"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 6 : Kehilangan
Theo mengobrak-abrik tumpukan puing-puing, berharap menemukan secercah harapan.
Tangannya lecet, berdarah, bahkan beberapa jari tangannya sudah bengkak.
"Sial.. sial.. sial... Sial!"
Theo melihat tumpukan batu seukuran harimau tadi. Dengan sigap, dia langsung berlari dan memindahkan puing-puing di situ.
'Rambut? Berarti benar.'
Theo melihat rambut harimau itu, dan ia yakin di sekitar situ juga lokasi Snow dan White.
"Snow! White! Tau begini aku tidak akan meninggalkan kalian." Teriakan Theo disusul oleh isak tangis yang begitu tragis.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Theo terus menerus memindahkan puing-puing yang ada.
Sampai...
"Theo, uhuk... Aku... Sela... Mat..."
Terdengar suara khas dari Snow.
Ketika menengok, Theo segera melihat seekor ular yang sudah terbelah.
"White!" Theo merasa ngilu ketika ia melihat seekor ular masih dalam kondisi yang tidak kalah mengkhawatirkan.
Tubuhnya sudah terkikis, badannya sudah penuh darah. Hanya saja, ia mampu bergerak tidak seperti Snow yang sudah terbelah dua.
"White... aku tau. Uhuk... aku kakakmu... tapi... Uhuk... sesuai hukum... ras ular kita... Uhuk... Makan... aku." Suara Snow perlahan-lahan melemah, menyisakan kehampaan yang sangat sesak.
"Theo... Saat aku mati... makanlah... mata kananku. Aku.. akan meninggalkan... pesan seperti... ibu."
Snow menghembuskan nafas terakhirnya.
"Tidak! Argh!" Teriakan Theo menggema di seluruh hutan. Mengagetkan seluruh hewan di hutan.
Dengan berat hati, Theo mencungkil mata kanan Snow.
"Kakak?" White terpukul dengan sangat berat.
Pertama kali dalam sejarah, seekor ular menangisi kepergian ular lain.
Tiba-tiba, langit menjadi gelap, terdengar gemuruh besar di langit. Seolah ikut menangisi kepergian Snow, langit mulai meneteskan air mata kesedihannya. Menambah kesedihan dalam tragedi tersebut.
Theo memeluk White, lalu mereka menangisi kepergian Snow bersama.
Setelah beberapa saat menangisi kepergian Snow, tangisan Theo mereda, digantikan dengan mata yang sudah sembab akibat selama beberapa jam menangis.
"Snow, akan aku tepati permintaanmu."
Theo mengambil mata kanan Snow yang tadi sudah ia cungkil, lalu ia menaruhnya di mulut dan menelannya.
Bruk
Theo terjatuh dan masuk dalam keadaan koma.
Di sisi lain, Theo tersadar di sebuah dataran dengan sungai yang indah. Di ujung dataran itu, terduduk seorang wanita dan seorang anak laki-laki.
"Aha, dia sudah tiba. Lihat sayang." ucap wanita itu sambil menunjuk ke arah Theo.
"Hei monyet!"
"Ini?" Theo merasa bingung, sebab ia sadar bahwa dengan jelas ia mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali, Snow.
"Snow?"
"Hei, kau sudah lupa ya? Ugh sialan, rasakan ini." Snow berlari dan melompat.
Buk
Buk
Buk
Anak itu memukul Theo beberapa kali, lalu ia tersenyum kecil.
"Hehe, sekarang aku sudah kembali bersama ibuku. Ouh, tenang saja aku akan memberikan mata kananku kepadamu. Oiya, ngomong-ngomong...
Bisa... Aku minta tolong... Kepada... Mu?" ucap Snow dengan senang lalu agak tertunduk malu.
"Baiklah, aku akan menuruti semua permintaan Snow." balas Theo dengan senyum yang ramah. Meskipun ia tahu, bahwa itu hanyalah ilusi. Ia sadar kalau setidaknya itu adalah pesan yang sudah ditinggalkan oleh Snow kepadanya.
"Umm... Boleh kah kamu memberikan mata dan inti sihir kepada White?"
degg
Ucapan itu langsung menusuk mengenai hati Theo. Sekedar ia ragu, dan ia akhirnya bertanya.
"Kenapa? Bukankah itu memang milikku?"
"Umm, jadi... Ini rahasia ya. Hehehehehe.
Sebenarnya, White sedang dalam bahaya. Memang dia bisa bergerak, tapi jauh di dalam tubuhnya inti sihirnya sudah pecah. Berbeda dengan diriku, dia memiliki kekuatan sihir yang sangat besar. Jadi, dia akan mati kalau tidak diberi inti sihir." ucap Snow.
"Hmm, memangnya ibumu mengizinkan? Ini kan punya ibumu."
Wanita di sebelah Snow pun langsung membuka mulutnya.
"Aha, kau tau. Aku adalah ular yang kau bunuh itu. Dengan segala kehormatan ku, aku izinkan kau untuk memberikan seluruh kekuatanku kepada White. Anakku yang tersisa. Tolong..." ucap wanita itu yang kemudian kembali duduk di meja di ujung sungai.
"Tuh kan, ibuku udah setuju. Udah sana pergi, huuu monyet." Snow langsung menjentikkan tangannya dengan lidah yang menjulur mengejek Theo.
"Hua!" Theo terbangun di sebelah White.
Ia kemudian memeluk White, dan ia akhirnya meminta white memakan Snow.
"ugh... Kakak..." White pun dengan berat hati menelan tubuh kakaknya.
Air mata masih menetes deras di pipi White. Menyebabkan air mata Theo kembali keluar, meskipun hanya sedikit.
"White, kamu tau caranya mengeluarkan inti dan mata yang pernah aku pake?"
"Maksud tuan mata ibuku?"
"Yah." ucap Theo sambil menghembuskan nafas.
"Umm, kalo nggak salah kakak pernah bilang. Untuk mengeluarkan inti sihir dan mata, kamu harus mengumpulkan sumber dari rasa aneh itu ke lidahmu. Maka, otomatis kamu akan mengeluarkan itu semua."
"Baiklah aku coba."
Theo segera menutup matanya, lalu mengalihkan semua sumber rasa aneh di tenggorokannya ke lidahnya.
beberapa jam berlalu...
Theo tiba-tiba memuntahkan dua benda yang aneh. Sebuah kristal hitam keunguan, dan sebuah mata berwarna hijau kebiruan.
"Tuan, sekarang kedua benda ini sudah keluar. Apakah tuan yakin? Soalnya ketika tuan mengeluarkan dua benda ini, otomatis kekuatan tuan akan menghilang."
"Ya, sekarang, kamu telan." ucap Theo menyodorkan kedua benda itu kepada White.
White menelan kedua benda itu sekaligus, ia yakin segala perintah Theo adalah sesuatu yang baik.
"ukh.. Tu..an."
Tiba-tiba, White memuntahkan darah berwarna hitam yang disertai dengan kristal hitam kecil yang sudah hancur seperti pasir.
White terjatuh, berubah menjadi mirip dengan bangkai ular.
"White!?" Theo segera memeluk White dalam kondisi panik.
Ia menggunakan segala yang dimilikinya, pakaiannya, bahkan ia mencari beberapa daun kering untuk membuat tempat yang hangat.
Theo menaruh daun kering di dalam seragam yang ia lepas dan ia ikat menjadi tas baru. Lalu, ia pergi menjelajahi hutan.
Berbeda dengan sebelumnya, Theo tidak dapat menggunakan sedikitpun kekuatan ular. Jadi, ia segera mencari tanaman yang bisa ia gunakan untuk membuat tali, dan ia mencari beberapa ranting pohon.
Dengan hati-hati, Theo membuat perangkap dari ranting dan tali dadakan yang ia buat.
Setelah itu, Theo segera kembali ke tempat reruntuhan, lalu ia memindahkan segala puing puing dari tubuh harimau yang sudah tergeletak tak bernyawa.
Menggunakan beberapa batu dan pisau lempar yang ia punya, ia menguliti harimau itu. Memang kasar, tapi dengan kehati-hatiannya, Theo dapat memisahkan kulit, daging, dan cakar.
Sreek
Srek... shriek
Suara gesekan antara pisau lempar dan batu dengan kulit harimau itu terdengar dengan sangat keras.
Saat sedang menguliti harimau itu, tampak sekilas kristal biru bersinar di dahi harimau itu. Theo yang melihatnya menjadi tertarik, tapi dia tidak begitu tahu bagaimana penggunaan kristal itu.
Theo pun segera melumat daging yang ada, lalu membakarnya di sebuah ranting dan membuat olahan daging yang terlihat aneh.
Saat Theo sedang membakar daging, sesuatu disekitarnya bergerak.
...****************...
End Ch. 6 : Kehilangan.
Terima kasih semuanya
Jangan lupa, like, and follow.