Ketika banyak wanita yang membuangku sistem Harem ku aktiv dan siap untuk membuat mereka yang membuangku menyesal.. !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karensi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Suasana perpustakaan pusat kampus sore itu terasa begitu tenang. Cahaya matahari senja masuk melalui jendela kaca besar, memantulkan warna jingga lembut ke lantai marmer yang bersih. Aroma khas buku tua bercampur udara dingin pendingin ruangan menciptakan ketenangan yang cukup untuk membuat siapa pun betah berlama lama di sana.
Raka duduk sendirian di sudut paling belakang dekat rak buku ekonomi. Di depannya terbuka sebuah buku referensi tebal, meski sejak tadi matanya tidak benar benar fokus membaca. Kepalanya masih dipenuhi kejadian pagi tadi saat Bella dan Bu Diana kembali saling cemburu karena dirinya.
"Capek juga ngurusin dua cewek posesif," gumam Raka pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Ia memejamkan mata sejenak menikmati ketenangan sore. Namun baru beberapa menit berlalu, suara langkah kaki tergesa gesa mendadak memecah suasana sunyi perpustakaan.
Tap tap tap
Raka membuka mata dan menoleh ke arah lorong rak buku. Dari sana terlihat Clara berlari kecil menghampirinya dengan napas memburu.
Penampilan gadis itu sangat berantakan.
Rambut pendeknya sedikit acak acakan, wajah imutnya pucat, dan matanya terlihat berkaca kaca seperti baru saja menahan tangis. Bahkan kedua tangannya tampak gemetar saat memegang ponsel.
Raka langsung duduk tegak.
"Clara?"
Clara segera duduk di kursi depan Raka. Napasnya naik turun tidak beraturan.
"Kak Raka... tolong saya..." ucapnya lirih dengan suara bergetar.
Raka mengernyit serius. "Ada apa?"
Clara menggigit bibir bawahnya kuat kuat sebelum menyodorkan layar ponselnya.
"Saya takut Kak..."
Raka mengambil ponsel itu lalu membaca isi pesan yang terpampang di layar.
"Heh cewek sialan. Gara gara lu dan cowok sok jagoan itu, gua dipecat dari restoran. Malam ini gua bakal datang ke kosan lu sama teman teman gua. Jangan coba lapor polisi kalau lu masih mau hidup."
Tatapan mata Raka langsung berubah dingin.
Aura menakutkan perlahan keluar dari tubuhnya.
"Bajingan..." gumamnya pelan.
Ia langsung tahu siapa pengirim pesan itu.
Manajer botak mesum yang kemarin ia permalukan rupanya belum menyerah. Pria itu malah nekat merencanakan penculikan demi balas dendam.
Tiba tiba.
Ting
Sebuah layar hologram transparan muncul di depan mata Raka.
"Misi Darurat Diaktifkan."
"Selamatkan target Clara dari ancaman penculikan."
"Habisi seluruh komplotan penjahat."
"Hadiah: Keahlian Bertarung Jarak Dekat Level Dua, uang tunai seratus juta rupiah, dan empat ratus poin sistem."
"Hukuman gagal: seluruh keahlian sistem akan dihapus permanen."
Raka tersenyum tipis setelah membaca isi misi itu.
Matanya memancarkan hawa dingin yang mengerikan.
Bahkan tanpa perintah sistem pun, ia tidak mungkin membiarkan Clara disentuh oleh orang seperti mereka.
Raka menaruh ponsel Clara di meja lalu menghapus air mata di pipi gadis itu menggunakan ibu jarinya.
"Udah. Jangan nangis."
Clara menatapnya pelan.
"Selama gue masih hidup, gak ada yang bakal nyentuh lu."
Nada suara Raka terdengar tenang, namun penuh keyakinan.
Entah kenapa, hati Clara langsung terasa hangat mendengar ucapan itu.
Ia benar benar merasa aman berada di dekat pria ini.
"Tapi mereka banyak Kak..." bisik Clara cemas. "Saya takut Kak Raka kenapa napa nanti."
Raka malah tertawa kecil.
"Banyak atau sedikit hasilnya bakal sama."
"Hah?"
"Gue bakal hajar mereka semua."
Clara terdiam menatap wajah Raka yang terlihat sangat percaya diri.
Raka lalu berdiri sambil mengambil tasnya.
"Dengerin gue baik baik. Lu pulang sekarang naik taksi online."
"Iya..."
"Kunci semua pintu kosan."
"Baik."
"Jam delapan malam, gue datang."
Clara mengangguk pelan.
Wajahnya yang tadi penuh ketakutan kini sedikit lebih tenang.
"Oke Kak..."
Setelah Clara pergi meninggalkan perpustakaan, Raka ikut berjalan keluar menuju area parkiran kampus.
Langit malam mulai gelap.
Lampu jalan satu per satu menyala menerangi area kampus yang mulai sepi.
Raka masuk ke dalam taksi online dan menyebut alamat kos Clara.
Selama perjalanan, ia memejamkan mata.
Tubuhnya perlahan mengaktifkan seluruh kemampuan fisik miliknya.
Otot otot di balik kemeja hitamnya menegang keras.
Aura Intimidasi Raja Level Satu mulai mengalir memenuhi tubuhnya.
Malam ini bakal ada pertumpahan darah.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti di ujung gang sempit pinggiran kota.
Raka turun perlahan.
Area sekitar tampak sangat sepi.
Lampu jalan redup.
Suara jangkrik terdengar dari semak semak kosong di samping gang.
Kosan Clara berada di bangunan paling ujung dekat lahan kosong yang gelap.
Raka baru melangkah beberapa meter ketika indera pendengarannya menangkap suara tawa pelan dari balik semak.
Matanya langsung menyipit tajam.
Dan benar saja.
Beberapa detik kemudian, lima pria keluar dari balik kegelapan.
Di barisan depan berdiri si manajer botak dengan wajah penuh dendam.
Di belakangnya ada empat preman bertubuh besar membawa rantai besi dan balok kayu.
Manajer botak langsung tertawa keras.
"Hahaha! Akhirnya datang juga lu bocah sok jagoan!"
Raka memasukkan kedua tangan ke saku celana sambil berdiri santai.
Tatapannya begitu meremehkan.
"Jadi lu serius mau mati malam ini?"
Wajah manajer botak langsung merah karena emosi.
"Kurang ajar!"
Ia menunjuk ke arah Raka.
"Hajar dia! Patahkan kaki tangannya!"
Empat preman itu langsung maju bersamaan.
Salah satu pria bertubuh paling besar mengayunkan balok kayu ke arah kepala Raka.
Whoosh
Namun di mata Raka, gerakan itu terlalu lambat.
Dengan santai ia menggeser tubuhnya sedikit ke samping.
Balok kayu itu meleset.
Sebelum si preman sempat bereaksi, tangan kanan Raka sudah meluncur cepat.
Brakk
Pukulan keras menghantam rahang pria itu.
Tubuh besar si preman langsung terpental dua meter sebelum jatuh pingsan di tanah.
Tiga preman lainnya membelalak shock.
"Sial! Anak ini monster!"
Dua orang langsung menyerang dari kiri dan kanan secara bersamaan.
Satu mengayunkan rantai besi.
Satunya lagi menusuk menggunakan pisau lipat.
Tatapan mata Raka berubah dingin.
Aura Intimidasi Raja langsung meledak keluar.
Tekanan mengerikan menyelimuti area gang.
Tubuh kedua preman itu langsung menegang ketakutan.
Kesempatan itu dimanfaatkan Raka.
Ia menangkap rantai besi dengan tangan kiri lalu menariknya kuat.
Preman itu terseret maju.
Bukkk
Lutut Raka menghantam ulu hati pria itu tanpa ampun.
Preman tersebut langsung muntah dan tumbang pingsan.
Sementara pria berpisau mencoba menusuk dari belakang.
Namun Raka jauh lebih cepat.
Ia membalik tubuh lalu menangkap pergelangan tangan si preman.
Krakkk
"Tolongggg!"
Suara tulang patah terdengar jelas.
Jeritan kesakitan menggema di gang gelap itu.
Belum selesai.
Siku kanan Raka langsung menghantam tengkuk pria tersebut.
Brak
Tubuh si preman ambruk tak bergerak.
Kini tinggal satu orang tersisa.
Preman terakhir mundur ketakutan melihat teman temannya tumbang hanya dalam hitungan menit.
"Bangsat! Kabur!"
Pria itu mencoba lari.
Namun Raka bergerak lebih cepat.
Bughhh
Satu tendangan keras menghantam punggungnya hingga tubuhnya terlempar dan menghantam pagar besi.
Pria itu langsung pingsan.
Sunyi.
Gang sempit itu kini dipenuhi tubuh tubuh preman yang terkapar.
Sementara manajer botak berdiri gemetar di ujung gang.
Celananya bahkan sudah basah karena ketakutan.
Raka berjalan perlahan mendekatinya.
Tap
Tap
Tap
Setiap langkah terasa seperti suara kematian bagi pria botak itu.
"Tolong... ampun Mas..." ucapnya gemetar.
Raka mencengkeram kerah bajunya lalu mengangkat tubuh gempal pria itu ke dinding.
"Gue udah kasih kesempatan kemarin."
"Tapi lu malah nyari mati."
"Maaf! Saya janji gak bakal ganggu Clara lagi!"
Raka menatap matanya dingin.
"Telat."
Bughhh
Satu pukulan telak menghantam perut pria itu.
Manajer botak langsung pingsan seketika.
Raka membuang tubuhnya ke tanah lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi polisi.
Beberapa detik kemudian, layar hologram sistem kembali muncul.
"Misi selesai."
"Hadiah berhasil diberikan."
Aliran energi hangat langsung memenuhi tubuh Raka.
Otot dan refleksnya terasa meningkat jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.
Raka tersenyum puas.
Tepat saat itu, pintu pagar kosan terbuka perlahan.
Clara muncul dengan wajah penuh cemas.
Namun ketika melihat seluruh penjahat sudah tumbang dan Raka berdiri sendirian di bawah cahaya lampu jalan, mata Clara langsung berkaca kaca.
"Kak Raka!"
Gadis itu berlari cepat lalu memeluk tubuh Raka erat erat.
Raka sedikit terkejut, namun akhirnya membalas pelukan itu pelan.
Clara menangis di dadanya.
"Saya takut banget tadi..."
Raka mengusap rambutnya lembut.
"Udah selesai."
"Mereka gak bakal ganggu lu lagi."
Clara mengangkat wajahnya perlahan menatap Raka.
Di matanya sekarang, pria itu benar benar terlihat seperti pahlawan yang datang menyelamatkannya dari mimpi buruk.