🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21. Minta Jatah?
Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 21.10 saat Galang membelokkan mobil keluar dari kawasan alun-alun Tarogong. Keramaian festival perlahan tertinggal di belakang mereka, meski cahaya lampu warna-warni dan suasana musik masih samar terdengar dari kejauhan.
Jalanan Garut malam itu mulai lengang.
Udara dingin masuk perlahan dari celah jendela mobil yang sedikit terbuka, membawa aroma bakar dan sisa hujan sore tadi.
Sekar duduk di kursi penumpang sambil memangku beberapa kantong kecil jajanan hasil mereka berkeliling festival. Sedangkan Galang fokus menyetir di sampingnya.
Malam itu pria itu terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya.
Ia hanya mengenakan kaus putih lengan pendek yang tadi sempat membuat beberapa pengunjung perempuan diam-diam melirik ke arahnya, dipadukan dengan celana bahan abu gelap dan jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya.
Penampilan sederhananya itu justru malah membuat Galang semakin berbeda.
Lebih muda.
Lebih hangat.
Dan entah kenapa, terlalu enak di pandang.
Sekar buru-buru membuang pandangan kembali ke luar jendela saat sadar dirinya memperhatikan suaminya terlalu lama.
"Kenapa?" tanya Galang memecah kesunyian, matanya masih fokus ke depan. "Apa ada yang mau kamu bicarakan?"
"Eh?" sahut Sekar salah tingkah.
"Kenapa?" tanya Galang sekali lagi.
"Anu...itu A Galang." Sahut Sekar gugup.
"Tanya aja, gak usah sungkan."
"Barusan...aku masih kepikiran yang di bilang A Rendi." Kata Sekar seraya tertunduk.
Galang terkekeh, "Kenapa? Memang aku ini pria panggilan kok, kenapa?"
kedua bola mata Sekar hampir keluar saat mendengar suaminya mengakui bahwa dirinya laki-laki panggilan.
"Se-seriusan A? Ja-di..."
Galang akhirnya tidak bisa lagi menahan tawa, ia melirik sebentar istrinya yang shock dengan pengakuannya.
"Bukan pria panggilan seperti yang kamu pikirkan. Aku selalu di panggil ke rumah sakit tiap ada operasi CITO, dan itu udah hal biasa bagi kami anesthesia." Ujar Galang menjelaskan.
"Oh, gitu. Aku kira..." Sekar menatap wajah samping suaminya, sangat tampan. "Maaf, aku udah mikir yang nggak-nggak soal Aa barusan."
"It's okey. Rendi orangnya emang kaya gitu, ngomongnya suka gak bisa di rem."
Kabin mobil kembali hening.
Sekar menekan pelipisnya, kepalanya terasa pusing. Gadis itu mengingat selama di alun-alun tadi dia sama sekali tidak menggunakan jaket, padahal udara Garut lebih dingin dari Bandung.
"Kenapa? Capek?" tanya Galang.
"Kayanya masuk angin." Jawab Sekar.
"Mau di kerokin?" tanya Galang santai.
"Eh? Enggak...gak usah, minum tolak angin aja udah sembuh." Jawab Sekar cepat.
"Tidur aja, nanti aku bangunin."
Sekar menoleh, "ya udah. Aku tidur dulu bentar,"
🍁
Tak terasa mobil akhirnya berhenti, Galang gegas keluar dan membuka pintu pagar besi rumah. Setelah terbuka ia buru-buru masuk dan memarkirkan mobilnya di halaman.
Setelah mobil berhenti Sekar keluar lebih dulu, di susul Galang.
"Duh, kayanya beneran deh aku masuk angin." Gumam Sekar.
Pada saat Sekar hendak melepaskan sandal, ia terpeleset karena teras licin. Untung saja Galang sigap memegangi Sekar.
"Kamu sakit?" tanya Galang.
"Enggak, cuma masuk angin." Jawab Sekar buru-buru melepaskan diri.
"Ya udah, masuk. Kamu istirahat." Titah Galang.
Sekar mengangguk.
Keduanya memasuki rumah, Sekar melepas kerudungnya karena ada serangga yang masuk kedalam kerudungnya itu, suasana rumah sangat sepi, hanya terdengar suara kodok dan jangkrik yang saling bersahutan memeriahkan malam yang sunyi.
"Kayanya mau ujan," gumam Galang.
Sekar menghentikan langkahnya dan hendak mematikan lampu ruang tamu. Namun pada saat itu, ketika Galang akan menyimpan kunci mobil di gantungan, tak sengaja keduanya saling berhadapan sangat dekat. Benar! Paku gantung itu ada di atas saklar, saat Sekar berbalik ia mendapati dada bidang suaminya.
Sangat dramatis, keduanya diam. Sekar mencoba bergeser namun mentok dengan nakas. Bahkan gerakannya hampir menjatuhkan vas bunga.
"Aku--" gumam Sekar.
Namun ucapannya terhenti ketika ia mendongak saat suaminya ikut menatap wajah cantik Sekar di bawah lampu temaram. Kunci sudah tergantung, jantung mereka berdetak kencang.
Sekar bisa merasakan harum parfum mint dari suaminya yang barusan tersapu angin malam. Galang menatap Sekar cukup lama, lalu turun ke arah bibir ranum gadis itu.
Cukup lama pria itu terkunci pada bibir istrinya, seolah terhipnotis. Sedangkan Sekar yang terkunci hanya diam memegangi sisi nakas dengan tangan semakin erat.
Sekar menunduk, pipinya memerah. Galang mengangkat tangannya perlahan, menyibakkan sedikit anak rambut di dekat pipi Sekar setelah sejak tadi masuk ke dalam rumah Sekar membuka kerudung pashminanya. Gerakan yang di lakukan oleh Galang sangat hati-hati seolah membuatnya terkejut.
"Neng." Bisiknya dengan nada suara khas laki-laki yang tengah bertarung dengan nafsu.
Gadis itu mendongak, mereka saling berpandangan sebentar hingga akhirnya kecupan itu mendarat.
Lembut.
singkat.
Tapi cukup membuat dunia Sekar terasa berhenti beberapa detik.
Sekar refleks mencengkram pelan ujung kaus lengan Galang. Sedangkan pria itu menahan napas begitu merasakan Sekar tidak menjauh.
Galang kembali mendekat, ia kembali menikmati manisnya bibir lembut itu. Sekar memejamkan kedua matanya ketika Galang sudah di kuasai oleh nafsu, otaknya sudah tidak bisa lagi bekerja. Gairah sudah menguasainya.
Bibir mereka saling bertaut, kecapan terdengar di ruang sunyi itu. Galang semakin bergairah saat Sekar melingkarkan tangannya di leher sang suami.
Pria itu memagut bibir istrinya dalam, Sekar membalas.
Galang yang sudah kehilangan konsentrasinya perlahan memegang punggung Sekar dan menariknya semakin mendekat, bahkan sesekali ia mengelus punggung Sekar.
Di luar hujan perlahan turun, memberikan suasana semakin romantis dan dramatis. Sekar kehilangan kendalinya, Galang melepaskan pagutan dari bibir istrinya dan kali ini turun ke arah leher jenjangnya itu. Wangi tubuh istrinya membuat wajah datarnya terkunci dengan gairah.
Dada Sekar kembang kempis, menahan sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan. Hangat dan begitu menyengat, namun entah kenapa ia menyukai itu.
Galang berhenti, lalu kembali menatap istrinya dengan lamat. Tatapan mata tajam itu berubah menjadi tatapan memohon, Sekar menyadari itu.
"Jangan di sini," bisik Sekar malu-malu lalu tertunduk sembari tersenyum kecil.
Galang tersenyum, senyum yang terlukis di wajah istrinya pertanda kalau Sekar memberikan lampu hijau.
Galang memeluk Sekar sangat erat.
"Makasih, A." Gumam Sekar.
"Buat?"
"Karena Aa sudah membuka hati Aa, makasih juga udah ngajak aku jalan-jalan." Bisik Sekar seraya membalas pelukan suaminya.
Galang melepas pelukannya, lalu mengelus kepala belakang istrinya dan mengecup kening itu singkat.
"Lanjut di kamar ya." Ucap Galang, nadanya seolah meminta.
Sekar tersenyum, "aku ngunci dulu rumah."
Galang sepenuhnya melepaskan tubuh mungil itu, dan Sekar langsung beranjak mengunci pintu rumah. Setelah selesai Galang kembali menarik Sekar kedalam pelukannya.
"Tadi sore aku gak sengaja liat kamu nonton drama Korea," bisik Galang seraya tersenyum.
Sekar terdiam, tubuhnya terkesiap. Ia mendongak menatap suaminya yang kini di belakang memeluknya.
"Aa liat?" tanya Sekar.
Galang tersenyum lagi, "sejak kapan kamu suka lihat adegan begitu?"
Deg!
Sore itu laptop milik Sekar masih terbuka, dan sialnya ia tengah menonton film Korea Scarlet innocence. Sebuah film thriller- romance dengan adegan dewasa yang di bintangi oleh aktris favorit Sekar, dan film itu di rekomendasikan oleh sahabatnya yang ada di Bandung kemarin pagi.
"Itu...aku...Anya! Anya yang rekomendasiin film itu kemarin pagi." Jawab Sekar malu.
Galang tersenyum geli melihat istrinya yang salah tingkah, lalu kembali meraih Sekar dan mencumbu bibirnya kembali.
.
.
.
Hayooooo
Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya????
Bersambung...