Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Dikepung Gerombolan Binatang Roh
Berita tentang asal-usul tempat ini seketika mengubah seluruh fokus pikiran Riu Han. Niat awalnya yang ingin segera mencari jejak rekan seperguruan Sekte Pedang perlahan tersisih, digantikan oleh tekad yang jauh lebih besar: menemukan jejak dan peninggalan sekte kuno dari Alam Atas.
Ia masih teringat jelas penjelasan Long Siu. Alam Atas berada jauh di atas dunia tempat mereka tinggal—dunia yang sering disebut Alam Bawah. Di sana, kekuatan setengah langkah dewa atau bahkan Dewa Kecil hanyalah tingkatan yang dianggap biasa, bahkan setara dengan pelayan di sekte-sekte besar. Bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan dan peninggalan yang ditinggalkan oleh peradaban setinggi itu. Sementara di Alam Bawah ini, Dewa Kecil adalah tingkatan tertinggi yang hanya ada dalam legenda, jarang pernah terlihat oleh mata manusia biasa. Perbandingannya sungguh seperti perbedaan antara langit yang tinggi dan bumi yang paling bawah.
Setelah selesai berbicara, suara Long Siu perlahan menghilang kembali. Ia kembali ke dalam istirahat panjang—baginya tidur adalah cara terbaik untuk berkultivasi dan memadatkan jiwa serta kekuatan rohaninya yang masih rapuh setelah hancur ribuan tahun lalu.
Riu Han pun kembali melangkah menyusuri hamparan ilalang yang tak berujung. Namun seiring berjalannya waktu, indra pengamannya tiba-tiba menangkap sesuatu yang tidak beres. Di antara rimbunnya ilalang itu, tersembunyi banyak pasang mata yang mengawasi, dan gerakan halus yang menyelinap dari segala arah. Bukan hanya satu atau dua ekor, melainkan seolah satu pasukan utuh yang mengepungnya diam-diam.
Tanpa ragu, Riu Han mencabut pedang yang terselip di punggungnya. Itu adalah senjata tingkat Bumi yang ia dapatkan dengan menukarkan poin kontribusi di Sekte Pedang. Ia sengaja menggunakannya sebagai kedok. Pedang pendek peninggalan kuno yang dulu sering ia gunakan ternyata memiliki kualitas yang jauh melampaui pemahamannya—ia menyadari bahwa itu adalah senjata kelas tertinggi yang tidak boleh diketahui orang lain. Kecuali dalam keadaan paling mendesak, ia tidak akan pernah mengeluarkannya. Pedang tingkat Bumi ini sudah sangat cukup untuk menyamarkan kemampuan aslinya sekaligus menyesuaikan dengan tingkatan kultivasinya yang terlihat.
Dengan langkah pelan dan penuh kewaspadaan, matanya bergerak lincah memantau setiap sudut, telinganya menangkap setiap desir angin yang berbeda. Ia melangkah maju perlahan.
“Siut… Jleb!”
Sosok berbulu perak melesat keluar secepat kilat dari balik ilalang, menerkam ke arah lehernya. Namun Riu Han lebih cepat—ujung pedangnya tepat menembus mata hingga ke otak serigala itu sebelum cakarnya sempat menyentuh kulit.
Saat ia menoleh ke kiri dan kanan, tubuhnya sedikit menegang. Ia baru menyadari bahwa dirinya kini benar-benar dikepung rapat oleh puluhan serigala roh berbulu perak dengan mata merah menyala. Sebagian besar adalah binatang roh tingkat tiga, dan di tengah kepungan berdiri seekor serigala yang ukurannya lebih besar dua kali lipat—pemimpin kelompok itu, binatang roh tingkat empat.
Dulu ia pernah berhadapan dengan belasan serigala, tapi menghadapi jumlah hampir seratus ekor sekaligus adalah pengalaman pertamanya. Namun napasnya tetap tenang. Tingkat kultivasinya saat ini sudah setara dengan sang pemimpin serigala, dan itu memberinya kepercayaan diri penuh.
Ia mengerahkan Teknik Langkah Bayangan. Tubuhnya berubah menjadi bayangan samar yang bergerak tak terduga di tengah kepungan. Kilatan pedang menyambar ke kiri, menusuk ke kanan, menebas ke atas dan ke bawah tanpa henti.
“Hiem… Bam… Buk… Trang!”
Darah memercik ke mana-mana, tubuh serigala jatuh satu demi satu. Tidak ada yang bisa menahan satu tebasan pun dari pedangnya. Dalam waktu singkat, seluruh gerombolan itu pun habis terkapar di tanah.
Riu Han menghela napas panjang sambil menyeka keringat di keningnya. “Hah… ini pertama kalinya aku melawan jumlah sebanyak ini sekaligus. Hampir seratus ekor binatang roh sekaligus. Untungnya kekuatanku sudah berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan saat pertama kali aku berlatih di hutan belakang vila dulu.”
Ia beristirahat sejenak untuk mengatur napas, lalu melanjutkan perjalanan. Satu hari penuh berjalan menyusuri ilalang, akhirnya pandangannya terbuka lebar. Ia telah keluar dari lautan ilalang dan kini berdiri di tepian sebuah hutan bunga yang luasnya tak terukur. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan bunga berwarna-warni dengan bentuk dan jenis yang belum pernah ia lihat seumur hidup. Pemandangan yang begitu indah dan damai perlahan menenangkan hatinya yang sempat tegang.
Meski dulu ia sering berkelana sendirian di hutan belakang kediaman keluarganya, suasana di sini sungguh berbeda. Keindahan ini menyembunyikan bahaya yang jauh lebih mengerikan. Ia yakin gerombolan serigala tadi hanyalah permulaan—alam mistis peninggalan kuno ini pasti menyimpan ancaman yang jauh lebih dahsyat lagi.
Dengan langkah santai namun tetap waspada, ia menyusuri hamparan bunga itu. Di kejauhan, terlihat jelas batas hutan yang dipenuhi pepohonan berbatang gelap dan dedaunan lebat yang menutupi sinar matahari. Itulah tujuannya.
Tiba-tiba—“Siuttt… Bam!”
Tanpa peringatan sedikit pun, sesuatu yang berat menghantam samping tubuhnya. Riu Han terpental jauh ke udara sebelum jatuh berguling di atas hamparan bunga, menghancurkan banyak kelopak di sekitarnya.
“Buum!”
Ia segera bangkit berdiri, memegang pedang erat-erat dan memasang kuda-kuda siap bertarung. “Sial! Aku benar-benar lengah terlalu jauh.”
Ia terlalu fokus menatap hutan gelap di kejauhan, sampai lupa mengawasi sekelilingnya dengan ketat. Ternyata ada binatang roh berwujud ular raksasa yang bersembunyi di bawah tanah, menunggu momen tepat untuk menyerang secara tiba-tiba.
Meski serangan itu sangat keras, tubuhnya tidak terluka parah. Selama berlatih di Sekte Pedang, ia tidak hanya mengasah teknik pedang dan kultivasi semata. Ia juga rutin berlatih di dekat sumber Air Inti Bumi serta mengonsumsi buah-buahan roh dan tanaman obat yang ia tanam sendiri di dalam taman herbal di cincin ruang. Selama bertahun-tahun, sirkulasi energi antara air ajaib dan tanaman obat itu saling memperkuat, membuat khasiatnya berlipat ganda dan menembus batas biasa.
Hasilnya sungguh luar biasa: meski kultivasinya baru berada di tingkat Jenderal Dua, ketahanan fisik dan kekuatan tubuhnya sudah setara dengan kultivator tingkat Raja Akhir—atau binatang roh tingkat enam tahap akhir.
Di hadapannya kini melata seekor ular raksasa bersisik hitam pekat yang memantulkan cahaya dingin. Itu adalah binatang roh tingkat enam tahap awal. Mulutnya terbuka sedikit seolah menyeringai meremehkan, menatap Riu Han yang tingkatan kultivasinya dua tingkat lebih rendah darinya dengan pandangan penuh kesombongan.
Tanpa basa-basi lagi, ular itu mengayunkan ekornya yang sebesar tubuh orang dewasa dengan kecepatan mengerikan. “Booom!” Angin kencang menyapu bersih hamparan bunga di jalur serangannya.
Riu Han melompat ke samping dengan gesit, menghindari sabetan mematikan itu. Alih-alih menjauh, ia justru memanfaatkan celah itu untuk melesat maju secepat kilat. Sebelum kepala ular sempat bereaksi, ia sudah melompat tinggi tepat di atas kepala musuhnya.
“Jleb!”
Pedangnya menusuk tepat ke pangkal leher yang paling rentan. Mata merah ular itu melotot lebar, tubuhnya melengkung hebat sesaat sebelum akhirnya terkulai jatuh ke tanah dengan bunyi dentuman yang menggetarkan bumi. Tak lama kemudian napasnya berhenti selamanya.
Riu Han menarik napas lega sambil menatap bangkai ular itu. Sungguh kesombongan yang tragis. Ular itu mati bukan semata-mata karena kekuatan Riu Han, melainkan karena ia terlalu meremehkan lawan yang terlihat lemah di permukaan. Ia menganggap tingkatan kultivasi adalah segalanya, lupa bahwa di dunia ini masih banyak hal yang bisa menyembunyikan kekuatan asli seseorang.
Seringkali, memandang rendah orang lain adalah kesalahan fatal yang harus dibayar dengan nyawa. Pelajaran itu kembali tertanam kuat di dalam hati Riu Han.