Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : SERULING DI BAWAH TANAH
Wang Bi dan Liu Mao berbaring berdampingan di atas tikar yang digelar Hua Ling di sisi api, dengan jarak yang cukup dekat untuk berdebat tanpa harus mengeraskan suara tapi cukup jauh untuk pura-pura tidak saling peduli.
"Kenapa bajumu yang diselamatkan duluan," kata Wang Bi kepada Liu Mao dengan nada yang sangat serius untuk topik sepenting itu. "Peti itu milik kita berdua."
"Bajuku lebih mahal."
"Bajumu belum pernah dicuci sejak keberangkatan."
"Mahal tidak berarti sering dicuci."
Tianbao duduk di antara keduanya dengan ekspresi orang yang sudah lama mengenal percakapan semacam ini dan sudah lama berdamai dengan kenyataan bahwa percakapan semacam ini tidak pernah benar-benar berakhir. "Kalian hampir mati," katanya. "Kalian sadar akan hal itu?"
"Cuma hampir," kata Liu Mao dengan penekanan yang sangat disengaja. "Belum betul-betul mati."
"Itu perbedaan yang sangat penting," Wang Bi menambahkan.
Sementara Haifeng yang duduk sedikit lebih jauh mendengar semua itu dan hanya menggeleng pelan dengan senyuman yang tidak bisa sepenuhnya ditahan. Wang Bi dan Liu Mao memang tidak pernah berubah. Mungkin tidak akan pernah berubah, dan ada sesuatu yang sangat menenangkan dari kenyataan itu di tengah pulau asing yang tidak ramah ini.
"Kita tidak pernah bisa main ke istana dulu," kata Liu Mao tiba-tiba, dan matanya ke arah Haifeng. "Bukan karena tidak mau. Tapi ibumu itu..."
"Menakutkan," Wang Bi menyelesaikan kalimat itu dengan sangat langsung.
Lantas Haifeng mengangkat bahunya. "Semua orang bilang begitu."
"Tianbao saja yang bisa masuk bebas ke sana." Liu Mao mendecak dengan nada yang susah dibedakan antara iri atau kagum. "Bahkan tidur di sana juga pernah, katanya."
"Cuma dua kali kok," kata Tianbao tanpa ekspresi khusus. "Tiga sih, kalau dihitung yang kali itu aku ketiduran di perpustakaan dan tidak ada yang menyadarinya sampai pagi."
Wang Bi menatap Tianbao dengan ekspresi yang menilai ulang seluruh eksistensi pria itu. "Kau tidak waras, ya?"
"Kemungkinan besar memang begitu."
Gadis tabib bernama Hua Ling yang duduk di dekat kakeknya mengangkat wajahnya ketika Tianbao melirik ke arahnya. "Kau juga sudah mengenal mereka sejak lama?" tanya Tianbao.
"Umm... aku rasa sejak kita masih di kelas tetua Mao bersama," kata Hua Ling. Senyumannya muncul dengan cara yang sangat berbeda dari senyumannya ketika bicara dengan Haifeng, lebih santai. "Wang Bi waktu itu menangis karena tidak bisa menghafalkan nama-nama tanaman obat."
"Aku tidak menangis tuh," kilah Wang Bi langsung.
"Matamu basah."
"Itu keringat."
"Di matamu?"
Chen Mo pun muncul dari arah hutan dengan langkah yang setengah berlari tapi tidak sampai berlari penuh, cara bergerak seseorang yang membawa kabar mendesak tapi sudah melatih dirinya untuk tidak menunjukkan kepanikan bahkan dalam situasi yang membutuhkan kepanikan.
Qinghan yang berdiri di ujung pantai memantau perbaikan kapal menoleh bahkan sebelum Chen Mo cukup dekat untuk bicara, seperti sudah tahu dari cara langkah itu terdengar bahwa sesuatu tidak beres.
Haifeng juga segera mendekat ketika melihat ekspresi Chen Mo.
"Bai Mei hilang," kata Chen Mo yang diikuti Zhao Feng, Sun Li, dan Ma Chao berdiri dengan wajah yang menunjukkan bahwa mereka sudah berkeliling cukup lama tanpa hasil. "Kami sudah cari sejak tadi. Tapi tidak ada jejak yang jelas."
Haifeng sudah membuka mulutnya untuk berkata bahwa mereka harus segera mencari lagi ketika Qinghan mengangkat tangannya.
"Biarkan saja kalau begitu," kata Qinghan. Ucapan yang keluar dengan sangat datar dan sangat final. "Aku juga tidak mempercayai wanita itu sejak pertama kali kita bertemu lagi di pantai."
Chen Mo tidak berkata apa-apa, tapi posisi badannya berubah dengan cara yang sangat kecil yang bagi orang yang mengenalnya berarti dia setuju sepenuhnya.
Sementara Zhao Feng, Sun Li, dan Ma Chao saling melirik dengan ekspresi tiga orang yang tidak punya cukup argumen untuk menyanggah tapi juga tidak cukup nyaman untuk setuju begitu saja.
"Kak." Haifeng melangkah satu langkah ke depan. Suaranya tidak keras, tapi memiliki ketegasan yang sangat jarang muncul ketika dia berbicara kepada Qinghan. "Apapun yang Bai Mei lakukan atau rencanakan, dia masih ada di pulau ini sendirian. Kita tidak bisa membiarkan itu."
Qinghan menatap adiknya selama beberapa hitungan yang tidak singkat.
Kemudian menghela napas. "Satu jam," katanya. "Tidak lebih dari itu. Dan Chen Mo yang akan memimpin."
Tanpa menunggu lama, mereka berenam akhirnya bergerak masuk ke hutan. Chen Mo di depan, Haifeng dan Tianbao di tengah, Zhao Feng dan dua lainnya di belakang.
"Aku tidak percaya," bisik Tianbao kepada Haifeng sambil berjalan. "Kakakmu benar-benar tidak ikut?"
"Kan ada Kakak Chen."
"Maksudku, biasanya dia..." Tianbao membuat gerakan tangan yang menggambarkan seseorang yang selalu ada di setiap sudut. "Seperti bayangan yang tidak bisa diusir."
"Kalau Kakak Chen ada, Kakak pasti percaya aku akan aman." Haifeng mengucapkan itu dengan cara yang sangat biasa.
Tianbao memikirkan itu sebentar sambil melangkahi akar pohon besar. "Tapi kita sekarang di tengah pulau asing yang sudah terbukti punya ular raksasa, harimau spiritual, dan orang-orang yang menyerang dari balik kegelapan." Dia menatap Haifeng. "Dan kau berjalan seperti sedang menuju warung makan."
"Aku lapar juga sebenarnya."
Tianbao menutup matanya sebentar. "Haifeng."
"Apa?"
"Bagaimana kau bisa selembut ini di kandang singa?"
Haifeng tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu lebih berat dari yang terdengarnya, dan Tianbao yang mengucapkannya tahu itu. Tapi sebelum Haifeng menemukan jawabannya, Chen Mo di depan berhenti.
Semua orang pun ikut berhenti.
"Di sini," kata Chen Mo. Tangannya tidak bergerak ke senjata, hanya berdiri dengan mata yang menyapu area sekitarnya. "Qi-nya masih ada di dekat sini waktu terakhir kali aku merasakannya."
Haifeng mendekat ke sisi Chen Mo, memandang tanah dan pepohonan di sekitarnya. "Kakak Chen, kalau dia sengaja pergi, pasti ada jejaknya. Tapi tidak ada. Kemungkinan ada jebakan atau sesuatu yang tidak direncanakan."
Chen Mo tidak menyanggah.
"Bai Mei itu penakut," kata Zhao Feng dari belakang. "Kelihatannya berani, tapi sebenarnya dia tidak akan mau keluar sendirian di tempat seperti ini kalau tidak ada yang memaksanya."
"Tapi dia berani sekali dengan rencana-rencananya," timpal Sun Li. "Dan kalau sudah berhadapan langsung dengan sesuatu yang tidak terduga, dia yang pertama kabur ke belakang. Aku sudah kenal dia cukup lama untuk tahu itu."
"Kau bilang dia penakut?" Zhao Feng balas menatap Sun Li, "tapi kau juga yang bilang dia berbahaya. Keduanya tidak bisa benar sekaligus."
"Bisa saja. Orang yang penakut tapi berbahaya itu yang paling tidak bisa diprediksi."
Mereka berdua masih membuka mulut masing-masing untuk melanjutkan ketika sesuatu membuat semua orang mematung dalam kebisuan.
Itu jelas suara seruling.
Bukan dari arah mana pun yang bisa langsung ditunjuk. Suaranya datang dari bawah, meresap ke atas melalui tanah seperti air yang mencari celah, melodi yang tidak dikenal tapi memiliki pola yang terlalu teratur untuk disebut kebetulan.
Seketika itu Chen Mo menarik pedangnya. Yang lain mengikuti dalam hitungan detik.
"Dari mana?" tanya Tianbao dengan lirih.
Haifeng berjongkok, meletakkan telapak tangannya di tanah. Getaran yang sangat kecil, hampir tidak terasa. "Dari bawah kita."
Lubang itu ditemukan dua puluh langkah ke barat dari titik Chen Mo berhenti, tersembunyi di bawah lapisan rerumputan yang sudah tumbuh menutupinya cukup lama untuk tidak terlihat seperti lubang sampai seseorang berdiri cukup dekat. Dindingnya tidak rata tapi cukup landai di satu sisi untuk disebut perosotan alih-alih jurang tegak lurus.
"Ini," kata Tianbao, berdiri di tepinya dan menatap ke bawah. "Ini pasti yang menyeret Bai Mei."
Ma Chao mengangguk dengan ekspresi orang yang tiba-tiba sangat bersyukur bahwa dirinya tidak berjalan dengan ceroboh.
Sementara Chen Mo mengambil batu sebesar kepalan tangan dari tanah di dekatnya dan menjatuhkannya ke dalam lubang. Mereka semua mendengarkan. Suara benturan datang dalam hitungan yang tidak terlalu panjang, dan gema yang menyusulnya menunjukkan ruang yang cukup luas di bawah sana.
"Aman untuk dilalui," kata Chen Mo.
Akhirnya mereka membagi diri. Chen Mo, Haifeng, dan Tianbao masuk duluan. Zhao Feng, Sun Li, dan Ma Chao berjaga di atas.
Perosotan itu membawa mereka ke bawah dalam waktu yang lebih singkat dari yang terasa nyaman, dan apa yang menunggu di bawah adalah sesuatu yang tidak satu pun dari mereka perkirakan.
Tidak ada stalaktit, tidak ada dinding batu yang kasar dengan tekstur alami. Yang ada di depan mereka adalah dinding yang dipotong dengan sudut yang sangat disengaja, batu yang disusun dengan lapisan yang terlalu rapi untuk terjadi secara alami, dan lorong-lorong yang bercabang ke kiri dan kanan dengan ukuran yang cukup untuk dilewati dua orang berdampingan. Adapun di setiap dinding ada ukiran yang sudah sebagian tertutup lumut hijau tua, tapi di bagian yang masih terlihat, polanya sangat jelas, bukan hiasan semata.
Aula yang pertama terlihat saja sudah tidak kalah besar dari ruang singgasana yang pernah Haifeng lihat di Long Yuan.
"Ini dibangun," kata Tianbao.
Chen Mo sudah memeriksa salah satu sudut lorong dengan tangannya, meraba permukaan batu yang dingin. "Sudah sangat lama. Tapi strukturnya masih utuh."
Haifeng berdiri di tengah aula, kepalanya berputar perlahan mengikuti ukiran-ukiran di dinding, mata biru gelapnya bergerak dari satu pola ke pola lain dengan cara seseorang yang sedang membaca, bukan sekadar melihat.
Chen Mo lantas bergerak ke arah perosotan untuk bersiap mengajak mereka naik kembali dan melapor kepada Qinghan. Tangannya menyentuh dinding di mana tadi mereka turun.
Namun, batu yang ada di sana rata dan tidak bercelah. Dinding itu mulus seperti tidak pernah ada yang masuk dari sana.
Chen Mo meraba lebih jauh ke kiri dan ke kanan. Tianbao ikut mencari tapi hasilnya sama.
Jalan masuk itu tidak ada lagi.
Tianbao sampai menelan ludah. "Haifeng..."
Haifeng masih menatap ukiran di dinding yang satu. Tangannya menyentuh salah satu bagian yang paling bersih dari lumut, mengikuti pola yang berbentuk seperti ombak yang berputar menuju satu titik di tengah, dan di titik tengah itu ada gambar yang sudah dia lihat di salah satu gulungan yang pernah dia salin dengan tangannya sendiri di kamarnya yang penuh buku di Long Yuan.
Suaranya keluar sangat pelan.
"Pulau Penjaga," katanya. "Tidak salah lagi, ini adalah Pulau Penjaga. Pos terdepan Pulau Xuanyuan."