Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Beberapa hari berlalu, dan hari Senin pun tiba. Udara pagi terasa segar, namun jantung Yurika berdegup lebih kencang dari biasanya saat melangkah masuk ke gedung perkantoran. Bayangan kejadian malam itu terus melintas di benaknya, suara hujan, hangatnya teh, tatapan lembut Austin, hingga pesan singkat yang mengungkapkan bahwa tak ada wanita lain yang pernah menginap di sana. Setiap kali teringat hal itu, wajahnya seketika memanas.
Sepanjang pagi, ia berusaha menyibukkan diri dengan berkas-berkas pekerjaan, namun pandangannya kerap melayang ke arah pintu ruangan Austin. Hingga menjelang makan siang, panggilan dari ruangan itu masuk.
"Yurika, Tuan Austin memintamu ke ruangannya sebentar," ucap resepsionis dengan nada biasa, namun bagi Yurika rasanya seperti jantungnya hampir melompat keluar.
Dengan langkah hati-hati, ia mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk."
Suara berat dan tenang itu terdengar begitu akrab kini. Saat ia melangkah masuk, Austin sedang duduk di balik meja kerjanya yang rapi. Begitu melihatnya, pria itu meletakkan pena yang dipegangnya dan mengambil sebuah benda kecil dari atas meja.
"Ini milikmu," ucapnya sambil menyodorkan lipstik yang tertinggal malam itu.
Yurika menerimanya dengan tangan sedikit gemetar, "Terima kasih, Tuan Austin."
Kemudian keheningan menyelimuti sejenak. Austin menatapnya lekat-lekat, seolah sedang mencari sesuatu di balik tatapan gadis itu.
"Yurika," panggilnya pelan, "Selama ini aku berpikir bahwa apa yang kurasakan hanyalah rasa nyaman karena kita bisa saling memahami. Namun malam itu... saat melihatmu tertidur lelap di sofaku, aku sadar ada sesuatu yang jauh lebih dari itu."
Jantung Yurika berpacu cepat. Ia tak berani menyela, hanya menatap balik dengan mata yang membelah penuh tanya.
"Aku tak pernah membiarkan siapa pun mendekat sedekat itu," lanjut Austin perlahan, suaranya tetap tenang namun tegas, "Dan aku sadar, perasaan ini bukan sekadar rasa nyaman sesaat. Sejak awal kita bekerja sama, cara pandangmu yang tulus, ketenanganmu, dan bagaimana kau selalu berusaha melakukan yang terbaik... semua itu perlahan mengisi ruang yang selama ini kosong di hatiku."
Yurika mendengarkan dengan saksama, senyum tipis tak lepas dari bibirnya. Jantungnya memang berdegup kencang, namun bukan karena takut, melainkan karena perasaan lega yang tak bisa ia jelaskan.
Selama ini ia menyembunyikan perasaannya di balik sikap profesional, takut melanggar batas dan merusak hubungan kerja yang sudah terjalin baik. Kini mendengar pengakuan itu, seolah beban berat perlahan terangkat dari pundaknya.
"Aku tak ingin lagi menyembunyikan apa yang kurasakan," ucap Austin kembali, menatap lurus ke manik mata gadis itu, "Aku tak ingin lagi berpura-pura bahwa perhatianku padamu sama seperti pada rekan kerja lainnya. Dan aku ingin tahu... apakah kau juga merasakan hal yang sama?"
Yurika menarik napas panjang, lalu mengangguk perlahan. Senyumnya melebar, memancarkan kebahagiaan yang tulus.
"Aku juga merasakannya, Austin," jawabnya tenang namun mantap.
Mendengar itu, Austin tersenyum lebar, ia melangkah maju sedikit, lalu dengan lembut menggenggam tangan Yurika.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
Yurika merasakan hangat genggaman itu merambat ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa aman dan tenang.
Sejak hari itu, tak ada lagi keraguan yang membayangi keduanya. Di kantor, mereka tetap bersikap profesional, Austin tetaplah pemimpin yang tegas, dan Yurika tetaplah staf yang bekerja dengan baik.
Namun di luar, mereka adalah sepasang kekasih.
ditunggu lanjutannya yaaa💞
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁