Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Tanpa terasa, hari-hari terus bergulir. Kini perut Alya telah membesar dengan jelas, menandakan usia kehamilannya yang telah memasuki bulan ketujuh. Setiap hari, ia semakin sering merasakan gerakan lembut dari bayi yang tumbuh di dalam rahimnya. Kadang berupa tendangan kecil, kadang hanya gerakan samar yang membuatnya tersenyum tanpa sadar.
Setiap kali hal itu terjadi, Alya akan meletakkan kedua telapak tangannya di atas perutnya yang membulat. Pandangannya menghangat, dipenuhi perasaan yang sulit diungkapkan. Ada kebahagiaan yang perlahan tumbuh, bercampur dengan kecemasan, harapan, dan rasa haru yang begitu dalam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa ada kehidupan kecil yang bergantung sepenuhnya padanya.
Alya masih membantu di warung milik Bu Sekar, meskipun kini ia tidak lagi bekerja seharian seperti dulu. Bu Sekar sengaja mengurangi jam kerjanya agar ia tidak terlalu kelelahan mengingat kondisi kehamilannya yang semakin besar.
Seiring berjalannya waktu, wajah Alya menjadi semakin akrab di mata para pelanggan. Orang-orang yang dahulu hanya lewat tanpa memperhatikannya kini mulai mengenalnya dengan baik. Tak sedikit yang menyapanya lebih dulu saat datang, menanyakan keadaannya, atau sekadar berbincang ringan untuk mengisi waktu. Kehangatan sederhana itu perlahan membuat Alya merasa diterima dan tidak lagi sendirian di tempat barunya.
Setiap tiga minggu sekali, Alya selalu menyempatkan diri memeriksakan kandungannya di posyandu yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Perjalanan yang singkat membuatnya lebih mudah menjalani pemeriksaan rutin tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Di sana, para kader kesehatan dan bidan menyambutnya dengan ramah setiap kali ia datang. Mereka memperlakukannya dengan hangat dan penuh perhatian, tanpa pernah menanyakan hal-hal yang membuatnya merasa tidak nyaman. Bagi mereka, Alya hanyalah seorang calon ibu yang membutuhkan pendampingan dan perawatan, bukan seseorang yang harus dinilai dari masa lalunya. Sikap tulus itu perlahan menumbuhkan rasa tenang di hati Alya setiap kali ia melangkah masuk ke tempat tersebut.
"Alhamdulillah, kondisi kamu cukup baik, Alya," tutur Bu Dijah sambil mencatat hasil pemeriksaan di buku kehamilan. "Tekanan darahmu normal, dan berat badanmu juga bertambah sesuai perkembangan. Untuk saat ini, janinmu tumbuh dengan sehat. Semoga semuanya terus berjalan lancar sampai hari persalinan nanti."
Alya menghela napas lega. "Syukur kalau begitu, Bu. Terima kasih sudah selalu memeriksa saya dengan sabar." katanya pelan.
Bu Dijah menepuk punggung tangan Alya dengan lembut. "Jaga kesehatanmu baik-baik, Nak. Kurangi pikiran yang berat dan perbanyak istirahat. Kalau ada kesulitan, jangan sungkan untuk meminta bantuan. Di sini masih banyak orang yang peduli."
Mata Alya terasa panas, nyaris tak mampu menahan genangan air yang perlahan memenuhi pelupuknya. Sudah terlalu lama ia menjalani hidup di tengah tatapan sinis, cibiran, dan perlakuan yang membuatnya merasa tak berharga. Namun di tempat barunya ini, meski jauh dari kemewahan dan serba sederhana, ia menemukan sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya penerimaan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dianggap sebagai manusia, bukan sebagai seseorang yang harus terus dihakimi.
Di lingkungan kontrakannya, Alya juga mulai merasakan kehangatan dari orang-orang di sekitarnya. Salah satunya adalah Yasmin, seorang ibu muda yang tinggal beberapa pintu darinya. Wanita itu kerap datang membawa semangkuk bubur hangat atau menawarkan bantuan saat melihat Alya kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan tanpa diminta, Yasmin sesekali membantu mencuci pakaian agar Alya tidak terlalu kelelahan.
Sementara itu, anak-anak yang sering bermain di gang sempit depan kontrakan sudah menganggapnya sebagai bagian dari lingkungan mereka. Dengan polos dan penuh keceriaan, mereka memanggilnya, "Mbak Al!" setiap kali berpapasan. Tawa riang mereka sering pecah saat melihat perut Alya yang semakin membesar, membuat suasana sederhana di gang itu terasa lebih hidup dan hangat.
Untuk pertama kalinya, Alya merasa ada orang-orang yang bersedia berjalan bersamanya menghadapi hari-hari yang sulit.
Malam itu, setelah segala aktivitas usai, Alya merebahkan tubuhnya di atas ranjang sederhana yang menjadi tempatnya beristirahat. Pandangannya terpaku pada langit-langit kamar yang redup, sementara jemarinya bergerak perlahan mengusap perut yang semakin membesar. Dalam keheningan yang menyelimuti ruangan, senyum tipis terukir di bibirnya. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, ia kemudian membisikkan beberapa kata yang hanya ditujukan untuk buah hati yang sedang bertumbuh di dalam kandungannya.
"Sayang, kita sudah melewati begitu banyak hal bersama. Ibu akan tetap kuat demi kamu. Tidak peduli seberapa berat jalan yang harus kita tempuh, selama ada kamu, ibu tidak akan menyerah."
*****
Pagi itu, awan kelabu masih menggantung di langit yang terlihat dari balik jendela-jendela kaca tinggi gedung Wirajaya Corp. Namun, suramnya cuaca tak sebanding dengan ketegangan yang menyelimuti ruang kerja Rayan. Pria itu berdiri tegak di belakang meja kerjanya, meneliti setumpuk dokumen yang berada di hadapannya. Lembar demi lembar dibalik dengan gerakan tegas, sementara rahangnya mengeras. Sorot matanya yang tajam dan ekspresi wajahnya yang kaku menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang mengusik pikirannya.
Tokk... Tok... Tok...
Suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan ruangan, membuat Rayan segera mengalihkan pandangannya.
"Masuk." Suara Rayan terdengar datar namun penuh wibawa.
Pintu terbuka perlahan, lalu Arka melangkah masuk ke dalam ruangan. Sebuah tablet tergenggam di satu tangan, sementara tangan lainnya membawa amplop cokelat yang tampak penuh berisi dokumen. Ekspresinya terlihat serius, dan langkahnya tetap tegap seperti biasa. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, terselip kegelisahan di balik sorot matanya, seolah ada kabar penting yang sedang membebani pikirannya.
"Tuan, laporan yang kita tunggu sudah keluar," kata Arka sambil meletakkan tablet dan amplop cokelat itu di atas meja. "Rekaman CCTV berhasil kami dapatkan, dan hasil pemeriksaan terhadap sisa minuman malam itu juga sudah selesai."
Rayan mengerutkan dahi. Tanpa membuang waktu, ia segera meraih tablet yang disodorkan Arka. Jemarinya bergerak cepat menyentuh layar, membuka berkas video yang telah dipersiapkan sebelumnya. Beberapa detik kemudian, rekaman dari kamera pengawas sebuah klub malam empat bulan silam mulai diputar. Meski tanpa suara, gambar yang tampil di layar terlihat cukup tajam, memperlihatkan setiap pergerakan yang terekam malam itu dengan jelas. Sorot mata Rayan pun semakin fokus, tak ingin melewatkan satu detail pun dari rekaman tersebut.
Di layar rekaman itu, terlihat seorang wanita mengenakan jaket kulit berwarna hitam berjalan mendekati area VIP. Di tangannya terdapat dua gelas koktail yang dibawanya dengan hati-hati. Sesampainya di meja, ia sempat menoleh ke sekeliling seolah memastikan sesuatu. Setelah itu, wanita tersebut sedikit membungkukkan badan ke arah salah satu gelas yang tampaknya disiapkan untuk Rayan, melakukan gerakan singkat yang nyaris tak menarik perhatian jika tidak diamati dengan saksama.
Pada rekaman yang telah diperbesar, detail yang sebelumnya samar kini tampak lebih jelas. Terlihat tangan wanita itu bergerak ke arah saku bagian dalam jaketnya sebelum secara diam-diam menjatuhkan sesuatu ke dalam gelas tersebut. Gerakannya begitu cepat dan terlatih hingga nyaris luput dari perhatian siapa pun yang melihat sekilas. Namun, sebelum menjauh dari meja, salah satu kamera dari sudut berbeda sempat menangkap wajahnya dengan cukup jelas, memberikan petunjuk penting yang selama ini tersembunyi.
Saat gambar diperbesar, detail wajah dalam rekaman itu mulai terlihat lebih jelas. Rayan menyipitkan mata, berusaha memastikan apa yang sedang dilihatnya.
Seketika tubuh Rayan menegang. Nama itu langsung terlintas di benaknya begitu wajah di layar terlihat jelas Zahra.
Sorot mata itu langsung dikenalinya tanpa kesulitan. Tatapan yang selalu tampak lembut di permukaan, tetapi menyimpan sesuatu yang sulit ditebak di baliknya. Lengkungan senyum tipis yang sering terlihat manis kini terasa begitu palsu di matanya. Ditambah gaun merah yang pernah dilihatnya malam itu, semua kepingan mulai menyatu. Tidak ada kemungkinan lain. Wanita dalam rekaman itu adalah Zahra orang yang selama ini berada begitu dekat dengannya, memainkan peran sebagai pasangan yang penuh perhatian dan kasih sayang. Kini, semua itu tampak tak lebih dari sandiwara yang dijalankan dengan sangat meyakinkan.
Rayan menurunkan tablet itu ke atas meja dengan gerakan yang terkendali. Namun, ketenangan yang tampak di permukaan berbanding terbalik dengan gejolak di dalam dirinya. Rahangnya mengatup keras hingga garis tegas terlihat di wajahnya, sementara kedua tangannya perlahan mengepal di sisi tubuh, menahan amarah yang mulai mendidih.
Rayan menggeleng pelan, tatapannya masih terpaku pada layar yang telah gelap.
"Aku tidak mengerti..." gumamnya dengan suara rendah. "Apa yang sebenarnya ingin dia capai dengan semua ini?"
Arka menarik napas pelan sebelum menjawab. Nada suaranya terdengar hati-hati, seolah memilih setiap kata dengan cermat.
"Kami masih menelusuri alasan di balik tindakannya, Tuan," ujarnya serius. "Sejauh ini belum ada kesimpulan pasti, tetapi tim sedang mengumpulkan semua informasi yang mungkin berkaitan dengan kasus ini."
Rayan tidak segera memberikan jawaban. Namun, ekspresi wajah dan sorot matanya sudah cukup menjelaskan apa yang ada di pikirannya.
Arka membuka salah satu berkas di hadapannya sebelum berkata, "Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, zat yang ditemukan dalam minuman itu termasuk seperti stimulan seksual yang dapat memengaruhi kesadaran seseorang. Efek sampingnya meliputi rasa panas pada tubuh, pusing, serta penurunan kemampuan mengambil keputusan secara normal. Gejalanya sesuai dengan kondisi yang Anda alami malam itu, Tuan."
Rayan menganggukkan kepala perlahan. Namun, seiring penjelasan itu meresap ke dalam pikirannya, raut wajahnya berubah semakin suram. Tubuhnya pun terasa kaku, seolah setiap otot mendadak kehilangan kemampuan untuk bergerak. Ia hanya berdiri diam di tempat, membeku dalam keterkejutan yang perlahan berubah menjadi amarah.
Perlahan, kenyataan itu mulai tersusun dengan jelas di benaknya. Ia telah dimanipulasi dan dijadikan bagian dari sebuah rencana yang tidak pernah diketahuinya. Yang paling menyakitkan, semua itu dilakukan oleh seseorang yang selama ini mendapat kepercayaan penuh darinya.
Arka masih berdiri tegak di hadapan meja kerja Rayan. Setelah hening sejenak, ia membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah map lain.
Arka meletakkan sebuah USB berukuran kecil di atas meja. "Ada satu bukti lagi, Tuan," katanya serius. "Ini berisi rekaman dari kamera pengawas minimarket yang berada tidak jauh dari lokasi kendaraan Anda berhenti malam itu. Kami sudah mencocokkan waktu, tanggal, dan titik lokasinya. Semuanya sesuai."
Rayan tidak membuang waktu. Ia segera mengambil USB itu dan memasukkannya ke port laptop yang berada di atas meja kerjanya. Beberapa detik kemudian, rekaman mulai muncul di layar. Tatapannya langsung mengunci pada gambar yang bergerak di hadapannya, sementara matanya menyipit, berusaha menangkap setiap detail yang mungkin terlewat.
Rekaman dari kamera pengawas itu memang tidak terlalu tajam. Gambar-gambarnya sedikit kabur, tetapi masih cukup jelas untuk memperlihatkan seorang gadis muda yang keluar dari minimarket sambil membawa sebungkus mi instan di dadanya. Penampilannya sederhana dan tampak apa adanya pakaian yang dikenakannya terlihat usang, sementara rambutnya hanya diikat seadanya tanpa banyak perhatian.
Langkah gadis itu tergesa-gesa, seolah ia tidak nyaman berada terlalu lama di tempat yang terang dan ramai. Ia terus berjalan menyusuri trotoar dengan kepala sedikit tertunduk. Namun, ketika melewati sebuah lampu jalan, gadis itu sempat melambat beberapa detik. Cahaya lampu yang jatuh tepat ke wajahnya membuat kamera berhasil menangkap rautnya dengan lebih jelas daripada sebelumnya, menghadirkan detail yang selama ini tersembunyi di balik rekaman yang buram.
Deg!
Rayan tanpa sadar menghentikan rekaman itu. Jemarinya bergerak cepat memperbesar gambar wajah gadis tersebut hingga memenuhi layar monitor. Pandangannya tak beralih sedikit pun.
Ada sesuatu pada ekspresi gadis itu yang membuat dadanya terasa ganjil. Sepasang mata yang tampak hampa, seolah telah terlalu sering berhadapan dengan kerasnya hidup. Namun di balik kehampaan itu, tersimpan kesedihan yang begitu dalam hingga sulit diabaikan.
Wajah itu jelas bukan wajah yang pernah ia kenal. Asing dan tak pernah muncul dalam ingatannya. Akan tetapi, entah mengapa, ada perasaan aneh yang terus mengusik benaknya. Seakan-akan ia pernah melihat sorot mata seperti itu di suatu tempat, pada waktu yang telah lama terkubur oleh ingatan.
"Itu dia..." gumam Rayan lirih, hampir tenggelam oleh suara napasnya sendiri.
"Temukan gadis itu," ujarnya tegas dengan nada yang sulit dibantah.
Arka mengernyit, belum sempat bertanya.
"Gunakan cara apa pun yang diperlukan. Aku tidak peduli berapa lama prosesnya, tapi aku ingin identitasnya ada di tanganku secepat mungkin."
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih rendah namun penuh penekanan.
"Cari tahu siapa dia, di mana dia tinggal, dan bagaimana kehidupannya. Jangan sampai jejaknya hilang."
Tatapan Rayan kembali tertuju pada layar monitor.
"Aku harus tahu siapa sebenarnya perempuan itu."
"Siap, tuan . Saya akan langsung menanganinya." jawabnya sigap.
Rayan tetap memandangi layar monitor dalam keheningan yang panjang. Wajah gadis itu seolah menahan pandangannya, membuatnya enggan mengalihkan mata meski hanya sesaat.
Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang saling bertabrakan. Mungkinkah perempuan itu adalah sosok yang menemaninya pada malam yang hingga kini masih menjadi teka-teki?
Ia mengernyit pelan. Dari penampilannya, gadis itu jelas bukan berasal dari lingkungan yang biasa ia kenal. Bukan bagian dari kalangan elite yang selama ini mengelilingi hidupnya, bukan pula seseorang yang memiliki posisi penting dalam dunianya.
Dia hanyalah seorang gadis biasa. Setidaknya, itulah yang terlihat.
Namun justru hal itulah yang membuat Rayan semakin terusik. Ia tidak mengenalnya, tidak tahu siapa namanya, bahkan tidak pernah melihatnya sebelumnya. Tetapi entah mengapa, wajah itu perlahan mengambil ruang di dalam pikirannya.
Bagaimana jika memang gadis itu adalah orang yang selama ini ia cari?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Rayan tanpa henti. Dadanya terasa sesak oleh rasa penasaran yang semakin sulit ditekan.
Jika benar dia, lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apakah hidupnya berjalan baik-baik saja? Ataukah malam itu justru meninggalkan luka yang tak pernah sempat ia ketahui?
Di luar gedung kantor Wirajaya Corp, langit telah sepenuhnya diselimuti malam. Cahaya lampu kota berkilauan di antara deretan gedung tinggi, sementara hiruk-pikuk kendaraan masih terdengar dari kejauhan.
Namun bagi Rayan, malam itu bukanlah penutup hari yang melelahkan.
Justru sebaliknya.
Itu adalah langkah pertama dari perjalanan panjang yang baru saja dimulai.
*****
Keesokan harinya, menjelang sore, langit Semarang perlahan berbalut warna jingga keemasan. Sinar matahari yang mulai tenggelam memantul di permukaan gedung-gedung tinggi, menciptakan pemandangan yang indah bagi siapa pun yang memandangnya.
Namun kehangatan senja itu sama sekali tidak terasa di dalam ruang kerja Rayan.
Ruangan luas yang biasanya tenang justru dipenuhi suasana yang berat dan menyesakkan. Di depan jendela kaca setinggi dinding, Rayan berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Tatapannya mengarah ke hamparan kota di bawah sana, tetapi pikirannya berada jauh dari pemandangan itu.
Garis rahangnya tampak menegang. Otot-otot di wajahnya mengeras seolah sedang menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. Kemarahan yang sejak tadi ia tekan perlahan berkumpul di dalam dada, membuat suasana di sekelilingnya ikut terasa dingin.
Pintu ruang kerja itu terbuka perlahan. Zahra melangkah masuk dengan kepala tegak, memancarkan pesona yang selama ini menjadi ciri khasnya. Balutan busana elegan yang dikenakannya tampak sempurna, berpadu dengan riasan yang menonjolkan kecantikannya tanpa cela.
Biasanya, ia akan langsung menghampiri Rayan dengan senyum penuh keyakinan. Namun kali ini, sesuatu terasa berbeda.
Begitu pandangannya bertemu dengan tatapan pria itu, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Sorot mata Rayan begitu dingin, tajam, dan sulit dibaca. Tidak ada kehangatan, tidak ada ketenangan yang biasa ia lihat. Hanya sebuah tatapan yang seolah mampu menembus setiap lapisan kepura-puraan.
Tanpa sadar, langkah Zahra yang semula mantap mulai melambat.
"Ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanyanya lembut, mencoba mencairkan suasana yang terasa begitu tegang.
Rayan tidak segera menanggapi pertanyaan itu. Keheningan menggantung beberapa saat di antara mereka, menciptakan suasana yang semakin menyesakkan.
Perlahan, ia memutar tubuhnya dan mengarahkan pandangan kepada Zahra.
Tatapannya begitu dalam dan sulit diartikan. Seolah untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan wanita yang selama ini selalu berada di sisinya.
"Aku tidak lagi berada dalam kegelapan, Zahra," ujarnya pelan dengan nada yang begitu tenang hingga sulit ditebak apa yang sebenarnya ia rasakan.
Zahra mengernyit tipis, sementara Rayan terus menatapnya tanpa berkedip.
"Semua yang selama ini disembunyikan... sudah mulai terungkap."
Zahra membeku sesaat. Senyum tipis yang tadi masih bertahan di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh raut wajah yang lebih tegang. Meski begitu, ia cepat mengendalikan diri, berusaha agar kegelisahan yang muncul tidak terlihat jelas.
Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap Rayan dengan sorot mata penuh kehati-hatian.
"Maksudmu apa?" tanyanya pelan.
"Rekaman CCTV. Gelas yang kau berikan malam itu. Semua terekam dengan jelas."
Dalam sekejap, ekspresi Zahra berubah drastis. Warna di wajahnya seolah lenyap, meninggalkan raut pucat yang sulit disembunyikan. Senyum yang tadi masih bertahan di bibirnya menghilang tanpa jejak.
Ia mencoba mengatakan sesuatu. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar. Untuk pertama kalinya, ia tampak kehilangan jawaban.
Di sisi lain, Rayan bergerak maju dengan langkah perlahan namun mantap. Jarak di antara mereka semakin menipis, sementara tekanan yang memenuhi ruangan terasa kian mencekam.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan?" tanyanya pelan.
Suaranya tidak tinggi, namun setiap kata terdengar jelas dan penuh tekanan.
"Aku tidak mengerti alasan di balik semua ini."