NovelToon NovelToon
BEYOND THE DOOR OF DEATH

BEYOND THE DOOR OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Mata Batin
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: elrznta

Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LET'S GO HOME

Langit sore makin redup saat mereka sampai di persimpangan dekat minimarket kecil langganan anak sekolah. Ara, Anne, Haras, dan Olla akhirnya pisah jalan sambil masih ribut sendiri soal Harvey yang “udah kayak suami overprotective.”

“BYE CALON PENGANTIN BEDA DIMENSI.” teriak Haras sebelum kabur.

“HARAS MAU AKU BUNUH.”

Sedangkan Harvey hanya memperhatikan mereka pergi dengan tatapan datar.

“Teman-temanmu sangat berisik Hyeana.”

“Mereka emang begitu.”

“Tapi mereka selalu membuatmu tertawa.”

Hyeana langsung diam sebentar. Kalimat Harvey terdengar pelan…tapi sangat tulus dan entah kenapa, mata merah Harvey sekarang gak sedingin biasanya. Tatapannya lebih lembut saat melihat dirinya tertawa tadi bersama teman-temannya.

“Aku sangat menyukai itu Hyeana.”

“Hah?”

“Aku suka melihatmu tertawa.”

Wajah Hyeana langsung panas lagi.

“Harvey kamu tuh akhir-akhir ini ngomong aneh terus.”

“Apakah itu aneh?”

“IYA.”

Harvey terlihat benar-benar tidak mengerti lagi. Namun sebelum Hyeana bisa protes lebih jauh, liontin hitam di lehernya tiba-tiba kembali terasa hangat.

Tinggg—

Seketika ekspresi Harvey berubah, tatapan merahnya langsung bergerak ke arah ujung jalan kecil dekat gang sempit seberang minimarket.

Aura dingin Veilstead mendadak menyebar tipis.

“H-Harvey?”

“Diam di belakangku.” Nada suaranya berubah rendah.

Jantung Hyeana langsung ikut menegang, dari dalam gang gelap itu…sesuatu bergerak pelan.

Kreeek…

Seorang pria tua lewat begitu saja tanpa sadar. Namun saat melewati ujung gang, tubuhnya langsung merinding lalu mempercepat langkah.

“Dingin banget…”

Sedangkan mata Harvey tidak berpaling sedikit pun.

Lalu, dua mata pucat perlahan muncul dari kegelapan gang. Tubuh Hyeana langsung membeku.

Makhluk itu tinggi kurus dengan tubuh hitam seperti asap gosong. Kepalanya miring tidak normal sementara mulutnya terbuka terlalu lebar sampai hampir robek ke telinga. Dia itu roh kelaparan namun berbeda dari yang dulu…yang ini jauh lebih besar lagi dan yang paling mengerikan, makhluk itu sedang menatap Hyeana.

“Hye..…ana...…” Suara seraknya terdengar seperti tulang digesek pelan.

“H-Harvey…” ucap Hyeana langsung refleks mundur selangkah.

Namun sebelum makhluk itu bergerak lebih jauh...

CRAAACK

Aura hitam Harvey langsung meledak memenuhi sekitar. Udara sore mendadak berubah dingin ekstrem, lampu jalan dekat gang langsung berkedip, dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Harvey.....Hyeana melihat ekspresi wajah Harvey yang kembali menjadi benar-benar dingin mengerikan, bukan posesif, bukan tenang, bukan lembut seperti biasanya melainkan sosok Pangeran Veilstead yang sesungguhnya. Mata merahnya menyala samar di tengah bayangan hitam yang mulai bergerak di sekitar tubuhnya.

“Kau masih berani muncul di dekatnya lagi.” Suara Harvey rendah, pelan tapi justru itu yang bikin suasana terasa lebih menakutkan.

Makhluk itu langsung gemetar, roh kelaparan tadi bahkan mundur satu langkah karena merasa takut.

“Hyeana.” Harvey tidak menoleh saat bicara.

“Jangan lihat matanya.”

CRAAASH—

Tubuh mahluk hitam itu melesat keluar dari gang langsung menuju Hyeana.

“HYEANA!”

DUAKKK.

Harvey langsung menangkap leher makhluk itu dengan satu tangan, tanah di bawah kaki Harvey retak kecil. Makhluk itu meronta liar sambil mengeluarkan suara mengerikan namun Harvey bahkan tidak bergeser sedikit pun. Mata merahnya menatap roh itu dingin tanpa emosi.

“Kau makhluk yang menjijikkan.”

Aura hitam pekat mulai melilit lengan Harvey seperti kabut hidup dan makhluk itu menjerit dengan panik.

“AMPUN—”

CRAAACK

Dalam satu detik tubuh roh itu langsung hancur menjadi serpihan hitam seperti abu terbakar, langsung lenyap, hanya suara angin sore yang tersisa. Hyeana membeku di tempat, napasnya sedikit gak stabil. Itu pertama kalinya dia benar-benar melihat Harvey bertarung sedekat ini…dan untuk sesaat, Harvey terlihat sangat menyeramkan sampai terasa seperti bukan manusia sama sekali.

Pelan-pelan aura hitam di sekitar Harvey menghilang, saat Harvey akhirnya menoleh ke arah Hyeana…tatapan dingin itu langsung melembut lagi.

“Apakah kau terluka?”

Hyeana cuma bisa bengong beberapa detik. Barusan Harvey terlihat kayak monster paling menakutkan di dunia dan sekarang dia nanya 'apakah kau terluka?' dengan muka khawatir. Gap-nya bikin jantung Hyeana makin gak aman.

“A-Aku gak apa-apa…”

Harvey langsung berjalan mendekat cepat lalu memeriksa tangan dan wajah Hyeana pelan seolah memastikan tidak ada luka sedikit pun.

“Kau gemetar.”

“Itu karena kamu serem banget barusan…”

“Apakah aku menakutimu?” Nada suaranya berubah pelan.

Anehnya…Hyeana bisa mendengar sedikit kekhawatiran di sana, Hyeana langsung refleks menggeleng cepat.

“Bukan gitu maksudku…”

“……”

“Aku cuma kaget aja.”

Harvey menatap Hyeana lama sekali seolah benar-benar memastikan dirinya tidak takut padanya. Lalu perlahan…Tangannya bergerak pelan menggenggam ujung lengan seragam Hyeana.

“Baguslah....”

Sialnya lagi… Pangeran Veilstead yang tadi menghancurkan roh mengerikan dengan satu tangan sekarang malah terlihat lega cuma karena Hyeana gak takut padanya. Itu jauh lebih berbahaya buat jantung Hyeana.

Hyeana masih belum benar-benar bisa menenangkan detak jantungnya bahkan setelah mereka meninggalkan gang tadi. Jalanan sore mulai ramai oleh kendaraan dan lampu kota perlahan menyala satu per satu, namun suasana di sekitar Harvey tetap terasa sedikit lebih dingin dibanding tempat lain.

Dan sekarang…Harvey masih berjalan di sampingnya sambil sesekali melirik dirinya diam-diam seolah memastikan Hyeana benar-benar baik-baik saja.

“H-Harvey…”

“Hmm?”

“Kamu jangan natap aku terus.”

“Aku sedang memastikan kau tidak pucat lagi.”

“Itu tetep bikin gugup.”

Harvey terlihat berpikir sebentar.

“Manusia memang rapuh.”

“HEY.”

Sudut bibir Harvey naik tipis kecil dan Hyeana langsung buang muka. Sumpah. Cowok ini sekarang makin sadar cara bikin dirinya malu.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan minimarket dekat komplek rumah Hyeana. Lampu toko terang sementara suara lagu dari speaker kecil terdengar samar.

“Aku mau beli minum sebentar.”

“Aku ikut.”

“Kamu gak bisa masuk.”

“Kenapa?”

“Karena orang-orang bakal bingung kalau pintu otomatisnya kebuka sendiri.”

Harvey terdiam.

“Benar juga.”

“Kamu tunggu di sini ya.”

Harvey akhirnya berdiri dekat tiang lampu depan minimarket sementara Hyeana masuk ke dalam toko sendirian. Namun bahkan dari dalam minimarket…Hyeana masih bisa merasakan tatapan Harvey.

“Kenapa sih dia selalu natap terus…”

Hyeana mengambil minuman dingin dari kulkas lalu buru-buru ke kasir sambil berusaha mengabaikan wajahnya sendiri yang masih panas.

“Totalnya dua belas ribu.”

“Iya kak.”

Namun tepat saat Hyeana selesai membayar…

Tinggg

Liontin hitamnya kembali terasa hangat, Hyeana langsung refleks menoleh ke luar minimarket dan di sana…dua cowok SMA lain sedang berdiri dekat Harvey.

Lebih tepatnya…mereka sedang berdiri tepat di tempat Harvey berada tanpa sadar ada sosok Veilstead di sana.

“Heh anjir dingin banget gak sih sini?”

“Iya sumpah.”

Salah satu dari mereka bahkan tanpa sengaja hampir menyenggol bahu Harvey saat bercanda.

Mata merah Harvey langsung turun pelan ke arah tangan cowok itu. Aura dingin samar mulai muncul lagi.

“OH TIDAK.”

Hyeana langsung buru-buru keluar minimarket.

“Harvey.”

Kedua cowok tadi langsung nengok bingung karena Hyeana tiba-tiba manggil nama seseorang padahal di sana cuma ada mereka.

“Hah?”

Namun Hyeana langsung berdiri dekat Harvey cepat-cepat.

“Ayo pulang.”

Tatapan Harvey masih dingin beberapa detik sebelum akhirnya kembali ke Hyeana.

“Baiklah.”

Aura menyeramkan itu langsung hilang dan kedua cowok tadi cuma saling lihat karena bingung.

“Perasaan tadi merinding banget dah.”

“Iya aneh.”

Sedangkan Hyeana langsung narik lengan mantel Harvey pelan supaya cepat jalan menjauh dari sana.

“Kamu mau ngapain tadi?”

“Aku tidak menyukai mereka berdiri terlalu dekat.”

“Mereka bahkan gak bisa lihat kamu!”

“Tetap saja.”

Hyeana langsung menghela napas panjang.

“Kamu beneran aneh.”

Harvey diam sebentar, lalu ia berkata

“Kalau itu membuatmu tidak aman…aku bisa berhenti.”

Langkah Hyeana langsung melambat sedikit, nada suara Harvey kali ini beda, terdengar serius seolah kalau Hyeana benar-benar tidak suka…Harvey akan memaksa dirinya berubah dan entah kenapa…Itu malah bikin dada Hyeana terasa aneh karena selama ini Harvey memang selalu seperti itu. Dia menyeramkan ke seluruh dunia…tapi selalu hati-hati ke dirinya. Hyeana akhirnya menggeleng kecil.

“Aku gak bilang harus berhenti.”

“Kalau begitu?”

“Maksudku…jangan serem-serem banget.”

“Aku akan mencoba.”

“Walaupun kayaknya gagal.”

“Kemungkinan besar gagal.”

Hyeana langsung ketawa kecil tanpa sadar dan melihat itu… Tatapan Harvey kembali melembut pelan. Langkah mereka melambat saat memasuki jalan komplek rumah yang lebih sepi. Lampu jalan memantulkan cahaya jingga redup sementara angin malam mulai terasa dingin. Namun beberapa detik kemudian…Harvey tiba-tiba berhenti berjalan.

Hyeana langsung ikut berhenti.

“Harvey?”

Mata merah Harvey menatap lurus ke depan, ekspresinya berubah serius lagi.

“Ada sesuatu.”

Suara angin mendadak terasa lebih dingin, lampu jalan di ujung komplek berkedip kecil.

Krekk…

Hyeana langsung merinding, dari ujung jalan gelap… terlihat sosok seseorang berdiri diam, tubuhnya tinggi memakai hoodie hitam lusuh dengan kepala tertunduk. Namun yang bikin jantung Hyeana langsung drop, di sekitar tubuh sosok itu…Ada kabut hitam Veilstead dan perlahan…Sosok itu mengangkat kepalanya, sepasang mata merah menyala samar terlihat dari balik gelap dan aura makhluk itu terasa mirip Harvey.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!