setelah mobil Hugo lenyap dari pandangan, Asia menghela napas panjang lebih dulu untuk menenangkan diri, sebelum akhirnya ia melangkah masuk kembali ke ruang makan.
Di sana masih ada bocah itu. Nero tetap enggan menyentuh sarapannya. Dia hanya duduk di lantai sambil sibuk bermain dengan mainan mobil-mobilannya.
"Asia, Ibu mau ke kamar mandi sebentar. Tolong awasi Nero, ya," pamit Nyonya Malinda yang baru saja keluar dari area dapur.
"Baik, Ibu," jawab Asia sopan.
Nyonya Malinda bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan. Kini, tinggallah Asia berdua saja dengan anak bungsu Hugo tersebut.
Asia berjalan mendekat lalu menatap Nero. "Hei. Kamu beneran enggak mau makan?"
Kepala bocah itu mendongak, menatap Asia dengan tatapan menantang. "Enggak."
"Kenapa?" tanya Asia santai sambil bersedekap dada.
"Enggak mau ya enggak mau."
"Iya, enggak mau kenapa?" kejar Asia lagi, sengaja memancingnya.
Nero mulai kesal. "Kamu ini suka banget urus urusan orang! Aku itu enggak mau makan, ya enggak mau!"
"Enggak mau makan bisa mati, tahu," sahut Asia dengan wajah datar sengaja menakut-nakuti tanpa ekspresi dramatis.
Nero mendelik tidak terima. "Enggak bakal! Kemarin-kemarin aku juga enggak mau makan, tapi enggak mati."
"Wah, bagus juga kalau begitu," kata Asia.
"Maksud kamu?" Nero mengernyitkan keningnya. Dia bingung dengan respons ibu tiri barunya yang aneh.
"Ya bagus. Soalnya papamu bisa hemat banyak uang. Kalau ada satu orang di rumah ini yang enggak makan, itu artinya jatah uang untuk belanja sayuran berkurang. Uangnya bisa ditabung buat yang lain," jelas Asia dengan nada super santai seolah sedang membicarakan bisnis.