THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Kembali ke Tanah yang Pernah Membuatku Hancur

 

Hembusan angin London membawa bau hujan dan bunga mawar, aroma yang tak pernah bisa Elizabeth lupakan sepanjang lima tahun dia pergi. Dari jendela taksi, dia memandang gedung-gedung tua yang berdiri megah, jalanan yang ramai, hingga ujung jalan yang terlihat atap Istana Buckingham yang bersinar di bawah langit biru yang berawan. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara rasa takut, rindu, dan ketidakpastian.

“Bu, kita mau ke rumah yang indah itu?” suara kecil di sampingnya membuat Elizabeth menoleh. Di sebelahnya duduk seorang gadis kecil berusia empat tahun, dengan rambut keriting keemasan dan mata cokelat yang cerah, persis seperti mata orang yang tak pernah bisa dia hapus dari ingatan. Anak itu memegang tangan ibunya erat-erat, menunjuk ke arah istana dengan jari mungilnya.

Elizabeth tersenyum tipis, mengusap kepala anaknya dengan lembut. “Iya sayang, kita akan tinggal di dekat sana untuk sementara waktu. Nanti kamu bisa melihat taman yang penuh bunga mawar, dan burung-burung yang terbang bebas.”

“Wah! Seru sekali, Bu!” gadis kecil itu bertepuk tangan gembira, lalu kembali memandang keluar jendela dengan mata berbinar.

Elizabeth menelan ludah, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar semakin kencang. Lima tahun lalu, dia berjalan keluar dari gerbang istana itu dengan air mata yang tak berhenti mengalir, membawa luka yang terasa tak akan pernah sembuh. Saat itu, dia pikir dia tak akan pernah kembali lagi ke tempat yang sama, tempat di mana dia menemukan cinta terindah sekaligus luka terparah dalam hidupnya. Tapi takdir berkata lain, dan kini dia kembali, membawa anak buah hatinya, dan rahasia yang bisa mengubah segalanya.

Taksi berhenti di depan sebuah rumah kota yang megah namun tenang, tak jauh dari kawasan istana. Elizabeth membayar sopir, lalu turun sambil menggendong anaknya, mengangkat tas kecilnya. Begitu masuk ke dalam rumah, dia merasa lega sekaligus gelisah. Semuanya terasa asing namun akrab, seperti dia tak pernah pergi sama sekali.

“Bu, aku mau jalan-jalan di luar!” teriak anaknya sambil berlari menuju pintu, membuat Elizabeth tersenyum tipis.

“Tunggu dulu, sayang. Ibu harus membereskan barang-barang dulu, ya. Nanti sore kita jalan-jalan ke taman, janji.”

Saat dia mulai mengeluarkan barang-barang dari tas, ponselnya berdering. Nama di layar membuat napasnya tercekat: Fransiskus. Dia berhenti bergerak selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.

“Halo, Frans.” suaranya terdengar tenang, meski di dalam hatinya sedang bergemuruh.

“Elizabeth! Kamu sudah sampai di sana, kan?” suara laki-laki di seberang terdengar hangat dan bersemangat. “Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu, rumah itu sudah dibersihkan, dan semua yang kamu butuhkan sudah ada di sana. Bagaimana perjalananmu?”

“Lancar, terima kasih banyak, Frans. Kamu sungguh teman terbaik yang pernah aku miliki.” jawab Elizabeth dengan tulus. Fransiskus adalah satu-satunya orang yang tahu kebenaran, satu-satunya orang yang mendukungnya saat dia harus pergi meninggalkan istana, dan satu-satunya orang yang bisa dia percayai sepenuhnya.

“Jangan bicara begitu, El. Kamu tahu aku akan melakukan apa saja untukmu. Dan untuk anakmu juga.” suaranya menjadi lebih lembut. “Kapan kamu berencana untuk bertemu dengannya?”

Elizabeth terdiam, memandang keluar jendela ke arah istana yang terlihat di kejauhan. “Aku belum tahu, Frans. Lima tahun sudah berlalu. Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah dia masih mengingatku? Atau dia sudah melupakanku dan melanjutkan hidupnya?”

“Taylor tidak pernah melupakanmu, El. Tidak pernah sedikitpun. Selama lima tahun ini, dia selalu bertanya di mana kamu, kenapa kamu pergi, dan kenapa kamu tak pernah memberi kabar. Dia berubah, El. Dia tak lagi menjadi laki-laki ceria dan penuh senyum yang kamu kenal. Dia menjadi dingin, keras, dan selalu sibuk dengan tugas kerajaan, seolah dia ingin menenggelamkan dirinya dalam tanggung jawab untuk melupakanmu.”

Kata-kata Fransiskus menusuk hati Elizabeth. Dia bisa membayangkan betapa beratnya perasaan laki-laki itu, sama beratnya dengan perasaannya selama ini. “Aku takut, Frans. Aku takut dia tak mau menerimaku kembali. Aku takut aturan kerajaan akan memisahkan kita lagi. Dan yang paling aku takutkan... aku takut dia tak mau menerima anak kita.”

“Dengarkan aku, El. Cinta yang kalian miliki takkan pernah mati, tak peduli berapa tahun berlalu, tak peduli seberapa banyak hal yang memisahkan kalian. Taylor mencintaimu, dan dia akan mencintai anak kalian juga, aku yakin akan hal itu. Kamu hanya perlu memberinya kesempatan untuk tahu kebenaran.”

Elizabeth menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa. “Baiklah. Aku akan mencoba. Tapi tolong, jangan katakan padanya bahwa aku sudah kembali. Aku ingin bertemu dengannya dengan caraku sendiri.”

“Tentu saja. Aku takkan bicara sepatah kata pun. Jika kamu butuh apa saja, atau jika ada masalah, hubungi aku kapan saja, ya. Aku selalu ada untukmu.”

“Terima kasih, Frans. Terima kasih untuk segalanya.”

Setelah telepon dimatikan, Elizabeth duduk di tepi tempat tidur, memegang dadanya yang terasa sesak. Selama lima tahun dia berusaha melupakan, berusaha melanjutkan hidup, berusaha menyembuhkan luka di hatinya. Tapi kini dia sadar, dia takkan pernah bisa benar-benar melupakan laki-laki itu. Cintanya pada Taylor tak pernah pudar, bahkan semakin kuat seiring berjalannya waktu.

“Bu...” suara kecil membuat Elizabeth menoleh. Anaknya berdiri di depan pintu, memegang boneka beruang kesayangannya, memandang ibunya dengan mata cemas. “Ibu sedih ya?”

Elizabeth tersenyum, menggendong anaknya dan memeluknya erat. “Tidak, sayang. Ibu tidak sedih. Ibu hanya... memikirkan banyak hal, itu saja.”

“Kita akan bertemu Ayah tidak, Bu?” pertanyaan itu membuat napas Elizabeth tercekat. Dia tak pernah memberi tahu anaknya banyak hal tentang ayahnya, hanya mengatakan bahwa ayahnya adalah orang yang baik, dan suatu hari nanti mereka akan bertemu.

Elizabeth mencium kening anaknya. “Suatu hari nanti, sayang. Suatu hari nanti kita akan bertemu dengannya. Ibu janji.”

Sore itu, Elizabeth membawa anaknya berjalan-jalan di taman yang tak jauh dari istana. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga mawar yang mekar di mana-mana. Anaknya berlari-lari di antara bunga-bunga, tertawa riang, membuat hati Elizabeth terasa hangat. Untuk sesaat, dia melupakan semua ketakutan dan kekhawatirannya, hanya menikmati momen kebahagiaan bersama anaknya.

Tapi takdir ternyata bekerja lebih cepat dari yang dia bayangkan. Saat dia duduk di bangku taman, memandang anaknya yang bermain, sebuah mobil mewah berhenti di gerbang taman. Dari dalam mobil turun seorang laki-laki yang berpakaian seragam militer kerajaan, rambutnya yang selalu teratur rapi sedikit berantakan diterpa angin, wajahnya yang gagah terlihat lebih dewasa dan lebih tajam dari yang dia ingat.

Jantung Elizabeth berhenti berdetak sejenak.

Itu dia.

Taylor.

Pangeran Taylor, pewaris takhta Kerajaan Inggris, laki-laki yang dia cintai, dan ayah dari anaknya.

Taylor berjalan masuk ke dalam taman, diikuti oleh dua orang pengawal pribadinya. Matanya yang tajam menatap sekeliling, seolah sedang mencari sesuatu atau seseorang. Saat matanya bertemu dengan mata Elizabeth, langkahnya terhenti. Wajahnya yang tenang dan dingin seketika berubah, matanya melebar tak percaya, napasnya tercekat.

Dunia seolah berhenti berputar di sekitar mereka. Semua suara menghilang, hanya menyisakan detak jantung mereka yang berdebar kencang, terdengar jelas di telinga masing-masing.

Elizabeth merasa kakinya lemas, dia ingin lari, tapi kakinya seolah terpaku di tempat. Dia memandang laki-laki di hadapannya, melihat perubahan yang terjadi padanya, melihat luka yang masih tersisa di matanya, luka yang dia sendiri yang membuatnya.

Taylor perlahan berjalan mendekatinya, langkahnya berat tapi pasti, matanya tak pernah lepas dari wajah wanita yang tak pernah bisa dia lupakan selama lima tahun ini. Semua ingatan kembali mengalir deras ke dalam pikirannya—pertemuan pertama mereka, saat-saat indah yang mereka lalui bersama, hingga hari di mana dia pergi tanpa sepatah kata pun, meninggalkannya dengan hati yang hancur berkeping-keping.

“Elizabeth...” suaranya terdengar rendah dan bergetar, seolah dia tak percaya wanita di hadapannya adalah orang yang dia cari selama ini. “Apakah itu benar kamu?”

Elizabeth menelan ludah, berusaha mengendalikan suaranya yang bergetar. “Halo, Taylor. Lama tidak bertemu.”

Mereka berdiri saling memandang, tak ada yang bicara selama beberapa detik, seolah kata-kata tak cukup untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Sampai akhirnya suara tawa kecil terdengar, dan anak Elizabeth berlari mendekatinya, memeluk kaki ibunya, lalu menatap Taylor dengan mata penasaran.

“Bu, siapa orang ini?” tanya anaknya polos, membuat suasana menjadi hening seketika.

Matanya beralih dari wajah Elizabeth ke wajah gadis kecil di kakinya, dan dunia seolah runtuh di hadapan Taylor. Dia melihat wajah gadis kecil itu, melihat matanya, melihat hidungnya, melihat senyumnya... semua fitur yang ada di wajahnya sendiri, dicampur dengan kelembutan wajah Elizabeth.

Jantungnya berdebar kencang, tangannya gemetar, napasnya tercekat hingga sulit untuk bernapas. Dia menatap Elizabeth lagi, matanya penuh dengan pertanyaan, kebingungan, dan harapan yang tak berani dia ucapkan.

“Siapa dia, Elizabeth?” suaranya terdengar parau, matanya tak bisa lepas dari wajah gadis kecil itu. “Jawab aku. Siapa anak ini?”

Elizabeth memeluk anaknya lebih erat, menatap mata Taylor dengan berani, untuk pertama kalinya setelah lima tahun terpisah, dia akhirnya berani mengucapkan kata-kata yang dia simpan selama ini.

“Ini anak kita, Taylor. Namanya Hunter. Dan dia berusia empat tahun.”

Mata Taylor melebar, kakinya terasa lemas hingga dia hampir jatuh. Selama lima tahun dia bertanya-tanya kenapa Elizabeth pergi, kenapa dia tak pernah memberi kabar, kenapa dia meninggalkannya tanpa alasan. Selama lima tahun dia hidup dalam rasa sakit dan penyesalan, tak pernah menyangka bahwa di balik kepergiannya ada sebuah rahasia yang bisa mengubah seluruh hidupnya.

Anak kami.

Kata-kata itu berputar di dalam pikirannya, mengisi hatinya yang selama ini kosong dengan perasaan yang tak bisa dia gambarkan. Dia menatap gadis kecil di hadapannya, anak yang tak pernah dia ketahui keberadaannya, anak yang dia sayangi bahkan sebelum dia sempat bertemu dengannya.

Hunter menatap laki-laki di hadapannya, lalu menoleh ke arah ibunya, bertanya dengan suara polos, “Bu, apakah dia Ayah?”

Elizabeth menatap Taylor, lalu mengangguk perlahan. “Iya sayang. Dia Ayahmu.”

Air mata mulai menetes di pipi Taylor, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, air mata mengalir bebas dari matanya. Dia berlutut di hadapan anaknya, memandang wajah mungil itu dengan mata yang berbinar, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasakan kebahagiaan yang begitu besar, lebih besar dari segala kehormatan dan kekuasaan yang dia miliki sebagai pangeran kerajaan.

“Hai, Hunter,” suaranya terdengar lembut dan penuh cinta, dia mengulurkan tangannya perlahan, takut anak itu akan menjauh darinya. “Aku Ayahmu. Maafkan Ayah yang baru bisa bertemu denganmu sekarang.”

Hunter menatap tangannya, lalu menatap wajahnya, sebelum akhirnya dia tersenyum lebar, senyum yang persis seperti senyum Elizabeth, dan memeluk leher ayahnya erat-erat.

“Ayah!” teriak anak itu gembira, membuat hati Taylor terasa meleleh oleh kebahagiaan.

Di saat itulah, di tengah taman yang penuh bunga mawar, di bawah langit London yang cerah, dua hati yang pernah terpisah akhirnya bertemu kembali, dan sebuah keluarga yang terpisah akhirnya bersatu kembali. Namun mereka berdua sadar, pertemuan ini hanyalah awal dari perjalanan yang panjang dan berat. Di balik kebahagiaan ini, masih ada aturan kerajaan yang keras, intrik istana yang berbahaya, dan banyak orang yang tak akan membiarkan cinta mereka dan keluarga kecil mereka hidup dalam damai.

Karena cinta mereka bukan sekadar cinta biasa. Cinta mereka adalah cinta yang harus melawan Mahkota, cinta yang harus melawan seluruh dunia, untuk bisa bersatu selamanya.

Elizabeth menatap dua orang yang dia cintai di dunia ini, dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, dia merasa bahwa dia akhirnya pulang.

 

Episodes
1 Kembali ke Tanah yang Pernah Membuatku Hancur
2 Bayang di Balik Senyuman
3 Rahasia yang Terbuka
4 Tempat Berlindung
5 Kebohongan di Mata Umum
6 Ujian Kebenaran
7 Bayang yang Tak Pernah Pergi
8 Jejak di Balik Tirai
9 Benih Keraguan
10 Ujian Kesetiaan
11 Jalan Menuju Kebenaran
12 Kedok yang Terbuka
13 Awal yang Baru
14 Angin Perubahan dari Utara
15 Jalan Melalui Hutan dan Kabut
16 Di Antara Puncak Gunung dan Hati yang Terbuka
17 Kebohongan yang Terbakar di Dalam Api
18 Kabar dari Selatan dan Rencana yang Gelap
19 Pertarungan di Lembah Kabut
20 Pulang dengan Kemenangan
21 Bayang-bayang Perang yang Mendekat
22 Pertarungan di Padang Rumput Panjang
23 Penyembuhan dan Pembangunan Kembali
24 Perjalanan ke Daerah Terpencil
25 Rahasia di Hutan Timur
26 Jejak di Kedalaman Hutan
27 Gerbang di Antara Bebatuan
28 Warisan Leluhur
29 Kembali ke Ibu Kota
30 Cahaya yang Menyebar
31 Warisan yang Hidup Abadi
32 Utusan dari Seberang Samudra
33 Bayangan di Balik Kemegahan
34 Ujian di Negeri Asing
35 Pertempuran di Kabut Utara.
36 Kebenaran yang Terbongkar
37 Jejak Leluhur yang Terhubung
38 Bayangan dari Ujung Dunia.
39 Pertempuran Samudra Terakhir
40 Warisan Abadi.
41 Di Bawah Langit yang Lebih Luas
42 Negeri di Balik Kabut Hijau
43 Jejak Kegelapan Purba
44 Ujian di Balik Kabut Hitam
45 Pertempuran di Lembah Segel
46 Rahasia di Balik Nama yang Hilang
47 Era Emas Persaudaraan
48 Cahaya dari Langit yang Jauh
49 Pertemuan di Samudra Bintang
50 Di Ambang Ketiadaan
51 Pulang ke Rumah yang Abadi
52 Makna di Balik Setiap Langkah
53 Kisah yang Hidup di Hati Kecil
54 Kata-Kata yang Tak Pernah Luntur
55 Pertemuan yang Mengubah Dunia
56 Kematian Hanyalah Pintu Pulang
57 Bahasa Indah dari Hati ke Hati
58 Di Puncak Pengetahuan dan Hati
59 Perayaan Pertemuan Semesta
60 Pulang ke Rumah yang Sama
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Kembali ke Tanah yang Pernah Membuatku Hancur
2
Bayang di Balik Senyuman
3
Rahasia yang Terbuka
4
Tempat Berlindung
5
Kebohongan di Mata Umum
6
Ujian Kebenaran
7
Bayang yang Tak Pernah Pergi
8
Jejak di Balik Tirai
9
Benih Keraguan
10
Ujian Kesetiaan
11
Jalan Menuju Kebenaran
12
Kedok yang Terbuka
13
Awal yang Baru
14
Angin Perubahan dari Utara
15
Jalan Melalui Hutan dan Kabut
16
Di Antara Puncak Gunung dan Hati yang Terbuka
17
Kebohongan yang Terbakar di Dalam Api
18
Kabar dari Selatan dan Rencana yang Gelap
19
Pertarungan di Lembah Kabut
20
Pulang dengan Kemenangan
21
Bayang-bayang Perang yang Mendekat
22
Pertarungan di Padang Rumput Panjang
23
Penyembuhan dan Pembangunan Kembali
24
Perjalanan ke Daerah Terpencil
25
Rahasia di Hutan Timur
26
Jejak di Kedalaman Hutan
27
Gerbang di Antara Bebatuan
28
Warisan Leluhur
29
Kembali ke Ibu Kota
30
Cahaya yang Menyebar
31
Warisan yang Hidup Abadi
32
Utusan dari Seberang Samudra
33
Bayangan di Balik Kemegahan
34
Ujian di Negeri Asing
35
Pertempuran di Kabut Utara.
36
Kebenaran yang Terbongkar
37
Jejak Leluhur yang Terhubung
38
Bayangan dari Ujung Dunia.
39
Pertempuran Samudra Terakhir
40
Warisan Abadi.
41
Di Bawah Langit yang Lebih Luas
42
Negeri di Balik Kabut Hijau
43
Jejak Kegelapan Purba
44
Ujian di Balik Kabut Hitam
45
Pertempuran di Lembah Segel
46
Rahasia di Balik Nama yang Hilang
47
Era Emas Persaudaraan
48
Cahaya dari Langit yang Jauh
49
Pertemuan di Samudra Bintang
50
Di Ambang Ketiadaan
51
Pulang ke Rumah yang Abadi
52
Makna di Balik Setiap Langkah
53
Kisah yang Hidup di Hati Kecil
54
Kata-Kata yang Tak Pernah Luntur
55
Pertemuan yang Mengubah Dunia
56
Kematian Hanyalah Pintu Pulang
57
Bahasa Indah dari Hati ke Hati
58
Di Puncak Pengetahuan dan Hati
59
Perayaan Pertemuan Semesta
60
Pulang ke Rumah yang Sama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!