NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

belakang halaman

Angin malam dingin nyusup ke tulang, bulan setengah ngintip di balik awan, sinarnya perak jatuh ke lapangan panah, target kayu 10 meter di depan keliatan samar, obor di tiap sudut tiang nyala kecil, apinya goyang, bayangannya panjang

Aku keluar kamar pake mantel yang sama siang tadi, tanganku masih dingin, Axel bilang latihan panah tiap malam, janji dia, aku janji ga lari, jadi aku datang

Axel udah nunggu, punggungnya ke aku, baju latihannya abu-abu ketat, otot lengannya keliatan, di kakinya ada busur kayu gede, anak panah 10 biji ditancap di tanah

Dia noleh pas denger langkahku, mata merahnya liat aku dari atas sampe bawah, "dateng" katanya datar, tapi ujung bibirnya naik dikit, "kirain takut kedinginan"

Aku berdiri 2 meter di depan dia, "janji ya janji Axel, aku ga pernah lari dari kata-kata"

Axel ambil busur, dilempar ke aku, aku tangkep, berat, talinya kenceng, "berdiri di lingkaran itu, kaki selebar bahu, jangan goyang, aku ga mau ngulang adegan pagi"

Aku nurut, berdiri kaku, busur di tangan rasanya asing, Axel jalan muterin aku, langkahnya pelan, "tek tok", suaranya doang yang ada

"Angkat sikunya" perintahnya, suaranya datar tapi deket, "jangan nunduk, liat target, bukan tanah, bukan aku"

Aku angkat busur, tapi tanganku gemetar, anak panah pertama meleset, "ting", jatuh ke tanah, aku malu, muka panas

Axel diem 2 detik, terus dia maju, sekarang jaraknya 40cm, aku bisa ngerasain anget tubuh dia dari belakang, napasnya anget di tengkukku

"Begini" bisiknya, tangannya nyamper dari belakang, tangan kanannya nutup tanganku yang megang busur, tangan kirinya nuntun siku aku biar lurus, "jari telunjuk nempel di sini, ibu jari nekan dikit, napas tahan, baru lepas, fokus"

Dadanya nempel ke punggungku, tipis, cuma kepisah kain baju latihan, jantungnya deg kenceng, sama kayak jantungku, aku mau mundur tapi dia bisik di telingaku "jangan gerak Aira, bidik dulu, aku ga akan nyakitin kau"

Aku merem, takut, bukan takut anak panah, takut anget tubuh dia, dendam 13 tahun, sekarang naga ngajarin aku panah sambil peluk dari belakang

"Siap" katanya pelan, napasnya nyentuh daun telingaku, "lepas"

"Sreng", anak panah melesat, meleset jauh dari target, nyangkut di batang pohon maple, aku nunduk, gagal lagi

Axel ga lepasin tangannya, dia masih megang busurku dari belakang, dagunya hampir nyentuh bahuku, "gagal itu wajar, Aira, aku latihan 3 tahun baru tembus tengah, kau baru pertama kali"

"Aku bukan Tuan" jawabku pelan, suaraku getar, "aku ga mau jadi pembunuh kayak Tuan"

Tangannya berhenti, hening, terus dia lepas busurku pelan, mundur 1 langkah, jarak balik jadi 50cm, dingin lagi

"Maaf" katanya, cuma 1 kata, tapi berat, "aku ga maksud ngajarin kau bunuh, aku ngajarin kau bertahan, biar pas aku ga ada, kau bisa jaga diri"

Aku noleh dikit, liat mata dia dari samping, mata dia merah, bukan karena marah, karena nahan, dia nelen ludah, "13 tahun lalu aku umur 12 tahun, aku liat Mama kau rebah demam tinggi, Papa kau ga kasih dokter masuk, aku teriak minta tolong, ditendang, aku balik, liat Mama kau udah dingin, kau umur 5 tahun nangis peluk kaki dia, aku bocah 12 tahun ga bisa apa-apa, Elina sebelum merem bisik ke aku 'tolong jagain anakku', aku angguk, tapi 13 tahun aku ingkar janji itu"

Aku nahan napas, dada sesek, "jadi Axel jagain aku karena ngerasa bersalah ke Mama aku"

"Ga cuma itu" katanya, naruh busur, duduk di tanah, isyarat suruh aku duduk juga, "Elina baik ke aku pas aku umur 12 tahun, dia kasih aku roti pas aku kelaparan di gerbang istana, dia satu-satunya orang yang manggil aku Axel, bukan naga kecil, aku ga bisa lupain itu, makanya sekarang aku jagain kau, anaknya"

Aku duduk pelan di samping dia, jarak 30cm, "Axel... aku bukan tanggung jawab Tuan"

"Kau bukan tanggung jawab" jawabnya, matanya liat api obor, "kau Aira, anaknya Elina, perempuan yang aku suka sekarang, beda, 13 tahun aku benci, 3 hari kenal kau, aku bingung bedain mana dendam mana sayang"

JLEB, aku kaku, "Tuan... suka?"

Axel kaget, kayak kelepasan, dia batuk nutupin, "maksudku... aku menghargai, Elina titip kau ke aku, jadi aku jaga, jangan salah paham"

Aku gigit bibir, malu, tapi anget, "oh, gitu ya Axel"

Dia ngambil anak panah baru, dipasangin ke busurku, jarinya sengaja nyentuh jari aku, 1 detik, anget, terus dia lepas, "coba lagi, kali ini jangan merem, liat target"

Aku angkat busur, bidik, tapi mataku malah liat profil dia dari samping, rahangnya tegas, luka kecil di pipi, mata merahnya sayu, "Axel" bisikku tanpa sadar

Dia noleh, "Hmm"

"Kalau 13 tahun lalu Tuan umur 12 tahun nolongin Mama aku, apa Tuan ga akan dendam ke Papa aku"

Axel merem, lama, terus buka mata, "kalau aku nolongin Elina, dia ga akan mati, kau ga akan jadi yatim, aku ga akan jadi naga pendendam, tapi Aira, kalau gitu aku ga akan ketemu kau sekarang, jadi aku... aku ga tau harus milih yang mana"

Aku diem, terus pasang anak panah lagi, kali ini tanganku lebih stabil, aku bidik, napas tahan, "sreng", anak panah tembus lingkaran merah tengah target

Aku noleh ke Axel, kaget sama diriku sendiri, dia juga kaget, terus dia senyum, tipis, tulus, "nah, gitu, kau bisa, Aira, kau lebih kuat dari yang kau kira"

Dia maju lagi, kali ini duduk di belakangku, jarak 20cm, ga nyentuh, cuma ngarahin, "tarik talinya pelan, bahu jangan naik, iya gitu, pinter"

Aku nembak lagi, meleset dikit, tapi masih kena target, Axel ketawa kecil di belakang telingaku, "denger ga, itu suara kemajuan, 13 tahun aku ga denger suara orang nembak kena target sambil ketawa"

Angin lewat, rambutku kena muka, Axel reflek maju, kali ini dia beneran nyingirin rambutku ke belakang telinga, ujung jarinya nyentuh pipiku, 2 detik, terus dia tarik tangan cepet kayak ketakutan

"Maaf" bisiknya, noleh ke arah lain, kupingnya merah, "rambutmu nutupin bidikan"

Aku pegang pergelangan tangannya pelan sebelum dia tarik jauh, "Axel, makasih udah ngajarin aku, makasih udah jagain janji ke Mama aku"

Dia kaku, nadi di pergelangan tangannya deg kenceng, "Aira, lepas, aku ga kuat kalau disentuh gini"

Aku lepas pelan, tapi senyum, "Axel, aku percaya Tuan jagain aku bukan karena dendam, tapi karena Tuan orang baik, kayak Mama aku bilang dulu"

Axel noleh ke aku, matanya merah berkaca, "jangan bilang gitu, Aira, aku ga pantas dibilang baik, aku tangan aku kotor darah"

"Tangan Tuan yang kotor itu sekarang ngajarin aku panah biar aku ga mati" kataku jujur, "buat aku, itu tangan orang baik"

Hening, terus Axel buang napas panjang, dia berdiri, ngulur tangan ke aku, "cukup, masuk, dingin, nanti demam lagi, aku ga mau ngulang jagain kau semaleman"

Aku pegang tangan dia, dia tarik aku berdiri, jarak kami 10cm, dia ga langsung lepas, jempolnya ngusap punggung tanganku pelan

"Aira" panggilnya pelan

"Iya Axel"

"Janji jangan lari, janji tetep di sini, janji manggil aku Axel, bukan Tuan, bukan naga"

Aku angguk, "janji"

Dia lepas tangan, noleh, jalan duluan 2 langkah di depan, punggungnya tinggi, tapi kali ini ga ngusir, malah nungguin

Di tengah jalan dia berhenti, ga noleh, "Malam ini aku jagain dari dalam, di kursi, pintu ga aku kunci, kau mau keluar kapan aja boleh, mau aku keluar juga boleh"

Aku diem, terus jawab pelan, "Axel temenin aku sampe tidur ya"

Langkahnya terhenti, bahunya naik turun, terus dia angguk kecil, "iya, aku temenin"

13 tahun dendam, retak gara-gara busur, gara-gara tangan yang dulu buat bunuh sekarang buat ngajarin, gara-gara janji ke perempuan bernama Elina

Naga yang benci, sekarang belajar jadi manusia demi anaknya perempuan yang dia suka

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!