NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Setelah pengumuman ketidakhadiran Tuan Malik mereda di dalam aula, Faas secara halus mengajak Eliza untuk menjauh dari kebisingan pesta. Mereka berjalan menuju taman terbuka yang terletak di lantai atas hotel, tempat di mana rimbunnya tanaman hias dan gemercik air mancur kecil menciptakan ketenangan di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Angin malam berembus perlahan, membuat ujung jilbab biru malam milik Eliza bergoyang lembut. Gadis itu berjalan berdampingan dengan Faas, sesekali mencuri pandang ke arah samping wajah Faas yang tampak luar biasa tampan di bawah pendar lampu taman.

Faas menghentikan langkahnya di dekat pagar pembatas kaca yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota. Ia membalikkan tubuhnya, menatap Eliza dengan sorot mata elangnya yang malam ini terasa begitu jujur dan teduh.

"Eliza," panggil Faas, suaranya berat dan terdengar sangat serius.

"Iya, Kak Faas?" Eliza mendongak, sifat manjanya sedikit tertahan melihat perubahan atmosfer di antara mereka.... Eliza berdebar-debar, ia mengira malam ini Faas akan mengatakan cinta padanya, mengingat ini ketiga kalinya mereka bertemu , apalagi setiap saat mereka selalu berbalas pesan, Faas terlalu perhatian untuk orang yang ia baru kenal, apalagi mengingat Maudi tersenyum saat ia mengatakan kalau ia menyukai Faas,dan Maudi tidak keberatan.

"Eliza....!" seru Faas saat melihat Eliza senyum-senyum sendiri saat melihat dirinya.

"eh...iya kak" balas Eliza yang tersadar akan lamunannya, wajahnya bersemu merah lalu menunduk malu.

"Ada sesuatu yang Aku...." Faas ikut tersenyum lalu menormalkan ekspresi nya kembali.

"ehmmm, harus saya katakan kepadamu. Saya tidak ingin memulai hubungan dengan ketidakjujuran," ucap Faas perlahan, mengambil napas dalam. "Kamu tadi melihat saya bersama rombongan keluarga Abrari, bukan?"

Eliza mengangguk pelan, rasa penasarannya mulai memuncak. "Iya, Mas. Mas Faas kerabat mereka, kan?"

"Bukan sekadar kerabat," Faas menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata Eliza. "Husen Abrari adalah ayah kandung saya. Dan Jenita... dia adalah adik saya, satu ayah dengan saya. Tapi beda ibu"

Deg....

Bagai tersengat aliran listrik, Eliza terkejut setengah mati. Matanya membelalak sempurna, dan langkah kakinya refleks mundur satu senti. Tubuhnya mendadak kaku.

Jenita? Musuh bebuyutannya di kampus yang hampir setiap hari merundungnya, menghinanya sebagai anak narapidana, dan menginjak-injak harga dirinya, ternyata adalah adik kandung dari laki-laki yang telah menyelamatkan nyawanya dan mencuri seluruh hatinya? Dunia rasanya sekecil ini.

Melihat reaksi Eliza, Faas mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Ada kilatan kecemasan yang langka di matanya. Ia tahu betapa buruknya perlakuan Jenita pada Eliza, dan ia siap jika malam ini Eliza memilih untuk menjauhinya karena fakta tersebut.

Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai.

Eliza memejamkan matanya sejenak, meresapi rasa syok yang menghantam dadanya. Bayangan wajah angkuh Jenita sempat melintas, namun detik berikutnya, bayangan itu langsung tersapu bersih oleh ingatan akan ketulusan Faas saat menolongnya di parkiran, serta kehangatan obrolan mereka di kafe kemarin sore dan perhatian-perhatian kecil lewat pesan Wa. Di dalam hati Eliza, nama Faas sudah terpatri terlalu dalam, memenuhi setiap sudut ruang di dadanya hingga tidak tersisa tempat untuk rasa ragu.

Eliza membuka matanya. Rasa terkejut itu perlahan digantikan oleh binar tekad yang luar biasa. Ia melangkah maju, justru mengikis jarak di antara mereka. Sifat pro dan beraninya yang tertidur kini bangkit, berpadu dengan nasihat berharga yang pernah dibisikkan oleh Maudi kepadanya.

“Eliza, kalau suatu hari kamu menemukan laki-laki yang baik, yang bertanggung jawab dan bisa menjagamu, jangan gengsi. Di dalam Islam, kalau kita menyukai seseorang karena agamanya dan kebaikannya, tidak perlu berlama-lama dalam hubungan yang tidak jelas. Majulah lebih dulu.”

Eliza meremas tas kecil di tangannya, wajahnya seketika merona merah padam, semburat merah menjalar hingga ke lehernya yang tertutup oleh jilbab. Ia menundukkan kepala karena saking malunya, namun suaranya terdengar sangat jelas dan tegas.

"Kak Faas... Eliza tidak peduli siapapun keluarga Kakak. Eliza tidak peduli meskipun Kak Faas adalah kakaknya Jenita," ucap Eliza dengan suara yang sedikit bergetar karena malu yang luar biasa.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak, menatap langsung ke dalam mata indah blasteran Arab milik Faas.

"Kak Faas... mau gak... jadi suami Eliza?"

dubrak.....

Ngikkk.

Ngikkk...

Kali ini, giliran seorang mantan agen rahasia Sektor 7 yang terkejut setengah mati. Faas mematung di posisinya. Otak geniusnya yang terbiasa memproses strategi militer dan kode enkripsi rumit seketika mengalami blank. Jantung di balik tuxedo hitamnya berdegup dengan kecepatan yang tidak normal. Ia ditembak langsung, dilamar secara terang-terangan oleh gadis yang baru dikenalnya beberapa hari, ia sendiri belum pernah yang namanya menjalin hubungan dengan wanita, apalagi menembaknya...dan kali ini justru dirinya yang di tembak oleh gadis yang mulai masuk kedalam hatinya.

"M-maksud saya... ,emmm maksudku...ki-kita tidak perlu pacaran, Kak," lanjut Eliza buru-buru, wajahnya kini sudah semerah tomat akibat ke-agresifan dirinya sendiri. Ia menyembunyikan wajahnya yang panas di balik telapak tangannya yang gemetar karena malu yang tak tertahankan. "Kata Kak Maudi... kalau sudah cocok dan orangnya baik, lebih baik langsung menikah saja. Eliza... Eliza serius, Kak Faas."

Melihat kepolosan, keberanian, sekaligus rasa malu yang amat sangat dari gadis di depannya, pertahanan dingin Faas runtuh seutuhnya. Sebuah senyuman paling tulus, paling tampan, dan paling hangat yang pernah ia miliki akhirnya terkembang di wajah blasterannya.

Faas melangkah satu kali lagi mendekati Eliza. Ia menurunkan tangan Eliza yang menutupi wajah merahnya secara perlahan, menatap mutiara hatinya itu dengan tatapan yang begitu mengunci jiwa.

"Kamu yakin, Eliza? Saya hanya seorang laki-laki biasa yang tidak bekerja di perusahaan ayah saya. Saya tidak punya kemewahan seperti Adik-adik ku," ucap Faas, menguji, sembari menyembunyikan fakta bahwa ia adalah Tuan Malik, bos besar Eliza sendiri.

"Eliza tidak butuh harta keluarga Abrari, Kak! Eliza sudah punya pekerjaan di Apex Core, Eliza bisa bantu cari uang. Eliza cuma butuh Kak Faas yang jadi imam Eliza," sahut Eliza pelan namun penuh keyakinan, matanya berbinar tulus tanpa ada sedikit pun kepalsuan.

Dada Faas bergemuruh hebat oleh rasa bahagia yang membuncah. Laki-laki itu mengangguk perlahan dengan senyum misteriusnya yang menawan.

"Baik. Kalau itu maumu... bawa saya menemui Keluarga mu secepatnya. Saya akan melamarmu secara resmi," jawab Faas dengan suara beratnya yang penuh komitmen.

Di bawah langit malam Jakarta dan saksi bisu air mancur taman hotel, dua jiwa yang sama-sama menyembunyikan luka masa lalu itu akhirnya saling mengunci janji. Eliza tersenyum manja dengan wajah yang masih memerah, sementara Faas bersumpah di dalam hatinya, ia akan menjaga gadis ini dengan seluruh jiwa raganya, dan pernikahan mereka nanti akan menjadi awal dari runtuhnya kesombongan keluarga Jihan, Gavin, dan Jenita yang selama ini meremehkan mereka berdua.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!