PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KECERDASAN PRIMUS
Hanya butuh waktu lima menit bagi Primus untuk menutup berkas tebal tersebut dengan sebuah ketukan pelan. Marcus bahkan belum sempat membuka mulutnya untuk memberikan presentasi atau penjelasan apa pun.
"Jadi... akar masalah utamanya bukan terletak pada penurunan daya beli pasar, melainkan ada di divisi distribusi logistik kita," ucap Primus, memecah keheningan ruangan dengan nada suara yang teramat yakin.
Marcus membeku di tempatnya, matanya membelalak. "B-Benar, Tuan Muda."
"Dan kontrak dengan vendor logistik pihak ketiga kita sengaja dinaikkan sebesar tiga puluh persen dari harga normal tanpa adanya persetujuan resmi dari rapat pleno pemegang saham," lanjut Primus, matanya menatap tajam ke arah Marcus.
Marcus menahan napasnya, keterkejutannya kini berganti menjadi rasa takjub yang luar biasa. "Itu... itu juga sangat benar, Tuan Muda. Tapi bagaimana bisa Anda—"
Sebelum Marcus menyelesaikan kalimatnya, Primus sudah membuka halaman tengah berkas tersebut dan menunjuk sebuah baris data koordinat pengiriman. "Lalu, ada kebocoran informasi internal yang sangat masif mengenai desain produk baru kita ke pihak kompetitor di distrik barat."
Wajah Marcus seketika berubah drastis, warnanya memucat seketika. Kali ini, ketakutan yang nyata menjalar di tubuhnya. Sebab, informasi mengenai kebocoran desain itu adalah rahasia tingkat tertinggi yang baru ia ketahui tadi malam, dan belum sempat ia dokumentasikan ke dalam sistem maupun diumumkan kepada siapa pun.
"Tuan Muda Primus... dari mana Anda bisa mengetahui hal itu hanya dengan membaca laporan keuangan sekilas?" tanya Marcus, suaranya kini bergetar penuh rasa hormat yang mendalam.
Primus meletakkan kembali dokumen tersebut ke atas meja kaca, menyilangkan kakinya dengan santai. "Mereka mengira aku hanya membaca buku fiksi di perpustakaan tua itu," batin Primus dengan senyuman kepuasan yang tertahan di dalam hatinya. "Mereka tidak tahu bahwa aku menghafal setiap algoritma pasar sejak usia belasan tahun."
"Sederhana saja, Direktur Marcus," ujar Primus tenang. "Jika sebuah perusahaan mengalami kerugian murni karena faktor fluktuasi pasar, maka pola grafiknya akan bergerak berantakan namun tetap mengikuti tren makro. Jika rugi karena kelalaian manajemen biasa, polanya akan tidak konsisten di beberapa divisi. Tapi di sini..." Primus mengetuk jarinya di atas angka kerugian bersih. "...seseorang dengan kecerdasan matematika yang tinggi sengaja mengatur dan merapikan angka-angka kerugian ini agar terlihat natural bagi mata orang awam."
Ruangan rapat itu mendadak sunyi senyap, menyisakan suara detak jam dinding yang berdegup konstan. Marcus menatap pemuda di depannya seolah-olah ia sedang melihat sosok hantu yang mengerikan sekaligus mengagumkan. Pemuda yang selama belasan tahun ini dicap oleh seisi kota sebagai 'produk gagal' keluarga Aristokrat, ternyata hanya butuh waktu lima menit untuk menelanjangi seluruh konspirasi internal yang telah menyandera perusahaan ini selama berbulan-bulan.
Tepat pada saat ketegangan itu mencapai puncaknya, pintu ruang rapat utama dihempaskan terbuka dengan sangat keras dari luar.
Brak!
Suara dentuman itu menggema di dalam ruangan. Beberapa pria tegap dengan setelan jas hitam legam melangkah masuk dengan gaya yang teramat angkuh. Di dada kiri jas mereka, tersemat sebuah lencana perak berbentuk singa bersayap dengan tulisan 'Audit Pusat'.
Pemimpin rombongan itu adalah seorang pria berkacamata dengan bingkai tipis bernama Victor. Pria itu dikenal luas di lingkungan korporat sebagai salah satu anjing jepitan paling setia dan algojo kepercayaan milik Adrian Aristokrat.
Victor melangkah maju, menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan kemenangan meremehkan. "Maaf seribu maaf jika saya harus mengganggu diskusi pagi yang hangat ini. Namun, saya baru saja menerima instruksi dan laporan resmi dari kantor pusat bahwa rapat yang sedang kalian adakan saat ini... dinyatakan tidak sah."
Marcus langsung berdiri dari kursinya, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak atas tindakan tidak sopan tersebut. "Apa maksud Anda, Saudara Victor?! Ini adalah wilayah operasional Cabang Timur, dan saya adalah direktur utamanya!"
Victor mengeluarkan sebuah map hitam dengan stempel hologram emas dari balik jasnya dan melemparkannya ke atas meja dengan kasar. "Berdasarkan keputusan darurat dari Tim Audit Pusat yang dipimpin langsung oleh Tuan Muda Adrian, Cabang Timur saat ini sedang berada dalam status investigasi penuh atas dugaan kecurangan finansial. Oleh karena itu, per detik ini, seluruh otoritas dan kewenangan eksekutif jajaran direksi di cabang ini dibekukan total hingga batas waktu yang tidak ditentukan."
Suasana di dalam ruang rapat langsung gempar. Beberapa staf administrasi yang berdiri di sudut ruangan mulai menahan napas, menyadari bahwa badai politik keluarga telah benar-benar menghantam tempat kerja mereka.
Marcus mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Ini tidak masuk akal! Ini adalah tindakan kudeta sepihak! Kami sama sekali tidak menerima dokumen pemberitahuan atau surat keputusan dari dewan tetua sebelumnya!"
Victor tersenyum lebar, membetulkan letak kacamata minusnya dengan gestur yang sangat menjengkelkan. "Mulai detik ini, Anda sudah menerimanya secara legal, Direktur Marcus."
Pandangan mata Victor kemudian bergeser, melewati tubuh Marcus dan langsung mengunci sasarannya pada sosok Primus yang sejak tadi hanya diam menyandarkan punggungnya di kursi kepemimpinan dengan ekspresi yang teramat santai. Tatapan Victor dipenuhi dengan ejekan yang terang-terangan, seolah sedang melihat seonggok sampah yang salah tempat.
"Dan... Anda pasti adalah Tuan Muda Primus Valerian yang terhormat, bukan?" ucap Victor dengan nada suara yang dibuat-buat ramah namun sarat akan racun penghinaan.
Primus menopang dagunya dengan satu tangan, membalas tatapan Victor dengan pandangan mata abu-abunya yang sedalam lautan. "Ya. Itu namaku."
Victor tertawa kecil, sebuah tawa meremehkan yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh seluruh staf di ruangan itu. "Kalau begitu, sebagai perwakilan resmi dari kantor pusat, saya sangat menyarankan agar Anda segera berkemas dan pulang ke paviliun Anda yang nyaman, Tuan Muda. Cabang Timur yang sedang dilanda krisis ini bukanlah tempat bermain yang cocok untuk anak-anak yang hanya tahu cara membaca buku dongeng."
Beberapa pegawai di ruangan itu langsung menahan napas mereka dalam-dalam. Kalimat yang keluar dari mulut Victor bukan lagi sekadar sindiran bisnis, melainkan sebuah penghinaan langsung yang menginjak-injak harga diri seorang darah murni Aristokrat di depan para bawahannya.
Namun, sesuatu yang berada di luar skenario Adrian dan Victor justru terjadi.
Primus tidak menunjukkan kilat amarah. Ia tidak berteriak, tidak membantah, dan tidak juga memanggil pengawal pribadinya. Pemuda itu justru menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis yang teramat tenang—sebuah senyuman dingin yang entah kenapa membuat bulu kuduk Victor tiba-tiba meremajang hebat dan memicu alarm bahaya di dalam kepalanya.
"Apakah khotbah upacaramu dari kantor pusat sudah selesai, Victor?" tanya Primus dengan nada suara yang teramat lembut namun bergema penuh tekanan di dalam ruangan.
Victor mengernyitkan dahi, merasa tidak nyaman dengan ketenangan mutlak yang ditunjukkan oleh targetnya. "Apa... apa maksud Anda bertanya seperti itu?"
Primus berdiri dari kursi kepemimpinannya secara perlahan. Gerakannya begitu anggun dan penuh wibawa alami, membuat Victor secara refleks mengambil satu langkah mundur tanpa ia sadari. Primus mengulurkan tangannya, mengambil dokumen audit berstempel hologram emas dari atas meja, lalu membalik halamannya selama beberapa detik dengan tatapan mata yang berkilat tajam.
Setelah selesai membaca sekilas, senyuman di wajah Primus justru berkembang menjadi lebih lebar dan sarat akan arti.
"Menarik sekali," bisik Primus, melayangkan pandangan mata abu-abunya tepat ke dalam manik mata Victor.
"Mengerti apa?" tanya Victor, mencoba mempertahankan nada bicaranya yang angkuh meski kini keringat dingin mulai membasahi bagian dalam kerah kemejanya.
Primus melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka, membuat aura intimidasi tak kasatmata di sekelilingnya mendadak mengental dan menekan ruangan tersebut.
"Aku mengerti... bahwa sepupuku yang tercinta, Adrian, ternyata sedang merasa sangat ketakutan setengah mati terhadap keberadaanku di sini," ucap Primus dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ancaman yang mematikan.
Seketika itu juga, senyuman angkuh di wajah Victor lenyap tanpa sisa. Rasa percaya diri yang dibawanya dari kantor pusat menguap dalam sekejap, karena untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di ruangan ini, ia menyadari satu hal yang mengerikan.
Situasi politik di Cabang Timur ini... baru saja sepenuhnya keluar dari kendali kelompok mereka.
"BERSAMBUNG"