Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pertemuan singkat itu akhirnya terhenti karena Nila buru-buru menarik Inara menuju area latihan. Ia harus segera bersiap sebelum proses take gilirannya dimulai, sementara Baba juga dipanggil kru untuk melakukan pengambilan adegan. Mau tidak mau, mereka pun berpisah.
Inara berjalan mengikuti Nila menuju lokasi latihan yang tidak terlalu jauh dari set utama. Sesekali ia membantu Nila membaca dialog sambil memperbaiki ekspresi sahabatnya itu saat berakting.
Sementara di sisi lain, Baba sudah duduk di kursi dekat area syuting sambil ditemani Altaf.
Meski tampak fokus memperhatikan jalannya proses take, entah kenapa pandangan Altaf beberapa kali tanpa sadar beralih ke arah Inara yang terlihat sibuk membantu Nila. Wanita itu tampak sederhana, bahkan cenderung pendiam, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang terasa berbeda.
"Dia sudah punya anak…" gumam Altaf pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Namun rupanya Baba yang duduk di sampingnya sempat mendengar ucapan itu.
"Gak apa-apa, Yah," celetuknya santai.
Altaf langsung menoleh. "Apa?"
Baba mengayun-ayunkan kakinya sambil berkata polos, "Kalau Ayah suka sama Tante Inara, Baba setuju kok."
Kening Altaf langsung berkerut. "Kamu ngomong apa sih?"
Baba malah terlihat serius. "Lagian Tante Inara waktu itu cuma bilang punya anak, belum tentu punya suami."
Altaf sampai mengembuskan napas panjang sambil meraup wajahnya frustrasi.
"Astaga, Baba…" gumamnya lelah. "Kamu belajar ngomong begitu dari siapa?"
Baba langsung menunjuk naskah di tangannya dengan wajah polos. "Di skenario ini ada, Yah. Karena Baba harus hafal dialog, jadi Baba belajar dari sini."
Mendengar jawaban itu, Altaf seketika terdiam. Sementara Baba justru kembali menoleh ke arah Inara dengan mata berbinar, seolah sudah membayangkan sesuatu di kepalanya sendiri.
Beberapa waktu berlalu. Setelah membantu Nila latihan cukup lama, Inara pamit sebentar untuk mencari minum. Tenggorokannya terasa kering sejak tadi terus membaca dialog. Tanpa sengaja, saat berada di dekat meja minuman, ia justru berpapasan dengan Altaf yang baru saja mengambil air mineral.
"Pak Al," sapa Inara pelan sambil tersenyum canggung.
"Hm," sahut Altaf singkat sambil menoleh sekilas.
Inara menggenggam gelas plastik di tangannya, tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri bicara lagi. "Pak… untuk kejadian tempo lalu, saya benar-benar minta maaf karena sempat nuduh Bapak maling anak."
Altaf menatap Inara beberapa saat sebelum akhirnya menjawab singkat, "Iya."
Jawaban yang terlalu pendek itu justru membuat Inara semakin salah tingkah. Ia jadi bingung harus merespons apa lagi.
Suasana mendadak canggung.
Altaf yang melihat Inara hanya berdiri diam akhirnya bertanya singkat, "Air?"
"Hah?" Inara terlihat blank beberapa detik sebelum akhirnya tersadar. "Ah… iya. Saya mau ambil air."
Altaf mengangguk kecil lalu sedikit bergeser, mempersilakan Inara mengambil minum lebih dulu. Setelah itu pria tersebut berniat kembali ke lokasi syuting menemani Baba. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba suara langkah kecil terdengar mendekat.
Baba rupanya menyusul mereka. Anak itu langsung menghampiri Inara lalu menarik pelan tangan wanita tersebut tanpa ragu.
"Tante," panggilnya antusias. "Hari ini sibuk gak?"
Inara menatap Baba bingung sekaligus gemas. "Kenapa memangnya?"
"Temenin Baba sama Ayah makan siang ya," ucap Baba to the point dengan mata penuh harap.
Altaf yang tadi sedang minum spontan tersedak mendengar kalimat putranya sendiri.
"Baba…" tegurnya sambil menurunkan botol minumnya.
Namun Baba malah menatap ayahnya santai seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.
Altaf langsung mengembuskan napas pelan sebelum menoleh pada Inara. "Jangan didengerin. Dia memang suka ngomong sembarangan."
Lalu pria itu kembali menatap Baba dengan ekspresi datar. "Tante sibuk," ucapnya tenang. "Sebentar lagi Tante juga harus pulang buat ngurus anaknya."
Mendengar itu, senyum Baba sempat meredup. Namun beberapa detik kemudian, anak kecil itu kembali menatap Inara dengan rasa penasaran yang sama besarnya.
"Tante anaknya cowok apa cewek?" tanyanya polos.
Belum sempat Inara menjawab, Nila yang baru selesai take tiba-tiba muncul dari arah belakang sambil membawa naskah di tangannya.
"Cowok," jawab Nila santai. "Tapi sekarang anaknya lagi bandel dan bikin Tante sedih."
"Nila," tegur Inara cepat sambil melotot kecil.
Namun Nila justru pura-pura tidak melihat protes sahabatnya itu. "Gak apa-apa kok diajak makan siang," lanjutnya enteng. "Siapa tahu mood-nya balik lagi."
Inara langsung memijat pelipisnya pelan. Kadang ia bingung kenapa Nila selalu bisa berbicara seenaknya tanpa merasa canggung sedikit pun.
"Sana aja," sambung Nila lagi sambil melambaikan tangan malas. "Nanti sekalian bungkusin aku kentang sama chicken."
"Nila!" protes Inara makin tidak enak hati.
Namun wanita itu malah menyeringai kecil. Dalam hati Nila justru senang melihat Inara mulai berinteraksi lagi dengan orang lain setelah satu minggu terus murung karena Reno dan Zidan. Kapan lagi sahabatnya itu bisa sedikit melupakan luka di hatinya?
Inara sebenarnya masih ingin menolak, tetapi Baba sudah lebih dulu berseru heboh.
"Yeeey! Ayo Tante!" katanya antusias sambil menggenggam tangan Inara lebih erat. "Baba juga udah selesai take."
Setelah itu anak kecil tersebut langsung menoleh pada Altaf dengan wajah serius. "Ayah jangan nolak."
Altaf mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya Ayah mau nolak?"
"Kalau nolak," ancam Baba polos sambil menunjuk ayahnya, "lihat aja nanti Baba ngambek dan gak mau jadi anak Ayah lagi."
Kalimat spontan itu membuat Nila langsung tertawa lepas. Sementara Inara buru-buru menunduk menyembunyikan tawanya yang hampir lolos.
Di sisi lain, Altaf hanya bisa memejamkan mata singkat sambil mengembuskan napas panjang, seolah sudah terlalu sering dibuat menyerah oleh tingkah putranya sendiri.
Tak lama kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan lokasi syuting. Baba berjalan paling depan dengan wajah antusias, sementara Inara masih sesekali merasa canggung karena harus pergi makan bersama Altaf yang bahkan baru dikenalnya.
Restoran yang mereka datangi ternyata tidak terlalu jauh dari lokasi syuting. Tempatnya cukup tenang dengan nuansa hangat dan tidak terlalu ramai karena sudah lewat jam makan siang.
Begitu duduk, Baba langsung sibuk membuka buku menu sambil menunjuk banyak makanan.
“Ini enak, ini juga enak, terus ini—”
“Perut kamu cuma satu,” potong Altaf datar.
“Tapi Baba lapal.”
“Lapar, bukan lapal,” koreksi Altaf otomatis.
Baba malah terkekeh kecil lalu kembali menoleh pada Inara.
“Tante suka makan apa?”
Inara yang sejak tadi lebih banyak diam tampak sedikit kikuk.
“Apa aja boleh kok.”
“Nah,” celetuk Baba cepat sambil menunjuk menu. “Kalau gitu pesan yang banyak.”
Altaf langsung menutup buku menu milik putranya pelan. “Yang makan siapa, yang semangat siapa.”
“Kan biar Tante senang.”
Kalimat polos itu membuat Inara sedikit terdiam.
Anak kecil itu benar-benar terus berusaha membuat suasana nyaman untuknya, bahkan tanpa sadar. Beberapa menit kemudian pelayan datang mencatat pesanan mereka. Setelah semuanya selesai, suasana meja sempat hening.
Namun, keheningan itu berubah menjadi tegang ketika suara Reno terdengar, "Inara!"