Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
SELAMAT MEMBACA !!!
Kapten William menghela napas panjang, seolah ada beban berat yang menekan dadanya setiap kali mengingat bagaimana kehidupan warga yang bertahan di bawah jembatan itu.
"Semalam saya berdiskusi dengan keluarga dari keluarga saya sendiri dan Keluarga Adhitama, Jendral. Mencari solusi untuk membantu mereka. Dari pihak keluarga bersepakat untuk memindahkan mereka ke tempat yang layak. Dan rencananya di tanah lapang dekat perumahan Griya Laksana itu akan dibangun rumah dengan sepuluh lantai yang terdiri dari dua puluh unit kamar per lantainya untuk mereka, Jendral.
Rencana kami dari anggota Kodam Jaya akan mengutamakan warga sekitar yang akan mengerjakan pekerjaan itu. Tapi tadi pagi saat saya dan rombongan ke sana, ingin meminta persetujuan dipindah tempatkan ke rumah yang layak. Ternyata mereka akan digusur oleh perusahaan yang tidak bertanggung jawab dan hanya di kasih waktu satu bulan tanpa ada ganti rugi atau kepastian akan di pindah kemana mereka.
Tujuan warga berkumpul di sini hanyalah untuk mendaftar menjadi tenaga kerja dalam pembangunan itu, seperti yang saya sampaikan tadi, Jenderal. Selain itu, sejauh ini kami belum berani mengajukan laporan secara resmi. Kami khawatir kabar ini bocor lebih dulu ke pihak perusahaan, lalu mereka bertindak lebih kasar lagi sebelum ada kepastian hukum. Memang secara surat tanah itu diklaim milik mereka, namun warga sudah menetap di sana puluhan tahun lamanya dan tidak pernah mengganggu kepentingan siapa pun," ujar Kapten William dengan suara rendah namun tegas.
Jenderal Agus mengangguk perlahan sambil mengetukkan jari ke meja, berpikir sejenak sebelum berbicara.
"Saya mengerti kekhawatiran, Kapten William. Memang ada aturan kepemilikan tanah, namun ada pula hak warga yang sudah bertahan dan mengolahnya selama puluhan tahun tanpa sengketa. Hal itu tidak bisa diabaikan begitu saja hanya karena ada surat perolehan sepihak," ucapnya tegas.
Beliau lalu menatap Kapten William lekat-lekat. "Kalian tidak perlu khawatir lagi. Mulai saat ini, saya sendiri yang akan mengawal prosesnya. Saya akan berkoordinasi dengan instansi terkait dan meminta bukti sah kepemilikan dari perusahaan itu. Selama saya di sini, tidak boleh ada tindakan sewenang-wenang yang merugikan rakyat kecil!" pesan Jendral Agus.
Kapten William mengangguk mantap, wajahnya tampak lega.
"Terima kasih banyak atas dukungan, Jenderal. Mengenai bukti-bukti yang diperlukan, saya sudah berhasil mengumpulkannya semuanya. Sebenarnya perusahaan itu tidaklah besar, cara kerjanya hanya memanfaatkan ketidaktahuan dan ketidakberdayaan warga demi keuntungan sendiri. Saya juga sudah berpesan kepada Ketua RT setempat, jika mereka datang bertindak sewenang‑wenang lagi, agar segera menghubungi saya. Atau mungkin lebih baik kita yang datang langsung ke kantor perusahaan itu untuk membahas masalah ini," ujar Kapten William dengan tegas.
Jendral Agus mengangguk setuju dengan usulan, Kapten William.
"Jangan gegabah, Kapten William. Kita tunggu mereka mendatangi warga dulu, kalau mereka masih tidak mau ganti rugi, baru kita bertindak. Dan bawa semua bukti yang sudah kamu kumpulkan untuk menekan perusahaan itu.
Sementara itu, besok laksanakan saja rencana pengukuran dan penandaan lahan pembangunan perumahan itu seperti yang sudah disusun. Saya akan kirimkan bantuan anggota saya untuk ikut serta pelaksanaan pembangunan rumah itu," ujar Jendral Agus lagi.
Kapten William tersenyum lega sang atasan akan turun tangan langsung untuk membantu menangani masalah warga yang akan digusur itu.
"Terima kasih Jendral dan rekan-rekan semua, Bapak-bapak terima kasih sudah mau menerima ajakan kami untuk ikut serta dalam proyek pembangunan rumah susun itu. Seperti yang saya katakan tadi besok pagi kita semua berkumpul di tanah lapang dekat perumahan Griya Laksana ya, Pak!" seru Kapten William dengan ramah.
Mendengar keputusan itu, Pak RT dan warga yang hadir tampak lega dan matanya berkaca-kaca. Mereka serentak berdiri lalu menundukkan badan tanda hormat.
"Terima kasih, Jendral, Kapten dan seluruh anggota. Kalau begitu kami pamit undur diri. Sekali terima kasih semua!" seru Pak RT mewakili warganya.
"Siap, Pak RT. Tolong persiapkan untuk besok ya Pak," jawab Kapten William dengan penuh kesopanan dan keramahan.
Setelah pembicaraan selesai, warga sudah undur diri dan Jenderal Agus beserta rombongan juga ikut berpamitan pulang, Kapten William segera mengumpulkan anggotanya.
"Siap-siapkan untuk acara nanti sore. Dan siapkan juga peralatan untuk besok pagi pukul tujuh tepat. Kita bertemu langsung di tanah lapang dekat Griya Laksana. Pastikan daftar nama warga yang mau bekerja sudah dicatat rapi," perintahnya singkat dan tegas.
"Siap laksanakan, Kapten!" seru serempak anggota lain.
Mereka membubarkan diri kembali ke tugas awal sebelum terjadinya huru hara hari ini. Kapten William juga masuk ke dalam ruangannya ingin membuat salinan bukti yang dikirimkan oleh sepupunya tadi pagi.
Sore itu halaman Kodam Jaya sudah dipenuhi orang. Para pemuda warga sekitar dan anggota TNI sudah berkumpul, lapangan voli pun siap dipakai untuk pertandingan persahabatan.
Kapten William berdiri tegak, senyumnya tak lepas saat melihat betapa ramainya warga yang datang, ada yang bersiap bertanding, ada pula yang hanya duduk menonton dengan antusias.
"Serda Feri..!" panggilnya agak keras.
"Siap, Kapten! Ada perintah apa?" jawab Serda Feri seketika sudah berdiri tegak di hadapannya.
"Tolong belikan air kemasan di koperasi, cukup untuk seluruh orang yang berada di lapangan," ujar Kapten William seraya menyerahkan dua lembar uang seratus ribu rupiah.
"Siap, akan segera dilaksanakan!" seru Serda Feri. Ia menerima uang itu lalu mengajak seorang rekannya ikut bersamanya untuk membantu membawa air kemasan itu.
Kapten William hanya berdiri diam mengamati dari jauh lapangan, sesekali tersenyum kecil melihat kegembiraan mereka, terutama saat salah satu tim mencetak poin dan bersorak riang sambil saling menepuk bahu.
Suasana terasa begitu akrab, tak ada lagi jarak antara prajurit dan warga, semuanya bersatu dalam semangat bertanding yang sehat. Angin sore yang sejuk membuat suasana makin hidup dan menyenangkan.
"Kapten William, tidak ikut bertanding juga?" tanya sekelompok ibu anggota Persit yang baru datang menuju lapangan.
Kapten William tersenyum ramah. "Lain kali saja saya turun, Bu. Hari ini saya lebih nyaman menjadi penonton dan menjaga suasana. Silakan duduk di tempat yang sudah disiapkan, pertandingannya baru saja berlangsung seru," jawabnya sopan sambil memberi isyarat ke arah bangku penonton.
Ibu-ibu itu mengangguk mengerti, mereka langsung duduk di kursi yanh disiapkan oleh pihak panitia anggota TNI.
"Ayo... ayo...Sertu Dimas, jangan mau kalah dari yang lebih muda!" seru salah satu Ibu Persit bersemangat, disusul sorakan yang lain.
Sertu Dimas yang sedang bersiap memukul bola hanya tersenyum lebar sambil mengangguk, lalu mengerahkan tenaganya. Bola melayang cepat ke arah lawan, membuat penonton bersorak riang saat jatuh tepat di garis batas lapangan. Apalagi pukulan dari Sertu Dimas berhasil menambah angka buat anggota TNI tambah keras lagi bersorak ria dan bertepuk tangan.
alhamdulillah smoga apapun kedepannya nanti tak merubah ksh sayang dan kluarga besar mereka