NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Yang Menyenangkan

...****************...

Tiga puluh menit kemudian, suara roda koper yang bergesekan pelan dengan lantai dua rumah itu. Obrolan Rika dan Arga yang sejak tadi berlangsung santai di ruang tamu pun terhenti. Keduanya hampir bersamaan menoleh ke arah suara tersebut.

Rhea terlihat menuruni tangga sambil membawa sebuah koper kecil. Ia sudah berganti pakaian yang lebih nyaman untuk perjalanan jauh. Sebuah tas selempang tergantung di bahunya, sementara rambutnya yang tadi tergerai kini diikat sederhana ke belakang.

Melihat putrinya akhirnya siap, Rika langsung tersenyum kecil.

"Nah, itu Rhea," ujar wanita itu sambil menatap ke arah putrinya.

Pandangan Arga mengikuti arah yang dipandang Rika. Tatapannya sempat berhenti beberapa detik pada sosok gadis itu sebelum akhirnya ia berdiri dari duduknya.

"Kalau begitu, boleh saya izin untuk berangkat sekarang, Bu?" tanyanya sopan sembari membenarkan posisi jam tangan di pergelangan tangannya.

"Oh iya...tentu, Pak Arga. Mari saya antar ke depan," balas Rika ramah sambil ikut berdiri.

Mereka bertiga kemudian berjalan menuju arah teras. Namun baru beberapa langkah berjalan, Arga yang berada sedikit di depan tiba-tiba berhenti tepat di hadapan Rhea.

Tanpa banyak bicara, pria itu membungkukkan tubuhnya sedikit lalu langsung meraih gagang koper yang sedang ditarik gadis itu.

Refleks Rhea langsung menahannya.

"Eh, eh... saya bisa bawa sendiri, Pak..." protesnya cepat sambil mempertahankan koper tersebut.

"Ssstt..." sahut Arga pendek tanpa menoleh.

Tangannya tetap mengambil alih koper itu seolah tidak memberi ruang sedikit pun untuk perdebatan. Hingga dalam satu gerakan ringan, koper tersebut sudah berpindah tangan.

Rhea langsung mengerucutkan bibirnya. Ia bahkan belum selesai memprotes ketika Arga sudah kembali melangkah menuju teras sambil membawa koper itu begitu saja.

Mau tidak mau gadis itu hanya bisa mengikuti di belakangnya dengan bibir sedikit manyun, meski di dalam hati ia tahu percuma saja berdebat dengan pria keras kepala seperti itu.

Pemandangan tersebut membuat Rika diam-diam memperhatikan beberapa saat.

Tatapannya bergantian mengarah kepada Arga dan putrinya yang berjalan di belakang pria itu. Entah kenapa, cara keduanya berinteraksi terasa terlalu alami. Tidak terlihat canggung. Tidak pula terlihat terlalu menjaga jarak seperti hubungan dosen dan mahasiswa pada umumnya.

Namun sebelum sempat memikirkan lebih jauh, mereka sudah sampai di teras rumah.

Arga meletakkan koper Rhea sejenak di dekat mobil, memberi kesempatan kepada gadis itu untuk berpamitan dengan ibunya. Sementara itu Rhea langsung menghampiri Rika dan meraih tangan wanita tersebut tanpa menunggu lebih lama.

"Rhea berangkat ya, Mah," ucapnya pelan sembari menci um punggung tangan ibunya dengan hormat.

Senyum Rika perlahan melembut. Tangannya terangkat mengusap puncak kepala putrinya beberapa kali sebelum merapikan anak rambut yang jatuh di dekat pelipisnya.

"Iya. Hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai segera hubungi mamah," pesannya lembut sambil menatap wajah Rhea lekat-lekat.

"Iya, Mah," jawab Rhea patuh sambil menganggukkan kepalanya.

"Ingat pesan mamah tadi juga."

Mendengar itu, Rhea langsung menghela napas panjang.

"Iya, Mah. Rhea ingat," balasnya pasrah.

Tatapan wanita itu masih menyimpan kekhawatiran khas seorang ibu yang sedang melepas anaknya pergi keluar kota selama beberapa hari. Meski begitu, ia tahu putrinya sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri.

Di saat yang sama, Arga yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka tiba-tiba melangkah mendekat.

Awalnya Rika mengira pria itu hanya ingin berpamitan biasa.

Namun detik berikutnya, Arga justru meraih tangan wanita itu dengan sopan lalu sedikit menundukkan tubuhnya.

"Kami pamit dulu, Bu," ucapnya tenang sebelum menci um punggung tangan Rika dengan hormat.

Rika membeku. Begitu pula dengan Rhea.

Mata gadis itu langsung membulat sempurna. Ia bahkan sampai menoleh dua kali untuk memastikan dirinya tidak salah lihat.

"I-Iya..." jawab Rika yang terlihat sedikit terkejut. Wanita itu bahkan membutuhkan beberapa detik untuk kembali menemukan suaranya.

"Hati-hati, Pak Arga. Saya titip Rhea."

"Baik, Bu," sahut Arga singkat sambil menganggukkan kepalanya hormat.

Entah kenapa jawaban sederhana itu justru membuat Rika merasa jauh lebih tenang.

Setelah itu Arga kembali berjalan menuju bagasi mobil. Dengan mudah ia mengangkat koper milik Rhea lalu memasukkannya ke dalam bagasi sebelum menutupnya kembali. Sementara itu Rhea masih berdiri di tempatnya sambil sesekali melirik Arga dengan tatapan aneh.

"Sudah sana," ujar Rika sambil mendorong pelan bahu putrinya. "Nanti kemalaman."

"Iya, Mah," balas Rhea sembari terkekeh kecil.

Setelah memeluk ibunya sekilas, gadis itu akhirnya berjalan menuju mobil dan membuka pintu penumpang depan. Sebelum masuk, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah teras rumah.

Rika masih berdiri di sana sambil memperhatikan mereka. Kemudian Rhea mengangkat tangannya dan melambaikannya pelan.

Wanita itu langsung membalas lambaian tersebut dengan senyum hangat.

Tak lama kemudian Rhea masuk ke dalam mobil. Di sisi lain, Arga juga sudah duduk di balik kemudi setelah memastikan seluruh barang bawaan tersimpan dengan baik di bagasi.

Pintu mobil tertutup hampir bersamaan, lalu beberapa detik kemudian suara mesin mulai terdengar memenuhi keheningan sore.

Mobil hitam itu perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah.

Dari atas teras, Rika masih berdiri di tempatnya sambil memperhatikan kendaraan tersebut hingga semakin jauh dan akhirnya menghilang di ujung jalan.

...****************...

Mobil Arga melaju meninggalkan halaman rumah Rhea tepat ketika matahari mulai turun ke ufuk barat. Jalanan masih cukup ramai oleh kendaraan yang baru pulang kerja, membuat laju mobil beberapa kali harus melambat mengikuti arus lalu lintas.

Di dalam kabinn, suasana terasa nyaman. Pendingin udara berhembus pelan, sementara suara musik instrumental yang diputar dengan volume rendah menjadi pengisi keheningan di antara Arga dna Rhea.

Rhea yang sejak tadi duduk di kursi penumpang akhirnya memutuskan melepas tali tas yang menggantung di bahunya sebelum menyandarkan tubuh lebih nyaman ke kursi.

Setelah beberapa menit memperhatikan pemandangan di luar jendela, gadis itu akhirnya menoleh ke arah Arga yang masih fokus menyetir.

"Pesawatnya jam berapa, Pak?" tanyanya tiba-tiba.

Arga sempat mengernyit kecil seolah tidak langsung memahami maksud pertanyaan itu. Tangannya tetap berada di atas kemudi sementara pandangannya tidak lepas dari jalan di depan.

"Pesawat?" ulangnya singkat.

"Iya," jawab Rhea santai. "Kita ke Jogja naik pesawat kan? Atau naik kereta?"

"Tidak." Arga menggeleng pelan. "Kita naik mobil."

Kalimat itu membuat Rhea langsung memutar tubuhnya menghadap penuh ke arah pria tersebut. Ekspresi wajahnya berubah begitu cepat hingga Arga bisa melihatnya dari ekor matanya.

"Naik mobil?"

"Hmm."

"Pak, kita ke Jogja loh. Bukan ke Depok."

Arga tetap terlihat tenang, seolah perjalanan delapan atau sembilan jam adalah hal yang biasa.

"Jogja jauh loh, Pak. Kita bisa sampai tengah malam nanti."

"Ya memang kenapa?" balasnya santai.

Rhea langsung mendecak pelan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Ck... ya sudah. Nanti nyetirnya gantian aja."

"Tidak," tolak Arga tanpa ragu. "Saya saja yang nyetir."

"Kasian Pak Arga nanti capek."

Untuk pertama kalinya sejak beberapa menit terakhir, sudut bibir Arga terangkat tipis. Ada nada geli yang muncul di wajahnya meski pria itu berusaha menyembunyikannya.

"Hmm..." gumamnya pelan sebelum melirik sekilas ke arah Rhea. "Kamu kasian sama saya?"

"Hih, apa sih..."

Rhea langsung memalingkan wajah ke arah jendela dengan telinga yang mulai terasa hangat.

Reaksinya yang spontan membuat Arga terkekeh kecil. Tawa itu begitu pelan, namun cukup membuat suasana di dalam mobil terasa lebih ringan dibanding sebelumnya.

Beberapa menit kemudian, Rhea yang sejak tadi memperhatikan jalanan di luar jendela kembali teringat sesuatu.

Ia kembali menoleh ke arah Arga yang masih fokus menyetir sebelum bertanya,

"Pak Arga nggak ke apartemen dulu buat ambil baju atau keperluan lainnya?"

"Sudah di bagasi," jawab Arga singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

"Oh gituu..." gumam Rhea pelan sambil menganggukkan kepala. Ia sempat melirik ke arah belakang mobil, sebelum akhirnya kembali duduk santai di kursinya.

Arga sendiri diam-diam melirik sekilas ke arahnya. Entah kenapa, sejak berangkat tadi gadis itu terlihat lebih banyak bertanya dibanding biasanya.

Namun anehnya, ia sama sekali tidak merasa terganggu. Justru sebaliknya, suara Rhea yang sesekali memecah keheningan membuat perjalanan panjang yang biasanya terasa membosankan menjadi jauh lebih ringan.

Mobil terus melaju meninggalkan hiruk pikuk kota. Deretan gedung perlahan berganti menjadi ruko-ruko di pinggir jalan, lalu berubah lagi menjadi hamparan jalan yang lebih lengang.

Semburat jingga mulai memenuhi langit sore, memantul lembut pada kaca-kaca kendaraan yang berlalu lalang di sekitar mereka.

Di dalam mobil, suasana terasa nyaman. Sesekali hanya terdengar suara mesin dan musik pelan yang mengalun dari speaker.

...****************...

Sekitar tiga puluh menit setelah perjalanan dimulai, Arga tiba-tiba menyalakan lampu sein dan membelokkan mobilnya ke sebuah kafe di pinggir jalan. Gerakan itu membuat Rhea yang sejak tadi sibuk memainkan ponselnya langsung mengangkat kepala dan menoleh ke luar jendela.

Tak lama kemudian mobil memasuki area parkir sebuah kafe sebelum berhenti tepat di depan bangunan tersebut.

"Kamu mau kopi atau minuman yang lain?" tanya Arga sambil mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengamannya.

"Ehmm... saya saja yang turun beli. Pak Arga di sini saja," katanya sambil meraih ponselnya.

Arga tidak membantah. Pria itu hanya menganggukkan kepala pelan sebelum merogoh dompet dari saku celananya. Tanpa banyak bicara, dompet tersebut langsung disodorkan ke arah Rhea.

Gadis itu menatap benda tersebut beberapa detik. Namun alih-alih bertanya, ia justru langsung menerimanya begitu saja. Seolah sudah sangat memahami apa yang sedang dipikirkan pria di sampingnya.

"Kopi biasanya?" tanyanya sambil memegang gagang pintu.

"Iya," jawab Arga singkat.

"Oke..."

Rhea membuka pintu mobil lalu turun. Arga memperhatikannya berjalan melintasi area parkir menuju pintu masuk kafe dari dalam mobil.

Angin sore membuat beberapa helai rambut di sekitar wajah gadis itu bergerak pelan, sementara langkahnya terlihat santai tanpa sedikit pun tanda keberatan harus menempuh perjalanan panjang hingga Jogja.

Tatapan Arga masih mengikuti sosok tersebut sampai akhirnya Rhea menghilang di balik pintu kaca.

Barulah setelah itu ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan mengembuskan napas pelan. Pandangannya tetap tertuju ke arah bangunan kafe di depannya, sementara sudut bibirnya perlahan terangkat tanpa sadar.

Ia sendiri tidak tahu sejak kapan perasaannya menjadi seringan ini.

Biasanya perjalanan menuju Jogja selalu terasa panjang dan melelahkan. Namun kali ini berbeda. Jalan yang sama, tujuan yang sama, bahkan waktu tempuh yang sama entah kenapa terasa jauhh lebih menyenangkan.

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Wawan
Salam kenal untuk Rhea ✍️
Nia Nara
Lanjut thor
Nia Nara
Si dosen panas itu 🤣
Nia Nara
Pak dosen kayaknya uda ada rasa nih.. Gak pernah deh dulu waktu jadi asdos aku diajak makan pak dosen 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!