NovelToon NovelToon
ARCHEON : THE LAST SIGIL

ARCHEON : THE LAST SIGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kenken77

Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

​Dunia Archeon kini menyerupai bola obsidian yang retak. Dari kejauhan kosmos, planet itu tidak lagi memantulkan cahaya bintang, ia hanya tampak seperti lubang di kain alam semesta. Namun, di antara kegelapan absolut itu, masih ada satu permata yang bersinar redup di puncak tertinggi dunia: Celestia, Benua Langit yang melayang di atas lapisan awan terdalam.

​Celestia bukan sekadar daratan. Ia adalah kumpulan pulau-pulau terapung yang diikat oleh rantai mana emas murni. Di sinilah tempat di mana udara selalu terasa seperti wangi melati dan matahari—yang kini telah padam di bumi—sebenarnya masih "disimpan" dalam bentuk esensi di dalam Katedral Aether.

​Bagi Kael Ravenhart, Celestia adalah penghinaan terakhir. Selama dunia di bawah membeku dan menderita, para elit surgawi ini duduk di atas awan, memeluk sisa-sisa cahaya untuk diri mereka sendiri.

​Lautan awan di bawah Celestia, yang biasanya berwarna putih bersih, mulai bergejolak. Sesuatu yang hitam, kental, dan dingin merayap naik dari bawah, menentang hukum gravitasi. Itu bukan asap, melainkan armada bayangan Kael yang mendaki langit.

​Kapal-kapal perang Void, yang kini telah berevolusi menjadi monster-monster mekanis dengan tentakel bayangan, menembus lapisan awan. Ribuan Void Walkers melayang di sekeliling kapal, sayap-sayap mereka yang terbuat dari energi hitam meninggalkan jejak korosi di udara suci Celestia.

​Di anjungan kapal utama, Kael berdiri tegak. Penampilannya kini benar-benar melampaui batas kemanusiaan. Kulitnya yang seputih porselen kini memiliki retakan-retakan kecil yang memancarkan cahaya ungu tua, seolah-olah tubuh fisiknya tidak lagi mampu menampung kepadatan kehampaan di dalamnya.

​"Aktifkan Aegis of the Seven Stars!" perintah seorang High Priest dari menara pengawas Celestia.

​Tujuh pilar cahaya raksasa meluncur dari pulau-pulau utama, membentuk jaring energi geometris yang menutupi seluruh benua langit. Ini adalah pertahanan terkuat yang pernah diciptakan oleh ras manusia dan malaikat, sebuah perisai yang diklaim tidak bisa ditembus bahkan oleh naga kuno sekalipun.

​Kael menatap jaring cahaya itu dengan tatapan datar. "Terlalu terang," bisiknya.

​Ia mengangkat tangan kirinya. Sigil garis keenam itu berputar dengan kecepatan yang menciptakan suara dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga.

​"VOID ARTILLERY: CRUSHING DARKNESS."

​Bukannya menembakkan laser atau ledakan, Kael justru menciptakan titik-titik gravitasi ekstrem tepat di atas pilar-pilar cahaya tersebut. Ruang di sekitar perisai itu mulai melengkung. Cahaya emas yang seharusnya memantulkan serangan justru ditarik masuk ke dalam titik-titik hitam tersebut, memelintir struktur sihirnya hingga pecah berkeping-keping seperti kaca yang dihantam palu baja.

​PRANG!

​Suara pecahnya perisai itu terdengar hingga ke ujung dunia. Pecahan energi suci jatuh ke bumi seperti hujan meteor emas, namun sebelum sempat menyentuh tanah, mereka padam ditelan oleh kegelapan yang menyertai armada Kael.

​Pasukan Void mendarat di pulau utama, Elysium. Di sini, rumput terbuat dari serat perak dan air mengalir dalam bentuk merkuri cair yang jernih. Para ksatria langit, yang dikenal sebagai Valkyries dan Paladins of the Sun, menyambut mereka dengan pedang yang menyala.

​Pertempuran itu adalah benturan antara dua ekstrem. Cahaya putih yang menyilaukan beradu dengan hitam yang mutlak. Namun, ada perbedaan mendasar, setiap kali seorang ksatria langit terluka, mana mereka tidak terbuang, melainkan langsung dihisap oleh tanah yang kini telah terkontaminasi oleh kehadiran Kael. Sebaliknya, prajurit Void Kael tidak bisa mati, setiap kali tubuh kabut mereka terbelah, mereka hanya menyatu kembali dalam hitungan detik.

​Kael berjalan melewati medan perang tanpa menghunus senjata. Setiap langkahnya membuat taman firdaus itu layu. Bunga-bunga perak menghitam, dan merkuri cair di sungai-sungai berubah menjadi lumpur busuk.

​"Kael Ravenhart!"

​Sebuah suara yang kuat dan akrab menghentikan langkahnya. Di depan gerbang Katedral Aether, berdiri Liora Ashveil. Namun, Liora yang sekarang berbeda. Ia mengenakan zirah perak yang memancarkan aura dingin namun suci. Di tangannya terdapat sebuah busur yang tidak terbuat dari kristal, melainkan dari cahaya bintang murni.

​Di sampingnya berdiri seorang pria tua dengan jubah putih yang sangat panjang—Archbishop Metatron, pemimpin tertinggi Celestia.

​"Berhenti, wahai pembawa kiamat," ucap Metatron, suaranya bergetar dengan otoritas kuno. "Kau telah melahap bumi, namun langit ini adalah wilayah yang dilarang bagi kegelapanmu. Di dalam katedral ini tersimpan Seed of Light, satu-satunya hal yang bisa mengembalikan keseimbangan Archeon. Jika kau menyentuhnya, kau akan hancur oleh kemurniannya."

​Kael menatap pria tua itu, lalu beralih ke Liora. "Kau masih percaya pada mereka, Liora? Mereka yang membiarkan dunia di bawah mati membeku hanya agar mereka bisa memiliki taman yang indah di sini?"

​Liora mengangkat busurnya, membidik tepat ke arah jantung Kael. "Aku tidak membela mereka, Kael. Aku membela apa yang tersisa dari dunia kita. Jika kau mengambil Seed of Light, tidak akan ada lagi jalan kembali. Kau tidak akan menjadi kaisar, kau hanya akan menjadi penguasa di atas kuburan yang sunyi."

​"Mungkin itu memang tujuanku," jawab Kael.

​Liora melepaskan anak panahnya. "STARFALL PUNISHMENT!"

​Anak panah itu pecah menjadi ribuan titik cahaya di udara, meluncur turun seperti hujan bintang yang menargetkan setiap atom kegelapan di tubuh Kael. Serangan ini bukan sihir biasa; ini adalah sihir tingkat Dewa yang mampu menghapus eksistensi makhluk jahat.

​Kael tidak menghindar. Ia hanya mengepalkan tangannya di udara.

​"VOID DOMAIN: ABSOLUTE ZERO."

​Seketika, semua pergerakan di sekitar Kael berhenti. Hujan bintang itu membeku di tengah udara, kehilangan momentum dan cahayanya. Kael berjalan di antara anak-anak panah yang membeku tersebut, mendekati Liora dengan kecepatan yang melampaui persepsi mata.

​Liora menarik tali busurnya lagi, namun Kael sudah berada di depannya, menggenggam busur tersebut dengan tangan kirinya. Sigil Void bersentuhan dengan busur bintang. Suara desisan keras terdengar saat cahaya dan kegelapan saling memakan.

​"Kau terlalu lemah, Liora," bisik Kael. "Cahayamu hanyalah pinjaman dari mereka. Sedangkan kegelapanku... adalah milikku sendiri."

​Kael meremas busur itu hingga hancur. Liora terlempar ke belakang, namun Metatron maju, merapal mantra perlindungan yang membentuk dinding raksasa dari tulisan-tulisan suci emas.

​"Enyahlah, Iblis!" Metatron mengangkat tongkatnya. "HEAVENLY JUDGMENT!"

​Sebuah pilar cahaya raksasa turun langsung dari Alam Astral, menembus atap katedral dan menghantam Kael. Tekanan energinya begitu besar hingga pulau Elysium mulai retak dan turun beberapa meter dari posisinya. Asap putih menutupi segalanya.

​Namun, saat asap itu menipis, Kael masih berdiri di sana. Jubah bayangannya hancur, menampakkan tubuhnya yang kini dipenuhi oleh pola sigil yang bercahaya ungu terang. Dan yang lebih mengerikan, Kael sedang menghisap pilar cahaya itu. Ia membuka mulutnya sedikit, dan energi surgawi itu mengalir masuk ke dalam dirinya seperti air ke dalam pusaran air.

​"Lezat," ucap Kael, matanya kini memancarkan kegilaan yang tenang.

​Metatron jatuh berlutut, wajahnya memucat. "Bagaimana mungkin... kau melahap cahaya murni tanpa meledak?"

​Kael tidak menjawab. Ia merasakan garis keenam di tangannya berdenyut dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Ini adalah batasnya. Untuk melangkah lebih jauh, ia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar mana. Ia membutuhkan katalis emosional yang disebutkan oleh Umbra.

​Kael menatap Liora yang tergeletak lemah di reruntuhan. Ia mendekati gadis itu, mengangkatnya dengan satu tangan di lehernya.

​"Kael... jangan..." rintih Liora, air mata jatuh ke tangan Kael yang dingin.

​"Sekarang, Kael!" Umbra berteriak di dalam kepalanya. "Hancurkan harapannya! Bunuh dia, dan keputusasaannya yang murni akan membuka gerbang menuju kedewaan! Garis ketujuh menantimu!"

​Tangan Kael gemetar. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, di balik lapisan-lapisan kedinginan Void, sisa-sisa Kael dari Eldravale meronta. Ia teringat janji mereka untuk saling melindungi. Namun, dominasi Sigil Void terlalu kuat. Sigil itu lapar. Ia ingin menjadi sempurna.

​Kael menatap mata Liora. Ia melihat bayangan dirinya sendiri di mata gadis itu—seorang monster. Dan pada saat itu, Kael menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kematian. Liora tidak takut padanya. Liora merasa kasihan padanya.

​"Aku mencintaimu, Kael... bahkan jika kau adalah kehampaan itu sendiri," bisik Liora.

​Seketika, dunia seolah berhenti berputar bagi Kael. Bukan karena sihirnya, tapi karena guncangan emosional. Kasih sayang Liora di tengah kehancuran total adalah bentuk keputusasaan yang paling murni—keputusasaan seorang pecinta yang melihat kekasihnya menjadi iblis.

​CRAAAKKKK!

​Sebuah suara robekan terdengar, bukan dari ruang di sekeliling mereka, melainkan dari kulit tangan Kael. Garis ketujuh mulai terukir. Namun, warnanya bukan hitam atau ungu. Warnanya adalah Putih Transparan.

​Garis itu melintang di tengah-tengah enam garis lainnya, membentuk simbol keseimbangan yang mustahil.

​Garis Ketujuh: VOID GENESIS.

​Kekuatan yang meledak dari tubuh Kael kali ini tidak menghancurkan. Energi itu menyapu seluruh Celestia, mengembalikan warna pada bunga yang layu, memurnikan merkuri kembali menjadi air, dan menyembuhkan luka-luka para prajurit di kedua belah pihak.

​Kael melepaskan Liora. Ia menatap tangannya dengan kebingungan. "Apa ini...?"

​Metatron menatap Kael dengan horor yang baru. "Garis ketujuh... itu bukan kekuatan untuk menghancurkan. Itu adalah kekuatan untuk Mencipta Kembali. Kau telah mencapai tahap di mana kau bisa membentuk ulang realitas sesuai kehendakmu."

​Kael merasakan seluruh pengetahuan alam semesta mengalir ke dalam otaknya. Ia bisa melihat masa lalu Archeon, ia bisa melihat benih-benih keserakahan yang menciptakan Sigil, dan ia bisa melihat masa depan di mana dunia ini akan hancur jika ia terus menjadi kaisar kegelapan.

​Namun, di dalam bayangannya, Umbra meraung marah. "TIDAK! KAU SEHARUSNYA MENGHANCURKAN MEREKA! KAU ADALAH PENGHANCUR, BUKAN PENCIPTA!"

​Kael mencengkeram bayangannya sendiri, menarik Umbra keluar dari tubuhnya secara fisik. Umbra mewujud sebagai entitas hitam tanpa wajah yang identik dengan Kael.

​"Aku bukan lagi wadahmu, Umbra," ucap Kael dengan suara yang kini terdengar sangat manusiawi namun penuh otoritas. "Aku adalah penguasa dari kehampaan dan cahaya. Dan aku memutuskan... bahwa malam ini telah berakhir."

​Kael mengangkat tangannya ke arah langit Celestia yang hitam.

​"VOID GENESIS: REBIRTH OF THE SUN."

​Dari telapak tangan Kael, sebuah titik cahaya putih kecil muncul. Titik itu tumbuh dengan cepat, melahap kegelapan di sekelilingnya, dan naik tinggi ke angkasa. Cahaya itu bukan berasal dari Inti Surya yang lama, melainkan dari esensi jiwa Kael dan Liora yang menyatu melalui Garis Ketujuh.

​Seketika, matahari baru lahir. Cahayanya menyapu seluruh benua Archeon, mencairkan es di bumi bawah, dan memberikan hangat bagi jutaan orang yang selama ini hidup dalam ketakutan.

​Matahari telah kembali, namun harga yang harus dibayar sangatlah besar.

​Pulau Elysium mulai bergetar. Dengan lahirnya matahari baru, mana yang menopang Celestia di langit mulai tidak stabil. Benua langit itu mulai turun secara perlahan menuju bumi, menyatu kembali dengan daratan yang selama ini mereka tinggalkan.

​Kael berlutut di tanah, napasnya tersengal. Garis ketujuh di tangannya mulai memudar, membawa serta sebagian besar kekuatannya. Tubuhnya yang tadinya abadi kini kembali merasakan rasa sakit, kelelahan, dan... detak jantung.

​Liora mendekatinya, memeluk tubuh Kael yang kini tampak sangat rapuh. "Kau melakukannya, Kael. Kau mengembalikan dunia."

​Kael tersenyum tipis, sebuah senyuman asli yang pertama kali muncul setelah bertahun-tahun. "Dunia ini tidak butuh kaisar, Liora. Dunia ini hanya butuh... hari esok."

​Archbishop Metatron dan para ksatria langit hanya bisa berdiri diam. Mereka telah kehilangan keilahian mereka, kehilangan status mereka sebagai penguasa langit. Kini, mereka hanyalah manusia biasa di atas tanah yang baru.

​Namun, di kejauhan, di antara puing-puing Katedral Aether, bayangan Umbra yang telah dipisahkan dari Kael belum sepenuhnya lenyap. Ia merayap masuk ke dalam celah-celah bumi, membisikkan janji balas dendam.

​Perang besar mungkin telah berakhir dengan kembalinya matahari. Namun, Kael Ravenhart tahu bahwa dengan kekuatan Pencipta yang baru saja ia cicipi, tanggung jawabnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi Kaisar Kehampaan yang ditakuti, melainkan Penjaga Keseimbangan yang harus hidup di antara cahaya dan bayangan.

​"Mari kita pulang," bisik Liora.

​"Pulau ini sedang jatuh, Liora," ucap Kael sambil tertawa kecil. "Kita sudah di rumah."

​Matahari baru terus bersinar, menyinari dunia Archeon yang kini memulai babak barunya. Sebuah dunia tanpa kasta cahaya atau kegelapan, melainkan dunia yang dibangun di atas reruntuhan masa lalu yang dingin. Dan di sana, di tengah tanah yang mulai menghijau kembali, Kael Ravenhart akhirnya bisa memejamkan matanya dan tidur tanpa ada lagi suara ribuan jiwa di kepalanya.

1
Prety Chiky
semangat terus tor
Ivah Maria ulpah
Mc yg jdi villain hhmmm boleh juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!