Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sinar matahari pagi masuk menembus jendela kamar yang masih berantakan. Alexa mengerjap-ngerjap, mencoba mengumpulkan nyawanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sesuatu yang berat di pinggangnya. Begitu ia menoleh, ia melihat lengan kekar Zyan masih melingkar di sana. Dan hal kedua yang ia sadari adalah... badan suaminya masih biru muda terang dengan taburan bedak putih yang sudah mengering.
"Anjir, gue beneran nikah sama Smurf," gumam Alexa sambil mencoba menahan tawa agar tidak membangunkan Zyan.
Namun, kedamaian itu pecah saat suara ketukan pintu depan yang sangat kencang terdengar, diikuti oleh suara melengking yang sangat familiar di telinga Alexa.
"Zyan! Alexa! Bangun sayang! Mama datang bawa sarapan spesial dan jamu rahasia!"
Alexa langsung melompat dari tempat tidur sampai terjatuh ke lantai. "MAMAAA?!"
Zyan tersentak bangun, wajahnya yang biru tampak kebingungan. "Ada apa?"
" Gawat Om! Emak lo sama emak gue ada di depan! Kalau mereka liat kamar kita kayak habis kena ledakan pabrik tepung dan lo berubah jadi biru begini, kita bisa dikirim ke RSJ!"
Zyan langsung sadar sepenuhnya. Ia melihat pantulan dirinya di cermin besar kamar mandi. "Astaga, Alexa! Ini tidak mau hilang!"
"Zyan? Alexa? Kok pintunya dikunci? Mama masuk ya, Mama punya kunci cadangan dari Bi Ijah!" teriak Bu Ratna dari balik pintu.
"JANGAN MASUK DULU, MA! LAGI... LAGI GANTI BAJU!" teriak Alexa panik. Ia langsung menyambar jas Zyan yang penuh bedak dan memaksanya memakainya untuk menutupi badan birunya. "Om, lo masuk kamar mandi sekarang! Gosok pake sabun cuci piring kalau perlu! Biar gue yang hadapin mereka!"
Zyan lari tunggang langgang ke kamar mandi, sementara Alexa mencoba merapikan sprei yang penuh bedak dengan gerakan super cepat. Tapi terlambat, pintu sudah terbuka.
Bu Ratna dan Ibu Alexa (Bu Mira) masuk dengan wajah berseri-seri, menenteng rantang dan botol-botol kaca berisi cairan keruh.
"Selamat pa—LHO?!" Bu Ratna berhenti di tengah ruangan. Matanya melotot melihat debu putih (bedak) yang menyelimuti seluruh furnitur, lantai, hingga rambut menantunya. "Alexa, ini... ini kenapa kamar jadi putih semua? Kalian lagi renovasi?"
Bu Mira mendekat, mengusap debu di meja. "Ini... ini kan bedak bayi? Alexa, kalian ngapain pakai bedak sebanyak ini di kamar?"
Alexa nyengir kuda, otaknya berputar mencari alasan paling masuk akal. "Ini Ma... itu... itu namanya Powder Therapy! Iya, tren baru dari Jepang buat... eh, buat relaksasi biar nggak stres!"
Bu Ratna dan Bu Mira saling pandang, lalu senyum-senyum nakal mulai muncul di wajah mereka. "Oh... Powder Therapy ya? Mama baru denger. Tapi kayaknya seru banget ya sampe kasur juga penuh bedak begini. Pantesan Zyan nggak keluar-keluar," goda Bu Ratna sambil menyenggol lengan Bu Mira.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka sedikit. Zyan muncul dengan kepala yang menyembul keluar. Ia lupa kalau wajahnya masih biru terang. "Mama, bisa tolong tunggu di bawah sebentar?"
Bu Ratna menjerit pelan. "ZYAN! Muka kamu kenapa?! Kamu keracunan apa?! Kok warnanya biru begitu?!"
Zyan langsung menarik kepalanya masuk lagi.
"Ini... ini masker, Ma! Masker alami dari... rumput laut biru!" ucap Alexa asal.
Bu Mira malah makin antusias. "Wah, kalian ini kreatif sekali ya. Ada terapi bedak, ada masker rumput laut. Bagus, bagus! Itu tandanya kalian memang sedang menikmati masa-masa awal pernikahan."
Bu Mira kemudian meletakkan botol-botol kaca di atas meja nakas yang penuh bedak. "Ini Mama bawain Jamu Macan Galak buat Zyan, biar staminanya makin oke buat 'terapi-terapi' selanjutnya. Dan ini buat kamu Alexa, Sari Rapet Wangi, biar makin disayang suami."
Alexa rasanya ingin menenggelamkan diri ke dalam tumpukan bedak saat itu juga. "Ma, makasih jamunya, tapi kita sehat kok..."
"Udah, jangan nolak! Mama mau kalian cepet-cepet kasih cucu. Liat ini kamar sampe kayak lapangan salju, pasti mainnya semangat banget ya?" Bu Ratna tertawa renyah, mengira bedak-bedak itu adalah bagian dari permainan romantis yang ekstrem.
"Ayo Jeng Mira, kita ke dapur aja. Kita siapkan sarapannya, biarkan mereka selesaikan maskerannya dulu," ajak Bu Ratna sambil menarik Bu Mira keluar.
Begitu pintu tertutup, Zyan keluar dari kamar mandi dengan wajah frustrasi. "Masker rumput laut biru? Seriously, Alexa?"
"Daripada gue bilang lo habis gue kerjain pake pewarna makanan? Bisa dicoret gue dari daftar ahli waris!" Alexa terduduk lemas di lantai. "Lagian, lo liat nggak tadi mereka bawa apa? Jamu Macan Galak! Hahaha! Mau lo minum, Om?"
Zyan melirik botol jamu itu dengan ngeri. "Buang saja ke wastafel. Saya tidak butuh jamu-jamu seperti itu."
"Eh, jangan dibuang! Kalau nanti ditanya gimana rasanya, lo mau jawab apa?" Alexa mengambil botol jamu itu, membukanya, dan mencium aromanya. "Uek! Baunya kayak kaos kaki basah yang difermentasi sepuluh tahun!"
"Simpan saja. Sekarang, bantu saya menghilangkan warna biru ini. Saya ada pertemuan dengan klien dari Korea jam sepuluh nanti. Saya tidak mungkin datang dengan wajah seperti anggota smurf."
Alexa akhirnya merasa kasihan. Ia mengambil minyak zaitun milik Bi Ijah di dapur (setelah memastikan kedua ibu mereka sedang sibuk di ruang makan), lalu kembali ke kamar.
"Sini, duduk. Gue bantuin bersihin," ujar Alexa.
Zyan duduk di kursi kerja, sementara Alexa berdiri di depannya. Dengan hati-hati, Alexa menuangkan minyak ke kapas dan mulai menggosok wajah Zyan. Jarak mereka sangat dekat. Alexa bisa melihat bulu mata Zyan yang panjang dan garis rahangnya yang tegas.
Zyan menatap Alexa yang sedang fokus bekerja. "Kenapa kamu diam saja?"
"Lagi konsentrasi, Om. Nanti kalau kulit lo lecet, gue lagi yang disalahin."
"Alexa," panggil Zyan lembut.
"Apa?"
"Terima kasih."
Alexa menghentikan gerakannya sebentar. "Buat apa?"
"Karena sudah membuat hidup saya jadi tidak membosankan lagi. Meski cara kamu menyapa saya di pagi hari adalah dengan membuat saya jadi biru, tapi... saya menikmatinya."
Alexa mendengus, mencoba menyembunyikan rasa baper yang mulai menyerang lagi. "Halah, jangan mulai deh. Ini belum bersih semua, masih ada biru-biru di deket kuping lo."
Setelah tiga puluh menit perjuangan, akhirnya warna biru itu mulai pudar, meski masih menyisakan sedikit rona kebiruan yang tipis—seperti orang yang sedang kedinginan hebat. Zyan segera berganti pakaian dengan kemeja putih dan jas abu-abu yang elegan.
Saat mereka turun ke ruang makan, kedua ibu mereka sudah menunggu dengan senyum lebar.
"Nah, ini dia pasangan paling hits tahun ini! Gimana Zyan? Seger kan habis pakai masker rumput laut?" tanya Bu Ratna.
Zyan hanya tersenyum kaku. "Sangat... menyegarkan, Ma."
"Ayo makan dulu. Ini ada telur setengah matang dicampur madu dan lada hitam. Khusus buat kamu, Zyan," Bu Mira menyodorkan mangkuk kecil.
Zyan menatap Alexa seolah meminta bantuan. Alexa hanya mengedikkan bahu sambil asyik mengunyah rendang. "Makan aja, Om. Biar staminanya kuat buat nanti malam."
Zyan akhirnya terpaksa menelan ramuan itu dengan wajah menderita, sementara Alexa tertawa geli di dalam hati. Namun, kejutan belum berakhir.
"Oh iya, Zyan, Alexa. Mama sudah pesan tiket liburan untuk kalian berdua minggu depan. Ke Bali, menginap di villa privat di Ubud yang pemandangannya langsung ke hutan. Tanpa gangguan, tanpa HP, cuma kalian berdua untuk fokus... ya, kalian tahu lah maksud Mama," ujar Bu Ratna sambil mengedipkan mata.
UHUK!
Alexa tersedak nasi. "Ke Bali?! Berdua doang?!"
"Iya dong. Masa mau ajak rombongan motor kamu? Ini namanya Honeymoon susulan," timpal Bu Mira.
Alexa dan Zyan saling pandang. Di satu sisi, Alexa senang bisa liburan. Tapi di sisi lain, membayangkan harus terjebak berdua saja dengan Zyan di sebuah villa privat selama tiga hari... itu artinya jantungnya akan berada dalam bahaya level tinggi.
"Gimana, Zyan? Kamu setuju kan? Kamu sudah terlalu lama kerja terus," tanya Bu Ratna.
Zyan melirik Alexa yang tampak gelisah, lalu kembali menatap ibunya. "Baik, Ma. Kami akan pergi."
Alexa membelalakkan mata. "Eh, Om?! Kok langsung setuju?!"
Zyan tersenyum miring ke arah Alexa—senyum kemenangan yang sangat menyebalkan sekaligus tampan. "Kenapa tidak? Saya rasa kita butuh waktu untuk mencoba terapi-terapi baru di Bali, bukan begitu, Istriku?"
Alexa hanya bisa menggigit sendoknya dengan geram. " Sialan, kali ini gue yang masuk ke jebakan dia!" batin Alexa.
Bersambung.....