Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Kehancuran yang Senyap
Malam itu, jarum jam hampir menyentuh angka dua pagi, namun ruang tamu utama di mansion keluarga Latief masih benderang. Hendra Latief berjalan bolak-balik dengan cemas di atas karpet bulu mahal, sementara Keysha duduk di sofa sembari terus menggigit kuku jarinya.
"Ayah, kenapa orang-orang suruhanmu belum memberi kabar?" tanya Keysha dengan suara bergetar ketakutan. "Ini sudah lewat dua jam sejak mereka membawa Sita."
Hendra mengepalkan tangannya yang berkeringat. "Tenang, Keysha. Pelabuhan barat itu sepi. Melenyapkan satu pelayan tidak akan memakan waktu lama. Setelah malam ini, tidak akan ada bukti yang tersisa."
Brak!
Pintu ganda mansion tiba-bandang ditarik terbuka secara paksa dari luar. Suara hantaman pintu itu membuat Hendra dan Keysha tersentak kaget.
Sesosok wanita bergaun hijau zamrud yang sedikit ternoda debu melangkah masuk dengan keanggunan yang dingin. Di belakangnya, berdiri Reynald dengan aura mengintimidasi yang sangat pekat, ditemani oleh Barra dan beberapa pengawal berbadan tegap. Dan yang paling membuat jantung Hendra serasa copot adalah sosok di belakang mereka: Sita, yang berjalan sembari terisak, dikawal ketat oleh tim keamanan Reynald Group.
"C-Chelsea? Reynald? Kenapa kalian... dan kenapa pelayan itu ada bersama kalian?!" gagap Hendra, wajahnya seketika berubah sewarna kertas semen.
Nadia melangkah maju, melipat tangannya di dada sembari menatap pamannya dengan pandangan meremehkan. "Kenapa, Paman? Paman terkejut melihat Sita masih bernapas? Atau Paman kecewa karena orang-orang suruhan Paman gagal memberikan 'susu' terakhir untuknya di pelabuhan barat?"
"Chelsea! Apa yang kamu bicarakan?! Paman tidak mengerti!" teriak Hendra, mencoba mempertahankan sisa-sisa topeng kebohongannya meskipun lututnya sudah gemetar hebat.
"Tuan Hendra Latief," Barra melangkah maju, mengeluarkan sebuah tablet digital yang menampilkan salinan manifes transaksi pasar gelap dan mutasi rekening Yayasan Latief. "Dua jam yang lalu, orang-orang Anda tertangkap tangan mencoba melakukan pembunuhan terhadap saudari Sita di pelabuhan barat. Kami juga telah mengamankan barang bukti zat Arsenik-X yang Anda beli menggunakan dana yayasan."
"Ini fitnah! Kalian tidak punya bukti kalau aku yang menyuruh mereka!" bentak Hendra, suaranya melengking tinggi karena panik.
Nadia hanya mengulas senyum miring yang sangat dingin. Ia mengangkat ponselnya, lalu menekan tombol play.
Suara tangisan Sita yang terekam dengan sangat jelas langsung menggema di ruang tamu yang luas tersebut: “...Tuan Hendra... Tuan Hendra yang menyuruh saya memasukkan serbuk itu ke susu Anda! Dia mengancam akan membunuh ibuku di kampung jika saya menolak!...”
Mendengar rekaman suara itu, Keysha langsung menjerit ketakutan dan menutup wajahnya, sementara Hendra terhuyung mundur hingga menabrak meja kaca di belakangnya. Topeng mereka telah hancur berkeping-keping. Bukti di tangan Chelsea sudah terlalu mutlak.
"Paman Hendra," panggil Nadia dengan nada suara yang teramat tenang namun mematikan. "Kamu mengincar seluruh sisa saham warisan ayahku untuk melunasi utang judimu di kasino Baskoro Corp, bukan? Kamu bekerja sama dengan Baskoro untuk membunuhku."
Hendra menatap Chelsea dengan mata terbelalak ngeri. "K-kamu... bagaimana kamu bisa tahu tentang Baskoro?!"
"Dunia ini tidak sebuta yang kamu kira, Paman," balas Nadia dingin. Ia menoleh ke arah Reynald yang sejak tadi mengawasi dengan tatapan singa yang siap menerkam mangsanya.
Reynald melangkah maju, berdiri di samping Nadia. Aura dominannya seketika membekukan ruangan. "Tim hukum dan pengacara pribandiku sudah menyerahkan seluruh berkas bukti ini ke markas besar kepolisian kota sepuluh menit yang lalu. Surat perintah penangkapanmu sedang dalam perjalanan ke rumah ini, Hendra."
Hendra langsung lemas. Ia jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin, menyadari bahwa seluruh kekuasaan, kekayaan, dan reputasi yang ia kejar selama ini telah lenyap dalam satu malam. Aliansinya dengan Baskoro justru menjadi tali yang mencekik lehernya sendiri.
"Chelsea... tolong... Paman khilaf... Paman adalah saudaramu satu-satunya..." ratap Hendra, mencoba merangkak mendekati kaki Chelsea untuk memohon ampun.
Namun, sebelum tangan Hendra sempat menyentuh gaun Nadia, sepatu pantofel mahal milik Reynald sudah terlebih dahulu menginjak lantai di depan tangan Hendra, menghalangi pria itu untuk mendekat.
"Jangan berani-berani menyentuh tunanganku dengan tangan kotormu, Hendra," desis Reynald dengan suara berat yang dipenuhi ancaman berbahaya.
Nadia menatap pamannya dari atas dengan pandangan kosong tanpa belas kasihan. Jiwa Nadia Kirana di dalam dirinya tahu betul rasa dikhianati, dan ia tidak akan pernah memberikan pengampunan bagi para pembunuh.
"Pak Haris," panggil Nadia kepada kepala pelayan yang sejak tadi mengintip dari balik pilar dengan wajah pucat.
"Y-ya, Nona Muda?"
"Mulai malam ini, kemas semua barang-barang Paman Hendra dan Keysha. Tempatkan mereka di gudang belakang sampai polisi datang menjemput mereka. Rumah ini... tidak menerima sampah lagi," perintah Nadia tegas.
"Baik, Nona Muda!" jawab Pak Haris patuh.
Suara sirine mobil polisi perlahan terdengar mulai mendekat dari kejauhan, membelah keheningan malam di kawasan elite tersebut. Nadia membalikkan badannya, menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu merah dan biru yang mulai memasuki pekarangan rumahnya.
Satu musuh di dalam rumah telah berhasil ia tumbangkan. Nadia mengembus napas panjang, meresapi kemenangan pertamanya di tubuh ini. Namun, ia tahu, musuh terbesar yang sesungguhnya masih berada di luar sana, duduk dengan tenang di kursi CEO perusahaannya yang lama.
Baskoro... batin Nadia dengan kilat mata yang menyala penuh dendam. Setelah tikus di rumah ini selesai dibereskan, giliran perusahanmu yang akan kubuat hancur berkeping-keping.
Reynald yang melihat kilat tekad di mata Chelsea perlahan menggenggam tangan gadis itu, memberikan kekuatan secara tidak langsung. "Satu masalah selesai. Siap untuk babak berikutnya, Tunanganku?"
Nadia menoleh menatap Reynald, lalu mengulas senyuman paling menawan malam itu. "Babak berikutnya adalah panggung pembantaian yang sesungguhnya, Tuan Reynald."