NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 : Dendam sang arwah

Ruang rawat itu gelap. Hanya lampu kecil di sudut ruangan yang menyala redup. Suara mesin berdetak pelan secara teratur.

'bip.. bip.. bip..'

Kelopak mata Naya bergerak pelan perlahan terbuka. Napasnya tersengal. Dadanya naik turun cepat seperti habis mimpi buruk. Naya menoleh ke sekitar namun kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

"Kak Salsa... Aku harus telpon Kak Salsa. Aku kangen Kak Salsa." Lirih Naya, air matanya menetes.

Naya mencoba bangun. Kepalanya masih berat, tapi dia memaksa duduk. Infus masih terpasang di tangannya. Matanya menyapu ruangan namun sangat sunyi.

Perasaan tidak enak langsung merayap, "Aku harus pergi."

Tangan Naya mencabut infus begitu saja.

Clek!

Sedikit darah menetes, tapi Naya tidak peduli. Dia menurunkan kaki dari ranjang dan lantai terasa sangat dingin.

Baru satu langkah namun udara berubah terasa angin kencang menerpanya.

Napas Naya terhenti, dan perlahan sesuatu muncul di belakangnya. Bayangan hitam memanjang di lantai. Naya membeku, dan saat akan menoleh ke belakang.

Sesuatu mencengkeram lehernya dari belakang, sangat kuat.

"A—akh…!" Tubuh Naya terangkat sedikit dari lantai. Kakinya mengayun, berusaha menapak. Matanya membelalak. Perlahan dia dipaksa menoleh. Dan di sanalah...

Abel.

Wajahnya pucat kebiruan Mata cekung, hitam pekat. Mulutnya tersenyum tapi penuh kebencian.

"Akhirnya kau akan mati Naya." Bisik Abel, suaranya serak dan dingin cengkeramannya semakin kuat, urat leher Naya menegang.

"Aku.. Bunuh... Kamu.." Suara Abel berlapis, seperti banyak suara menumpuk jadi satu. Naya meronta tangannya mencoba melepas cengkeraman itu tapi percuma tenaganya kalah jauh penglihatannya mulai kabur begitu pun dengan air matanya yang jatuh.

"Engggak.." Suaranya nyaris hilang.

Abel mendekatkan wajahnya terlalu dekat, matanya begitu gelap.

"Aku tunggu... Lama.." Tekanan di leher Naya semakin kuat. Matanya mulai berair. Tubuhnya mulai melemah.

"Tolong.. A-akhh.." Naya sudah merasa jika ini adalah akhir dari hidupnya namun tiba-tiba Naya memejamkan matanya.

Tubuhnya pun berhenti meronta. Sunyi sesaat, dan perlahan kepala Naya terangkat sendiri matanya terbuka lagi tapi berbeda. Tatapannya tajam, dan dingin.

Tangan Naya yang tadi lemas tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Abel. Sangat kuat.

Abel berusaha mencekik Naya lebih keras mencoba membunuhnya lebih cepat.

Senyum tipis muncul di wajah Naya.

Suara yang keluar namun bukan suara Naya.

"Berani juga kamu nyentuh dia." Ujar Naya memukul cepat.

BRAK!

Tubuh Abel terpental ke belakang seperti dihantam sesuatu tak terlihat. Menabrak dinding. Lampu berkedip keras.

DUARR!

Kaca jendela ruang rawat itu langsung pecah semuanya karna kekuatan ghaib yang dahsyat.

Naya perlahan menurunkan kakinya ke lantai. Lehernya masih memerah karna di cekik Abel. Naya tersenyum menantang.

"Dia milik gue." Suara Naya dingin.

Abel bangkit perlahan.

Matanya menyala penuh amarah.

"Selama gue di sini… dia aman." Tegas Naya dengan percaya diri.

Angin di dalam ruangan berputar kencang. Tirai berkibar liar karna ruang rawat yang kacanya memang sudah pecah hingga angin dari luar bisa masuk ke dalam.

Monitor jantung berbunyi tak beraturan.

'bip.. bip.. bip..'

Dua arwah itu saling menatap penuh kebencian. Seolah ingin mengklaim siapa yang berhak membunuh, dan siapa yang berhak memiliki.

Naya tertawa pelan, "Hahaha... Coba aja.. Lawan gue."

Lampu tiba-tiba mati gelap total, dan dari dalam kegelapan terdengar benturan keras jeritan, dan suara sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia manusia.

Tawa keras itu, tawa keras dari mulut Naya.

KLIK!

Lampu tiba-tiba menyala kembali. Ruangan yang tadi kacau mendadak sunyi. Tidak ada lagi angin. Tidak ada lagi benturan.

Namun kaca benar-benar pecah dan barang-barang terlihat berjatuhan.

Pintu kamar terbuka cepat.seorang suster masuk dengan napas sedikit terengah begitu terkejut melihat ruangan yang berantakan dan pecahan kaca dimana-mana.

"Astaghfirullah apa yang terjadi disini?!!" Suster itu berteriak histeris.

Suster itu begitu terkejut melihat ranjang berantakan, infus tercabut, dan lantai yang ada bercak darah kecil.

Hanya ada..

Naya yang berdiri di samping ranjang nampak mengedip-ngedipkan melihat suster itu.

"S... Saya.." Suara suster mulai gemetar. Dia merasa sesuatu yang salah. Sangat salah.

Naya menoleh matanya langsung mengunci ke arah suster.

Suster mundur satu langkah tanpa sadar.

Hening beberapa detik.

Sudut bibir Naya terangkat sedikit senyum tipis menyapa disana.

"Gue udah sembuh, boleh gue pulang sekarang?" Tanya Naya tanpa ragu.

Suster semakin panik saat akan berlari kabur.

GRAB!

Tangan Naya mencengkeram pergelangan tangan suster, cukup kuat hingga membuat Suster itu terkejut setengah mati.

Naya mendekatkan wajahnya perlahan terlalu dekat. Napasnya terasa dingin. Matanya tidak lepas menatap Suster itu, "Gue harus pergi dari sini, sekarang juga."

Suster langsung merinding hebat, "A-anda belum s-sembuh."

Lampu di atas mereka tiba-tiba berkedip beberapa kali karna amarah Naya.

"Bilang Naya sudah pulang." Tegas Naya.

Suster itu mengangguk-angguk, tangan suster langsung ditarik kasar. Naya melepaskannya tiba-tiba hingga Suster itu mundur terpeleset hampir jatuh.

Naya natap lurus ke arah pintu, "Ada ilmu hitam yang sedang mengendalikan arwah itu."

Lantai koridor terasa dingin menusuk telapak kaki Naya langkahnya pelan tanpa alas kaki.

Gema langkahnya memantul di lorong rumah sakit yang panjang dan sepi. Lampu-lampu neon di atas kepalanya menyala redup. Beberapa berkedip, seolah kehabisan tenaga. Perawat yang tadi ditinggalkan masih terduduk gemetar di dalam kamar. Naya tidak menoleh lagi tatapannya lurus ke depan.

Naya terus berjalan melewati ruang IGD melewati ruang tunggu tanpa memperdulikan Suster yang lewat, orang-orang yang memperhatikannya.

Beberapa orang hanya diam.

Seolah mereka tidak berani menegur.

"HEY!" Suara laki-laki menggema dari belakang.

Langkah Naya berhenti.

Seorang dokter berlari ke arahnya dari ujung lorong, "Pasien! Berhenti! Kamu belum boleh keluar!"

Naya diam tidak berbalik Dokter itu semakin dekat, "Dengar saya! Kamu-"

Belum sempat kalimatnya selesai lampu di atas mereka berkedip sekali. Dua kali. Tiga kali.

Lalu..

BRAK!

Seluruh lampu padam gelap total. Hanya suara napas.

Dokter itu membeku, terkejut bukan main.

"Apa-apaan ini?!" Tanyanya panik.

Dalam gelap dia masih bisa melihat siluet Naya. Berdiri. Nampak diam.

"Siapa kamu?!" Tanya Dokter itu mulai menyadari sesuatu menunjuk namun siluet itu sudah tidak di tempatnya.

Dokter tersentak, "Eh?!"

Tiba-tiba dari belakangnya ada suara napas, terasa dingin, dan sangat dekat sekali.

"Jangan ikut campur.." Suara itu pelan.

Dokter langsung merinding dari ujung kepala sampai kaki. Perlahan dia menoleh ke belakang, dan di sana Naya berdiri.

"S-setann...!!" Teriak Dokter itu.

"Ini bukan urusan kalian!" Seru Naya mendorong Dokter itu.

BRAKK!

Dokter itu terpental jatuh seperti didorong sesuatu yang tak terlihat menabrak troli. Alat-alat medis berjatuhan. Suara berisik memecah kesunyian. Dan dalam kekacauan itu langkah kaki Naya menjauh.

Suara ramai muncul dibelakangnya, ada banyak orang yang membantu Dokter itu.

Naya berjalan seolah tidak ada yang bisa menghentikannya. Pintu utama rumah sakit terlihat di depan.

Naya mengangkat telapak tangan kanannya ke atas, pintu rumah sakit terdorong kuat. Angin malam masuk.

Naya berhenti sejenak di depan pintu. Kepalanya sedikit menunduk. Seolah mendengarkan sesuatu.

"Keluar.."

Naya mengangkat kepalanya, dan keluar dari pintu rumah sakit itu. Udara malam langsung menyambut.

Naya melangkah keluar telanjang kaki masuk ke kegelapan malam. Di atas bulan purnama nampak menyambutnya, dan di belakangnya seluruh rumah sakit nampak gelap gulita.

"Akan ku balaskan semua dendam ini."

1
Sarah
Btw thor, tandain dulu ini ceritanya udah tamat pake label end. 👍
Sarah
REVIEW: “Dhahar: Jangan Mati di Rantau Naya”
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]

Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.

Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Sarah: Sad ending, Naya mati dan Pak Dermawan makin sakti. Lebih mending gini daripada ceritanya gantung, setidaknya kita tau akhirnya gimana. Cuma sayang:

1. Gak ada reaksi Kak Salsa pas Naya meninggal. Padahal dia keluarga dan punya porsi cerita yang cukup banyak menuju ending.

2. Momen Naya menyerah lalu kendali sepenuhnya pada Sari hingga Naya jadi mati itu poin KRUSIAL BANGET. Tapi malah cuma diceritain lewat dialog. Jadinya berasa jauh dari tokoh utama, padahal menuju akhir Naya udah jarang muncul. Harusnya kita bisa lebih ngerasa dekat sama dia, kan dia tokoh utama dan ceritanya tentang dia. Meskipun aku gak bilang keputusan untuk gak memunculkan momen itu adalah salah. Cuma berasa kurang aja bagiku pribadi.

KESIMPULAN DARIKU PRIBADI: ⭐⭐⭐⭐⭐
Singkat tapi worth it. Bagus. Semangat untuk karya kedepannya. 💪😊
total 2 replies
Sarah
Ending kah? Meskipun sad ending, jujur aku lebih lega. Maksudku... aku pas kemarin lihat bab yang terpublikasi cuma bab 25. Jadi aku pas kemarin udah, “Hah... cliffhanger... ” Jujur aja, meskipun sedih Naya mati... tapi aku lebih benci Cliffhanger (ending gantung) daripada sad ending meskipun aku juga maunya happy ending. Soalnya kalau cliffhanger tuh bikin kayak... ‘Arghhhh!’ gitu. Jadi, terimakasih sudah melanjutkan sampai bab 27. Aku seneng banget tadi pagi karena rupanya endingnya bukan di bab 25. 🙏🏼😭
Sarah: Iya... ssebenarnya masih ada yang jadi pertanyaan sih. Jadi agak cliffhanger juga. Cuma kayaknya lebih ke sad deh soalnya kalau MC mati yaudah... MC kalah, villain menang. Dan ya... tentang salsa itu emang salah satu kekurangan terbesar ending ini sih. Makanya aku juga udah kasih rating + review panjang banget dan bahasa kekurangan ending.
total 6 replies
Sarah
Jujur, chemistry mereka emang gak sedalam itu... tapi ada... jadi sedih juga sih. Enggak, jauh sebelum bab ini, sejak bab dimana mereka saling adu mulut... aku udah ngerasa sedih sih. Karena melihat gimana mereka di 7 bab awal tuh kayak... manis banget.
Sarah
Kan di sini dia berharap bisa lebih terbuka... atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya...
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Sarah
😢
Sarah
...
Sarah
Balik ke setelan pabrik.
Sarah
Gak perlu lagi, Naya-nya emang udah mati, sayang.😭😩
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
Sarah
Yeyyyy!
Sarah
Rasa bersalah yah?
Sarah
Menurutku... itu lebih ke jasadnya doang sih yang digerakkan. Jiwanya harusnya udah gak ada. Tapi kalau itu emang cuma jasad... bukannya jasad Nesya ditemukan tidak utuh di taman? Harusnya masih ada di sana... ’kan?? Atau mungkin...! Ini tubuh ciptaan aja gitu? Semacam tubuh baru/wadah baru. Tapi modelnya Nesya.
Anyue: bisa jadi authornya bingung mau pakai tubuh siapa 😁
total 1 replies
Sarah
Ah, aku masih inget banget momen ini. Dan suka kalimatnya Nesya.
Sarah
Zuan...! 💢💢💢
Sarah
Buat apa pula... Si Zuan buang dia ke Taman Bermain? Ya kan meskipun nyari bukti mereka susah tapi kan jadi ketahuan Nesya mati... rada-rada pea juga ini Si Zuan. Tapi kalau buat pembaca seperti gue...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
Sarah
Jujur, kasihan pacarnya sih... karena Si Rosa-nya... yah... tau sendirilah...
Sarah
Kok dia gak kenapa-napa meski ngasih rahasia itu? Gak ada bunyi... “TENG!” sialan itu. Apa karena dia membuat kontrak dengan
iblis? Atau karena apa?
Sarah
Tumben baik mau ngasih info.
Sarah
Btw, Thor. Ini serius tamat besok? Habis pas baca bab ke sini-sini rasanya kayak... belum ketemu titik terang buat resolusi konfliknya. Takutnya nanti jadi tamat terburu-buru dan endingnya jadi... apalah pula. Jujur takut sih. 😩
Sarah: Jujur takut sama endingnya. Karena gue belum melihat jalur resolusi/penyelesaian konflik. Tapi semangat. 😩
total 2 replies
Sarah
Mungkin ini “Nesya” dalam tanda kutip. Kayak bayangan gitu kah? Nesya palsu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!