SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 LANGKAH BARU DI SMA BINARA 2
Sore itu, aroma manis mentega dan vanila menguar samar di dalam toko kue milik keluarga Alesia. Namun, suasana di dalam terasa begitu hening. Toko sengaja ditutup. Di sudut ruangan, Alesia sedang duduk diam menikmati makanannya Sementara itu, sang mama sibuk menyapu lantai, sesekali melirik putrinya.
Kring… Lonceng di atas pintu toko berdenting. Seorang kurir berseragam melangkah masuk ke dalam toko yang sudah membalik papan penandanya menjadi 'Closed'.
"Permisi," ujar sang kurir dengan sopan, memecah keheningan.
Mama Alesia meletakkan sapunya, bergegas menghampiri. "Iya, ada apa ya?" sahutnya ramah.
"Ini ada paket dari SMA Nuansa 1," ucap kurir itu sembari menyodorkan sebuah amplop besar berlogo sekolah lama Alesia.
"Terima kasih, Pak," ujar mama Alesia dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Setelah menerima paket tersebut, sang kurir segera berpamitan dan keluar dari toko kue karena masih memiliki banyak paket lain yang harus diantarkan sore itu.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Mama Alesia merobek segel pembungkus paket tersebut. Ternyata, itu adalah surat pindah sekolah milik Alesia.
“Begitu teganya mereka,” batin mama Alesia dengan dada sesak menahan amarah. “Sekolah bahkan sama sekali tidak menghiraukan perundungan yang menimpa anakku. Mereka mengirim surat pindah ini dengan sangat cepat, seakan-akan sudah tidak mau lagi berurusan dengan kami.”
Mama Alesia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam emosinya yang sempat memuncak. Ia kembali memasukkan surat itu ke dalam amplop coklat, lalu menyembunyikannya di bawah meja kasir. Dengan langkah yang sengaja dibuat seringan mungkin, ia menghampiri Alesia yang masih asyik dengan makanannya. Ditatapnya wajah sang putri yang masih menyisakan sedikit trauma. Mama Alesia membelai rambut lurus Alesia dengan penuh kasih sayang, lalu merangkul pundaknya sambil tersenyum hangat. Merasakan kehangatan ibunya, Alesia mendongak dan ikut tersenyum tipis.
Satu Bulan Kemudian
Waktu berlalu begitu cepat. Satu bulan telah terlewati sejak hari kelam itu. Luka-luka fisik di tubuh Alesia kini sudah sembuh total, menyisakan kulitnya yang kembali mulus seperti sediakala, meskipun luka di hatinya masih membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih.
"Alesia... Alesia...!!" Suara mamanya terdengar memanggil dari lantai bawah.
Saat itu, Alesia sedang berada di dalam kamarnya, duduk di tepi ranjang sambil mendengarkan musik lewat headphone untuk mengusir rasa bosan. Mendengar namanya dipanggil, ia segera melepas headphone-nya.
"Iya, Ma!" sahut Alesia. Ia segera bergegas turun dari kamarnya untuk menghampiri sang mama. Rambut lurusnya yang hitam legam bergoyang seiring langkah kakinya. Sore itu, ia hanya mengenakan pakaian santai rumahan berupa kaos dan celana pendek. "Ada apa, Mah?" tanya Alesia begitu sampai di ruang tamu.
"Ini seragam baru mu," ujar sang mama dengan binar mata bahagia, menyerahkan seragam yang masih terbungkus plastik rapi. "Mama sudah mendaftarkanmu di sekolah lain. Jaraknya agak dekat dari rumah kita, yah... bisa dibilang sekitar 50 menit perjalanan dari sini."
Alesia menerima bungkusan itu. Ia menatap seragam barunya dengan perasaan campur aduk. Walaupun dalam satu bulan ini dia sudah berusaha keras melupakan kejadian traumatis itu, kenyataan bahwa dia harus kembali menjadi seorang pelajar sempat memicu rasa cemas yang amat sangat dalam dirinya. Menjadi murid adalah fase hidup yang sempat ingin ia hapus dari ingatannya.
"SMA Binara 2," gumam Alesia pelan. Mata indahnya memperhatikan lambang sekolah yang tersemat di bagian dada. Seragam itu terlihat sangat elegan: sebuah jas hitam dan kemeja putih di pakai dibagian dalam dengan dasi hitam pekat, dipadukan dengan rok pendek berwarna senada yang memiliki garis putih tegas di pergelangan bawahnya.
Mama Alesia yang sedang duduk di sofa ruang tamu memperhatikan ekspresi putrinya yang sempat melamun. "Kenapa, sayang? Apa kamu tidak suka dengan model seragamnya?" tanya sang mama lembut.
Alesia tersentak dari lamunannya. Ia memandang mamanya yang selalu berjuang untuknya selama bertahun-tahun . "Tidak, Mama. Seragamnya bagus banget, aku suka," ujar Alesia dengan tulus. Tanpa membuang waktu, ia langsung menghambur ke pelukan mamanya, memeluk Mamanya itu dengan sangat erat.
Mama Alesia membalas pelukan itu tak kalah erat, jemarinya membelai lembut kepala Alesia. "Jika nanti terjadi apa-apa di sekolah barumu, kamu harus langsung cerita ke Mama, ya? Jangan pernah sembunyikan apa pun lagi dari Mama, sayang," bisik mamanya dengan suara serak menahan haru.
Alesia mengangguk di dalam pelukan ibunya. "Iya, Ma. Aku janji."
"Ya sudah, Mama mau turun ke toko dulu, ya. Takutnya ada pelanggan yang datang dan karyawan kewalahan," ujar sang mama sambil berdiri dan merapikan pakaiannya.
"Iya, Mama," sahut Alesia sambil mengulas senyum.
Sepeninggal mamanya kembali ke toko kue, Alesia duduk di sopa ruang tamu, melihat-lihat kembali seragam barunya dengan saksama. Dan mama nya juga membelikan sepatu dan tas baru—semuanya serba baru, sengaja disiapkan untuk memulai lembaran baru.
Bahkan selama sebulan penuh masa pemulihan kemarin, sang mama membelikan berbagai macam make-up remaja untuknya. Sang mama dengan sabar mengajari Alesia cara berdandan tipis agar putrinya bisa membangun kembali rasa percaya dirinya yang sempat hancur. Tak hanya itu, karena sang mama merupakan mantan juara lomba karate semasa sekolah dulu, Alesia juga digembleng latihan fisik dan dasar-dasar bela diri. Sang mama ingin memastikan bahwa Alesia kini telah bertransformasi menjadi anak yang kuat, mandiri, dan tidak akan pernah takut lagi menghadapi dunia luar.
Selesai merapikan barang-barang nya Alesia turun dari lantai dua untuk membantu mama nya melayani pelanggan yang memesan kue, hari ini cukup banyak pelanggan yang datang.