Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Melacak Logo
"Cetak foto itu sekarang, Mas Wartawan. Biar Pak Haris saksi sendiri apa yang lolos dari tangannya."
Seroja melangkah mendekati lincak bambu. Matanya mengunci tatapan Haris. Wajah pria berseragam dinas itu memucat. Tangan kirinya menggantung kaku di atas gumpalan tanah akar tomat.
Wartawan berambut ikal di samping Pak Subroto mengangguk. Ia menarik selembar kertas film dari celah bawah kamera. Bunyi gesekan kertas memecah sunyi. Ia mengipas-ngipaskan lembaran persegi itu, menunggu gambar timbul.
Haris menelan ludah. Keringat merembes di dahi. Ia menarik tangannya ke belakang punggung, menggesekkan ujung sepatu pantofel ke rumput basah, menyapu jejak serbuk putih yang tumpah.
"Ini fitnah," kilah Haris bergetar. "Saya tidak memanipulasi apa pun. Kamera itu tak membuktikan isi tangan saya."
Danu merangsek maju. Otot bahunya menegang di balik kaus lusuh. Jejak serbuk putih mendesis di atas rumput dekat kaki Haris. Asap tipis berbau asam menyengat hidung.
"Bapak membawa racun," geram Danu. "Bapak mau mencemari tanah kami, melempar salah ke Seroja."
Siti menahan napas. Tangannya gemetar memeluk pundak Doni. Punggungnya bersandar ke tiang bambu. Bibirnya bergerak merapal doa. Doni menggenggam erat tangan bibinya. Seroja mengatupkan rahang.
Wartawan itu menyodorkan hasil jepretan ke tangan Seroja.
Lengan berseragam safari milik Haris terekam di bawah meja lincak. Tiga jarinya menjepit bungkusan kertas, menumpahkan serbuk putih lurus ke wadah sampel tanah.
"Kualitas kameranya lumayan, Pak Haris," ucap Seroja. Ia membalikkan foto itu ke hadapan sang ketua tim. "Tangan, seragam dinas, dan bubuk Bapak terekam jelas di sini."
Napas Haris tersengal. Tubuhnya bergetar.
"Rampas foto itu!" perintah Haris panik. Ia menoleh ke dua petugas di belakangnya. "Amankan kameranya!"
Dua pria berbadan besar melangkah maju. Pak Subroto pasang badan di depan Seroja. Ia berdiri tegap, merapikan kerah kemeja batik.
"Maju selangkah lagi, kalian berurusan dengan saya," ancam Pak Subroto. Suaranya berat. "Saya pemasok makanan resmi tamu VIP Gubernur. Pemuda ini jurnalis harian kota. Silakan pakai kekerasan. Saya pastikan berita perampasan ini sampai ke meja Gubernur sebelum jam makan siang."
Langkah dua pamong praja itu terhenti. Mereka berpandangan, mundur selangkah. Haris mengepalkan tangan.
Seroja melangkah melewati punggung Pak Subroto.
"Kita selesaikan di atas meja, Pak Haris," tawar Seroja. Ia menurunkan foto itu. "Koperasi kami butuh kepastian usaha, bukan musuh aparat."
Haris mengusap lehernya yang basah.
"Keluarkan surat laporan pemeriksaan karantina dari koper," lanjut Seroja. "Tulis hasil pemeriksaan sejujurnya. Nyatakan tanah kami bersih dan sayuran layak edar. Stempel surat itu."
Haris menelan ludah. "Foto itu?"
"Tetap saya pegang," potong Seroja. "Jika besok atau lusa ada aparat mengganggu jalur distribusi kami, foto ini langsung masuk meja redaksi koran Jakarta. Paham?"
"Bawa koper itu," perintah Haris parau.
Ajudannya bergegas membuka koper logam di meja lincak, menyerahkan pulpen tinta dan formulir berkop kementerian. Tangan Haris bergetar menerima pulpen. Ia menunduk, menggoreskan tinta di atas kertas.
Usai tanda tangan, ia mengangkat stempel birokrasi, menekannya kuat. Ia menyodorkan dokumen itu tanpa berani mengangkat wajah.
"Urusan kita selesai," geram Haris. Ia berbalik kasar. "Tarik pasukan! Kita kembali!"
Rombongan seragam cokelat itu naik ke kendaraan. Mesin jip menderu, beranjak meninggalkan pekarangan.
Bagas dan Danu membuang napas panjang. Danu merangkul Doni, mengacak-acak rambut anak itu. Siti merosot di lincak bambu. Air mata membasahi pipinya.
Seroja melipat surat izin itu, menyimpannya ke saku kebaya. Ia menundukkan kepala ke arah Pak Subroto dan sang jurnalis.
"Terima kasih atas bantuannya, Pak," ucap Seroja.
Pak Subroto tertawa pelan. "Kamu yang menyelamatkan dirimu sendiri, Nduk. Saya cuma bawa teman."
Jip Pak Subroto berlalu. Matahari siang menyinari daun tomat yang berserakan di tanah kapur.
Menjelang sore, ontel Bagas berhenti mendadak di halaman. Napasnya memburu. Keringat membasahi punggung kaus. Ia mencengkeram amplop cokelat tebal.
Bagas menyodorkan amplop itu kepada Seroja di serambi gubuk.
"Anak-anak los tekstil sudah melacak logo perisai dan nama Brotojoyo yang digambar Doni, Ro," ucap Bagas. "Informasi dari sopir truk pengirim kain Jakarta ada di dalam situ."
seroja nggak bisa bela diri kah...?