"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai dari Benua Tengah
Suasana di dalam ruangan Paviliun Seribu Mata mendadak membeku. Asap dari pipa rokok perak yang tadi mengepul malas kini buyar, seolah tertekan oleh hawa dingin yang tak kasat mata.
Bibi Han masih menatap lurus ke arah Giok Jiwa Sembilan Langit yang terbaring di atas meja. Jemarinya yang dihiasi cincin-cincin permata tampak gemetar hebat, sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang penguasa informasi Pasar Bayangan.
Mu Rong'er menoleh bergantian antara Ling Chen dan Bibi Han. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu kalung merah miliknya bisa bereaksi dengan giok itu, tetapi ia sama sekali tidak menduga bahwa benda milik mendiang ibu Ling Chen ternyata memiliki asal-usul yang begitu mengerikan hingga sanggup membuat seorang master Alam Fondasi ketakutan setengah mati.
"Bibi Han," Ling Chen membuka suara, nadanya datar namun setiap kata yang keluar seperti ketukan palu hakim di dalam jiwa wanita paruh baya itu. "Aku tidak suka mengulang pertanyaanku. Apa hubungan giok ini dengan Benua Tengah?"
Bibi Han menelan ludah dengan susah payah. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa ketenangannya yang sempat hancur akibat tekanan mental Ling Chen tadi. Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, ia mengambil kembali pipa rokok peraknya dari meja, tetapi tidak berani menyalakannya lagi.
"Tuan Muda Ling... jika apa yang kuketahui ini benar, maka rahasia di balik batu ini adalah sesuatu yang bisa membuat seluruh Kekaisaran Utara ini rata dengan tanah dalam semalam," ucap Bibi Han dengan suara rendah, hampir berbisik, seolah-olah dinding kayu di sekeliling mereka memiliki telinga.
Bibi Han memperbaiki posisi jubah sutra merahnya, lalu mulai bercerita dengan tatapan mata yang menerawang jauh ke masa lalu.
"Sekitar lima belas tahun yang lalu, Benua Tengah dilanda sebuah pergolakan besar yang dikenal sebagai Kekacauan Gerbang Langit. Salah satu klan penguasa tertinggi di sana, Klan Kekaisaran Sembilan Langit, mengalami pengkhianatan internal yang sangat berdarah. Dikabarkan, seorang putri kekaisaran yang sangat jenius melarikan diri ke arah wilayah utara yang miskin energi spiritual ini demi menyelamatkan diri dan membawa sepotong pusaka suci klan."
Bibi Han melirik ke arah giok hijau di meja. "Pusaka itu adalah Giok Jiwa Sembilan Langit. Benda itu bukan sekadar hiasan, melainkan kunci untuk membuka gudang penyimpanan senjata divine milik klan mereka. Siapa pun yang memegang giok ini, memegang otoritas atas sepertiga kekuatan Benua Tengah."
Mendengar penjelasan itu, mata Mu Rong'er membelalak. Ia menatap Ling Chen dengan tatapan tak percaya. 'Jadi... Ibu Ling Chen adalah seorang putri dari Benua Tengah? Lalu kenapa beliau bisa berakhir di paviliun terpencil Keluarga Ling dan meninggal dalam kondisi kekurangan obat?' pikirnya dengan penuh tanda tanya.
Ling Chen sendiri tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Jiwa kaisarnya sudah menebak bahwa segel di dalam giok itu terlalu rumit untuk ukuran dunia fana tingkat rendah ini. Namun, mengetahui bahwa tubuh fisik yang ia tempati ini memiliki darah dari klan penguasa Benua Tengah memberikan sepotong petak baru dalam rencana perjalanannya.
"Lalu, bagaimana dengan permata merah ini?" Ling Chen menunjuk ke arah kalung Mu Rong'er yang masih sedikit berdenyut di leher gadis itu.
Bibi Han menoleh ke arah Mu Rong'er, matanya menyipit penuh analisis. "Permata Merah Darah... itu adalah Batu Pendamping Jiwa. Di Benua Tengah, ketika seorang putri kekaisaran lahir, klan akan menunjuk seorang pelindung bayangan dari klan sekutu sejak mereka bayi. Ibu dari Nona Mu Rong'er kemungkinan besar adalah pelindung bayangan atau sahabat karib sang putri yang ikut melarikan diri bersama. Dua batu itu dirancang agar anak-anak mereka bisa saling menemukan di masa depan."
Mu Rong'er terpaku di tempatnya. Kalung yang selama ini ia anggap sebagai peninggalan biasa dari ibunya ternyata memikul beban sejarah yang begitu besar. Ia menatap Ling Chen dengan perasaan yang campur aduk—antara rasa hormat, keterikatan takdir, dan rasa takut akan masa depan.
"Kyuu!"
Tiba-tiba, Kuro yang berada di pelukan Mu Rong'er melompat berdiri. Bulu hitamnya berdiri kaku, dan sepasang mata emasnya berkilat tajam menatap ke arah langit-langit langit gua Paviliun Seribu Mata.
Ling Chen menyipitkan matanya. "Mereka datang lebih cepat dari yang kukira."
BUM!!!
Belum sempat Bibi Han mencerna ucapan Ling Chen, langit-langit gua di atas mereka meledak hebat.
Reruntuhan batu raksasa dan debu tanah runtuh, menghancurkan meja giok hitam di tengah ruangan hingga berkeping-keping.
Beruntung, Ling Chen telah bergerak secepat kilat dengan menarik kerah baju Mu Rong'er dan melompat mundur ke sudut ruangan sebelum batu-batu itu menghantam mereka.
"Siapa?!" teriah Bibi Han sambil mengibaskan jubah merahnya, menciptakan pelindung energi untuk menangkis debu.
Dari lubang reruntuhan di langit-langit, belasan sosok berpakaian zirah hitam legam dengan topeng besi tanpa ekspresi turun dengan anggun menggunakan tali baja. Berbeda dengan pembunuh Sekte Tengkorak Hitam yang kasar, orang-orang ini memancarkan aura pembunuh yang sangat murni, dingin, dan terorganisir.
Yang paling mengerikan adalah pemimpin mereka, seorang pria tinggi yang membawa sepasang belati panjang yang diselimuti oleh aura hitam pekat. Tekanan kekuatannya telah mencapai Alam Inti Emas tahap awal!
"Menemukanmu, sisa-sisa darah kotor Sembilan Langit," suara sang pemimpin terdengar dingin tanpa emosi, menggema di dalam ruangan yang hancur.
Tatapannya langsung terkunci pada batu giok hijau yang kini sudah aman berada di dalam genggaman tangan kiri Ling Chen.
Bibi Han yang melihat zirah mereka langsung memucat seolah seluruh darahnya disedot habis.
"Pasukan Penjaga Bayangan... dari Penguasa Ibukota?! Bagaimana kalian bisa menemukan tempat ini?!"
"Pasar Bayangan berpikir mereka bisa menyembunyikan apa pun di bawah tanah," ucap sang pemimpin dengan nada meremehkan. "Serahkan Giok Jiwa Sembilan Langit dan kepala pemuda itu, maka kami akan membiarkan Paviliun Seribu Mata tetap berdiri."
Mu Rong'er gemetar hebat di belakang punggung Ling Chen. Aura dari ahli Alam Inti Emas membuat napasnya terasa sesak, seolah-olah ada gunung besar yang menekan dadanya. Bahkan dua penjaga raksasa tunanetra di luar ruangan tadi sudah tergeletak tak bernyawa di lantai koridor dengan leher tergorok rapi.
Ling Chen melangkah maju satu kali, menempatkan dirinya tepat di depan Mu Rong'er. Ia menatap belasan pasukan berzirah hitam itu dengan senyum tipis yang penuh dengan penghinaan.
"Alam Inti Emas fana... dan sekelompok anjing pemburu," ucap Ling Chen pelan, ia memutar pergelangan tangan kanannya, membuat pedang hitam karatan di pinggangnya berdenting halus.
"Kalian melompat dari langit-langit hanya untuk mengotori lantai ini. Kuro, jaga gadis berisik ini."
"Kyuu!" Kuro melompat ke atas kepala Mu Rong'er, mengeluarkan percikan petir hitam kecil sebagai tanda bahwa ia siap melindungi gadis itu.
"LANCANG! Habisi dia!" perintah sang pemimpin berkulit hitam.
Dalam sekejap, tiga orang prajurit berzirah hitam melesat maju dari tiga arah berbeda. Pedang mereka bergerak dengan koordinasi yang sempurna, mengincar titik mati di leher, jantung, dan hati Ling Chen tanpa menyisakan ruang untuk menghindar.
Namun, bagi seorang mantan Kaisar Pedang sejati, gerakan formasi sekelas ini tidak lebih dari sekadar tarian anak-anak di taman.
Sring!
Bilah pedang hitam Ling Chen akhirnya keluar dari sarungnya untuk pertama kali semenjak ia tiba di Ibukota. Hanya sebuah tebakan horizontal yang tampak lambat dan sederhana, namun meninggalkan jejak robekan ruang berwarna biru tua di udara.
CRASH!
Tiga pasang baju zirah besi yang diklaim mampu menahan serangan monster tingkat tinggi itu terbelah menjadi dua bagian dengan sangat rapi, bersamaan dengan tubuh para pemakainya. Darah segar menyembur, membasahi reruntuhan batu di dalam ruangan.
Pemimpin Pasukan Penjaga Bayangan terbelalak di balik topeng besinya. Hanya dengan satu tebasan biasa, tiga ahli Alam Fondasi tahap akhir miliknya tewas seketika?
"Kau... siapa kau sebenarnya?!" raung sang pemimpin, akhirnya merasakan getaran ketakutan yang mendalam di dalam hatinya.
Ling Chen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengarahkan ujung pedang hitamnya lurus ke arah wajah sang pemimpin. Matanya yang biru safir berkilat dengan kejam di balik kegelapan gua. "Kau datang untuk mengambil giok ibuku? Maka bayarannya adalah seluruh jiwa dan darah yang ada di dalam tubuh kotormu."
Badai di Pasar Bayangan baru saja pecah, dan Ling Chen siap meratakan siapa saja yang berani mengusik ketenangannya untuk mengungkap kebenaran.