Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Pria yang Mengganti Identitasnya
Ruangan itu mendadak sunyi setelah panggilan berakhir.
Nara masih memegang ponselnya.
Jemarinya terasa dingin.
Sementara Damar berdiri di sampingnya dengan rahang mengeras.
Adrian terlihat jauh lebih pucat dibanding beberapa menit lalu.
---
"Dia tahu kita ada di sini."
ucap Damar akhirnya.
---
Tidak ada yang membantah.
Karena itulah kenyataannya.
---
Pria misterius itu tahu mereka menemukan flashdisk.
Tahu mereka sedang bersama.
Dan bahkan menyebut nama Adrian secara langsung.
---
Artinya satu hal.
---
Mereka sedang diawasi.
---
"Bagaimana mungkin?"
gumam Nara.
---
Adrian berjalan mondar-mandir.
---
"Entah."
---
"Tapi satu hal yang pasti."
---
Pria itu berhenti.
---
"Dia mulai kehilangan kesabaran."
---
Damar kembali melihat foto yang ada di layar laptop.
Foto lima pria.
Arman.
Nugroho.
Adrian.
Surya.
Dan Leonard.
---
Pria terakhir itu tersenyum ke arah kamera.
Tampak biasa.
Tidak ada yang mencurigakan.
Namun justru itulah yang membuatnya berbahaya.
---
"Kalau Leonard mengganti identitasnya..."
ucap Damar.
"...berarti dia sudah merencanakan semuanya sejak lama."
---
Adrian mengangguk.
---
"Sangat lama."
---
"Lebih lama dari yang kita kira."
---
Malam itu mereka akhirnya memutuskan pulang.
Namun sebelum berpisah, Damar memberikan keputusan tegas.
---
"Mulai besok."
---
"Kamu jangan pergi sendirian."
---
Nara langsung menghela napas.
---
"Damar."
---
"Aku serius."
---
Nada suara pria itu tidak memberi ruang untuk perdebatan.
---
"Ada orang yang mengancammu."
---
"Ada orang yang mengawasimu."
---
"Dan aku tidak akan mengambil risiko."
---
Untuk pertama kalinya.
Nara tidak membantah.
---
Karena jauh di dalam dirinya.
Ia juga mulai takut.
---
---
Keesokan paginya.
---
Nara tiba di kantor bersama Damar.
---
Hal itu langsung menarik perhatian banyak orang.
---
"Aku tidak salah lihat, kan?"
bisik salah satu staf.
---
"Mereka datang bersama."
---
"Tuh, aku bilang juga."
---
Nara memejamkan mata sesaat.
---
Gosip kantor memang tidak pernah mati.
---
Namun kali ini ia tidak punya energi untuk memikirkannya.
---
Pikirannya dipenuhi Leonard.
---
Siapa pria itu sebenarnya?
---
Kenapa sampai mengganti identitas?
---
Dan yang paling penting.
---
Apa hubungannya dengan kehancuran ayahnya?
---
Saat sedang berjalan menuju meja kerja, Siska langsung muncul.
---
"Wah."
---
"Makin terang-terangan nih."
---
Nara memutar mata.
---
"Bukan itu masalahnya."
---
"Kalau bukan, kenapa wajahmu seperti habis melihat hantu?"
---
Nara hampir menjawab.
Namun akhirnya mengurungkan niat.
---
Semakin sedikit orang yang tahu.
Semakin aman.
---
Atau setidaknya begitu yang ia harapkan.
---
---
Sementara itu.
Di ruang kerja utama.
---
Raka datang membawa beberapa dokumen baru.
---
"Aku menemukan sesuatu."
---
Damar langsung menatapnya.
---
"Apa?"
---
Raka meletakkan map tebal di meja.
---
"Data kependudukan lama."
---
"Dan?"
---
Raka membuka salah satu halaman.
---
"Lima belas tahun lalu."
---
"Leonard Hartono resmi menghilang."
---
Damar mengernyit.
---
"Menghilang?"
---
"Bukan meninggal."
---
"Bukan pindah."
---
"Hanya... menghilang."
---
Raka menunjuk lembar berikutnya.
---
"Setahun setelah itu muncul identitas baru."
---
Jantung Damar berdetak lebih cepat.
---
"Siapa?"
---
Raka mengangkat kepala.
---
Ekspresinya serius.
---
"Seseorang bernama Richard Halim."
---
Ruangan mendadak sunyi.
---
"Apakah ada foto?"
---
Raka mengangguk.
---
Lalu menyerahkan berkas.
---
Begitu melihat foto tersebut, Damar langsung membeku.
---
Karena wajah pria itu...
Sangat familiar.
---
Terlalu familiar.
---
Namun ia tidak bisa langsung mengingat di mana pernah melihatnya.
---
---
Sore harinya.
---
Nara menerima pesan dari Adrian.
---
> Aku ingat sesuatu.
Temui aku sekarang.
---
Setengah jam kemudian mereka sudah berada di kantor Adrian.
---
Pria itu terlihat gelisah.
---
Sangat gelisah.
---
"Ada apa?"
tanya Nara.
---
Adrian menarik napas panjang.
---
"Aku baru ingat kenapa wajah Leonard terasa familiar."
---
Damar langsung menatapnya.
---
"Kenapa?"
---
"Karena aku pernah melihatnya beberapa tahun lalu."
---
Nara membeku.
---
"Di mana?"
---
Adrian menelan ludah.
---
"Lelang amal."
---
"Lima tahun lalu."
---
"Lalu?"
---
Adrian membuka laptopnya.
---
Beberapa detik kemudian sebuah foto muncul.
---
Foto acara amal mewah.
Dipenuhi pengusaha dan pejabat.
---
Adrian memperbesar salah satu bagian.
---
Dan semua orang langsung terdiam.
---
Karena pria yang berdiri di sana...
Memiliki wajah yang sama.
---
Meski lebih tua.
---
Meski rambutnya berbeda.
---
Tetapi itu orang yang sama.
---
Leonard.
---
Atau Richard.
---
Atau siapa pun nama aslinya.
---
"Berarti dia masih hidup."
gumam Nara.
---
"Dan masih aktif."
jawab Adrian.
---
Jantung Nara berdegup semakin cepat.
---
Selama ini mereka seperti mengejar bayangan.
---
Kini bayangan itu mulai memiliki wajah.
---
Mulai memiliki bentuk.
---
Mulai terasa nyata.
---
Namun kejutan belum berakhir.
---
Karena Adrian memperbesar bagian lain dari foto tersebut.
---
Dan kali ini.
Nara langsung membeku.
---
"Tidak mungkin."
bisiknya.
---
Damar ikut melihat.
---
Lalu ekspresinya ikut berubah.
---
Karena di samping Leonard...
Berdiri seseorang yang mereka kenal.
---
Sangat kenal.
---
Orang itu tersenyum ke arah kamera.
---
Tidak terlihat mencurigakan.
---
Tidak terlihat berbahaya.
---
Namun keberadaannya di sana membuat seluruh teori mereka terguncang.
---
"Dia..."
gumam Damar.
---
"Kenapa dia ada di sana?"
---
Tidak ada yang bisa menjawab.
---
Karena orang dalam foto itu adalah...
Salah satu direktur senior Grup Wijaya.
---
Orang yang selama ini bekerja bersama Damar.
---
Orang yang selama ini dipercaya perusahaan.
---
Dan tiba-tiba namanya muncul di dekat Leonard.
---
Mata Adrian menyipit.
---
"Kalau dia terlibat..."
---
Kalimat itu menggantung.
---
Karena konsekuensinya sangat besar.
---
Sangat berbahaya.
---
---
Malam semakin larut.
---
Mereka mulai menyusun kembali seluruh potongan teka-teki.
---
Arman menemukan penggelapan dana.
Surya terlibat.
Leonard menghilang dan mengganti identitas.
Ancaman mulai berdatangan.
Dan sekarang muncul koneksi ke Grup Wijaya.
---
Terlalu banyak benang yang saling terhubung.
---
Namun di tengah semua itu.
Satu pertanyaan masih belum terjawab.
---
Siapa dalang sebenarnya?
---
Karena semakin jauh mereka melangkah.
Semakin terasa bahwa Surya hanyalah pion.
---
Bukan pemain utama.
---
---
Saat Nara akhirnya pulang.
Ia merasa sangat lelah.
---
Namun begitu masuk rumah.
Firasat buruk langsung muncul.
---
Sesuatu terasa berbeda.
---
Lampu ruang tamu menyala.
---
Padahal pagi tadi ia yakin sudah mematikannya.
---
Jantungnya langsung berdetak keras.
---
Perlahan ia melangkah masuk.
---
"Siapa di sana?"
---
Tidak ada jawaban.
---
Keheningan.
---
Namun kemudian ia melihat sesuatu di atas meja.
---
Sebuah amplop cokelat.
---
Tidak ada nama.
Tidak ada alamat.
---
Hanya satu lembar kertas di dalamnya.
---
Tangan Nara mulai gemetar saat membukanya.
---
Dan darahnya langsung terasa dingin.
---
Karena di dalam amplop itu terdapat sebuah foto.
---
Foto dirinya.
---
Foto yang diambil diam-diam.
---
Foto saat ia keluar dari kantor tiga hari lalu.
---
Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan.
---
> Berhentilah mencari kebenaran.
---
Napas Nara tercekat.
---
Namun ada satu hal lagi.
---
Sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
---
Di sudut foto.
Terdapat bayangan seseorang.
---
Seseorang yang sedang berdiri memperhatikannya dari kejauhan.
---
Dan setelah memperbesar gambar dengan ponselnya...
Nara langsung membeku.
---
Karena pria itu mengenakan pin perusahaan Grup Wijaya.
---
Artinya...
---
Musuh mereka mungkin tidak berada di luar.
---
Musuh mereka mungkin sudah berada sangat dekat selama ini.
---
Bersambung ke Bab 32