NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Amira menatap wajah itu tenang. Wajah yang dulu pernah membuat masa kecilnya penuh ketakutan. Erika. Orang yang menjebaknya ke hutan jati. Namun kali ini Amira tidak lagi merasa kecil. Tidak lagi merasa lemah. Perlahan ia tersenyum tipis. “Aku…” napasnya pelan, “Amira.”

Senyum Erika langsung menghilang sedikit.

Dan Amira melanjutkan dengan tatapan lurus, “Aisyah Amira.”

Wajah Erika langsung berubah. Matanya membesar. Tubuhnya seolah membeku beberapa detik.

Sementara Amira masih tersenyum kecil. Tenang. Namun ada sesuatu yang tajam di baliknya. “Teman lama kamu, Erika.” Suasana mendadak terasa dingin. “Kamu enggak lupa sama aku, kan?”

Erika terlihat benar-benar syok sekarang. Tatapannya berubah penuh ketidakpercayaan. Karena perempuan pendiam dan sederhana di hadapannya sekarang sangat berbeda dengan gadis kecil ketakutan yang dulu mereka hina habis-habisan.

Amira berdiri tegak. Cantik. Tenang. Dan entah kenapa memiliki wibawa yang membuat Erika justru gugup sendiri. “Amira…” suara Erika melemah. “Astaghfirullah… ini kamu?”

Amira hanya tersenyum tipis. Namun di dalam dadanya ada sesuatu yang perlahan berubah. Dulu mereka bisa memperlakukannya sesuka hati. Membuatnya menangis. Takut. Lalu terusir dari kampungnya sendiri. Tetapi sekarang tidak lagi.

Sekarang Amira sudah lelah menjadi korban. Dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa dirinya tidak harus gemetar di depan orang-orang yang pernah menghancurkannya.

Erika masih menatap Amira dengan wajah penuh keterkejutan. Jelas sekali ia sedang berusaha mencocokkan sosok perempuan dewasa di hadapannya dengan gadis kecil yang dulu pernah mereka tekan habis-habisan.

Sementara Amira tetap berdiri tenang. Tidak mundur. Tidak gemetar. Dan entah kenapa itu justru membuat Erika semakin salah tingkah. “Oh ya Allah…” Erika tertawa kecil canggung. “Aku benar-benar enggak ngenalin kamu.”

Amira hanya tersenyum tipis. Tatapannya lalu bergeser sebentar ke arah rumah besar di belakang Erika. Rumah yang dulu membuatnya ketakutan. Namun kini ia berdiri di depannya tanpa lari. Dan itu saja sudah terasa seperti kemenangan kecil.

Erika kembali bertanya hati-hati, “Jadi… kamu sekarang kerja di pesantren?”

Amira mengangguk kecil. Lalu dengan tenang ia menambahkan, “Aku bukan pengasuh Habibi.”

Erika tampak bingung. Dan perlahan Amira menatap perempuan itu lurus sambil berkata pelan, “Tapi ibu susunya Habibi.”

Wajah Erika langsung berubah total. Matanya membesar. Benar-benar tidak menyangka. “Apa?”

Amira masih tersenyum kecil. Namun kali ini ada getir yang jelas terasa di sana. “ASI aku yang diminum Habibi sekarang.” Angin sore berembus pelan melewati halaman rumah.

Sementara Erika tampak kehilangan kata-kata. Karena kalimat itu terasa seperti tamparan takdir yang begitu aneh. Putra kandung Alya. Keponakannya sendiri. Kini justru hidup dari tubuh perempuan yang dulu dihancurkan keluarganya.

Dan Amira bisa melihat jelas untuk pertama kalinya, Erika merasa tidak nyaman berada di hadapannya. Namun Amira tidak berhenti di sana. Dengan suara lembut namun menusuk, ia berkata lagi, “Lucu ya, hidup.” Tatapannya tenang. “Dulu kalian takut aku merebut perhatian orang lain.” Air mata tipis mulai muncul di mata Erika. Sementara Amira tersenyum kecil penuh ironi. “Sekarang…” ia menatap rumah besar itu sekilas, “anak Alya malah tumbuh dalam pelukan aku.”

Erika mulai terlihat gelisah sekarang. Tangannya meremas ujung bajunya sendiri. Tatapannya tidak lagi setenang tadi. “Ka… kamu masih ingat kejadian dulu, Amira?” Suara Erika terdengar hati-hati.

Amira hanya diam memandangnya.

Dan diam itu justru membuat Erika semakin gugup. “Itu kan…” Erika tertawa kecil canggung, “sudah lama.” Napasnya sedikit terburu. “Kita juga masih kecil-kecil.” Ia cepat-cepat melanjutkan, “Belum ngerti benar atau salah.”

Kalimat itu membuat senyum tipis di bibir Amira perlahan menghilang. Tatapannya berubah. Lebih dingin. Lebih dalam. “Masih kecil?” Suara Amira pelan sekali. Namun justru terasa menusuk.

Erika langsung terdiam.

Amira tertawa kecil. Pahit. “Erika…” matanya mulai berkaca-kaca lagi, “aku juga masih kecil waktu itu.” Perempuan di depan Amira langsung membeku. “Sama kecilnya sama kalian.” Napas Amira mulai sedikit bergetar. “Tapi kenapa cuma aku yang harus menanggung semuanya sampai dewasa?”

Erika membuka mulutnya pelan. Namun tidak ada suara yang keluar.

Amira menatap lurus perempuan itu sekarang. Tidak ada lagi rasa takut seperti dulu. “Kamu tahu enggak…” suaranya makin lirih, “sampai hari ini aku masih takut lewat hutan jati?”

Air mata Erika mulai menggenang.

Tetapi Amira melanjutkan tanpa memberi kesempatan, “Aku masih susah napas kalau ingat malam itu.” Tangannya mengepal kecil. “Aku pindah dari kampung ini karena aku enggak sanggup hidup di tempat yang terus menyalahkan aku.” Air matanya jatuh lagi. “Dan kamu bilang itu cuma kenakalan anak kecil?”

Erika langsung menutup mulutnya sendiri. Wajahnya pucat. Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar mendengar bagaimana luka itu hidup sampai sekarang dalam diri Amira.

Sementara Amira menarik napas panjang pelan. Lalu tersenyum kecil. Namun senyum itu sangat lelah. “Orang yang enggak terluka memang paling gampang bilang, itu sudah lama.”

Erika mulai panik. Air mukanya berubah semakin pucat. Karena ia sadar Amira yang berdiri di depannya sekarang bukan lagi gadis kecil yang bisa dibungkam dengan tatapan tajam atau hinaan ramai-ramai. “Sekarang apa maumu, Amira?” Suara Erika meninggi sedikit karena gugup. “Kak Alya sudah meninggal!”

Tatapan Amira langsung berubah dingin. Sangat dingin. Namun anehnya suaranya justru tetap tenang. “Tapi kamu masih hidup.”

Erika membeku.

“Anak-anak lain, kan?" Amira melangkah pelan mendekat satu langkah. Dan untuk pertama kalinya, Erika justru mundur sedikit. “Begitu juga dengan Ayah kamu juga masih sehat, kan?”

Wajah Erika langsung berubah tegang. Karena nama ayahnya mantan kepala desa yang dulu membela Alya mati-matian adalah bagian yang paling tidak ingin disentuh.

Amira tersenyum tipis. Getir. “Kalian semua masih hidup nyaman.” Tatapannya mulai memerah menahan emosi yang bertahun-tahun terkubur. “Sementara aku?” Ia tertawa kecil pelan. “Aku harus hidup dengan rasa takut sampai dewasa. Bahkan sampai sekarang belum sembuh!"

Napas Erika mulai tidak teratur.

Sementara Amira terus menatapnya lurus. “Aku pindah.”

“Aku kehilangan rumah.”

“Aku kehilangan masa kecil.” Air matanya akhirnya jatuh lagi. “Dan yang paling lucu, tatapannya turun sebentar, “aku bahkan pernah percaya semua itu salahku.”

Kalimat itu membuat Erika langsung menunduk. Karena jauh di dalam dirinya ia tahu. Mereka memang jahat waktu itu. Sangat jahat. Namun dulu mereka merasa aman karena ia dan Alya adalah putri kepala desa. Tidak ada yang berani melawan mereka. Dan sekarang perempuan yang dulu mereka hancurkan justru berdiri di hadapan mereka dengan kepala tegak. Bukan sebagai korban kecil lagi. Melainkan seseorang yang akhirnya mampu menatap balik luka lamanya tanpa lari.

Suasana di halaman rumah itu terasa semakin menyesakkan. Angin sore berembus pelan, tetapi tubuh Erika justru terasa dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!