NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Tidak Mungkin

...

Matahari pagi kembali merangkak naik, membakar sisa-sisa kelembapan di sepanjang trotoar jalan protokol Jakarta Utara. Debu jalanan beterbangan, bercampur dengan asap hitam dari knalpot truk-truk kontainer yang mulai merayap padat. Bau khas kota yang bising, gerah, dan kotor menyengat indra penciuman siapa saja yang terpaksa mengais rezeki di bawah langitnya.

Di salah satu sudut median jalan, Bu Yuni sedang sibuk menata beberapa botol air mineral di dalam bakul plastiknya. Namun, gerakan tangannya melambat ketika sepasang matanya yang sudah mulai berkerut menangkap siluet tubuh jangkung Rangga yang berdiri tidak jauh dari posisinya.

Bu Yuni mengernyitkan dahi. Ada yang sangat ganjil dengan pria jangkung itu hari ini. Biasanya, sejak pukul enam pagi, suara medok Rangga yang cempreng sudah menggema. Namun pagi ini, Rangga tampak seperti kehilangan jiwanya. Dia berdiri lesu, memegangi gagang sapu lidi panjangnya dengan pandangan mata yang kosong, tertuju pada aspal.

Sesekali, sepasang mata sipit pria itu bergerak gelisah, melirik ke arah trotoar seberang. Di sana, Tania sedang menyapu dengan ritme yang sangat konstan, tenang, dan dingin. Rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam soal semalam tampak jelas mengimpit pundak tegap Rangga. nampak membungkuk lesu. membuatnya terlihat jauh lebih tua dari usia aslinya.

Bu Yuni mengembuskan napas pendek, lalu melangkah mendekati Rangga dengan daster batiknya yang berkibar pelan ditiup angin jalanan.

"Ngga," panggil Bu Yuni, menepuk bahu Rangga agak keras hingga pria itu tersentak kecil. "Kamu ini kenapa toh? Dari tadi Ibu perhatikan kok lesu banget. Gak ada ceria-cerianya sama sekali. Muka ditekuk kayak cucian belum kering, terus mata itu... kok bolak-balik ngelirik si Neng Tania kayak orang ketakutan? Kalian ada masalah?"

Rangga menoleh, menatap Bu Yuni dengan senyum kecut yang dipaksakan. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menyugar rambut hitamnya yang hari ini sengaja tidak dia tata rapi seperti kemarin. "Ah... Bu Yuni. Enggak kok, gak ada apa-apa."

"Halah, gak usah bohong sama orang tua. Kelihatan jelas dari mukamu yang kusut itu," desak Bu Yuni, melipat kedua tangannya di dada.

Rangga menghela napas panjang, pundaknya merosot lemas. Dia melirik Tania sekali lagi memastikan wanita itu berada cukup jauh sebelum akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya. Dengan suara yang direndahkan, Rangga membeberkan kejadian semalam di pos ronda. Tentang bagaimana dia gagal menjaga ketenangan Tania, tentang tuduhan ketus dari wanita godaannya, hingga tisu basah yang dilempar ke wajah Tania. Dan yang paling membuat hatinya mencelos, keputusan dingin Tania untuk tidak akan pernah mau ikut nongkrong lagi bersamanya.

"Aku merasa bersalah bener, Bu," bisik Rangga, suaranya terdengar sangat parau, dipenuhi emosi kelam yang tertahan di tenggorokan. "Dua kali ikut nongkrong, dua kali juga dia kena masalah gara-gara lingkungan sekitarku. Dia itu orang baik, Bu. Sudah bantu biayain rumah sakit ayahku sampai lunas administrasi awalnya. Tapi aku... aku malah kayak bawa sial buat dia."

Bu Yuni terdiam mendengarkan penuturan itu. Pandangannya beralih menatap sosok Tania di seberang jalan yang masih bergerak dengan keanggunan yang kaku. Wanita paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepala, bersimpati pada kerumitan emosi yang kini menjerat hati sang playboy kampung yang tampaknya benar-benar telah menemukan pawang sejatinya.

...

Sementara itu, di sisi trotoar tempatnya berada, Tania sama sekali tidak memedulikan tatapan dari Rangga maupun Bu Yuni. Pikirannya tetap berada di level kewaspadaan tertinggi yang konstan. Baginya, riak kecil di pos ronda semalam sudah selesai dan dikubur dalam-dalam. Fokus utamanya sekarang adalah bertahan hidup dalam senyap tanpa memancing perhatian otoritas mana pun.

Sret... sret... sret...

Suara sapuan lidi Tania beradu dengan deru mesin kendaraan yang mendadak melambat di jalur utama. Lampu lalu lintas di perempatan besar yang terletak tepat di samping area menyapunya berubah warna menjadi merah darah. Barisan mobil dan motor perlahan berhenti, menciptakan antrean yang memancarkan hawa panas ke udara pagi.

Tania menegakkan punggung kurusnya sejenak, menyeka keringat tipis yang keluar di pelipisnya menggunakan punggung tangan yang berbalut sarung tangan kain kusam. Secara tidak sengaja, sepasang mata kelamnya menangkap sosok sebuah mobil sedan mewah hitam pekat dengan kaca mobil searah one-way yang sangat tebal berhenti tepat di lajur kiri, berjarak kurang dari tiga meter dari posisinya berdiri.

Yang menarik perhatian insting tajamnya adalah sebuah lencana kecil berbahan kuningan mengkilap yang tersemat di bagian sudut plat nomor kendaraan tersebut sebuah simbol resmi kepolisian yang sangat dia kenali bentuk hierarkinya, meskipun ini berada di negara yang berbeda.

Tania menatap mobil mewah itu selama dua detik. Wajahnya di balik masker tetap datar, tanpa ada riak kepanikan. Sebagai seorang Marysa yang menghabiskan separuh hidupnya mengecoh aparat penegak hukum di berbagai belahan dunia, melihat mobil polisi atau kendaraan dinas pejabat adalah hal biasa yang tidak lagi memicu adrenalinnya. Menganggap hal itu sama sekali tidak penting untuk kelangsungan hidupnya hari ini, Tania dengan acuh tak acuh membalikkan tubuhnya, memunggungi mobil tersebut untuk melanjutkan aktivitas memungut sampah plastik di pembatas jalan.

Namun, takdir selalu memiliki cara yang paling lambat dan menyiksa untuk mempermainkan manusia.

Tepat ketika Tania membalikkan tubuhnya, kaca jendela baris belakang mobil sedan mewah itu perlahan bergerak turun ke bawah dengan suara seperti desis motor listrik yang halus. Hawa dingin dari sistem pendingin udara AC mobil yang mewah sesaat menyeruak keluar, memotong kegerahan udara tropis di luar.

Dari dalam kabin yang sejuk, sesosok pria dengan rahang tegas dan setelan kemeja taktis hitam formal mengulurkan tangannya yang terbalut jam tangan perak mahal. Pria itu adalah Kapten Herry. Dia baru saja mendarat di Jakarta beberapa jam yang lalu menggunakan pesawat pribadi militer dan kini sedang dalam perjalanan menuju tempat penginapan VIP bersama rombongan protokoler keluarga Han.

"Pak... korannya, Pak. Koran pagi," seorang bapak tua penjual koran asongan paruh baya dengan tubuh membungkuk dan wajah legam terbakar matahari dengan sigap mendekat ke jendela mobil, menyodorkan beberapa lembar surat kabar harian lokal Jakarta.

Herry mengeluarkan selembar uang berwarna pink tanpa ekspresi, memberikannya kepada sang penjual koran, lalu menerima lipatan kertas berita tersebut. Gerakannya sangat mekanis, dingin, dan kaku cerminan dari jiwanya yang sedang mengalami stres berat akibat tumpukan misteri yang belum terpecahkan di kepalanya.

Setelah menerima koran itu, sebelum menarik kembali tangannya, Herry menolehkan kepalanya ke arah luar jendela secara asal. Itu adalah sebuah gerakan refleks yang tidak didasari oleh tujuan apa pun, hanya sebuah pandangan sekilas seorang asing yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota besar yang padat ini.

Melalui celah jendela yang terbuka penuh, sepasang mata jelaga Herry yang sedingin es menyisir trotoar jalan raya. Di sana, di antara debu bensin yang beterbangan dan hiruk-pikuk pedagang kaki lima, pandangannya tidak sengaja terkunci pada satu objek visual selama satu fraksi detik.

Dia melihat sekilas punggung seorang wanita berbalut pakaian seragam kebersihan berwarna oranye kusam. Wanita itu memiliki rambut cokelat pendek sebahu yang bergerak sedikit ditiup angin pagi dari arah pelabuhan. Postur tubuh wanita penyapu jalanan itu tampak begitu tegak lurus, sebuah gestur fisik yang sangat tidak biasa untuk seorang pekerja kasar di pinggir jalan raya.

Deg.

Dada Herry mendadak berdenyut dengan ritme yang ganjil. Ada sensasi hantaman tak kasat mata yang menusuk tepat ke pusat labirin ingatannya yang rusak. Sebuah getaran emosional yang sangat gelap, tajam, namun dipenuhi kerinduan yang menyiksa bangkit seketika di dalam rongga dadanya. Profil punggung itu.... entah mengapa terasa begitu familier di dalam memori bawah sadarnya yang terkunci.

Herry memicingkan matanya, mencoba menatap lebih fokus lagi ke arah wanita berpakaian oranye yang kini terus berjalan memunggunginya tanpa pernah menoleh ke belakang.

"Kapten Herry? Ada apa? Apa ada sesuatu yang mencurigakan di luar?"

Suara Jessica Hwang Won yang duduk di sebelah kanannya memecah keheningan di dalam mobil. Jessica menatap tunangannya dengan alis menyengkit heran, memperhatikan bagaimana rahang tegas Herry mendadak mengeras dengan pandangan mata yang terkunci ke arah luar jendela trotoar.

Herry tersentak kecil. Kehadiran suara Jessica seolah menariknya kembali dari jurang ilusi gelap yang hampir menguasai warasnya. Pria itu menelan ludah perlahan, menekan seluruh gejolak keresahan yang mendadak membakar dadanya. Dia tahu, tidak mungkin seorang Marysa, ratu mafia penguasa Seoul yang memiliki aset triliunan won, akan berada di tempat sekotor ini, mengenakan baju oranye kusam, dan memegang sapu lidi di pinggir jalan raya Jakarta. Itu adalah hal yang sangat tidak logis, sebuah kegilaan yang diciptakan oleh otaknya yang terlampau stres memikirkan kasus pelarian maritim semalaman.

Herry menggelengkan kepalanya perlahan, memutus kontak pandangnya dari luar. "Tidak ada apa-apa, Jessica. Hanya... melihat kemacetan kota ini."

Herry menekan tombol di panel pintu, dan kaca jendela mobil itu kembali bergerak naik dengan lambat, menutup seluruh akses visual, mengurung kembali sang polisi di dalam dinginnya kabin ber-AC yang steril.

Klik.

Lampu lalu lintas di perempatan itu mendadak berganti warna menjadi hijau terang. Klakson kendaraan dari arah belakang langsung bersahut-shutan dengan bising. Sopir protokoler kepolisian dengan cekatan menginjak pedal gas, membuat mobil sedan mewah hitam itu kembali melaju membelah jalanan, membawa Herry melesat pergi menuju kompleks penginapan bintang lima tempat rombongan militer dan keluarga Han beristirahat.

Tania tetap membelakangi jalan raya, mengayunkan sapu lidinya dengan tenang tanpa pernah tahu bahwa pria yang paling terobsesi untuk menyeretnya kembali ke dalam kegelapan sel besi baru saja melewatinya dalam jarak hitungan meter.

...

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!