seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pelarian di tengah kegelapan
Napas Alya memburu saat ia berlari menyusuri lorong gelap di belakang perpustakaan bawah tanah.
Lampu merah darurat berkedip cepat di sepanjang dinding logam, menciptakan bayangan bergerak yang membuat suasana terasa semakin mencekam.
Jantungnya berdetak sangat keras.
Chip data kecil di genggamannya terasa seperti benda paling berbahaya di dunia.
Di belakangnya, suara benturan dan teriakan samar masih terdengar dari arah perpustakaan.
Profesor Malik…
Alya menggigit bibir kuat-kuat.
Ia ingin kembali.
Namun kata-kata pria tua itu terus terngiang di kepalanya.
“Pergi sekarang!”
Lorong sempit itu terus bercabang ke berbagai arah. Peta hologram di gelang digitalnya sudah tidak berfungsi sejak alarm keamanan aktif.
Alya mulai panik.
“Aku harus ke mana…?”
Suara langkah cepat tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
Refleks, Alya langsung mematikan cahaya gelangnya lalu bersembunyi di balik pipa besar di sudut lorong.
Dua pria berseragam hitam berlari melewati area itu sambil membawa senjata listrik.
“Cari gadisnya!”
“Dia tidak mungkin jauh!”
Tubuh Alya langsung menegang.
Mereka mencarinya.
Benar-benar mencarinya.
Setelah suara langkah itu menjauh, Alya akhirnya berani bernapas lagi.
Tangannya gemetar hebat.
“Astaga…”
Kini semuanya terasa nyata.
Project Elysium.
Orang-orang misterius.
Dan fakta bahwa dirinya sedang diburu.
Alya mencoba menenangkan diri.
Ia teringat ucapan Profesor Malik sebelum berpisah.
Cari Reno.
Kenapa semua orang terus mengatakan hal yang sama?
Apa sebenarnya hubungan Reno dengan semua ini?
Namun sebelum Alya sempat berpikir lebih jauh, suara alarm berubah lebih keras.
Peringatan.
Sistem keamanan level tiga diaktifkan.
Seluruh akses bawah tanah akan dikunci dalam lima menit.
Mata Alya langsung membesar.
“Lima menit?!”
Ia segera kembali berlari.
Lorong-lorong bawah tanah Zenith terasa seperti labirin tanpa akhir. Semakin jauh Alya berlari, semakin tua dan menyeramkan tempat itu terlihat.
Dinding dipenuhi kabel besar.
Beberapa ruangan kaca tampak kosong dan rusak.
Ada bekas simbol Elysium di beberapa pintu tua.
Dan yang paling membuat Alya merinding…
Ia melihat bekas kapsul eksperimen manusia di salah satu ruangan terbuka.
Tabung-tabung kaca besar berdiri kosong dengan kabel neural menggantung di dalamnya.
“Ya Tuhan…”
Tubuh Alya merinding dingin.
Benarkah manusia pernah dijadikan percobaan di tempat ini?
Ia mempercepat langkah lagi.
Namun tiba-tiba—
Brak!
Sebuah pintu logam di sampingnya terbuka keras.
Alya tersentak mundur.
Seseorang menarik lengannya cepat ke dalam ruangan gelap.
Alya hampir menjerit.
Tetapi tangan lain langsung menutup mulutnya.
“Diam.”
Suara itu langsung dikenalnya.
Reno.
Mata Alya membesar lega sekaligus kesal.
Reno perlahan melepas tangannya dari mulut Alya sambil tetap memperhatikan lorong luar melalui celah pintu.
Suara langkah para penjaga terdengar melewati ruangan mereka.
“Aku pikir aku hampir mati,” bisik Alya pelan.
“Kamu memang hampir mati.”
Nada suara Reno tetap datar seperti biasa.
Namun napasnya sedikit lebih cepat dari biasanya, tanda bahwa bahkan dia pun sedang tegang.
Setelah lorong luar kembali sepi, Reno akhirnya menoleh pada Alya.
“Aku sudah bilang jangan bergerak sendirian.”
Alya langsung melotot.
“Aku juga tidak berniat diburu orang bersenjata malam ini!”
Reno menghela napas kecil.
Tatapannya kemudian jatuh ke tangan Alya.
“Tunjukkan.”
“Apa?”
“Chip data itu.”
Alya refleks menggenggam benda kecil itu lebih erat.
“Kamu tahu tentang ini?”
“Ya.”
“Kamu juga bagian dari Project Elysium?”
Pertanyaan itu membuat suasana langsung hening.
Lampu merah redup memantulkan bayangan tipis di wajah Reno.
Untuk beberapa detik, pemuda itu tidak menjawab.
Dan diamnya terasa jauh lebih berat dibanding kata-kata.
“Aku tanya sesuatu,” desak Alya.
Reno akhirnya bicara pelan.
“Ayahmu pernah menyelamatkanku.”
Jantung Alya langsung berdegup.
“Apa maksudmu?”
Reno bersandar pelan ke dinding logam.
Tatapannya terlihat jauh.
“Dulu… aku salah satu subjek penelitian Zenith.”
Tubuh Alya membeku.
“Apa?”
“Aku dibesarkan di fasilitas penelitian sejak kecil.”
Suara Reno terdengar tenang, tetapi dingin.
“Mereka menghubungkan otakku dengan sistem AI Elysium.”
Alya menatapnya tidak percaya.
“Tidak mungkin…”
“Aku salah satu eksperimen yang berhasil bertahan hidup.”
Ruangan terasa semakin sunyi.
Alya mulai memahami kenapa Reno berbeda dari orang lain.
Kenapa dia begitu pintar.
Kenapa semua siswa takut padanya.
Dan kenapa tatapannya selalu terasa dingin seperti seseorang yang terlalu banyak melihat hal buruk.
“Ayahmu mencoba menghentikan eksperimen itu,” lanjut Reno pelan. “Dia yang membawaku keluar.”
Mata Alya mulai panas.
Ayahnya…
Sekali lagi, pria itu ternyata jauh lebih baik daripada yang pernah ia bayangkan.
“Tapi setelah malam kehancuran laboratorium…” Reno menunduk sesaat. “Aku kehilangan jejaknya.”
“Dan kamu percaya Ayah masih hidup?”
Reno terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab:
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat dada Alya terasa sesak lagi.
Sebelum suasana menjadi lebih emosional, gelang Reno tiba-tiba berbunyi.
Lokasi terdeteksi.
Mereka menemukan area kita.
Ekspresi Reno langsung berubah serius.
“Kita harus pergi.”
“Ada jalan keluar?”
“Ada.”
“Bagus.”
“Tapi tidak mudah.”
Alya langsung curiga.
“Apa maksudmu?”
Reno membuka pintu ruangan sedikit.
Di luar, lorong mulai dipenuhi drone keamanan kecil yang melayang sambil memindai area.
“Lorong utama sudah ditutup,” kata Reno. “Kita harus melewati jalur servis lama.”
“Itu aman?”
“Tidak.”
Alya menghela napas frustrasi.
“Tentu saja tidak.”
Untuk pertama kalinya, Reno terlihat hampir tersenyum kecil lagi.
“Masih mau tahu rahasia Zenith?”
Alya menatapnya tajam.
“Kalau aku bisa selamat dulu.”
Mereka akhirnya keluar dari ruangan dan bergerak cepat melewati lorong gelap.
Reno berjalan di depan dengan sangat hafal arah bawah tanah Zenith.
Beberapa kali ia menghentikan langkah hanya untuk menghindari drone patroli.
Alya terus mengikutinya sambil memegang chip data erat-erat.
“Mereka benar-benar mau membunuhku demi benda kecil ini?” bisiknya.
“Bukan cuma karena chip itu.”
“Lalu?”
Reno meliriknya sekilas.
“Karena kamu Alya Rahman.”
Ucapan itu membuat Alya diam.
Semakin lama, ia semakin sadar bahwa keberadaannya sendiri mungkin jauh lebih penting daripada yang ia kira.
Mereka akhirnya tiba di sebuah pintu logam tua bertuliskan:
JALUR SERVIS BARAT.
Reno mencoba panel akses.
Namun layar langsung menyala merah.
Akses ditolak.
Reno mengernyit.
“Mereka sudah mengunci sistem.”
“Apa sekarang?”
Reno terdiam sebentar sebelum tiba-tiba menoleh pada Alya.
“Kalungmu.”
“Hah?”
“Tempelkan ke panel.”
Alya bingung.
“Kenapa?”
“Cepat.”
Meski ragu, Alya tetap melepas kalung peraknya lalu menempelkannya ke panel akses.
Dan seketika—
Cahaya biru terang menyala dari simbol kalung.
Panel berubah hijau.
Akses diterima.
Pintu logam terbuka perlahan.
Mata Alya langsung membesar.
“Bagaimana bisa…?”
Reno menatap kalung itu serius.
“Seperti dugaanku.”
“Apa?”
“Itu bukan sekadar kalung.”
Suasana mendadak terasa lebih berat lagi.
Namun mereka tidak punya waktu membahasnya.
Karena tiba-tiba suara langkah cepat terdengar dari belakang lorong.
“Di sana!”
Beberapa penjaga berseragam hitam muncul sambil mengangkat senjata listrik.
Reno langsung menarik Alya masuk ke jalur servis.
“Lari!”
Mereka berlari menuruni tangga logam panjang sementara suara tembakan listrik menghantam dinding belakang mereka.
Brak! Brak!
Alya hampir terpeleset.
“Astaga!”
Reno menarik tangannya tepat waktu.
“Fokus!”
Mereka akhirnya tiba di ujung jalur servis.
Di depan mereka terbentang terowongan tua yang langsung mengarah keluar akademi bagian bawah.
Udara malam dingin masuk dari celah besar di ujung sana.
Namun sebelum mereka sempat bergerak lebih jauh…
Sosok seseorang tiba-tiba muncul dari bayangan.
Seorang pria tinggi berseragam hitam berdiri menghalangi jalan mereka.
Matanya dingin.
Dan di dadanya terdapat simbol emas Zenith.
Reno langsung berhenti.
Ekspresinya berubah tajam.
“Jadi mereka mengirimmu…” katanya dingin.
Pria itu tersenyum tipis.
“Sudah lama tidak bertemu, Reno.”
Alya merasakan firasat buruk yang sangat kuat.
Karena untuk pertama kalinya sejak mengenalnya…
Reno terlihat benar-benar marah.