Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informasi Tentang Hari Itu
Setelah seharian terjebak dalam pertemuan yang terasa hampa dan berita pertunangan yang kini sudah tersebar luas ke seluruh media, Aga akhirnya melangkah keluar dari gedung kantor dengan langkah gontai. Pikirannya masih berputar pada kepergian Nadia yang tiba-tiba, pada kata-kata Mario yang terasa seperti kebohongan yang diselimuti kebenaran, dan pada rasa sesak di dada yang tak kunjung hilang. Ia merasa seperti sedang berjalan dalam kegelapan, tanpa tahu ke mana harus melangkah atau dari mana harus memulai mencari jawaban.
Saat ia baru saja melangkah menuju halaman parkir, sebuah suara lembut namun tergesa memanggilnya dari belakang.
"Pak Aga... sebentar, Pak."
Aga berhenti dan menoleh. Terlihat Mbak Ana, rekan kerja yang cukup dekat dengan Nadia, berdiri di sana dengan wajah tampak gelisah namun juga bertekad. Ia menengok ke kanan dan ke kiri dengan cepat, memastikan tidak ada orang lain yang melihat, terutama tidak ada tanda-tanda keberadaan Mario yang biasanya selalu mengikuti ke mana pun Aga pergi.
"Kamu...."
"Saya Ana, Pak. Rekan kerja Nadia."
"Ana? Rekan kerja Nadia?" Keningnya berkerut. "Ada perlu apa kamu menemui saya?" tanya Aga dengan nada datar, meski hatinya berdebar—siapa tahu wanita ini memiliki sedikit informasi tentang ke mana Nadia pergi.
Ana melangkah mendekat dengan langkah hati-hati, lalu tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya seolah ingin berpamitan atau sekadar bersalaman.
"Sebelum Bapak pulang, boleh saya bersalaman sebentar? Saya hanya ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Bapak," ucapnya dengan suara yang cukup keras agar terdengar seperti ucapan biasa, namun matanya menatap Aga dengan pandangan yang dalam, penuh makna, seolah ingin menyampaikan bahwa ada hal lain yang tersembunyi di balik ucapannya.
Aga sempat terkejut, namun tanpa curiga ia mengulurkan tangannya untuk membalas jabat tangan itu. Begitu telapak tangan mereka bersentuhan, Aga merasakan ada benda kecil dan tipis yang diselipkan dengan cepat ke dalam genggamannya. Gerakan itu sangat halus, nyaris tidak terlihat oleh siapa pun yang lewat.
Ana segera melepaskan tangannya, lalu menundukkan kepala sedikit.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi," katanya, lalu segera berbalik dan berjalan cepat menjauh, seolah takut ketahuan telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
Aga berdiri terpaku sejenak, jantungnya berdegup kencang. Ia menyembunyikan tangan yang menggenggam benda itu di balik jasnya, berusaha terlihat tenang meski rasa penasaran dan harapan baru mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya. Tanpa membuang waktu, ia segera masuk ke dalam mobil, memerintahkan sopir untuk melaju pulang, dan memastikan jendela tertutup rapat agar tidak ada yang melihat ke dalam.
Begitu mobil mulai melaju dan ia merasa benar-benar aman di dalamnya, Aga segera membuka genggamannya. Di sana tergeletak selembar kertas kecil yang dilipat rapi. Tangannya sedikit gemetar saat membukanya, matanya segera menyapu tulisan tangan yang tertera di atasnya.
"Pak Aga, maaf saya lancang melakukan ini. Tapi saya merasa Bapak perlu tahu hal ini. Hari itu, sebelum Nadia mengundurkan diri, saya tidak sengaja melihat Pak Mario menghampiri Nadia. Beliau mengajak Nadia pergi menuju lantai VVIP tempat ruang tamu khusus. Saya sempat menguping sedikit dari balik pintu, dan mendengar jelas bahwa Pak Mario bilang Nyonya Ardila ingin bertemu dan berbicara dengan Nadia. Itu terjadi sehari sebelum Nadia menyerahkan surat pengunduran dirinya. Sekali lagi maaf, Pak. Saya hanya merasa bahwa Nadia tidak pergi begitu saja tanpa alasan. Saya yakin pasti ada sesuatu."
Aga membaca tulisan itu berulang kali, hingga setiap kata tertanam jelas di dalam pikirannya. Rasa dingin merambat dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya, sementara amarah yang sempat mereda kembali meledak hebat di dadanya.
Jadi benar... batinnya bergemuruh. Semua ini sudah direncanakan. Ibu dan Mario sudah bertindak di belakang punggungnya. Mereka memanggil Nadia, bicara apa saja, mungkin mengancam atau menekannya, hingga gadis itu merasa tidak punya pilihan lain selain pergi dan menghilang.
Segala kepingan teka-teki yang selama ini terasa tidak masuk akal akhirnya mulai tersusun rapi. Jadwal yang dipadatkan, perjalanan yang terus-menerus, selalu ada halangan saat ia ingin pulang, lalu tiba-tiba Nadia pergi tanpa pesan—semua itu bukan kebetulan, melainkan skema yang disusun rapi agar ia tidak bisa menghentikan apa yang sedang terjadi.
Aga meremas kertas itu di genggamannya hingga jari-jarinya memutih. Matanya memerah, bukan karena marah saja, tapi juga karena rasa bersalah yang menyiksa. Ia merasa seperti orang bodoh yang hanya diatur dan dibohongi oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Ia tidak melindungi Nadia, ia tidak ada saat gadis itu paling membutuhkan dukungan, dan ia bahkan tidak tahu apa yang dikatakan atau dijanjikan ibunya saat bertemu dengan Nadia di ruang itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi saat mereka bertemu?" bisiknya lirih, suaranya terasa parau. "Apa yang Mama katakan padanya? Dan apa yang membuatnya memilih pergi sejauh ini tanpa memberitahuku apa pun?"
Pikiran Aga kini melayang jauh, mulai menyusun rencana. Ia tidak akan tinggal diam lagi. Kabar pertunangannya sudah tersebar, tapi itu tidak berarti semuanya sudah selesai. Ia harus mencari kebenaran, ia harus mencari Nadia, dan ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis yang ia cintai.
Meskipun jalan ke depan terasa gelap dan penuh rintangan, kini ia setidaknya memegang satu petunjuk penting, kepergian Nadia bukanlah keinginan murni, melainkan hasil dari pertemuan yang dipaksakan oleh ibunya sendiri. Dan itu berarti, ada jejak yang bisa ia telusuri. Ada cerita yang belum selesai.
Aga menatap ke luar jendela mobil, melihat kota yang mulai gelap diselimuti cahaya lampu jalan, tidak seperti hatinya, yang terasa semakin gelap setelah kehilangan sosok wanita yang dicintainya.
demi hrga dirimu...