NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat yang Tersisa dan Kepanikan yang Senyap

Matahari pagi kembali terbit membelah langit kota metropolitan, memantulkan sinarnya pada dinding-dinding kaca gedung universitas yang megah. Namun, bagi Jennie, kilau pagi ini tidak membawa kehangatan sama sekali. Di dalam kamar apartemennya yang mewah dan serba modern, gadis itu berjalan bolak-balik dengan langkah gusar. Rambut pirang madunya yang biasa tertata rapi kini tampak sedikit acak-acakan.

Sejak terbangun pada pukul lima pagi tadi, perasaan Jennie tidak tenang. Ia terus menatap layar ponsel pintarnya yang mahal, menanti sebuah notifikasi pesan atau panggilan masuk dari Tigor dan anak buahnya. Sesuai kesepakatan mereka di kafe dua hari lalu, Tigor seharusnya sudah mengirimkan foto atau video bukti bahwa mereka telah berhasil menculik dan menghancurkan wajah Anisa di desa seberang hutan itu. Namun, hingga detik ini, layar ponselnya tetap hening tanpa ada satu pun kabar yang masuk.

Rasa penasaran yang bercampur dengan frustrasi yang amat sangat mulai membakar dada Jennie. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena emosi, ia membuka daftar kontak dan langsung menekan tombol panggil ke nomor telepon Tigor, sang ketua preman bayarannya.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”

Suara operator wanita yang datar dan dingin itu menggema dari pengeras suara ponselnya. Jennie mendengus kesal, mematikan sambungan secara sepihak, lalu kembali mencoba menelepon nomor milik Darto, sang sopir mobil SUV malam itu. Hasilnya sama. Tidak aktif. Ia mencoba menelepon nomor Joko. Tetap nihil. Semua nomor dari empat orang penjahat yang ia sewa dengan harga setengah miliar rupiah itu mati total secara serentak.

"Sialan! Pada ke mana sih mereka?!" jerit Jennie histeris, melempar ponselnya ke atas kasur empuknya dengan kasar. Wajah cantiknya cemberut penuh emosi. "Apa mereka bawa kabur uang down payment gue terus kabur? Atau... atau rencana mereka gagal?"

Jennie menggigit kuku jarinya yang penuh cat warna merah muda, mencoba menepis sebuah kemungkinan lain yang paling mustahil di dalam otaknya kemungkinan bahwa ancaman Zenix tentang bahaya Hutan Sangker itu nyata. Sifat angkuh dan logis kota yang mendarah daging di dalam dirinya membuat Jennie kembali menggelengkan kepala dengan tegas. "Enggak mungkin. Pasti mereka cuma sekumpulan preman amatir yang sedang bersembunyi setelah melakukan pekerjaan kotor. Ya, pasti begitu! Gue harus tunggu beberapa jam lagi di kampus," gumamnya menenangkan diri sendiri, meskipun di sudut hatinya yang paling dalam, sebuah firasat buruk yang sangat dingin mulai merayap naik.

Sementara itu, di sudut perpustakaan utama kampus yang sejuk dan tenang, suasana yang sangat kontras sedang dialami oleh Zenix. Pemuda bertubuh tinggi tegap itu duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman dalam. Hari ini ia mengenakan jaket kulit hitam di atas kaus putih polosnya, lengkap dengan anting hitam di telinga kiri yang memantulkan cahaya pagi. Penampilannya masih mempertahankan gaya bad boy yang mengintimidasi, tetapi sepasang mata tajamnya kini memancarkan binar kedamaian yang mendalam.

Di atas meja kayu perpustakaan yang sunyi, di antara tumpukan buku-buku tebal hukum bisnis, terletak sebuah amplop cokelat kecil yang masih berbau harum alami bunga melati pedesaan. Itu adalah pucuk surat balasan baru dari Anisa yang berhasil ia selamatkan kemarin sore dari tangan Kang Maman, sesaat sebelum insiden perobekan surat lama oleh Jennie terjadi. Zenix sengaja menyembunyikan surat baru ini di dalam saku bagian dalam jaket kulitnya, memastikan tidak ada satu pun pasang mata kota yang bisa menyentuhnya lagi.

Dengan gerakan perlahan dan penuh penjiwaan, Zenix membuka lipatan kertas bergaris di dalamnya. Goresan tinta hitam dari tulisan tangan Anisa yang anggun langsung menyapa pandangannya.

> “...Mas Zenix, terima kasih sudah selalu menjaga komitmen dan kesucian janji kita di sana. Mendengar bahwa Mas mendapatkan nilai terbaik di kampus membuat saya menangis haru di atas sajadah subuh ini. Perjuanganmu tidak sia-sia, Mas. Ketahuilah, sejauh apa pun jarak kota dan desa ini, batin saya selalu ada di dekatmu, mengiringi setiap langkah belajarmu dengan doa yang paling tulus...”

>

Zenix membaca kalimat demi kalimat itu dengan senyuman tipis yang sangat tampan terukir di bibirnya. Detak jantungnya berdesir hebat, mengalirkan gelombang semangat baru yang membuat seluruh rasa lelah di tubuhnya menguap tak berbekas.

Ada sebuah pemikiran unik yang mendadak melintas di dalam benak Zenix saat ia menatap surat fisik tersebut. Di era digital tahun 2026 ini, di mana semua manusia di sekelilingnya saling bertukar kabar secara instan dalam hitungan detik lewat aplikasi pesan instan, panggilan video, atau media sosial, ia dan Anisa justru melakukan hal yang sangat berbeda. Mereka seolah melakukan perjalanan melintasi waktu (flashback) kembali ke zaman kuno, di mana selembar kertas, tetesan tinta, dan jasa seorang merpati pos seperti Kang Maman menjadi satu-satunya jembatan penghubung dua hati.

Namun, bagi Zenix, gaya kuno inilah yang membuat hubungan mereka menjadi sangat sakral dan tak ternilai harganya. Di dalam setiap goresan pena Anisa, ada waktu yang dikorbankan, ada rindu yang ditahan berhari-hari, dan ada ketulusan murni yang tidak akan pernah bisa diwakili oleh deretan emoji digital di layar ponsel. Jarak dan waktu tunggu justru menjadi ujian sekaligus pupuk yang membuat akar cinta mereka tertanam semakin dalam dan kokoh di batas logika.

Di belahan bumi yang lain, ribuan kilometer dari hiruk-pikuk kota metropolitan, suasana damai menyelimuti halaman samping pondok bambu milik Anisa di tepi Hutan Sangker. Udara pagi pedesaan terasa sangat sejuk dan bersih.

Anisa tampak sedang berjongkok di dekat pagar bunga kuningnya, mengenakan gamis kain katun berwarna hijau toska yang dipadukan dengan jilbab instan berwarna abu-abu. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gembor plastik kecil berwarna hijau, menyirami deretan tanaman herbal tradisional yang ia tanam sendiri dengan penuh ketelatenan di dalam pot-pot tanah liat. Ada tanaman jahe merah, kunyit, daun sirih, hingga temulawak. Kakeknya dulu adalah seorang tabib tradisional desa, dan sebelum wafat, beliau telah menurunkan seluruh pengetahuannya tentang khasiat tanaman obat kepada Anisa.

Saat Anisa sedang asyik memotong beberapa helai daun sirih yang sudah tua, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dan isak tangis kecil dari arah jalan setapak depan pondok.

"Neng Anisa! Tolong, Neng! Tolong anak saya!"

Seorang ibu setengah baya warga desa, sebut saja namanya Ibu sumi, berlari masuk ke dalam halaman pondok sambil menggendong anak laki-lakinya yang berusia sekitar lima tahun. Anak kecil itu tampak lemas, wajahnya memerah padam, dan air matanya terus mengalir sembari merintih kesakitan memegang perutnya.

Anisa segera meletakkan gembor airnya, bangkit berdiri dengan tenang dan menyambut Ibu Sumi dengan raut wajah penuh empati. "Astagfirullah... Ibu Sumi, tenang dulu, Bu. Ada apa dengan Dek Boni?" tanya Anisa dengan nada suara yang lembut meneduhkan.

"Ini, Neng... dari semalam Boni badannya panas tinggi sekali, terus muntah-muntah dan diare tidak berhenti sampai lemas begini. Saya bingung, mantri desa sedang pergi ke kota sejak kemarin sore. Saya takut anak saya kenapa-napa, Neng," ucap Ibu Sumi dengan suara bergetar menahan tangis panik.

"Mari, Bu, bawa masuk ke dalam pondok dulu. Baringkan Dek Boni di atas bale-bale bambu," titip Anisa sambil membimbing Ibu Sumi masuk ke dalam ruang tengah pondoknya yang bersih dan rapi.

Dengan penuh ketelatenan dan kelembutan seorang perawat, Anisa duduk di tepi bale-bale. Ia menyentuh dahi Dek Boni menggunakan punggung tangan kanannya, merasakan suhu panas yang memang sangat tinggi. Anisa kemudian menepuk-nepuk perut anak itu dengan pelan, mendengarkan suara kembung yang cukup parah.

"Dek Boni sayang, bagian mana yang sakit? Sini, Kak Anisa usap ya," bisik Anisa dengan senyuman keibuan yang sangat tulus, membuat anak kecil yang tadinya menangis ketakutan itu perlahan mulai merasa tenang dan menghentikan tangisnya, terpukau oleh kelembutan wajah Anisa.

Anisa kembali menatap Ibu Sumi yang berdiri cemas di sampingnya. "Bu, tampaknya Dek Boni terkena gejala keracunan makanan ringan atau salah makan, yang memicu panas dalam dan gangguan pencernaan. Ibu jangan panik ya, insyaallah bisa kita obati dengan ramuan herbal Kakek."

Anisa bergegas berjalan ke arah sudut dapur bambunya. Dengan gerakan yang cekatan dan terampil, ia mengambil beberapa ruas kunyit segar, jahe, dan beberapa lembar daun jambu biji muda dari persediaannya. Ia menumbuk bahan-bahan alami tersebut menggunakan cobek batu hingga halus, lalu memeras airnya ke dalam sebuah mangkuk tanah liat kecil setelah dicampur dengan sedikit air hangat dan satu sendok madu hutan murni untuk menghilangkan rasa pahitnya.

Anisa kembali ke ruang tengah membawa mangkuk ramuan tersebut. Ia mengangkat sedikit kepala Dek Boni, lalu menyuapkan sendok demi sendok cairan herbal itu ke dalam mulut sang anak dengan sangat sabar dan telaten.

"Pinter... habiskan ya sayang, supaya perutnya tidak sakit lagi dan bisa main bola lagi besok," bujuk Anisa lembut. Dek Boni meminum ramuan itu hingga tandas tanpa penolakan, karena rasa manis madu menyamarkan kegetiran obat herbal tersebut.

Setelah ramuan diminum, Anisa mengambil selembar kain bersih yang telah dibasahi dengan air rebusan daun sirih hangat, lalu meletakkannya di atas dahi Dek Boni sebagai kompres penurun panas. Hanya berselang sekitar lima belas menit setelah penanganan telaten dari Anisa, keajaiban ramuan herbal tradisional itu mulai bekerja. Deru napas Dek Boni yang tadinya memburu dan panas perlahan-lahan mulai teratur dan mendingin. Anak kecil itu akhirnya tertidur dengan sangat lelap dan tenang di atas bantal, wajahnya tidak lagi memerah kesakitan.

Melihat perubahan drastis pada kondisi anaknya, Ibu Sumi seketika meneteskan air mata kebahagiaan. Ia langsung menggenggam kedua tangan Anisa dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. "Ya Allah, Neng Anisa... terima kasih banyak. Panasnya langsung turun, anaknya sudah bisa tidur tenang. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Neng Anisa dengan apa."

Anisa tersenyum tulus, menggelengkan kepalanya dengan santun. "Sama-sama, Ibu Sumi. Ini semua karena kesembuhan dari Allah, saya hanya perantara lewat tanaman herbal Kakek saja. Ibu tidak perlu memikirkan balasan apa pun. Yang penting Dek Boni sudah sehat kembali."

Sifat penolong, tulus, dan penuh ketelatenan yang ditunjukkan Anisa pagi ini adalah pancaran kecantikan sejati dari dalam lubuk jiwanya sebuah kecantikan murni yang bersinar terang benderang di tepi Hutan Sangker. Tanpa Anisa ketahui, di saat ia sedang sibuk menyelamatkan nyawa seorang anak kecil di desanya, empat orang penjahat kota yang dikirim untuk menghancurkannya semalam telah musnah tak berbekas di dalam perut hutan, diadili oleh hukum gaib alam semesta sebelum mereka sempat melihat ujung jilbabnya. Doa suci dan kebaikan hatinya telah menjadi perisai gaib terkuat yang tak tertembus oleh kejahatan duniawi mana pun.

1
Harto Ninis
namanya sering tertukar thor, semangat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!