NovelToon NovelToon
Gairah Sang Duda Mandul

Gairah Sang Duda Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tes DNA

Malam yang semakin larut tidak membawa ketenangan, melainkan ketegangan yang kian memuncak.

Suasana di dalam kamar utama mansion Salvatore terasa begitu mencekam, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh kecurigaan yang membakar.

Isak tangis Alice perlahan mereda menjadi tersedu-sedu yang sesak, sementara Elvano masih berdiri mematung di ujung ranjang, memandangi alat tes kehamilan plastik itu dengan tatapan yang murka dan kebimbangan yang menyiksa.

Cemburu buta dan ego seorang Bos Mafia yang merasa dikhianati terus bergolak di dalam dada Elvano.

Namun, kilatan kejujuran di sepasang mata hazel Alice yang basah tidak bisa diabaikannya begitu saja.

Di dunia mafia, asumsi adalah peluru yang bisa berbalik membunuh diri sendiri.

Elvano membutuhkan fakta yang tidak terbantahkan.

Ia membutuhkan kebenaran yang tertulis di atas kertas medis, bukan sekadar sumpah air mata.

"Berdiri," perintah Elvano.

Suaranya tidak lagi menggelegar seperti beberapa menit lalu, melainkan beralih menjadi dingin dan datar.

 "Ganti pakaianmu. Kita pergi sekarang."

Alice mendongak dengan wajah yang sembap dan rambut yang berantakan.

"T-Tuan... ke mana?"

"Ke rumah sakit," sahut Elvano pendek tanpa memandang wajah Alice.

Pria itu menyambar kunci mobil sport hitamnya dan sebuah mantel tebal dari dalam lemari.

 "Aku tidak akan membiarkan selembar kertas plastik murahan menentukan siapa yang berbohong di antara kita. Jalur medis yang akan membuktikannya."

Meskipun tubuhnya masih lemas dan gemetar akibat guncangan emosional, Alice tidak memiliki pilihan selain patuh.

Dengan tangan yang kaku, ia mengenakan mantel wol abu-abu yang diberikan Elvano di atas gaun lavendernya.

Malam itu, pukul satu dini hari, gerbang besi raksasa mansion Salvatore terbuka dengan tergesa-gesa.

Mobil sedan mewah berpengawal ketat membelah jalanan perbukitan yang sepi dengan kecepatan tinggi, menuju ke arah pusat kota.

Tujuan mereka adalah sebuah rumah sakit swasta eksklusif bertaraf internasional yang seluruh saham mayoritasnya dimiliki oleh klan Salvatore.

Di tempat itu, privasi dan kerahasiaan adalah hukum tertinggi yang tidak boleh dilanggar oleh staf medis mana pun.

Sepanjang perjalanan, keheningan di dalam mobil terasa begitu mencekam.

Elvano fokus mengemudikan setir dengan rahang yang mengeras dan tatapan lurus ke depan, sementara Alice hanya bisa memandangi gemerlap lampu kota dari balik jendela kaca yang berembun, memeluk perutnya sendiri dengan rasa takut yang kian menggebu.

Begitu kendaraan berhenti di lobby khusus VVIP rumah sakit, beberapa petugas keamanan bertubuh tegap langsung mendekat.

Elvano keluar dari mobil, melangkah lebar ke sisi pintu Alice, lalu menarik pergelangan tangan gadis itu dengan tegas.

Tidak kasar, namun tidak pula memberi ruang bagi Alice untuk mundur satu inci pun.

Seorang pria paruh baya berkacamata dengan jas putih dokter sudah berdiri menyambut mereka di koridor khusus yang telah dikosongkan dari pasien lain.

Beliau adalah Dokter hendra, spesialis kandungan senior sekaligus dokter kepercayaan pribadi keluarga Salvatore yang telah memegang rekam medis Elvano selama bertahun-tahun.

"Tuan Besar Salvatore, suatu kehormatan. Saya sudah menyiapkan ruangan laboratorium dan ruang pemeriksaan utama sesuai instruksi darurat Anda," ucap Dokter Hendra dengan membungkuk hormat, mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat wajah tegang sang Bos dan kondisi Alice yang tampak habis menangis.

"Lakukan tes darah, pemeriksaan kadar hormon, dan apa pun yang diperlukan untuk memastikan kondisinya," titah Elvano dingin, suaranya menggema di koridor rumah sakit yang sunyi.

 "Aku ingin hasil yang akurat. Tidak boleh ada kesalahan satu persen pun."

"Baik, Tuan Besar. Silakan Nona... mari ikut suster ke ruang tindakan," ujar Dokter Hendra lembut kepada Alice.

Alice menoleh sejenak ke arah Elvano, mencari sedikit saja kehangatan atau rasa percaya di mata pria itu.

Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang manik cokelat gelap yang sedingin es, mengawasi setiap gerak-geriknya bagai seorang sipir yang sedang memantau tahanan berbahaya.

Dengan pasrah, Alice melangkah masuk ke dalam ruang laboratorium yang serbaputih dan berbau antiseptic yang menyengat.

Proses pengambilan sampel darah berjalan dengan cepat.

 Jarum suntik menembus kulit lengan putih Alice, menarik beberapa tabung cairan merah dari tubuhnya untuk segera dibawa ke mesin analisis laboratorium tercepat yang dimiliki rumah sakit tersebut.

 Elvano berdiri tegak di sudut ruangan, melipat kedua tangannya di depan dada, memperhatikan setiap tetes darah yang keluar dengan mata yang tak berkedip.

Amarah dan kecemburuannya belum surut, pikiran negatif bahwa Alice mungkin telah disentuh oleh salah satu pengawalnya masih berbisik kejam di balik benaknya.

Setelah tes darah selesai, Alice dipindahkan ke ruang pemeriksaan utama yang dilengkapi dengan mesin Ultrasonography (USG) berspesifikasi tertinggi.

Cahaya di dalam ruangan tersebut diredupkan, menyisakan pendaran biru dari layar monitor besar di samping ranjang periksa.

"Nona Alice, silakan berbaring di sini. Buka sedikit mantel dan bagian bawah gaun Anda, saya akan mengoleskan gel khusus untuk melihat kondisi di dalam rahim Anda," instruksi Dokter Hendra dengan profesional.

Alice berbaring dengan kaku di atas ranjang periksa. Gel dingin yang dioleskan di perut bawahnya membuat tubuhnya sedikit tersentak.

Di samping ranjang, Elvano melangkah mendekat. Pria itu berdiri tepat di samping Dokter Hendra, matanya mengunci layar monitor hitam-putih yang mulai menampilkan struktur organ dalam tubuh Alice saat transduser digerakkan.

Dokter Hendra menggerakkan alat penjelajah itu dengan telaten, dahinya berkerut serius memandangi gambar di layar monitor.

Keheningan di dalam ruangan itu terasa begitu mencekam, hingga suara detak jantung Alice yang terhubung dengan alat monitor terdengar berdegup kencang dengan ritme yang tidak teratur.

Setelah beberapa menit yang menegangkan, gerakan tangan Dokter Hendra terhenti di satu titik di dalam visualisasi rahim Alice.

Sebuah senyum tipis mendadak terbit di wajah sang dokter senior.

"Lihat ini, Tuan Besar," tunjuk Dokter Hendra pada sebuah lingkaran hitam kecil berukuran beberapa milimeter yang terletak di tengah-tengah area rahim pada layar monitor.

 "Ini adalah kantung kehamilan yang sudah terbentuk dengan sangat sempurna."

Jantung Elvano mendadak berhenti berdetak selama satu detik penuh saat melihat lingkaran kecil tersebut.

"Hasil analisis awal dari sampel darah juga baru saja keluar melalui tablet saya," lanjut Dokter Hendra sembari melirik tablet medis di tangan kirinya.

 "Kadar hormon Human Chorionic Gonadotropin (hCG) Nona Alice sangat tinggi. Saya bisa mengonfirmasi secara penuh bahwa Nona Alice memang positif hamil."

"Berapa usianya?" tanya Elvano, suaranya mendadak terdengar serak, ada sebuah getaran asing yang coba ia tekan sekuat tenaga di dalam tenggorokannya.

 "Berapa minggu?"

Dokter Hendra mengukur diameter kantung kehamilan tersebut menggunakan kursor digital di layar komputer.

 "Berdasarkan ukuran kantung gestasi dan kadar hormon di dalam darahnya... usia kandungan ini baru menginjak tepat empat minggu, Tuan Besar. Kurang lebih satu bulan."

Tepat empat minggu. Satu bulan.

Mendengar penuturan medis tersebut, akal sehat Elvano seolah-olah dihantam oleh gelombang tsunami yang dahsyat.

Seluruh perhitungan waktu di dalam otaknya langsung bekerja dengan presisi yang mematikan.

Empat minggu yang lalu adalah malam pertama di mana Alice dibawa ke mansionnya.

Malam pertama di mana ia mengklaim tubuh gadis itu sebagai jaminan utang dengan penuh kebuasan dan tanpa batas.

Selama satu bulan terakhir, Elvano mengurung Alice di dalam kamar utamanya.

Penjagaan di mansion Salvatore begitu ketat hingga tidak ada satu pun pengawal atau manusia luar yang bisa mendekati kamar tersebut tanpa izin tertulis darinya, apalagi menyentuh Alice.

Dan waktu empat minggu ini... adalah rentang waktu yang sangat pas, sangat jelas dengan setiap malam yang ia habiskan bersama Alice di atas ranjang mereka.

Elvano mematikan pandangannya ke arah monitor, lalu perlahan menurunkan tatapannya pada sosok Alice yang masih terbaring di atas kasur periksa.

Gadis itu sedang menatapnya dengan mata hazel yang berkaca-kaca, dipenuhi oleh rasa sakit hati karena telah dituduh melakukan hal yang menjijikkan.

"Dokter Hendra," panggil Elvano, suaranya bergetar dengan cara yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya.

"Bagaimana dengan... diagnosa mandulku sepuluh tahun lalu?"

Dokter Hendra mengembuskan napas panjang, menatap sang Don dengan tatapan penuh pemahaman medis.

"Tuan Besar... dalam dunia kedokteran, tidak ada yang seratus persen pasti kecuali kematian. diagnosa sepuluh tahun lalu menyatakan bahwa jumlah sel sperma Anda sangat sedikit akibat trauma fisik, mendekati angka nol, yang membuat kemungkinan kesuburan anda secara teori adalah keajaiban medis. Namun, 'kemungkinan kecil' tidak sama dengan 'tidak bisa sama sekali'."

Dokter Hendra membetulkan letak kacamata hitamnya.

"Dengan tingkat intensitas hubungan yang Anda lakukan belakangan ini, seperti yang Anda sebutkan dalam laporan medis ditambah dengan kondisi rahim Nona Alice yang sangat subur dan sehat... keajaiban bisa saja terjadi. Lingkaran di layar ini adalah buktinya. Ini adalah darah daging Anda sendiri, Tuan Besar Salvatore. Tidak ada keraguan tentang itu."

Mendengar konfirmasi akhir dari sang dokter, seluruh kecurigaan Elvano runtuh berkeping-keping.

Amarah yang membakar, cemburu buta yang sempat membuatnya ingin membunuh seisi mansion, dan kecurigaan kelam yang menguasai kepalanya sejak malam tadi... seketika menguap, digantikan oleh sebuah rasa syukur yang teramat besar, dan melumpuhkan egonya sebagai seorang pria mandul.

Di dalam rahim tawanannya yang polos, benihnya yang selama sepuluh tahun ini ia yakini telah mati... ternyata tumbuh menjadi sebuah kehidupan baru.

Sebuah rahasia medis yang terbongkar malam itu tidak hanya membersihkan nama Alice dari tuduhan pengkhianatan, melainkan juga menanamkan obsesi dan sifat posesif yang jauh lebih mengerikan di dalam jiwa sang Bos Mafia karena kini, Alice tidak lagi sekadar wanita yang dicintainya, melainkan ibu dari satu-satunya pewaris sah takhta klan Salvatore.

1
Mia Camelia
sah🥰🥰🥰
Enz99
bagus
Qil Qilla
ayoo semangatt untuk up cerita inii sayanggg😍😍
Mia Camelia
tuh kan baru yakin tuh klo itu anak nya🤔
Mia Camelia
ehhm jujur aja sih 🤣🤣🤣
Mia Camelia
hamil kah ??😂😂😂
Mia Camelia
elvano udh serius banget nih🥰
Mia Camelia
ayolah el jangan jdi balok es mulu🤣🤣🤣kaku banget deh😂
Mia Camelia
elvano goood👍👍👍
Mia Camelia
ih jahat banget si paman albert, klo sampe elvano tau, langsung di ceburiin ke laut inimah🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!