NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Di Perut Hutan Belantara

Langkah demi langkah, Raka dan Bara menyusuri kegelapan pekat itu. Tanah di bawah kaki mereka lunak, berlumut, dan licin, membuat mereka harus selalu waspada agar tidak tergelincir jatuh ke tanah yang basah dan bau. Semak belukar tumbuh sangat rapat di sana-sini, ranting-ranting tajam dan duri-duri kecil menggores kulit mereka yang terbuka, meninggalkan jejak perih dan garis-garis merah di lengan maupun wajah. Tidak ada cahaya bulan atau bintang yang mampu menembus kanopi dedaunan raksasa di atas kepala mereka, membuat suasana di dalam sana benar-benar gelap gulita, seolah mereka sedang berjalan di dalam gua tanpa ujung.

Satu-satunya penuntun arah mereka hanyalah suara gemuruh air yang semakin lama semakin terdengar jelas dan keras. Bara berjalan di depan, memimpin jalan dengan gerakan yang tenang, luwes, dan sangat berhati-hati. Ia bergerak sehalus angin, hampir tanpa menimbulkan suara sedikit pun, sebuah keahlian yang ia asah selama bertahun-tahun bertugas di hutan-hutan rimba pedalaman. Di belakangnya, Raka berjalan mengikuti dengan jarak satu langkah, matanya terus mengamati sekeliling dengan kewaspadaan tinggi. Ia tidak hanya memperhatikan jalan di depan, tapi juga terus menoleh ke belakang, ke kiri, dan ke kanan, memastikan tidak ada bahaya yang mengintai atau ada orang lain yang mengikuti mereka diam-diam.

Di kejauhan, suara-suara aneh makin riuh. Ada jeritan burung malam yang terdengar mengerikan, ada desisan halus yang seolah datang dari balik setiap semak belukar, ada suara gesekan dedaunan yang bergerak seolah ada makhluk besar yang sedang berjalan di antara pepohonan itu. Setiap suara, setiap gerakan kecil, adalah ancaman. Di sini, mereka bukanlah pemburu. Mereka adalah mangsa yang berusaha tidak dimakan.

"Berhenti..." bisik Bara tiba-tiba, suaranya sangat pelan namun tegas, mengangkat tangan kanannya memberi isyarat diam.

Raka langsung membeku di tempat, tangannya mencengkeram gagang pisau hingga buku jarinya memutih. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, mendekat ke arah Bara.

"Ada apa?" tanya Raka berbisik hampir tanpa suara.

Bara menunjuk ke arah kiri, ke balik rimbunan daun lebar yang gelap. "Dengar... suara langkah kaki. Bukan binatang. Manusia. Ada orang lain di sana, berjalan tidak jauh dari kita. Mungkin mereka mengikuti suara air juga."

Keduanya diam, menahan napas. Benar saja, terdengar jelas suara ranting patah dan desis kain yang bergesekan dengan dedaunan. Ada tiga atau empat orang yang berjalan di jalur sejajar dengan mereka, hanya terhalang rimbunan tanaman.

"Kita pura-pura tidak tahu," bisik Bara lagi. "Jangan menampakkan diri dulu. Kita lihat dulu niat mereka. Ingat kata Komandan Hendra tadi: di sini, kawan bisa berubah jadi musuh hanya demi sepotong akar."

Mereka menunggu diam di tempat itu selama beberapa menit yang terasa berjam-jam, sampai suara langkah kaki itu perlahan menjauh dan hilang ditelan kegelapan. Hanya setelah suasana kembali hening, Bara memberi isyarat agar mereka kembali bergerak, namun kali ini lebih pelan dan lebih hati-hati dari sebelumnya.

Setelah berjalan sekitar satu jam yang terasa sangat melelahkan dan menegangkan, aroma air yang segar dan dingin mulai tercium tajam, dan suara gemuruh air sungai menjadi begitu nyaring hingga menutupi suara-suara lain di sekitar. Akhirnya, mereka sampai di tepi sebuah sungai besar yang arusnya deras dan berbahaya. Airnya berwarna cokelat keruh, membawa batang-batang kayu dan bebatuan yang hanyut terbawa arus kencang. Di kedua sisi sungai, tebing-tebing tanah dan bebatuan terjal menjulang tinggi, tertutup tanaman hijau yang lembap dan rimbun.

Raka menghela napas panjang, rasa haus yang luar biasa mulai menyerang tenggorokannya yang kering dan perih. Tubuhnya yang kehilangan banyak cairan akibat latihan keras seharian tadi kini berteriak minta minum. Ia berniat berlutut mendekati pinggiran sungai, namun tangan Bara dengan cepat menahannya.

"Jangan minum sembarangan!" tegur Bara pelan namun tegas. "Airnya keruh, mungkin ada kotoran, bakteri, atau zat beracun dari tanaman di hulu. Kalau kau minum sekarang, besok kau akan diare hebat dan kau tidak akan sanggup berjalan satu meter pun. Di sini sakit sama saja dengan mati."

Bara berjalan perlahan menyusuri tepian sungai, matanya mengamati tanah dan tanaman di sekitarnya dengan teliti. Ia berhenti di dekat sebuah tanaman menjalar berdaun lebar yang tumbuh merambat di atas bebatuan basah. Ia memotong bagian batangnya yang tebal menggunakan pisau, lalu mengangkat potongan itu ke arah Raka. Cairan bening segar mengalir keluar dari potongan batang itu.

"Minum ini dulu. Airnya bersih, manis, dan aman. Tanaman ini menyimpan air hujan di dalam batangnya. Ini pengetahuan dasar kalau kau ingin bertahan hidup di hutan," jelas Bara singkat sambil meneguk cairan itu sendiri.

Raka menerima potongan batang itu dengan rasa penasaran dan sedikit ragu, lalu meminum isinya. Cairan itu terasa dingin, manis, dan sangat segar, mengalir turun melewati tenggorokannya yang kering seolah memberi kehidupan kembali ke seluruh tubuhnya. Rasa hausnya berkurang drastis seketika. Ia menatap Bara dengan pandangan kagum. Tanpa pengetahuan ini, mungkin ia sudah jatuh sakit atau mati keracunan air sungai yang kotor itu.

"Terima kasih," ucap Raka pelan. "Kau benar-benar penyelamatku di tempat ini."

Bara tersenyum tipis di balik kegelapan. "Kita sama-sama penyelamat, Raka. Aku punya pengetahuan alam, kau punya insting tempur yang tajam. Bersama-sama, kita hampir lengkap. Sekarang, mari kita cari tempat berlindung sementara. Kita tidak bisa berjalan terus menerus dalam kegelapan seperti ini, kita bisa jatuh ke jurang atau masuk ke sarang binatang buas tanpa sadar. Kita istirahat sebentar, kumpulkan tenaga, dan baru bergerak lagi saat cahaya pagi mulai terbit."

Mereka mencari tempat yang agak tinggi, kering, dan tersembunyi di balik tumpukan bebatuan besar yang tertutup tanaman merambat rapat. Tempat itu cukup aman, tidak terlihat dari luar namun tetap memberi mereka pandangan luas ke arah tepian sungai dan jalan masuk ke sana. Bara mengumpulkan beberapa dahan kering dan daun-daun gugur yang jatuh, menumpuknya menjadi alas tidur yang sederhana namun cukup membuat mereka tidak harus berbaring di tanah yang basah dan dingin.

"Kau tidur dulu," kata Raka sambil duduk bersandar di batu besar, matanya tetap awas menatap kegelapan di depan. "Aku yang berjaga dulu satu jam, nanti aku bangunkan kau untuk giliran selanjutnya. Kita tidak boleh tidur berdua sekaligus. Di tempat ini, tidur lelap adalah undangan maut."

Bara mengangguk mengerti, ia tahu betul aturan dasar bertahan hidup. Tanpa banyak bicara lagi, ia berbaring melingkupkan tubuhnya untuk menahan dingin, dan dalam sekejap mata, napasnya sudah terdengar teratur dan berat. Kelelahan fisik yang luar biasa akhirnya menaklukkan tubuhnya.

Raka duduk diam di sana, sendirian dalam keheningan malam yang mencekam. Angin dingin bertiup kencang melewati celah-celah pepohonan, membawa kabut tipis yang lembap dan menusuk tulang. Suara gemuruh sungai yang konstan menjadi latar suara yang menenangkan namun juga menakutkan. Pikiran Raka melayang jauh, meninggalkan hutan belantara ini, terbang kembali ke rumah sakit, kembali ke wajah ibunya yang pucat dan lemah.

"Ibu... maafkan Raka. Raka harus melakukan ini. Demi kesembuhan Ibu, demi masa depan kita. Bertahanlah, Bu. Raka akan pulang membawa segalanya..." gumamnya dalam hati, sambil meraba gagang pisau tanduk rusa yang terselip aman di balik bajunya, satu-satunya benda yang menghubungkan dirinya dengan masa lalu, dengan kehormatannya yang dulu.

Di tengah lamunan itu, telinga tajam Raka menangkap suara lain yang berbeda. Bukan suara air, bukan suara angin, bukan suara hewan. Suara langkah kaki yang berat, cepat, dan tergesa-gesa, disertai suara desahan napas yang kasar dan ketakutan. Suara itu datang dari arah hulu sungai, bergerak mendekat ke tempat mereka bersembunyi.

Raka langsung menegakkan tubuhnya, tangannya menyentuh bahu Bara dengan cepat namun pelan untuk membangunkannya. Bara langsung terbangun seketika, mata terbuka lebar dan penuh kesiapan, refleks seorang prajurit yang sudah terlatih mati-matian.

"Ada yang datang..." bisik Raka pelan, menunjuk ke arah suara itu.

Keduanya merapatkan tubuh ke balik bebatuan besar itu, mengintai diam-diam dari balik celah dedaunan. Tidak lama kemudian, muncul dua sosok laki-laki yang berlari terhuyung-huyung di pinggir sungai. Wajah mereka pucat, penuh keringat dan debu, mata mereka melotot ketakutan menoleh ke belakang seolah ada sesuatu yang sedang mengejar mereka. Salah satu dari mereka tampak terluka di kaki, berjalan terpincang-pincang dan menumpu berat badannya ke bahu rekannya.

Mereka adalah rekan-rekan seangkatan mereka, sesama calon prajurit yang dibuang ke hutan ini malam ini juga.

"Tunggu... hentikan sebentar..." rintih yang terluka, napasnya memburu hebat. "Aku tidak kuat lagi, kakiku sakit sekali... sepertinya ada duri yang masuk dalam, atau mungkin gigitan..."

"Jangan berhenti! Jangan gila kau!" bentak rekannya dengan suara berbisik keras dan panik. "Kau dengar suara itu kan? Suara gemerisik berat di belakang sana? Itu bukan manusia, kawan! Itu harimau atau beruang! Bau darahmu membuatnya gila! Kalau kita berhenti, kita mati dimakan sekarang juga!"

Raka dan Bara saling pandang di balik persembunyian mereka. Benar saja, di kejauhan, di balik kegelapan pekat pepohonan, terdengar suara langkah kaki berat yang perlahan namun pasti mendekat. Suara dedaunan yang terinjak dan patah di bawah beban tubuh yang sangat besar. Ada sesuatu yang besar, berbahaya, dan lapar yang sedang mengikuti jejak kedua orang itu.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat darah Raka mendidih dan membuatnya sadar betapa kejamnya hukum alam dan aturan yang dibuat Garuda Security.

Orang yang menumpu kawannya itu tiba-tiba berhenti mendadak. Ia menatap kawannya yang terluka itu dengan tatapan dingin dan bimbang, lalu menatap kembali ke arah kegelapan di belakang mereka di mana bahaya mengintai. Perlahan tapi pasti, sorot matanya berubah. Rasa takut akan nyawanya sendiri mengalahkan rasa kemanusiaan.

"Maafkan aku, kawan..." ucapnya pelan, nadanya berubah menjadi dingin dan kejam.

Tanpa peringatan, tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia melepaskan cengkeramannya dan mendorong kawannya yang terluka itu sekuat tenaga hingga jatuh terjerembap ke tanah basah. Lalu, ia berbalik badan dan berlari secepat kilat menjauh, menyeberangi batang kayu tumbang di dekat situ, dan menghilang dengan cepat ke dalam kegelapan di sisi seberang sungai, meninggalkan rekannya yang terkapar sendirian, terluka, dan tak berdaya.

"TIDAKKK! KEMBALIIIII! JANGAN TINGGALKAN AKU!" teriak yang terluka itu histeris, berusaha merangkak bangkit namun kakinya tidak mampu menahan beban tubuhnya. Ia berteriak, menangis, dan memohon dengan suara yang penuh keputusasaan.

Namun penyerangnya sudah hilang. Dan suara langkah berat di balik semak belukar itu kini terdengar semakin dekat, semakin nyaring, dan semakin mengerikan. Mata kuning besar bersinar redup menembus kegelapan, sepasang mata yang menatap mangsanya dengan rasa lapar yang membara.

Raka tanpa sadar hendak melangkah keluar dari persembunyiannya, ingin menolong pemuda itu, ingin menyelamatkan nyawa manusia yang tidak berdaya itu. Namun tangan Bara dengan sigap dan kuat menahan bahu Raka, menahannya tetap di balik batu, sambil menggelengkan kepala dengan tatapan mata yang sedih namun tegas.

"Jangan, Raka... jangan keluar..." bisik Bara dengan suara bergetar menahan emosi. "Kita tidak bisa menolongnya. Kalau kita keluar sekarang, kita berdua juga akan mati. Binatang itu besar, mungkin ada lebih dari satu. Kita tidak punya senjata memadai, kita tidak punya perlindungan. Kita baru masuk ke sini beberapa jam, kalau kita mati sekarang, semuanya sia-sia."

Raka mengepalkan tangannya kuat-kuat, kuku-kukunya menusuk ke dalam daging telapak tangannya sendiri. Ia mendengar jeritan minta tolong yang makin nyaring, lalu suara gemerisik dahsyat, suara auman rendah yang menggetarkan tanah, dan akhirnya... suara jeritan yang terpotong tiba-tiba, berganti menjadi suara rontakan yang menyedihkan, lalu keheningan yang mengerikan.

Hening kembali menyelimuti hutan itu, hanya suara sungai yang tetap bergemuruh tak peduli pada nyawa yang baru saja melayang.

Raka menundukkan wajahnya, dadanya naik turun menahan rasa marah, sedih, dan rasa bersalah yang luar biasa. Di depan matanya, ia baru saja menyaksikan betapa murahnya nyawa manusia di dunia ini. Ia baru saja melihat betapa mudahnya seorang kawan mengkhianati kawannya demi menyelamatkan kulitnya sendiri. Dan ia baru saja belajar pelajaran paling pahit: di dunia ini, rasa iba dan belas kasihan sering kali harus dikorbankan demi bertahan hidup.

"Lihat, Raka..." ucap Bara pelan, suaranya berat dan sedih namun tegas. "Itulah kenyataan yang dikatakan Komandan Hendra. Di sini, kita harus curiga pada semua orang. Bahkan pada orang yang paling dekat denganmu sekalipun. Karena saat bahaya datang, saat nyawa dipertaruhkan, banyak orang yang akan memilih menyelamatkan diri sendiri, tidak peduli berapa mahal harga yang harus dibayar orang lain."

Bara menatap tajam ke arah kegelapan di mana peristiwa mengerikan itu baru saja terjadi.

"Orang yang meninggalkan kawannya tadi... dia mungkin selamat malam ini. Tapi ingatlah ini baik-baik, Raka... pengkhianat mungkin selamat dari bahaya alam, tapi mereka tidak akan pernah selamat dari hukum sebab-akibat, dan mereka tidak akan pernah selamat dari rasa curiga orang lain. Suatu saat nanti, dia akan menanggung akibat perbuatannya itu."

Raka mengangkat wajahnya, matanya yang tadinya penuh keraguan dan kelembutan kini berubah menjadi tajam, dingin, dan penuh tekad baja. Peristiwa mengerikan malam itu seolah menorehkan luka baru di hatinya, sekaligus mengeraskan hati dan mentalnya.

"Kau benar, Bara..." jawab Raka dengan suara rendah yang bergetar namun tegas. "Mulai saat ini, aku tidak akan lengah sedetik pun. Aku akan mempercayaimu, karena kita sudah bersumpah bersama. Tapi untuk yang lain... mereka semua adalah musuh potensial sampai mereka membuktikan sebaliknya. Di sini, aku hanya akan percaya pada dua hal: kekuatanku sendiri, dan pisau di tanganku."

Malam itu terasa semakin panjang dan dingin. Di seberang sungai, di balik kegelapan, tersembunyi bahaya lain yang tak terhitung jumlahnya. Dan di balik dedaunan itu, dua sosok pemuda calon prajurit elit Garuda kini mengerti sepenuhnya: ujian di hutan ini bukan hanya soal fisik atau ketahanan lapar, tapi ujian kejiwaan, ujian moral, dan ujian kesetiaan yang paling berat dan menyakitkan.

Matahari belum terbit, namun bagi Raka dan Bara, malam itu telah mengubah mereka selamanya. Mereka masuk ke hutan ini sebagai manusia biasa yang masih punya rasa kemanusiaan, tapi perlahan-lahan, hutan kejam ini sedang mencoba mengubah mereka menjadi makhluk yang lebih kuat, lebih dingin, dan lebih kejam.

Dan perjalanan keluar dari neraka ini baru saja berjalan sepertiga jalan. Masih ada dua hari penuh yang menanti, penuh bahaya, kelaparan, dan kemungkinan pengkhianatan lain yang lebih mengerikan.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!