NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:63.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Latisha dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Alderath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tidak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Latisha kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis, “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

## Transformasi di Balik Teralis **Dakrossa**

"Ya ampun, betapa menyedihkan wajah cantikmu sekarang."

**Latisha** hanya diam mendengar komentar **Elea** pada luka memar agak bengkak yang menghiasi wajahnya. Insiden tadi terjadi pada pagi hari, dan ia baru sadar setelah menjelang petang. Sangat menyedihkan memang berakhir demikian, tapi **Latisha** bersyukur masih bisa melihat dunia. Sekarang, ia sudah kembali ke ruang tahanan bersama **Elea** dan **Prayan**, tapi **Latisha** tidak menemukan **Rimona**. Padahal sebelum kesadarannya benar-benar direnggut, ia melihat bagaimana kerasnya **Rimona** menghadapi para perundung itu demi membelanya.

"Kak **Rimona**..." **Latisha** berkata pelan. Kerongkongannya terasa nyeri seperti luka pada sudut bibir sehingga berbicara terasa sulit.

"Ah, dia," **Elea** mengusap tengkuk agak canggung.

"Mungkin berada di lantai tujuh. Menjalani masa hukuman selama dua atau tiga hari karena membuat sedikit masalah," jawab **Prayan**.

**Latisha** menunduk seiring sepasang tangan bertaut gelisah. "Maaf."

**Elea** mengembuskan napas. "Untuk apa minta maaf? Kamu malah membuatnya jadi sangat menyedihkan."

"Gara-gara aku kalian..."

*Hah...* **Prayan** mengembuskan napas. Sebenarnya ini bukan kali pertama **Rimona** membuat masalah. Justru saat menjadi tahanan baru, **Elea** dan **Rimona** langsung terjerumus dalam masalah karena tahanan lama berusaha merundung sehingga terlibat perkelahian. Pada minggu pertama, dua orang itu langsung mengisi sel khusus di lantai tujuh untuk perenungan. Seharusnya, tahanan tingkat menengah tahu hal itu. Atas dasar apa **Agniya** berani mengambil risiko mengganggu **Latisha** yang merupakan teman sekamar mereka?

"Ini bukanlah istana di mana kamu bisa berkeliaran dengan kemewahan dan kepatuhan semua orang. **Dakrossa** adalah sarang makhluk buas karena yang lemah akan dimangsa atau diperdaya oleh yang kuat. Kali ini kamu selamat, tapi bagaimana ke depannya? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi."

**Latisha** meremas sepasang tangan. "Aku tidak memiliki fisik kuat atau bakat bertarung. Aku hidup dengan tenang tanpa mengusik orang di balik setumpuk buku. Aku... selalu dimangsa."

"Kamu tahu tentang anak bunglon?"

"Anak bunglon?" **Latisha** menggeleng pelan. Ia pernah melihat bunglon, tapi belum pernah mendapati versi bayinya.

Sebagai seorang *Warden*, **Prayan** cukup paham tentang zoologi; ia mempelajarinya lewat buku-buku atau mengamati secara langsung. Lantas ia menunjukkan ujung jari telunjuk untuk memberitahu ukuran bayi bunglon. "Ketika lahir, ia sangat kecil, bisa berbaring di ujung jariku. Tingkat kematian bayi bunglon sangat tinggi di alam liar karena ia begitu kecil dan tampak sangat rapuh."

**Latisha** mendengar seksama, dan **Prayan** mengulas senyum melihat betapa seriusnya gadis itu menyimak penjelasannya. Padahal hal semacam ini sungguh terdengar membosankan—itu terbukti dari **Elea** yang mendengkus sambil merotasikan bola mata. Yah, sebelum masuk **Dakrossa** pun, orang-orang tidak terlalu tertarik dengan pembahasannya.

"Akan tetapi, setelah bertumbuh dewasa... ia akan belajar berburu serangga yang lebih besar. Karena sudah terbiasa menghadapi marabahaya demi bertahan hidup, ia menjadi predator kecil yang patut diwaspadai."

Sepasang mata **Latisha** agak bergetar. Ia berhasil menangkap maksud dari pembahasan tersebut, namun binar di matanya perlahan meredup. Apakah bisa ia yang terbiasa bersembunyi di balik ayahnya merangkak keluar untuk menghadapi semua marabahaya? Kalau bukan karena ketiga wanita itu, hari ini menjadi hari kematiannya.

"Dari mangsa menjadi pemangsa. Itu semua tergantung tekad dan usahamu," lanjut **Prayan** diakhiri senyum penuh makna.

"Tapi apa aku bisa?" gumam **Latisha**.

**Elea** dan **Prayan** mengembuskan napas. Bocah di hadapan mereka ini terlalu meremehkan diri sendiri dan tidak punya motivasi.

"Teruslah bersikap menyebalkan dan menyedihkan seperti sekarang sampai kamu mati dengan sia-sia di sini. Apa kamu tidak mau kembali dan melihat ayahmu? Kudengar dia belum sadar hingga sekarang."

Sepasang mata **Latisha** melotot, dadanya berdenyut pedih sementara **Elea** terus mengoceh dengan nada tidak bersahabat seiring raut wajahnya menjadi berang. "Kamu bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Bersembunyi tanpa mencoba apa pun. Jika terus begini, kamu benar-benar menjadi sangat tidak berguna bahkan untuk hidupmu sendiri!"

*Ah...* **Prayan** menatap **Elea** dengan bingung. Tidak pernah ia melihat wanita satu itu seemosi ini, ditambah ketika melempar pandang ke **Latisha**, gadis itu mulai bercucuran air mata.

"Aku juga tidak ingin seperti ini, tapi dari mana aku harus memulai? Aku tidak tahu."

Alih-alih marah akan perkataan menyakitkan **Elea**, **Latisha** malah menatap dua wanita itu dengan mata berkaca-kaca penuh harap. Bibirnya mengerut demi meredam suara tangis sementara pangkal hidungnya sudah sangat merah seiring lendir meleleh dari lubang hidung.

*Hah...* **Prayan** mengembuskan napas dan hendak berkata agar **Latisha** beristirahat dulu, tapi **Elea** menyela sembari menyeringai. "Kami akan membantumu."

"Membantuku?"

"H-hei, apa yang coba kamu lakukan?" **Prayan** meremas bahu kiri **Elea**.

**Elea** mendelik lebar pada **Prayan** bersama seringai lebar tercetak pada bibirnya. Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan sesuatu dari balik saku: sejumlah jarum akupuntur.

"Anggap saja ini sebagai pengobatan ringan agar kamu cepat pulih, *khekhekhe*..." kata **Elea** sampai membuat sekujur tubuh **Latisha** meremang.

Sedangkan itu, di lantai empat, di mana tahanan kelas menengah berada, **Agniya** meraung karena sekujur tubuh dan wajahnya terasa sakit akibat pukulan **Rimona**.

"Bocah itu! Aku harus membunuhnya!" **Agniya** meraung sambil berbaring di ruangannya.

"Bukankah kita harus memulihkan diri dulu?"

Teman sekamar **Agniya** yang ikut terlibat dalam perundungan menyahut. Mereka terbaring kaku oleh rasa sakit.

"Ya, kamu benar."

**Agniya** mendesah kasar lalu mengingat kunjungan minggu lalu yang datang padanya. Seorang perwakilan datang dan menawarkan hadiah besar jika ia berhasil menyiksa **Latisha** untuk waktu lama sampai gadis itu menyerah dan memilih mengakhiri hidup. Bibir **Agniya** bergetar riang setiap kali mengingat hadiah yang akan didapatkan, yakni kebebasan. Setidaknya, ia harus berusaha membunuh **Latisha**, tidak peduli jika setelahnya kembali babak belur karena pada akhirnya ia akan menghirup udara segar di luar **Dakrossa**.

Masa hukuman **Rimona** telah usai setelah tiga hari berlalu. Hari ini, ia kembali ke ruang tahanannya dan cukup terkejut mendapati **Latisha** tidur tengkurap dengan wajah pucat pasi dan kantung mata cukup besar dihias lingkar hitam kentara. Nyawanya seolah sudah di ujung tanduk.

"Apa yang terjadi?" tanya **Rimona**.

**Prayan** yang tengah membaca buku mengembuskan napas sambil melirik **Elea** yang tampak puas dengan sejumlah jarum akupuntur tersebar di atas kain kecil. Entah sejak kapan **Elea** punya benda-benda semacam itu, tapi yang jelas akupuntur bukan satu-satunya media eksperimen yang dimiliki.

*Dasar Alkemis gila!* batin **Prayan**.

"Anak ini benar-benar sesuatu, **Rimona**!" **Elea** menghampiri **Rimona**, meremas bahu wanita penyihir itu sambil berkata amat pelan dan penuh penekanan.

"Apa maksudmu?" **Rimona** menelengkan kepala untuk melihat lebih jelas kondisi **Latisha** yang tampak menyedihkan. Entah apa yang telah dilakukan **Elea**.

"Kamu tahu tentang *ener*, kan?"

*Ener* adalah energi spiritual dalam tubuh makhluk hidup yang dapat diolah serta diubah menjadi sebuah kekuatan. *Ener* ini berada pada inti *core* spiritual yang tersembunyi dalam tubuh manusia, memungkinkan pemiliknya mampu menggunakan kekuatan supranatural, namun tidak semua orang memilikinya. Inti *core* dari *ener* dideskripsikan seperti sebuah kristal kecil bercahaya samar seukuran kelereng dan biasanya terletak di antara tiga bagian dalam tubuh manusia, yakni perut, dada, dan dahi. Hanya segelintir manusia yang memiliki *ener* karena biasanya berasal dari garis keturunan tertentu atau orang yang telah mengalami peristiwa besar semacam penyintas.

"Bocah ini memilikinya dan kurasa inti *ener*-nya sedikit berbeda!" **Elea** tampak sangat bersemangat setelah memeriksa aliran energi pada tubuh **Latisha** menggunakan akupuntur. "Aku membuka beberapa aliran energi di tubuhnya untuk memperkuat sistem tubuh dan proses pemulihan yang cepat, tapi ternyata anak ini punya sesuatu yang mengerikan. Aku bisa merasakannya dari ujung jariku ketika menyentuh akupuntur. Jika kamu tidak percaya, lihatlah hasilnya. Dia sembuh lebih cepat dari perkiraanku."

**Rimona** merinding melihat betapa bergairahnya **Elea** ketika memberitahu itu, tapi apa katanya? Sembuh lebih cepat? Dilihat dari sisi manapun, **Latisha** tampak menderita. "Tapi dia terlihat masih menyedihkan," komentar **Rimona**.

"Ah, itu..." **Elea** mengusap tengkuk canggung kemudian mendekatkan bibir pada daun telinga **Rimona** seraya berbisik, "Sebenarnya aku terlalu bersemangat, jadi setelah dia sembuh, aku mencoba membuatnya kebal terhadap racun dan sangat mengejutkan dia bertahan."

"Dasar Alkemis gila!" **Rimona** berseru sambil meninju lengan **Elea**.

Sementara, **Latisha** yang merasa kelopak mata semakin berat karena lelah kini tersenyum tipis. "Syukurlah Kak **Rimona** sudah kembali."

1
Ade _ Lagi off 🍇 🌪
Hapus...ka maluuu dah plagiat karya orang
Ade _ Lagi off 🍇 🌪
ooooyyy kaka plagiat dikit-dikit dalem nya di ganti biar ga ketauan nyolong karya orang ya
Black Swan
🤣🤣🤣🤣mau nyolong novel dari aplikasi mana juga di simpen di sini ketauan. karena di sini banyak penulis yang nulis di aplikasi lain jadi mereka tahu novel asli atau palsu. ati2 aja nanti makin banyak kena imbasnya
Anna Rose
Sumpah semirip itu karyanya. Plagiat mentok
wfaa
tolong di hapus kak
wfaa
hapus kakk
wfaa
mending hapus aja deh ni cerita
wfaa
hadehhhh walaupun nama MC nya di ganti tapi alurnya tetep sama
wfaa
plagiat
tolong hapus ceritanya
jangan jadi orang gak tau malu ya kak kalo m
kamu sendiri baca karya kak fantariyah tapi tapi kamu malah copas
terinspirasi boleh tapi jangan plek ketiplek banget dong.
wfaa
ayo dong kakak di hapus
wfaa
adoyyy GK tau maluuuuu banget kakakkakakk ini langsung ganti nama karakter nya. tapi dakrosaa nya masih ada lohhh.
bukti nya udah ada Kaka
author aslinya udah laporin loh kakkkk
hayoloh
mending di hapus aja kakak
jangan jadi orang batu kalo di bilangin
ntar di viralin lohhh ini
wfaa
Jangan jadi orang gak punya adap dan sopan s. kakak baca kan ceritaantun ya kak aslinya? kok tega banget plagiat
Anila Swastika: bantu report
total 1 replies
wfaa
ayooo dong kak di hapus ceritanya
wfaa
gak tau malu banget hasil copas punya orang plek ketiplek banget lagi
wfaa
hey ayo dong di hapus ceritanya
Ivd D
wow keren bgt novel hasil nyuri dari author aslinya Fantariyah di app sebelah , malah ketemu di Noveltoon wkwk . buru2 diganti pula nama FL nya . manusia ga ada adab nyolong hasil karya orang lain !!! 🤣🤣🤣
Richa Jessica: ahahaha lawak kali si plagiat yang satu ini,, bukannya sadar diri malah buru" ganti nama karakter 🤣🤣
total 1 replies
SAN
novel hasil nyolong!
nama tokohnya langsung diganti wkwk..
panik ya ketauan ambil cerita orang??
kalau ga sanggup nulis, ga punya ide, mending ga usah nulis kalau nyolong novel orang. malu-maluin aja😄
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: sinopsisnya udah diganti sama dia 🤣🤣
total 3 replies
SAN
Novel plagiat! maling nih, suka nyomot karya orang~
Richa Jessica: mana cuma tinggal ganti nama lagi 🤣
total 1 replies
dewi susilowati
kenapa namanya di ganti" jdi bingung tdi di bab sblumnya bhaskara adlh pngeran kedua skrng kenapa jdi tokoh jahat ,,
SAN: ketauan plagiat makanya diganti:v
total 1 replies
wfaa
duh berani banget plagiat punya orang kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!