Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutinitas Pagi,niat tersembunyi Dan Tanda Tanya Di Hati
Aku bangun pagi seperti biasa, sebelum matahari benar-benar terbit. Langkahku ringan, langsung merapikan seprai yang sedikit berantakan, melipatnya sekenanya tapi rapi. Pakaian kotor semalam aku kumpulkan, masukkan ke dalam mesin cuci sambil memutar tombolnya pelan. Lalu ke dapur, menyalakan kompor, memasak nasi dan lauk sederhana dengan gerakan yang sudah terbiasa. Setelah rumah terasa bersih dan rapi, barulah aku mandi, mengenakan seragam sekolah yang sudah disetrika halus, memasukkan sepatu dan peralatan ke dalam tas.
Sebelum berangkat, aku menyusun makanan ke dalam kotak bekal dengan rapi, menutupnya rapat-rapat agar tetap hangat. Berdiri di bawah tangga, aku mengangkat wajah melirik ke arah lantai atas tempat kamar Fara berada, lalu bergumam pelan sendirian: “Masih sunyi… rupanya belum bangun juga.”
Beberapa saat setelah Zara berangkat, barulah Fara mengerjap perlahan membuka matanya. Ia duduk pelan di atas kasur, lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi merentangkan badan, menguap panjang sambil mencoba mengusir sisa kantuk yang masih terasa berat.
Setelah merasa agak segar, ia melangkah keluar kamar dengan langkah masih lambat. Sekilas ia menengok ke arah kamar Zara, mendorong pintunya sedikit — ternyata sudah kosong, tempat tidur rapi dan tak ada lagi tanda orang tidur di sana.
Fara bergumam pelan sambil menggeleng kecil: “Sudah pergi rupanya… benar-benar rajin sekali. Semua pekerjaan rumah beres dikerjakannya sendirian.” Sesaat hatinya terasa sedikit tergigit, ada rasa bersalah yang samar muncul tanpa diminta.
Ia terus berjalan menuju dapur, dan begitu sampai di meja makan, matanya langsung menangkap hidangan yang sudah tertata rapi — masih terlihat mengepul sedikit dan harumnya tercium lembut. Sudut bibir Fara terangkat membentuk senyum tipis, lalu ia duduk dan mulai menyantapnya dengan tenang.
Setelah selesai makan, Fara bangkit perlahan mengangkat piring bekas makannya. Ia membawanya ke wastafel, menggosoknya dengan sabun sampai bersih, lalu membilasnya sampai air yang mengalir jernih.
Setelah itu ia langsung melangkah kembali ke kamarnya, masuk ke bilik mandi. Air hangat segera menyiram seluruh tubuhnya, terasa lembut membasuh sisa lelah semalam. Ia menggosokkan sabun beraroma lembut yang harumnya segera menyebar, membuat kulit terasa halus dan segar.
Namun tiba-tiba, bayangan wajah Adrian melintas begitu saja di benaknya — tatapannya yang dingin namun berwibawa, rautnya yang sempurna tanpa cela. Jantung Fara berdegup pelan, pipinya perlahan terasa hangat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum malu-malu, matanya terpejam sebentar seolah membayangkan dia ada di dekatnya. Tanpa sadar hatinya berbisik pelan: “Ternyata… rasanya seperti ini ya?” Baru kali ini ia merasakan getaran itu, tanda ia mulai benar-benar jatuh hati pada suaminya sendiri.
Ia terdiam sejenak, jemarinya masih meluncur pelan di atas kulit yang basah, napasnya terasa sedikit lebih ringan. Lalu senyumnya perlahan berubah, jadi lebih mantap dan penuh keyakinan. Ia bergumam lirih, hanya terdengar oleh dirinya sendiri:
“Maafkan aku, Zara… hatiku sebenarnya tak berniat jahat padamu. Tapi kalau soal dia… sepertinya kau memang harus mengalah dan menyerah padaku.”
Sudut bibirnya terangkat makin lebar, tersenyum puas seolah sudah memegang kepastian, matanya berbinar penuh harapan dan rasa bahagia yang mulai tumbuh di hatinya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Fara duduk santai di ruang tamu, jemarinya mengetuk pelan lengan sofa sambil pikirannya terus berputar. Dia bergumam pelan seolah bicara pada dirinya sendiri: “Bagaimana caranya ya… apa yang harus kulakukan agar bisa makin dekat dengannya?” Alisnya sedikit mengerut, matanya menerawang jauh, berusaha memikirkan rencana terbaik.
Belum sempat pikirannya menemukan jawaban, tiba-tiba terdengar suara roda mobil masuk ke halaman rumah. Ia segera menoleh, dan melihat seorang pria turun perlahan — tak lain adalah Yamal, sekretaris Adrian. Pria itu melangkah masuk dengan sikap tegap dan sopan, lalu membungkuk sedikit: “Selamat pagi Nyonya. Saya diperintahkan Tuan Adrian mengambil berkas yang tertinggal di ruang kerjanya.” Tanpa menunggu jawaban, dia langsung berjalan menuju koridor ke arah ruangan kantor.
Fara masih menatap kepergiannya, baru saja hendak duduk kembali dengan tenang, terdengar lagi suara mobil lain — kali ini berbeda jenisnya. Begitu berhenti, turunlah seorang asisten berpakaian rapi, utusan dari Nyonya Elina. Ia melangkah masuk dengan senyum sopan: “Selamat pagi Nyonya Fara. Nyonya Elina menyuruh saya menyampaikan kabar ini: malam ini ada acara resepsi pernikahan penting yang wajib dihadiri Tuan Adrian, dan Nyonya memutuskan agar Anda yang menjadi pendampingnya di pesta itu.”
Setelah menyampaikan pesan itu, orang itu segera berpamitan dan pergi meninggalkan Fara yang masih berdiri terpaku, matanya tiba-tiba berbinar cerah seolah baru saja diberi jalan keluar yang paling pas.
Di sekolah, saat jam pelajaran kimia berlangsung, semua murid terlihat sibuk mencatat dan mengamati percobaan dengan antusias. Aku juga tak kalah fokus, kebetulan satu kelompok dengan Fernando. Berdiri berdampingan, gerakan kami seolah saling melengkapi — tenang, teratur, sampai tanpa sadar banyak yang memandang, mengira kami benar-benar serasi seperti sepasang kekasih.
Bel istirahat berbunyi, aku dan teman-teman berjalan ke kantin. Setelah selesai makan dan minum, kami duduk santai di pinggir lapangan, menonton para siswa yang sedang asyik bermain basket. Di antara mereka ada juga Fernando, mengenakan baju olahraga khusus yang membuat tubuhnya terlihat makin tegap dan gagah.
Dari tadi diam-diam aku perhatikan — Sarah hanya duduk tenang, sesekali melirik ke arahku, tatapannya seolah menyimpan sesuatu yang ingin ia sampaikan tapi tak diucapkan. Lalu ada Liora, sikapnya malah terasa makin aneh. Wajahnya kelihatan gelisah, jari-jarinya terus meremas ujung rok, dan setiap kali matanya tak sengaja bertemu pandang denganku, ia buru-buru memalingkan wajah, menjaga jarak seolah takut sesuatu akan terbongkar.
Aku sebenarnya sudah menyadari semuanya, tapi hanya menghela napas pelan dan membiarkan saja.
Begitu pertandingan selesai, Fernando berjalan menghampiri dengan napas sedikit memburu. Ia langsung duduk tepat di sampingku, kulitnya basah oleh keringat, tapi matanya masih terlihat berbinar seolah baru saja melepaskan semua tenaga.
Tak lama Liora datang membawa botol air dingin, menyodorkannya ke arahnya dengan senyum tipis yang berusaha terlihat tulus. Fernando menerimanya, mengangguk pelan, lalu meneguk air itu sampai setengah botol habis. Setelah itu ia menoleh padaku, suaranya masih terdengar berat karena lelah: “Zara… kau benar-benar sudah pulih sepenuhnya kan?”
Aku mengangguk lembut menjawab: “Iya, sudah jauh lebih baik.”
Alisnya sedikit mengerut, nada bicaranya terdengar khawatir sungguhan: “Lain kali hati-hati, jangan sembarangan memakan atau meminum apa pun yang tidak jelas asalnya.”
Aku kembali mengangguk mengerti, lalu tersenyum kecil: “Terima kasih banyak ya, Fernando… kemarin sudah menggendongku ke ruang UKS, bahkan menemaniku sampai di rumah sakit.”
Mendengar itu, raut wajahnya perlahan melunak, terlihat lega dan puas, lalu hanya mengangguk pelan sambil memegang botol itu di pangkuannya.
Di samping kami, Sarah hanya diam saja, menatapku tanpa mengucap sepatah kata pun. Pikirannya terus melayang kembali ke kejadian kemarin, berputar sendiri dalam hati: “Siapa sebenarnya pria tampan dingin itu…? Dan orang yang bertato di leher itu memanggilnya ‘Tuan’, lalu menyebut ‘Nyonya Zara’? Biasanya sebutan seperti itu hanya untuk majikan atau pemilik rumah besar. Ada firasat aneh yang mulai mengganjal, tapi aku tak berani memikirkannya terlalu jauh. Kalau kutanya langsung, rasanya Zara takkan menjawab jujur. Mungkin dia tak sesederhana yang kulihat selama ini… Lebih baik aku simpan saja dulu, ingat pesan Ayah — jangan sampai terlibat dalam urusan yang bisa membawa masalah besar nanti.”