Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Balik: Lima Provinsi dan Keringat Darah Alea
Perjalanan malam menuju timur menggunakan kereta api kelas ekonomi eksekutif yang minim penumpang memberikan jeda yang melelahkan namun aman bagi mereka. Di dalam kompartemen yang temaram, Alea menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang dingin, menatap siluet tiang-tiang listrik dan persawahan yang melesat cepat di balik kegelapan. Di sampingnya, Zahran sedang memeriksa kembali beberapa berkas digital dengan menyetel tingkat kecerahan layar laptop pada posisi paling rendah.
Suara gesekan roda kereta pada rel besi memicu gelombang memori dalam benak Alea. Tiga tahun terakhir, Ada Lima provinsi. Kata-kata Zahran di pos logistik tentang bagaimana ia diperlakukan sebagai "agunan" membuka sumbat kenangan pahit yang selama ini sengaja ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan ambisi profesional.
Bagi publik dan media nasional, Catalea Yoora adalah potret sempurna dari seorang pewaris dinasti bisnis. Cantik, berpendidikan tinggi, dan sukses membawa Rotasi Company melakukan ekspansi masif di luar pulau Jawa. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik angka-angka pertumbuhan kuartalan yang fantastis itu, ada keringat darah dan air mata yang diperas habis-habis oleh ambisi Baskoro Yoora.
Semuanya dimulai di tahun pertama setelah malam perpisahan yang kejam dengan Zahran di Ciumbuleuit.
Saat itu, hati Alea hancur berkeping-keping. Namun, alih-alih diberikan waktu untuk memulihkan diri, Baskoro Yoora langsung melemparkannya ke medan perang korporasi yang brutal. Provinsi pertama yang harus ia taklukkan adalah Jawa Barat, tepatnya pembukaan megagerai berkonsep bistro-bakery di episentrum kuliner Bandung dan Bogor.
"Jika kamu ingin membuktikan bahwa keputusanmu meninggalkan arsitek miskin itu adalah hal yang benar, buat proyek ini menghasilkan keuntungan lima puluh persen dalam enam bulan," kata Baskoro dingin di ruang kerjanya saat itu, melemparkan bundelan proposal tebal ke hadapan Alea.
Alea tidak punya pilihan selain menenggelamkan dirinya ke dalam kerja paksa. Ia menghabiskan waktu berbulan-bulan tidur di mess karyawan yang berbau tepung dan ragi, mengawasi mesin-mesin pengaduk adonan berukuran raksasa yang datang dari Jerman, hingga melakukan negosiasi alot dengan serikat buruh lokal yang sempat mengancam akan memboikot pembukaan gerai.
Dari Jawa Barat, Baskoro tidak membiarkannya bernapas. Begitu angka penjualan menyentuh target, Alea langsung dikirim untuk mengekspansi DKI Jakarta dan Banten. Di dua provinsi yang padat dan kompetitif ini, Alea harus menghadapi intrik politik birokrasi demi mendapatkan izin amdal dan zonasi tata ruang kota. Ia pernah menghabiskan waktu empat belas jam berdiri di koridor kantor pemerintahan hanya untuk menunggu tanda tangan seorang pejabat dinas yang sengaja mempersulit izin operasional mereka.
Puncaknya adalah ketika Rotasi Company memutuskan untuk menyeberang ke Sumatera Selatan dan Lampung. Ekspansi provinsi keempat dan kelima ini adalah neraka yang sesungguhnya bagi Alea.
Jalur distribusi logistik di sana sangat rawan. Alea harus turun langsung ke lapangan, menghadapi premanisme di pelabuhan penyeberangan, hingga bernegosiasi dengan para tengkulak bahan baku lokal yang mencoba memonopoli pasokan gula dan gandum. Pernah suatu malam di Palembang, truk kontainer yang membawa mesin pemanggang utama mereka dibajak di jalan lintas sumatera. Alea, tanpa rasa takut atau mungkin karena sudah terlalu mati rasa datang langsung ke gudang persembunyian para pelaku di pinggiran kota bersama tim pengamanan internal untuk merebut kembali asetnya.
Ia mengalami dehidrasi akut, lambungnya kronis karena sering melewatkan waktu makan, dan matanya selalu dihiasi lingkaran hitam akibat kurang tidur. Staf-staf di bawahnya menjulukinya 'Wanita Besi dari Rotasi'. Mereka mengaguminya, tanpa tahu bahwa setiap pencapaian, setiap plakat penghargaan 'Executive of the Year' yang ia terima, ditulis dengan air mata kesepian dan rasa bersalah yang mendalam pada Zahran.
Ia menukar seluruh masa mudanya, kesehatannya, dan kebahagiaannya demi mempertahankan nama besar Yoora. Dan kini, setelah semua keringat darah itu mengalir, ia mendapati kenyataan pahit bahwa sang ayah tetap menganggapnya sebagai komoditas yang bisa digadaikan kepada pria narsistik seperti Reynald Pratama ketika perusahaan goyah.
Sebuah sentuhan hangat di bahunya mengejutkan Alea dari lamunan panjangnya. Ia menoleh dan mendapati Zahran sedang menatapnya dengan tatapan mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus kepedihan yang mendalam.
"Kamu memikirkan masa-masa itu lagi Al..?" tanya Zahran lembut, suaranya beradu dengan suara pengumuman stasiun pemberhentian berikutnya yang sayup-sayup terdengar dari pelantang suara kereta.
Alea tersenyum tipis, sebuah senyuman lelah yang membuat hati Zahran terasa seperti diremas.
"Aku hanya berpikir... betapa bodohnya aku selama tiga tahun ini, ran... Aku bekerja seperti orang gila, melewati lima provinsi, mempertaruhkan nyawaku untuk membangun Rotasi Company. Aku mengira aku sedang membangun masa depan yang bisa kubanggakan di hadapan Ayah. Tapi ternyata, aku hanya sedang mempercantik diriku agar nilai jualku di mata Reynald Pratama semakin tinggi." Kenang Alea.
Zahran menutup laptopnya secara penuh. Ia meraih kedua tangan Alea, menggenggamnya erat-erat di atas pangkuannya. Ia membalikkan telapak tangan Alea, mengusap bekas luka kecil di dekat ibu jari wanita itu luka akibat goresan pelat besi mesin oven saat inspeksi mendadak di Lampung dua tahun lalu.
"Kamu tidak bodoh, Alea," kata Zahran, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan pada kelakuan Baskoro Yoora. "Kamu adalah orang paling tangguh yang pernah kukenal. Ayahmu memanfaatkan dedikasimu, dan Reynald memanfaatkan situasi finansial perusahaanmu. Tapi keringat darah yang kamu keluarkan di lima provinsi itu tidak akan sia-sia."
Zahran membawa telapak tangan Alea ke bibirnya, mengecup bekas luka itu dengan kelembutan yang membuat pertahanan Alea kembali runtuh. Kenangan bersama Zahran bukan lah hal yang bisa di lupakan dengan cepat oleh Alea.
"Semua sistem distribusi, jaringan vendor, dan strategi pasar yang kamu bangun dengan susah payah itu... tidak akan pernah menjadi milik Reynald," janji Zahran.
Matanya berkilat menatap lurus ke dalam iris mata Alea.
"Kita akan merebut kembali Rotasi Company dari tangan orang-orang yang mengkhianatimu. Aku bersumpah, Al.., setelah kita menyelesaikan urusan dengan mantan kepala audit di Jawa Timur ini, kita akan membuat mereka sadar bahwa 'Wanita Besi' yang mereka ciptakan... kini kembali untuk menghancurkan keserakahan mereka." Ujar Zahran panjang lebar.
Alea merasakan kehangatan menjalar dari genggaman tangan Zahran, mengusir sisa-sisa rasa dingin dari trauma masa lalunya. Kereta api terus melaju membelah malam, membawa mereka semakin dekat ke medan pertempuran yang sesungguhnya. Kali ini, Alea tidak lagi merasa sebagai aset yang tidak berdaya. Di samping pria yang memegang erat tangannya ini, ia siap mengubah setiap tetes keringat darahnya di masa lalu menjadi bahan bakar untuk meruntuhkan dinding-dinding kebohongan yang telah mengurung hidupnya selama ini.