Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Sinta mengangguk pelan. Dia pernah dengar dari calon mertuanya hal tersebut. Tapi, dia tidak berpikir jika Wana benar-benar sangat menutup diri terhadap sesuatu yang asing.
"Nona Sinta."
"Ah, iya. Maaf, Danu. Aku jadi melamun."
"Gak papa, Nona. Bagaimana? Apa ... nona bersedia bertemu dengan tuan muda nanti sore di cafe Cemara?"
Sinta mengangguk dengan cepat. "Iya. Tentu saja aku bersedia. Nanti sore, aku pasti datang."
"Baik. Kalau nona sudah setuju, saya permisi sekarang."
"Ee ... Danu. Nggak masuk ke dalam buat minum dulu," ucap Sinta sedikit canggung.
Senyum kecil Danu berikan. Gelengan pelan ikut menyusul. "Terima kasih, nona. Lain kali saja. Saya punya banyak hal yang harus saja urus. Jadi, saya harus pergi sekarang. Permisi."
"Iy-- iya."
*
Sore harinya, seperti yang telah Sinta sepakati dengan Danu tadi pagi. Sinta pergi ke cafe Cemara sendirian. Cafe itu tidak terletak di pusat kota yang penuh dengan keramaian. Melainkan, di tempat yang tidak terlalu banyak orang. Cafe itu tidak terlalu megah. Namun, juga tidak buruk.
Sinta turun dari mobil dengan langkah pelan. Pemandangan itu sedikit asing bagi Sinta. Tentu saja karena ini adalah pertama kalinya dia datang ke tempat tersebut.
Biasanya, Sinta suka mengunjungi cafe yang ramai. Letaknya di pusat kota. Suasana berbeda jauh dari cafe yang ada di depan mata Sinta saat ini.
"Pak Ahmad tunggu di mobil aja ya," ucap Sinta pada sopirnya.
"Baik, Non."
Sinta pun melangkah maju ke depan. Namun, gadis itu berhenti saat kakinya tiba di depan pintu masuk cafe tersebut.
"Tunggu. Janjian di sini, sore. Di ruang VIP apa di mana?"
Seketika Sinta bingung akan tempat yang mana yang harus ia tuju. "Agh. Aku tidak bertanya dengan jelas pada Danu. Tidak ada nomor kontak lagi. Gimana dong?"
Sinta jadi serba-salah. Ingin menunggu di meja luar, takutnya Wana sudah ada di ruang VIP. Tapi ingin langsung masuk ke ruang VIP, ia sama sekali tidak tahu ruang yang mana.
"Agh! Sial. Kok bisa gini sih? Kok lupa minta nomor kontak. Aduh .... "
Sesaat terdiam, akhirnya Sinta tahu harus apa. "Ah, iya. Telpon tante Intan saja. Gak mungkin tante Intan gak punya nomor kontak anaknya 'kan?"
Baru juga Sinta ingin mencari nomor kontak mama Wana, Danu langsung muncul. "Nona Sinta. Tuan muda sudah menunggu di ruang VIP tiga."
"Danu. Ya Tuhan. Akhirnya kamu muncul. Tunggu! Ruang yang mana?"
"Ruang VIP tiga, Nona."
"Heh, baiklah. Aku ke sana sekarang."
Baru juga ingin melangkah, Sinta malah langsung membatalkan niatnya itu dengan cepat. Gadis itu lalu memutar tubuh untuk melihat Danu kembali.
"Danu."
"Ya, Nona?"
"Ini ... cafenya kok sepi banget? Jangan bilang kalau kak Wana booking cafenya sebelum dia datang."
Wajah penasaran Sinta terlihat dengan sangat jelas. Danu pun hanya bisa nyengir kuda tak nyaman dengan apa yang baru saja Sinta ucapkan.
"Iya ... ya gitu deh, Nona."
"Iya? Iya apa maksudnya?"
"Iya ... seperti yang telah nona katakan. Tuan muda pesan semua cafenya sebelum datang."
Seketika, Sinta langsung cengegesan tak enak. Ternyata, bukan cafenya sepi. Melainkan, cafenya telah di booking oleh Wana hanya untuk bertemu dengannya.
Bukan hanya ingin berduaan saja dengan Sinta. Melainkan, karena alasan dia yang tidak ingin ditatap dengan tatapan yang asing. Karena itu, Wana susah payah pesan semua cafe hanya untuk bertemu Sinta.
Sinta terdiam beberapa saat. Benaknya berpikir sedikit lebih keras. Saat itu ia baru sadar kalau ketidaknyamanan Wana akan dunia luar lebih parah dari yang ia bayangkan. Kepercayaan diri Wana ternyata benar-benar tidak tersisa lagi.
"Danu."
"Ya, Nona."
"Apakah selalu seperti ini jika kak Wana ingin berada di tempat umum?"
Danu langsung menyunggingkan bibirnya sedikit. Anggukan kecil menyusul. "Iya ... nona. Seperti inilah tuan muda saya. Dia tidak suka berada di tempat umum. Jika terdesak, dan mengharuskan dia untuk tetap berada di tempat umum. Maka dia akan melakukan hal ini, Nona. Dia akan mengosongkan tempat yang akan dia datangi. Selagi ia bisa, maka dia akan mengatur tempat yang akan ia datangi sesepi mungkin."
Sinta tidak menjawab dengan kata-kata apa yang sudah Danu jelaskan padanya. Dia hanya memberikan anggukan kecil tanda dia memahami penjelasan itu.
"Ah, ya sudah kalo gitu. Sebaiknya, aku segera ke ruangan VIP tiga agar tidak membuat tuan muda mu menunggu terlalu lama, Danu."
"Ah iya. Silahkan, nona. Biar saya antar kan."
Danu segera berjalan mendahului Sinta. Tak lama kemudian, mereka tiba ke tempat yang ingin mereka tuju. Ruang VIP tiga. Pintu ruangan tersebut masih tertutup dengan rapat.
"Nona Sinta. Ini tempatnya. Tunggu sebentar."
Danu lalu mengetuk pintu dari ruangan yang ada di depannya. "Tuan muda. Nona Sinta sudah di sini."
"Ya. Biarkan dia masuk." Suara khas milik Wana terdengar jelas.
"Baik, tuan muda."
Danu pun mengalihkan pandangannya. "Nona, silahkan."
Pintu terbuka sedikit karena dorongan dari Danu. Di dalam sana, Rahwana sedang duduk di salah satu kursi. Pria itu awalnya tidak menoleh. Namun, saat Sinta melangkah maju dua langkah, Wana tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya.
Wana terpaku. Seperti biasa, tubuhnya akan merespon kehadiran Sinta di dekatnya. Jantung milik Wana akan berdetak dua kali lebih cepat saat wajah cantik dewi bulan itu muncul.
Tanpa sadar, satu tangan Wana menyentuh dadanya sendiri. 'Ya Tuhan, kenapa jantungku selalu tidak normal saat melihat dia. Bagaimana aku bisa menolaknya jika aku saja tidak bisa mengontrol anggota tubuhku saat dia ada di sekitarku?' Wana bicara dalam hati sambil terus memegang dadanya.
"Kak Wana. Maaf, aku udah bikin kamu nunggu lama," ucap Sinta sambil mengambil posisi duduk di depan Wana.
"Ha, gak papa. Aku juga belum lama duduk di sini."
"Oh iya, Sin. Mau pesan apa? Aku akan minta Danu buat pesankan makanan apa yang kamu mau?"
Sinta tidak langsung menjawab. Matanya melihat ke atas meja yang saat ini sudah dipenuhi dengan macam-macam makanan. Dan sebagian dari makanan itu adalah makanan kesukaannya.
"Ini ... emm ... semua yang ada di sini punya, kak Awan ya?"
Deg. Jantung Wana semakin tidak bisa di kontrol. Alhasil, Wana tidak bisa langsung menjawab apa yang Sinta tanyakan. Jantungnya benar-benar membuatnya tidak nyaman.
Karena tidak mendapatkan jawaban atas apa yang telah ia tanyakan. Sinta yang awalnya sibuk melihat makanan, harus mengalihkan pandangan ke arah Wana.
"Kak ... Awan? Apakah ada sesuatu yang
salah?"
"Ah, ngg-- nggak. Sinta, tadi bertanya soal apa?"
"Em ... makanan ini, apakah punya kak Awan. Nggak, maksud aku-- "
"Bukan. Ini punya kamu. Jika kamu suka tentunya, kamu bisa makan. Aku pesan saja sembarang. Jika ada yang kamu inginkan lagi, aku bisa minta Danu untuk memesan ulang."
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️