NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.

Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?

Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 : DI BAWAH TATAPAN YANG MENGHAKIMI

...BAB 17...

...DI BAWAH TATAPAN YANG MENGHAKIMI...

Pintu gedung kepolisian tertutup pelan di belakang mereka. Alina berjalan tertatih, wajahnya seputih kapas, kedua tangannya masih gemetar hebat. Baru saja dua jam dia diperiksa bertubi‑tubi, dituduh memalsukan dokumen, menggelapkan dana klien, terancam izin advokat dicabut seumur hidup, dan ditetapkan sebagai tersangka resmi. Semua bukti tertata rapi seolah dialah otak dari segala kejahatan. Padahal dia sama sekali tidak pernah menyentuhnya.

Farhan segera merangkul bahunya erat, menuntunnya duduk di bangku panjang teras. Napas Alina memburu, air mata akhirnya tumpah juga setelah ditahan mati‑matian di dalam ruang pemeriksaan.

“Han… rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Semua orang memandangku seolah aku penjahat paling besar. Bukti‑bukti itu… semuanya seolah nyata sekali. Sampai aku sendiri hampir ragu sama diriku,” suaranya pecah tertahan isak.

Farhan mengusap lembut air mata di pipinya dengan sapu tangannya menatap lurus ke manik matanya dengan tegas, tidak ada sedikit pun keraguan di sana.

“Dengar aku baik‑baik, Lin. Aku tidak peduli seberapa sempurna bukti yang mereka susun. Aku tidak peduli apa omongan semua orang di luar sana. Aku tahu siapa kamu. Aku tahu betapa kerasnya kamu berjuang bertahun‑tahun cuma supaya nama Ayahmu Pak Aditya bisa kembali tegak terhormat. Kamu rela tidur sedikit, makan seadanya, menjaga agama dan kehormatanmu mati‑matian, cuma supaya suatu hari Ayah bisa tersenyum bangga. Orang sebaik itu tidak mungkin berbuat hal‑hal keji seperti tuduhan mereka. Aku di sini. Aku tidak akan kemana‑mana. Sampai kapan pun aku akan berdiri di sebelahmu membuktikan kamu tidak bersalah.”

“Tapi izin praktik ku, Han… mereka bilang hampir pasti akan dicabut selamanya. Cita‑citaku selama ini… semuanya untuk Papa…”

“Izin bisa diurus ulang, nama baik bisa dibersihkan kembali. Tapi kamu cuma satu. Selama kamu masih ada, masih berjuang, semuanya masih bisa diperbaiki. Kita lawan pelan‑pelan ya? Bersama.”

Belum sempat Alina menjawab, langkah tenang mendekat dari samping. Arka berdiri di sana dengan wajah penuh prihatin, di tangannya ada botol air minum dingin dan sebungkus obat penenang ringan. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Alina yang basah oleh air mata, dan sekejap saja terlihat kilatan sakit yang sangat dalam di matanya — kilatan yang hanya dia sendiri yang tahu artinya. Dialah yang merakit semua bukti palsu itu. Dialah yang mengatur agar surat ancaman pencabutan izin itu sampai ke meja pimpinan. Dialah yang melaporkan ke polisi dengan data yang dia ubah sendiri. Dan dialah yang selama lima tahun penuh selalu mengawasi, menyadap, mengintai dari kejauhan, melihat bagaimana Alina berjuang merawat ayahnya yang sakit parah akibat ulahnya dulu menjalankan perintah ayahnya Haris. Dendam lama sudah lama mati, berganti rasa bersalah yang menyiksa dan cinta yang begitu dalam sampai memakan akal sehatnya.

“Lin… Farhan… aku dari tadi menunggu di luar,” ucap Arka pelan, suaranya begitu lembut, begitu penuh belas kasih, sampai siapa saja yang mendengar pasti akan meleleh hatinya. Dia mengulurkan botol itu ke arah Alina. “Aku dengar sedikit dari luar. Sungguh aku tidak tega melihat kamu seperti ini. Aku yakin sekali ada kesalahan besar yang terjadi di suatu tempat. Tidak mungkin kamu berbuat semua itu.”

Alina mengangkat wajah lemas. Pandangannya kosong menatap Arka. Di satu sisi dia aneh, kenapa pemuda ini satu‑satunya orang yang masih mau mendekat, saat hampir semua orang lain sudah mulai membuang muka. Di sisi lain, firasat aneh yang selalu ada di hatinya berbulan‑bulan lalu kembali berdenyut pelan.

“Terima kasih, Arka. Kamu terlalu baik sekali,” jawab Alina pelan, menerima botol itu dengan tangan yang masih gemetar.

“Apa gunanya kita dianggap saudara kalau tidak saling bantu di saat susah? Kalau butuh apa saja — urus surat, cari saksi, bicara dengan orang, bahkan sekadar didengarkan saja — telepon aku kapan saja, pagi siang malam. Aku siap turun tangan apa saja buat kamu dan keluarga. Aku tahu betapa beratnya kamu berjuang selama ini, menjaga diri, berusaha keras supaya Pak Aditya tenang di rumah dan tidak makin sakit mendengar hal‑hal yang tidak‑tidak.”

Kalimat terakhir itu diucapkannya begitu wajar, padahal di dalam hati Arka berdebar kencang. Dia tahu betul kondisi ayah Alina sampai ke detail terkecil, tahu betul Alina berusaha keras menutupi semua masalah ini agar lelaki itu tidak jatuh sakit parah lagi — semuanya dia ketahui lewat alat sadap yang selalu dia bawa di saku dalam baju, saksi bisu lima tahun cintanya dalam diam. Dia ingin sekali memeluk wanita itu erat‑erat saat itu juga, menghapus setiap air mata, berteriak jujur bahwa semuanya bohong, akulah yang buat semua ini, maafkan aku. Tapi dia menahan diri. Jalannya sudah terlalu jauh. Logika hatinya yang sesat berbisik, biarkan semua orang pergi dulu, baru akulah satu‑satunya yang tersisa.

Farhan hanya mengangguk kaku. Dia berterima kasih, tapi di lubuk hatinya tetap ada curiga aneh yang sulit dijelaskan.

Mereka bertiga berjalan pelan kembali ke arah perumahan. Namun suasana berubah drastis begitu masuk ke lingkungan tempat tinggal. Ibu‑ibu yang sedang duduk mengobrol di beranda depan, seketika hening serentak begitu melihat sosok Alina lewat.

“Nah itu dia, lihat sendiri katanya advokat terhormat, ternyata di belakang malah curi uang orang,” bisik salah satu cukup keras hingga terdengar jelas.

“Katanya saleh, rajin shalat, penampilan selalu tertutup rapat. Ternyata cuma topeng saja. Kasihan sekali Pak Aditya yang sudah sakit‑sakitan, malah dapat aib begini dari anak sendiri,” sahut yang lain sambil membuang muka.

Saat Alina berhenti sejenak di depan warung langganan bertanya beras, pemilik warung itu hanya melirik dingin sambil mengelap meja.

“Habis, Lin. Sudah diambil orang lain,” jawabnya singkat dingin, padahal jelas terlihat karung beras masih banyak menumpuk di sudut ruangan. Tak lama kemudian pagar rumah tetangga sebelah ditutup rapat dengan bunyi yang cukup keras, persis saat mereka lewat di depannya.

Alina menunduk dalam‑dalam, bahunya makin terkulai lemas. Rasa ingin menangis kembali datang, kali ini bukan karena polisi atau surat ancaman, tapi karena orang‑orang yang selama ini dia anggap tetangga sendiri, begitu mudahnya berbalik menjauh hanya dalam hitungan hari.

“Jangan didengar, Lin. Jangan dilihat. Pendapat mereka tidak ada harganya dibanding kebenaran,” bisik Farhan erat menggenggam kedua lengan Alina yang memakai blouse kerjanya. Menatap calon istrinya dengan tatapan menenangkan.

Arka berjalan sedikit di belakang mereka berdua. Mendengar setiap kata cacian itu, mendengar nama Pak Aditya ikut terseret‑seret, rasanya seolah setiap kata itu adalah pisau yang ditusukkan tepat ke dadanya sendiri. Dialah penyebab semuanya. Dulu dia yang hancurkan usaha lelaki itu sampai jatuh sakit. Sekarang dia yang hancurkan nama baik anaknya sampai dikucilkan satu kampung. Dan di saat yang sama, dialah satu‑satunya orang di dunia ini yang paling paham betapa berharganya wanita yang sedang berjalan di depannya itu.

Sesampainya di pagar rumah, Bu Kirana sudah berdiri di teras dengan wajah cemas, di belakangnya terlihat sekilas sosok Pak Aditya yang duduk lemah di kursi goyang kamar depan, masih belum tahu apa‑apa. Arka pamit pelan, tapi sebelum berbalik badan dia sempat berbisik sangat pelan hanya agar Alina yang mendengar.

“Ingat ya, Lin. Di saat semua orang mungkin meragukan mu, mungkin menjauh… aku tidak akan pernah pergi. Percayalah itu.”

Setelah langkahnya menjauh dan berbelok di tikungan jalan, Arka baru bersandar lemas di tembok pagar kosong. Dia mengeluarkan alat kecil hitam usang dari sakunya, alat yang setiap hari membawanya mendengar suara wanita itu. Air matanya jatuh diam‑diam sendirian di sana.

Maafkan aku Alina… aku yang buat semua orang menjauhi mu. Akulah yang buat namamu tercemar. Aku yang mengancam masa depanmu. Tapi percayalah… di balik semua kejahatan yang aku buat ini… hanya cintaku padamu satu‑satunya hal yang tidak pernah aku bohongi sedetik pun.

Bersambung....

1
Kam1la
tega ya. .. menantu sudah sebaik Alina, masih saja kurang
Kam1la
akhirnya sama-sama minta maaf...😍
Kam1la
bercadar sepertinya agak sulit bagi Alina
Kam1la
mungkin gantian Alina yg cemburu sama Laila🤭
penulismisterius
baru baca beberapa bab, novel ini punya narasi alur yang jelas😀 semangat berkarya author😀😀
penulismisterius
eh ini sambungannya novel sebelumnya kah ,kak?
penulismisterius: siaap, kak🐬🐬
total 2 replies
penulismisterius
baru bab pertama saja, sudah sebagus ini🤗
penulismisterius: kembali kasih kak, 🐬🤗🤗
total 4 replies
Kam1la
semoga lekas punya momongan
Kam1la
tidak terasa sudah 2 bulan
Kam1la
so Sweet...😍
Kayla Rane: 😍😍😍🤭 MalPer
total 1 replies
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Kayla Rane: Maa Syaa Allah jazaakillah Khair KK, sudah mampir. tenang KA kalau ceritanya rada membosankan bisa di skip kalau ga suka, ini konflik beratnya cuma dari bab 1-29 saja. kesana nya hidup pernikahan Alina dengan bumbu2 cinta, ujian-ujian kecil di pernikahan mereka... selamat membaca 🙏😇
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Wiiih, tulisan-nya rapi gilak! Tspi, Kok Masih sepi pembaca ya? 😁😁😁 Aku tau Novel ini dari Grup NT di FB. 😁😁😁

Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad: Bagi aku, nggk baik rasanya, kalau membaca Karya penulis, itu langsung dari Bab 30 Kak, retensinya bisa turun nantinya Kak 😁😁😁 Itu sama saja aku lompat Bab Kak 🙏🙏🙏😁 Itu Nggk Baik untuk Novel Kakak Nanti 🙏🙏🙏😁

Waaah Bagus dong Kak 😁😁😁 Aku termasuk Pembaca yang Kritis loh Kak 😁😁😁 Biasanya, kalau ada Typo aku langsung Kasih Koreksi Ke Penulisnya Kak... 😁😁😁🙏
total 5 replies
Umi Zein
aku mampir kak, di awal cerita keren, semoga gak ada Konflik yg berat, soalnya aku kurang suka cerita dengan konflik yg berat😄 semangat kak Kayla ✊😍😍
Kayla Rane: pantengin KK sampai 29 episode konflik beratnya.. bab 30 nya pernikahan dan bumbu rumah tangga...
total 2 replies
Kam1la
senjata yang paling kuat adalah do'a
Kam1la
ye, jadi menikah. 😍
Kam1la: iya, aku ikut bahagia nih...
total 2 replies
Kam1la
kejujuran Raka sudah terlambat
Wulandari Ayuningtyas
suka deh sama ceritanya.....semangat terus y 💪🤗
Wulandari Ayuningtyas: sama2 kak 🤗
total 2 replies
Kam1la
Raka kena juga
Kam1la
aku bangga👍, bu Siti jujur
Kam1la
bu Siti ini juga, akhirnya terlibat kan...makanya hati-hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!