"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Bayang-Bayang Penyesalan di Lobi BGC
Langkah kaki Adrian terdengar berat dan terseret saat ia melewati pintu kaca megah gedung Batavia Global Corporation (BGC). Di sampingnya, Valerie berjalan dengan wajah bersungut-sungut, jemarinya masih sibuk mengusap pipinya yang mulai membengkak dan memerah akibat tamparan keras dari Martin beberapa saat lalu. Amarah masih membakar dada Valerie, sementara Adrian dilingkupi oleh rasa canggung, bingung, sekaligus ketakutan yang mendalam akan masa depan perusahaannya.
Lobi BGC yang luas dan sejuk karena embusan AC sentral tidak mampu mendinginkan kepala dua orang yang tengah dirundung kecemasan ini. Dengan sisa-sisa keberanian dan keangkuhan yang dipaksakan, Adrian menuntun Valerie mendekati meja resepsionis panjang yang terbuat dari batu granit hitam berkilau.
Di balik meja tersebut, seorang wanita muda berpenampilan sangat rapi dengan seragam formal menyambut mereka. Senyum profesional terukir di wajahnya, meskipun matanya sempat melirik sekilas ke arah pipi Valerie yang lebam.
"Maaf, ada keperluan apa..??" tanya nona di resepsionis itu dengan nada suara yang sangat ramah dan terlatih.
Adrian berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya sebagai seorang direktur utama, meski pakaiannya sedikit kusut akibat perkelahian singkat dengan Martin di pelataran tadi. "Kami mau bertemu presdir..!!" kata Adrian dengan nada tegas yang dipaksakan.
Wanita resepsionis itu mengangguk sopan, jemarinya mulai bergerak lincah di atas papan ketik komputer di hadapannya. "Maksud anda nona kirana..??"
"Ya, presdir BGC," sahut Adrian cepat, mengonfirmasi nama yang sebelumnya diinformasikan oleh koleganya.
Wanita itu menghentikan ketikannya, lalu menatap Adrian dan Valerie dengan tatapan penuh penyesalan. "Barusan dia keluar.. apa anda sudah ada janji temu..??"
Kenyataan yang Menghantam
Adrian seketika terpaku. Kerutan di dahinya semakin dalam, memikirkan kemungkinan terburuk yang mulai menari-nari di kepalanya. "Belum sih.. eh maksud anda barusan keluar.. itu apa?"
"Ya barusan presdir kirana keluar.. anda tidak bertemu dengannya??" jelas resepsionis itu dengan jujur, menunjuk ke arah pintu kaca besar tempat Adrian dan Valerie baru saja masuk.
Mendengar penjelasan tersebut, seluruh persendian Adrian mendadak terasa lemas. Kepalanya seperti dihantam oleh gada besi yang sangat besar. Ingatannya langsung berputar cepat ke kejadian tragis beberapa menit lalu di ambang pintu masuk. Sosok wanita elegan dengan setelan jas desainer mahal, kacamata hitam, dikawal oleh pria tegap bernama Martin, dan wanita itu bersikeras bahwa namanya adalah Kirana.
Adrian perlahan menoleh ke arah Valerie, matanya membelalak penuh horor. "Kirana..?? Apa jangan2 yang mirip aruna itu..?? Gwman adrian ke valerie.
Valerie yang sedang sibuk meratapi rasa sakit di pipinya langsung mendelik tajam, menyenggol lengan Adrian dengan kasar. "Gak mungkin mas.. dia kan ibu rumah tangga.. gak mungkin jadi presdir. Lagian kamu ini masih saja memikirkannya bukankah dia sudah mati..,?"
Adrian tidak mendengarkan gerutu Valerie. Logikanya yang selama ini tertutup oleh ego mulai bekerja dengan paksa. Ketakutan yang sangat besar kini merayap di punggungnya.
"Kalau itu bukan aruna.. berarti kita tadi sudah menyinggungnya didepan..!!" ucap Adrian, suaranya naik satu oktav karena panik.
Valerie mengerutkan kening, mulai dilingkupi rasa tidak enak yang sama. "Maksudmu.. orang tadi..??"
"Ya.. bukankah mantan pacarmu itu supir pribadi.. mungkin dia jadi supirnya..?? Coba kamu pikir, mana ada sopir biasa yang berani bertindak sejauh itu kalau bukan karena melindungi bos besarnya!" Adrian meremas kerah kemejanya sendiri, membayangkan posisi jabatan wanita yang baru saja mereka maki habis-habisan.
Kepanikan dan Saling Menyalahkan
Wajah Valerie yang tadinya merah karena amarah, perlahan-lahan berubah menjadi pias, seputih kertas. Kata-kata Adrian barusan seperti anak panah yang tepat sasaran. Mengingat bagaimana Martin bersikap begitu protektif, bagaimana wanita itu membawa dokumen penting, dan bagaimana mereka keluar menuju mobil mewah yang sudah disiapkan di lobi.
"Benar...Gawat kalau itu benar presdir kirana.." gumam Valerie, bibirnya bergetar, membayangkan reputasi dan kontrak kerja sama yang kini berada di ujung tanduk.
Adrian menjambak rambutnya sendiri, mengabaikan pandangan bingung dari resepsionis di depan mereka. "Pantesan dia ngotot bukan aruna.. kita sudah salah.. wajahnya mirip sekali.. tapi penampilannya berkelas, auranya sangat kuat! Bagaimana mungkin kita bisa sebuta ini?!"
Valerie yang tidak mau disalahkan langsung mendengus defensif, mencoba mengalihkan kesalahan pada suaminya. "Kamu sih.. apa kamu belum move on..?? Kenapa setiap kali melihat wanita cantik yang punya kuasa, kamu selalu mengaitkannya dengan Aruna? Aruna sudah tiada, Adrian! Ini murni kesalahanmu yang terlalu sensitif!"
"Ini bukan soal belum move on!" bentak Adrian, frustrasinya sudah mencapai puncak. "Ini soal nasib Adiwangsa Logistik! BGC adalah satu-satunya harapan kita untuk mendapatkan suntikan investasi. Jika wanita tadi benar-benar Presdir Kirana, dan kita sudah memandangnya rendah, bahkan kamu hampir menamparnya... kita sedang menggali kuburan kita sendiri!"
Adrian menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdentum liar. Ia mengepalkan tangannya dengan tekad yang putus asa. Mengemis maaf adalah satu-satunya jalan keluar yang tersisa sekarang.
"Besok kita kesini lagi.. kita harus minta maaf atas kesalah pahaman ini..!!" seru Adrian dengan suara parau namun penuh penekanan.
Pintu yang Tertutup Rapat
Melihat perdebatan sengit dan ekspresi panik dari kedua tamunya, wanita resepsionis itu akhirnya berdeham pelan untuk menarik kembali perhatian mereka. Aura profesionalitas di meja resepsionis itu mendadak terasa dingin dan kaku.
"Bagaimana pak..?? Tanya nona resepsionis, memecah ketegangan di antara pasangan suami istri tersebut.
Adrian segera tersentak dan berusaha memperbaiki posisinya, merapikan jasnya yang sedikit kusut agar tidak terlihat terlalu menyedihkan di mata pegawai BGC. "Oh.. besok aja kita kesini.. Anda punya nomor ponselnya?"
Nona resepsionis itu tersenyum simpul, sebuah senyuman formal yang menyiratkan penolakan mutlak dan dingin. "Maaf presdir kami tidak boleh memberikan nomor sembarangan.."
"Oh.. iya baiklah.." Adrian mengangguk lemas, menyadari bahwa benteng pertahanan BGC tidak akan runtuh hanya dengan pesona atau statusnya sebagai draf rekanan bisnis yang bahkan belum resmi draf diterima—maksud saya, rekanan bisnis yang belum disetujui.
Adrian membalikkan tubuhnya dengan lesu, melangkah keluar dari gedung megah itu tanpa membawa apa pun kecuali penyesalan besar yang siap membakar sisa hidupnya. Di belakangnya, Valerie berjalan mengekor dengan kecemasan yang mendalam, menyadari bahwa jerat yang mereka pasang untuk menghancurkan orang lain justru kini menjerat leher mereka sendiri.
Penyesalan yang Terlambat
Sinar matahari Jakarta siang itu terasa membakar kulit saat Adrian dan Valerie kembali berdiri di pelataran parkir BGC. Tempat di mana beberapa menit lalu mereka draf—maksud saya, mereka menyaksikan kemewahan Kirana dan kegagahan Martin.
Adrian menatap tangannya yang gemetar. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah Kirana yang dingin di balik kacamata hitamnya. "Jika dia benar-benar bukan Aruna, maka kita baru saja menciptakan musuh paling berbahaya bagi bisnis keluarga Adiwangsa," bisik Adrian pada angin lalu.
Valerie hanya bisa diam, memegangi pipinya yang masih terasa perih. Kesombongan yang dibawa dari rumah kini hancur lebur, menyisakan ketakutan akan hari esok yang dipastikan penuh dengan kesulitan.