Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
Sean memilih datang ke tempat dimana terkahir kali dia melihat gadis itu. Dia benar-benar berharap untuk itu, hingga dia menemukan sebuah kebenarannya.
Ternyata gadis itu benar-benar bekerja di sana, setelah beberapa kali dia melihat sendiri dengan mata kepalanya. Entah mengapa ada rasa marah, kecewa, tapi rindu. Sean tidak tau harus melakukan apa, sampai dia memutuskan untuk menemui kakeknya.
"Kenapa tidak bicara lebih dulu jika mau datang, Sean?" tanya kakeknya menyambut kedatangan sang cucu.
Dia benar-benar merasa sedikit lebih tenang melihat cucunya sudah jauh lebih baik. Bahkan sudah berani mengendarai mobilnya sendiri.
Karena selama setahun ini, Sean sama sekali tidak menikmati dunia luar, selain terapi, dan fokus pada penyembuhannya.
"Apa ingin jika seorang cucu juga harus melapor untuk bertemu kakeknya?" tanya Sean balik membuat kakek Roeslan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia paham, dia paham sekali maksud Sean ini.
"Tinggalkan kami!" titah kakeknya, karena dia yakin ada yang ingin di bicarakan Sean.
"Ada apa Sean? kenapa tiba-tiba datang? Apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya kakeknya lagi.
Dia menatap cucunya yang terlihat sudah ke ih baik, di banding saat terakhir kali mereka bertemu
"Aku setuju untuk bekerja di perusahaan. Tapi Dengan satu syarat." ucapnya mengajukan syarat pada kakeknya, membuat kakek Roeslan benar-benar merasa bahagia. Karena Sean mau turun ke perusahaan.
"Katakan syaratnya, kakek akan penuhi." jawab kakeknya penuh percaya diri.
"Bukankah kakek memiliki saham 51 persen di perusahaan Sinar Maju Inc?" tanya Sean lagi.
"Perusahaan baja itu? Kakek berpikir untuk menjual sahamnya, karena tidak ada yang mengurus. Tapi kenapa kamu bertanya Sinar Maju? Itu perusahaan tidak terlalu besar."
"Aku akan kesana. Aku akan bekerja di sana." pungkas Sean membuat kakeknya semakin tidak percaya dengan itu.
Bagaimana bisa, Sean mau ke Sinar Maju. Sedangkan perusahaan mereka jauh lebih besar lagi.
"Tapi kenapa? Kamu bisa langsung duduk di kursi direktur di kantor Pusat atau kantor cabang. Kenapa ingin pergi ke Sinar Maju, Sean?" tanya kakeknya penasaran.
"Karena aku tidak ingin menambah konflik dengan Vincent ataupun paman Roesdi. Jadi lebih baik aku pergi ke Sinar Maju. Lagi pula jika aku di perusahaan pusat, duduk sebagai direktur bagaimana dengan Vincent dan paman Roesdi? Vincent hanya sebagai General Manager, paman Roesdi Wakil Direktur, jadi tidak mungkin aku duduk di kursi Direktur." jelasnya pada sang kakek membuat pria tua itu benar-benar merasa bangga dengan keturunan Pertama.
Andai saja waktu bisa di putar kembali, dia tidak akan melakukan kesalahan itu.
"Terserah kamu, asal kamu merasa itu baik untuk mu. Kakek akan mengurusnya untuk kamu duduk disana."
"Tidak perlu jabatan terlalu tinggi. Aku bisa belajar dari posisi yang cukup tegak sebagai General Manager, atau Manager biasa." ujarnya lagi.
Karena dia sudah menyelidiki perusahaan itu. Sean yakin seperti ada sesuatu yang janggal di dalamnya.
"Baiklah, paman Wan yang akan mengurusnya nanti. Kapanpun kamu siap bekerja, kakek akan bangga untuk mendukung kamu. Lalu bagaimana dengan-"
"Aku sudah mengirimkan surat pengunduran diri dari rumah sakit. Kemungkinan akan di setujui walau rasanya tidak mungkin. Setidaknya itu lebih baik." jawab Sean dengan segala pertimbangannya.
Dia benar-benar sudah mempertimbangkan semua ini. Dan ya, inilah keputusannya.
"Kamu benar-benar hebat. Kakek bangga sama kamu." ucap kakeknya, dan Sean hanya tersenyum kecil untuk itu.
Tak lama ponselnya berdering, dan itu panggilan masuk dari Rean.
"Dimana?" tanya Rean khawatir dengan adiknya yang katanya sudah keluar dengan mobilnya sendiri.
"Kau baik-baik saja, kan?"
"Berhenti memperlakukanku seperti anak umur 10 tahun. Aku hampir berusia 30 tahun jika kau lupa!" jawab Sean datar membuat Rean hanya bisa menghela nafasnya saja.
"Aku tau. Tapi bibi bilang kau keluar dengan mobil. Aku khawatir, Sean."
"Lalu jika tidak dengan mobil aku keluar dengan apa? Jalan kaki?" jawabnya lagi membuat kakeknya hanya bisa tersenyum saja melihat perdebatan cucunya itu.
"Setidaknya hubungi aku. Aku bisa mengantarmu."
"Sudah ku bilang aku bukan anak berusia 10 tahun Rean Arya Pratama, jika kau lupa! Kau bahkan memperlakukan ku seperti seorang pacar dan itu menggelikan! Kau akan bertanya apakah aku sudah makan, bagaimana obatku, terapi ku, dan banyak lagi. Lebih baik kau cari wanita yang bisa kau perhatikan, karena aku mulai muak dengan semua perhatian menyebalkanmu itu!"
"Tapi, Sean -aku hanya-"
"Aku tutup! Bye!" Sean memutuskan panggilan telepon mereka begitu saja, karena dia benar-benar muak dengan Rean.
***
Jangan lupa, Like, komen, dan kasih rating ya. Tolong tinggalkan jejak untuk author ini 🫶🏼
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh