Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14
Rasa haus akan darah segar dari makhluk gaib penunggu lukisan itu ternyata sudah tidak bisa ditahan lagi. Makhluk jahat itu tidak mau menunggu sampai malam tiba. Di siang hari saat matahari di luar bersinar sangat terik dan Adista masih sibuk dengan kegelisahannya di kantor, teror mematikan itu sudah dimulai di dalam kamar tamu.
Hawa di dalam kamar tamu mendadak berubah menjadi sedingin es. Pintu kamar yang tadinya ditutup pelan oleh Adista, tiba-tiba mengunci dirinya sendiri dengan suara klik yang sangat keras. Suasana remang-remang di dalam kamar berubah menjadi gelap gulita dalam sekejap.
Bram yang sedang tidur lelap tiba-tiba terbangun karena merasakan tubuhnya menggigil hebat. Begitu ia membuka mata, rasa takutnya langsung hilang total, berganti dengan rasa kagum dan gairah yang kembali membakar pikirannya. Wanita misterius bergaun merah marun itu sudah duduk di tepi kasur, tepat di sampingnya.
Wanita itu tersenyum sangat manis. Sihir jahat yang keluar dari tubuh wanita itu membuat Bram benar-benar kehilangan akal sehatnya. Sebelum menghabisi nyawa Bram, wanita misterius itu menggunakan tubuhnya yang elok untuk memuaskan nafsu birahi Bram untuk terakhir kalinya.
Di dalam kamar yang gelap dan dingin itu, Bram kembali bergumul liar dengan sosok gaib tersebut. Suara desahan kenikmatan dan kepuasan kembali terdengar dari mulut Bram. Ia merasa sangat bahagia dan sangat puas, tanpa tahu bahwa setiap detik kenikmatan itu sebenarnya adalah umpan manis untuk menjemput ajalnya. Wanita itu sengaja memuaskan nafsu Bram agar pemuda itu lengah dan tidak bisa melawan saat maut datang menjemput.
Sampai pada akhirnya, waktu yang dinanti oleh makhluk haus darah itu tiba.
Tepat setelah Bram mencapai puncak kepuasannya dan tubuhnya terasa lemas, atmosfer di dalam kamar berubah secara drastis dalam satu detik. Aroma wangi bunga mawar yang tadinya memenuhi ruangan, langsung berganti dengan bau anyir darah yang sangat busuk.
Bram terkejut saat merasakan pelukan wanita itu mendadak berubah menjadi sangat kencang, seperti lilitan ular raksasa yang ingin meremukkan tulangnya. Bram mencoba melepaskan diri, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.
Saat Bram mendongak untuk melihat wajah wanita di atasnya, jantungnya hampir copot karena rasa ngeri yang luar biasa.
Wajah cantik jelita itu sudah hilang. Kulit mulusnya terkelupas dan berubah menjadi pucat pasi seperti mayat yang sudah membusuk. Dari sepasang matanya yang melotot, mengalir darah segar yang sangat kental. Bibir merahnya yang sensual berubah menjadi robek hingga ke telinga, memperlihatkan deretan gigi yang tajam.
Bram ingin berteriak meminta tolong, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa takut yang teramat sangat membuat air matanya menetes deras.
Kematian pun datang merenggut Bram dengan cara yang tak kalah mengerikan dari apa yang dialami oleh Ronald beberapa hari lalu.
Tangan wanita itu, yang kini sudah berubah memiliki kuku-kuku hitam tajam bagai silet, bergerak dengan sangat cepat dan brutal ke bagian bawah tubuh Bram. Dengan satu sayatan gaib yang sangat kejam, organ kemaluan Bram hilang seketika, terputus dari tubuhnya. Bram membelalakkan matanya menahan rasa sakit yang begitu dahsyat, darah segar langsung menyembur membasahi kasur putih tersebut.
Belum sempat Bram memproses rasa sakit itu, wanita itu tertawa melengking dengan suara yang sangat mengerikan. Ia mengangkat tangan kanannya yang berlumuran darah, lalu menusukkan kuku-kuku tajamnya menembus kulit dan tulang dada Bram tanpa ampun.
KRETEKK!
Suara dada Bram yang robek terdengar sangat jelas di dalam kamar yang sunyi itu. Wanita itu memasukkan seluruh tangannya ke dalam rongga dada Bram yang menganga, mencari target utamanya. Dengan satu hentakan yang sangat kuat, jantung Bram yang masih berdetak cepat langsung tercabut putus dari pembuluh darah utamanya.
Bram mengejang hebat di atas kasur. Mulutnya memuntahkan darah segar yang kental, dan matanya melotot lurus ke langit-langit kamar dengan tatapan penuh kengerian yang teramat sangat.
Tidak berhenti sampai di situ, dengan penuh kebencian, wanita misterius itu meremukkan paksa jantung Bram di dalam genggaman tangannya hingga hancur berkeping-keping. Darah dari jantung Bram muncrat mengenai wajah pucat wanita tersebut, membuat penampilannya menjadi seribu kali lebih menyeramkan.
Setelah memastikan korbannya benar-benar mati dan tidak bernyawa lagi, tubuh Bram mendadak kaku. Bram telah resmi meninggal dunia, menjadi korban kedua dari wanita misterius yang bersemayam di dalam lukisan milik Adista.
Sosok wanita itu kemudian berdiri dari atas kasur yang kini sudah berubah menjadi kolam darah. Ia menatap jasad Bram yang mengenaskan dengan pandangan mata yang dingin dan puas. Perlahan-lahan, tubuh wanita itu mulai menipis, berubah menjadi asap hitam, dan terbang keluar dari kamar tamu menuju ke ruang tengah.
Di ruang tengah yang sunyi, asap hitam itu masuk kembali ke dalam bingkai emas yang tergantung di dinding. Sosok perempuan di dalam lukisan itu kembali ke posisinya semula, diam membeku sebagai benda mati. Namun kini, warna merah pada aliran air mata darah di wajah wanita dalam kanvas tersebut tampak jauh lebih menyala, tebal, dan segar. Di lantai bawah lukisan, beberapa tetes darah segar mengalir pelan dari bingkai kayu, menandakan bahwa mahakarya terkutuk itu baru saja selesai merayakan kematian korbannya yang baru.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya