NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

Jeremy sedang latihan main gitar di kamarnya. Jemarinya lincah memetik senar, sesekali berhenti untuk mencatat tangga nada di buku tulis yang terbuka di atas meja. Headphone menutup telinganya, membuatnya tenggelam dalam dunianya sendiri.

Di kamar sebelah, Jolina duduk di depan meja belajar. Pensil di tangannya berulang kali berhenti. Dahi gadis itu berkerut, matanya menatap buku tanpa benar-benar membaca.

Twang… twang…

Suara gitar itu terus terdengar, menembus dinding yang memisahkan kamar mereka.

Jolina menarik napas panjang, mencoba menahan diri. Ia menunduk, berusaha fokus kembali, tapi sia-sia. Detik demi detik berlalu, kesabarannya makin menipis.

“Astaga…” gumamnya kesal.

Akhirnya, ia berdiri. Mengambil cardigan, menyampirkannya asal di bahu, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah cepat dan penuh emosi. Tangannya mengetuk pintu kamar Jeremy dengan keras, hampir seperti gedoran.

“Jeremyyy!!! Buka pintunya…!”

Tak ada jawaban.

“Jeremy!!!!”

Kesalnya memuncak. Jolina memutar knop pintu dengan kasar—dan pintu itu terbuka.

Di dalam, Jeremy masih duduk santai di kursinya, memakai headphone, sama sekali tak menyadari keberadaan Jolina. Fokusnya penuh pada gitar dan buku catatan di meja.

“Jeremy!!!”

Jolina menghampirinya dengan wajah merah menahan amarah.

“Jeremy lo dengerin gue ga sih?”

Tanpa ragu, Jolina menarik headphone dari telinga Jeremy.

Jeremy tersentak. Alisnya langsung berkerut, jelas tak terima.

“Ngapain lo di sini? Main masuk aja.”

“Gue udah panggilin lo dari tadi, pintu kamar lo juga udah gue gedor-gedor, tapi lo ga denger sama sekali, jadi gue langsung masuk aja…”

Jeremy berdiri sedikit dari kursinya, menatap Jolina tajam.

“Ya tapi tetap aja lo melanggar privasi gue.”

“Gue ga peduli,” balas Jolina cepat, suaranya meninggi. “Karena lo udah mengganggu kenyamanan gue.”

Jeremy tertawa pendek, tak percaya.

“Gue? Ganggu kenyamanan lo?”

“Iya! Lo ganggu kenyamanan gue, yang seharusnya gue bisa belajar dengan tenang, tapi lo dan gitar lo yang berisik ini udah kacauin semuanya!”

Jeremy mengangkat gitar sedikit, ekspresinya kesal.

“Lo itu aneh ya… jelas-jelas gue main gitar di kamar gue, bukan di kamar lo.”

“Lo lupa kalau kamar kita sebelahan?” Jolina mendekat satu langkah. “Lo bising tau gaa sii… gue mau ngerjain tugas!”

“Gue ga peduli,” jawab Jeremy dingin. “Keluar lo dari kamar gue.”

“Gue ga mau keluar sebelum lo diam.”

Jeremy menegakkan tubuh, nada suaranya mengeras.

“Gue ga bakal diam. Ini rumah gue, terserah gue mau ngapain.”

Jolina tertawa sinis, dadanya naik turun menahan emosi.

“Ini bukan cuma rumah lo. Sekarang gue juga anaknya papa… dan gue kakak lo. Jadi lo harus nurut sama gue.”

Jeremy mendengus.

“Ga mau gue. Keluar lo.”

“Lo itu nyebelin banget sih, Jeremy!”

“Lo juga sama nyebelin.”

Jolina mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.

“Semua orang di dunia ini juga setuju sama gue kalau lo itu manusia yang sangat menyebalkan, ga punya toleransi sama sekali!”

Ia menunjuk ke arah gitar Jeremy dengan kesal.

“Eh denger ya, Jeremy. Sekarang kamar kita itu sebelahan, jadi tolong banget kalau malam itu ga usah berisik. Lagian malam itu waktunya orang istirahat, tapi lo malah gitaran ga jelas.”

Hening menyelimuti kamar itu. Jeremy menatap Jolina tanpa berkedip, rahangnya mengeras.

Udara terasa panas—bukan karena suara gitar, tapi karena dua emosi yang saling bertabrakan.

“Sebelum lo datang ke sini juga gue emang selalu gitaran malam-malam,” ucap Jeremy dengan nada datar tapi menusuk. “Ga ada masalah tuh sama private time gue…”

“Ya karena sekarang gue ada di rumah ini juga,” Jolina membalas cepat, dagunya terangkat. “Dan gue berhak dong negur lo. Apalagi sekarang statusnya gue itu kakak lo… jadi lo yang harus nurut sama gue.”

Jeremy hendak membuka mulut, wajahnya menunjukkan ketidaksabaran.

“Ya tapi—”

Belum sempat kalimat itu selesai, Jolina mengangkat tangannya. Jari telunjuknya menyentuh bibir Jeremy, menghentikan kata-kata yang hendak keluar.

“Sssttt…” katanya pelan tapi tegas. “Gue belum selesai ngomong.”

Jeremy terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia benar-benar berhenti melawan. Tatapannya turun ke wajah Jolina, lalu naik lagi, mengamatinya dengan ekspresi sulit ditebak.

“Lo punya peraturan, dan gue juga punya peraturan,” lanjut Jolina, suaranya bergetar tipis karena emosi yang ia tahan. “Kenapa kita ga saling menghargai aja? Gue itu kalau malam butuh ketenangan. Gue juga punya private time—emang cuma lo?”

Ia menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan namun penuh penekanan.

“Ada waktu-waktu tertentu yang dimiliki sama cewek, di mana gue harus rileks… ngerawat diri gue, nenangin pikiran gue, supaya—”

Jolina terdiam.

Baru saat itu ia sadar tatapan Jeremy tidak berpindah. Matanya menatap terlalu fokus, terlalu lama.

Refleks, Jolina menarik cardigan-nya lebih rapat, menutup tubuhnya.

“Lo liatin apa?” bentaknya. “Apa yang lo pikirin?”

Jeremy menyunggingkan senyum kecil—bukan senyum ramah, tapi senyum yang sengaja memancing emosi.

“Lanjutin aja ceritanya,” katanya santai. “Gue penasaran.”

“Ih! Lo mikirin apa sih?” Jolina langsung bereaksi, wajahnya memanas. “Pokoknya intinya gitu!”

Jeremy menghela napas singkat, lalu memalingkan wajahnya seolah tak mau memperpanjang perdebatan.

“Yaudah,” katanya akhirnya. “Sekarang lo keluar dari kamar gue.”

Hening kembali memenuhi ruangan.

Gitar tergeletak di sudut, buku catatan masih terbuka—namun konflik mereka belum benar-benar selesai.

“Awas kalau lo main gitar lagi…” ancam Jolina sambil menunjuk dada Jeremy, matanya menyala penuh kekesalan.

“Iya, iya…” jawab Jeremy santai, seolah tak merasa terancam sama sekali.

“Jeremy, gue serius. Jangan bercanda.”

“Iya,” katanya lagi, kali ini dengan nada lebih rendah. “Gue serius.”

Jolina membuka mulut, siap melontarkan protes lanjutan. Namun belum sempat satu kata pun keluar, Jeremy sudah lebih dulu bergerak.

Ia membalikkan badannya, lalu melangkah mendekat. Terlalu dekat.

Jeremy mensejajarkan wajahnya dengan Jolina. Dagunya bertumpu tepat di atas bahu Jolina, membuat jarak mereka nyaris tak ada. Kehangatan napasnya terasa jelas di dekat telinga Jolina.

“Sekarang keluar dari kamar gue,” bisiknya lirih, suaranya rendah dan mengganggu ketenangan.

“Lanjutin aja tugas lo… oke?”

Jeremy berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada menggoda yang sengaja dibuat pelan,

“Atau lo mau tidur bareng gue di sini?”

Darah Jolina seperti mendidih seketika. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal menahan emosi. Ia sangat kesal—lebih kesal karena Jeremy terlihat sama sekali tidak merasa bersalah.

Jeremy terkekeh kecil, puas melihat reaksi itu.

Dengan gerakan santai tapi penuh dominasi, ia menaikkan cardigan Jolina sampai benar-benar menutup bahunya, seolah memastikan jarak itu kembali aman—atau justru untuk semakin mengusik. Lalu, tanpa menunggu reaksi, ia mendorong pelan Jolina ke luar kamar.

Klik.

Pintu kamar tertutup cepat di depan wajah Jolina.

“Ihh… nyebelin banget sih Jeremy,” gerutunya kesal, berdiri di lorong sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Awas aja ya dia…”

Lorong kembali sunyi, tapi detak jantung Jolina belum juga tenang.

Jolina masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan sedikit hentakan. Ia duduk di kursi belajarnya, membuka buku tugas, lalu menatap halaman kosong itu cukup lama.

Aneh.

Padahal suara gitar sudah tidak terdengar sama sekali. Tidak ada dentingan senar, tidak ada suara Jeremy yang menyebalkan, tidak ada gangguan apa pun malam itu. Namun justru kepalanya terasa semakin penuh.

Pena di tangannya berputar-putar, tak kunjung menyentuh kertas.

“Ah, kenapa lagi sih gue?” gumamnya kesal.

“Kok malah jadi nggak fokus ngerjain tugas ini sih…”

Dengan frustasi, Jolina memukul pelan kepalanya sendiri, berharap pikirannya kembali jernih.

Namun yang muncul justru potongan suara yang sama sekali tidak ia inginkan.

“Lo tadi nyium gue.”

Jolina membeku.

“Ah, kenapa gue malah inget itu sih?!” serunya lirih, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Belum sempat ia menenangkan diri, suara lain kembali terlintas di kepalanya—lebih dekat, lebih mengganggu.

“Atau lo mau tidur bareng gue di sini?”

Jolina menjatuhkan tangannya, menatap kosong ke depan.

“Jolina, please deh,” katanya pada dirinya sendiri, suaranya menurun, nyaris putus asa.

“Lo bener-bener udah gila…”

Ia menarik napas panjang, berusaha menyingkirkan semua bayangan itu.

“Ingat,” bisiknya tegas pada diri sendiri.

“Sekarang Jeremy itu musuh lo.”

Bukan idola.

Bukan siapa-siapa lagi.

Namun meski pikirannya berkata begitu, jantungnya justru berdetak tidak karuan. Dan tugas di depannya… tetap tak tersentuh.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!