Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu 14
"Duuh bagaimana ini. Sampai hari ini belum ada ibu susu yang cocok dengan Baby El."
Eva mengusap wajahnya kasar. Sekarang dia sungguh-sungguh merasa frustasi dengan pemberian ASI terhadap Baby El.
Sebenarnya jika Baby El mau minum susu formula dengan baik, itu tak akan jadi soal. Masalahnya Baby El juga tidak banyak mau meminumnya. Kemarin ketika dibawa ke dokter, berat badan Baby El ada dibawah rata-rata bayi seusianya. Padahal usia Baby El sudah satu bulan.
Eva sungguh sangat stres pun dengan Rini. Jika seperti ini terus pertumbuhan cucu nya bisa benar-benar terhambat, dan Rini jelas tidak menyukainya, begitu lah isi kepala Rini.
Bukan hanya Eva dan Rini yang bingung, Suster Ani pun sama. Dia sangat tidak menyangka bahwa Baby El menolak semua ibu susu yang dibawanya.
"Nak, kamu ini kenapa. Apa mungkin dia hanya mau meyusu kepada ibunya?"ucap Suster Ani lirih. Saat ini dia tengah menimang Baby El yang menangis.
Haah
Suster Ani menghela nafasnya panjang. Dia sungguh sangat prihatin dengan baby El yang dalam kondisi ini. Ia sangat khawatir kalau baby El akan sakit jika seperti ini terus.
Usul satu-satunya yang dia bisa hanya tentang ibu susu. Suster Ani jelas tidak berani bicara tentang ibu kandung sang bayi. Dia tidak cukup punya nyali untuk itu.
Oweeeek
Suara tangis Baby El tiba-tiba menjadi sangat keras. Suster Ani nampak kebingungan. Padahal sebelumnya sudah lebih tenang meski tetap menangis.
Oweeeek
"Ssstttt stttt, sayang ada apa hmmm? Kenapa kamu nangisnya seperti ini? Cup cup cup, mau minum susu hmm?"
Suster Ani mencoba untuk memberi Baby El susu, namun sang bayi menolak.
"Duuh terus kamu mau apa, Nak?"
Suster Ani benar-benar kebingungan saat ini karena tangis baby El begitu keras.
Tap tap tap
"Apa boleh saya gendong baby nya?"
Eh?
Suster Ani terkejut ketika ada seorang wanita datang berjalan ke arah mereka. Dia sedikit menyipitkan matanya melihat ke orang yang sekarang berdiri di hadapannya. Orang ini belum pernah ia lihat sebelumnya, dan tentu dia tidak bisa sembarangan memberikan bayi yang digendongnya kepada sembarang orang.
"Jangan takut, Mbak. Saya ke sini untuk melamar menjadi ibu susu kok. Itu Tante saya sedang ada di dalam untuk menemui Nyonya rumah ini. Saya sengaja datang ke mari karena mendengar tangis bayi yang begitu keras,"ucapnya.
"Apa benar begitu?" Suster Ani mencoba memastikannya lagi, dia tidak ingin membuat kesalahan.
Wanita itu tersenyum lalu mengangguk. Dengan ragu, suster Ani memberikan baby El kepada wanita tersebut. Dan voalaaa, baby El langsung terdiam. Bahkan hanya digendong saja bayi itu kini sama sekali tidak menangis dan malah tertawa.
"i-ini, bagaimana bisa,"ucap Suster Ani dengan nada kebingungan.
"Siapa namanya, Mbak?"
"Elio, baby El. Kami bisa memanggilnya demikian."
Suster Ani yang masih sangat ragu dengan wanita yang muncul tiba-tiba ini. Tapi melihat baby El yang seketika terdiam di gendongannya membuat Suster Ani sedikit lega karena akhirnya tangis histeris si bayi sudah tidak terdengar lagi.
"Elio, nama yang bagus. Hai El, senang bertemu dengan mu, Nak. Aku Saras, ibumu." i
Larasati, ya dia akan menggunakan nama Saraswati sebagai identitasnya untuk menjadi ibu susu bagi putranya. Kata ibumu yang Laras ucapkan di akhir kalimat tentu hanya ia ucapkan dalam hati saja.
Ingin rasanya Laras menangis karena kebahagiaan yang tiada tara. Dia ingin menciumi Elio, namun Laras menahannya dengan baik. Bisa bertemu dan menggendong anaknya seperti ini saha sudah hal yang luar biasa membuatnya bahagia. Jadi Laras menahan segala inginnya sebaik mungkin.
Hari ini, hari yang dijanjikan Hajoon kepada Laras untuk bisa memeluk putranya. Dan siapa sangka itu benar-benar terjadi. Meski waktu yang Hajoon janjikan lebih lama, namun tidak masalah bagi Laras. Dia tetap senang karena akhirnya dirinya bisa melihat dan bahkan memeluk sang abak.
Air mata Laras hampir luruh tadi ketika sampai di depan kediaman Adiguna. Suara tangis bayi yang ia yakini adalah putranya itu sangat membahana.
Ibu mana yang tidak sakit mendengar suara tangis anaknya yang seperi itu.
"Sayang, kamu harus kuat. Ingat tujuan kamu,"ucap Brigita memperingatkan Laras. Bagaimanapun juga Laras harus kuat dan mengesampingkan emosinya.
"Iya Bu, saya paham,"sahut Laras paham.
Ya Brigita di sini ikut dalam bermain peran. Dia akan menjadi bibi dari Saraswati. Hajoon menjadi kan Saras sebagai saudara jauh mereka. Identitas lainnya adalah Saras baru saja kehilangan anaknya. Sehingga ketika mendengar ada yang mencari ibu susu, Saras langsung menerimanya dengan mudah.
Dengan latar belakang itu, Hajoon yakin tidak akan menimbulkan kecurigaan. Laras pun didandani menjadi Saras. Dengan bantuan beberapa produk dari negeri gingseng, Laras tampil menjadi Saras yang tak akan dikenali oleh Reza dan orang dari kediaman Adiguna.
Untuk lebih menyamarkan dirinya, Laras menggunakan hijab besar. Bahkan dirinya yang berubah itu terbukti dari Suster Ani yang sama sekali tidak mengenai Larasati, padahal Ani tahu sosok Laras.
Di dalam rumah tepatnya di ruang tamu, Brigita sedang bicara dengah Eva dan Rini. Ibu mertua dan menantu itu nampak terkejut dengan kedatangan Brigita. Mereka tentu tahu bahwa Brigita adalah seroang designer besar. Hal itu membuat keduanya seperti ciut di depan Brigita. Apalagi popularitas keluarga Brigita lumayan menyita perhatian publik.
"Jadi begitu, Nyonya. Saya sungguh berterimakasih jika keponakan Nyonya mau membantu kami. Elio sangat sulit menerima orang baru. Jadi kami berharap kali ini berhasil. Eh?"
Rini terkejut ketika melihat seorang wanita berhijab lebar menggendong Elio. Dimana El tampak tenang gendongan wanita itu.
Pun dengan Eva, dia belum pernah selama ini melihat El setenang ini.
"Nah ini keponakanku. Sayang, mereka berdua adalah nenek dan ibunya dari bayi ini,"ucap Brigita. Dia meminta Laras untuk duduk.
"Ah iya, saya Saraswati. Jika diperkenankan saya ingin menjadi ibu susu dari Baby Elio. Maaf kalau lancang, tadi saya ketemu El di taman sedang menangis,"ucap Laras dengan sangat tenang. Penampilannya yang anggun, sikapnya yang tenang dan nada bicaranya yang lemah lembut membuat Rini dan Eva terkesima.
"Ah ya, baiklah. Mungkin bisa langsung dicoba. Suster Ani, tolong antarkan Mbak Saras ke kamar Baby El ya."
"Baik Bu Eva. Sebelah sini Mbak, mari."
Laras dengan perlahan berjalan mengikuti Suster Ani. Hijab lebarnya sedikit berkibar ketika dia berjalan, sungguh anggun sehingga membuat Rini terkesima.
"Keponakan Anda sungguh wanita yang anggun ya, Nyonya,"puji Rini
"Ya memang demikian. Hanya saja kemarin dia salah memilih suami. Suaminya itu sungguh pria yang tidak tahu diuntung. Dia meninggalkan Saras saat Saras kehilangan anak mereka." Brigita bicara demikian dengan tatapan yang sangat tajam.
"Meskipun Saras adalah saudara jauh keluarga kami, tapi kami sangat menyayanginya. Jika nanti Saras cocok dengan Baby El, saya harap Bu Rini dan Mbak Eva memperlakukan Saras dengan baik," imbuh Brigita.
"Ba-baik, kami akan mengingat itu," jawab Rini terbata.
Ucapan Brigita seolah peringatan bagi Rini dan Eva. Ibu mertua dan menantunya itu menunjukkan ekspresi yang takut-takut di depan Brigita.
"Tante, sudah. Kita bisa pulang." Laras kembali, kali ini dia tidak menggendong Baby El.
"Maaf Mbak Laras, apa Baby El sudah ... ." Eva langsung bertanya karena penasaran dengan hasil dari Laras yang menyusui Elio.
"Oh oya, maaf lupa memberitahu. Sekarang Baby El sudah tertidur pulas setelah menyusu dengan kenyang," jawab Laras sambil tersenyum lebar.
Maaf?
TBV