Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.
Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.
Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sinar matahari pagi menembus celah jendela rumah petak yang kusam, namun suasana hati di dalamnya jauh dari kata suram.
Diandra terbangun dengan presisi seorang CEO yang sudah terbiasa dengan jadwal ketat. Tidak ada lagi keraguan.
Ia melangkah ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang seolah membilas sisa-sisa trauma Gia.
Ia menatap seragam SMA yang sudah disetrika rapi.
Dengan gerakan cekatan, ia mengenakannya. Rambut bob barunya membingkai wajahnya dengan tajam, memberikan kesan modern dan tangguh.
"Gia mungkin pecundang, tapi hari ini, kalian akan berhadapan dengan Diandra," bisiknya pada pantulan cermin.
Ia tidak sabar memberikan kejutan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Ferdian dan para perundung lainnya.
Sementara itu, di SMA Harapan Bangsa, suasana begitu hening.
Sebuah panggung kecil didirikan di tengah lapangan.
Di tengahnya, terdapat foto Gia yang berbingkai pita hitam, dikelilingi bunga duka cita.
Suara deru mobil mewah memecah keheningan. Sebuah sedan hitam mengkilap berhenti tepat di depan gerbang. Pratama turun dengan setelan jas gelap, auranya yang dingin dan mendominasi membuat para guru segera berlarian menyambutnya.
"Selamat datang, Pak Pratama. Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah masa sulit Ibu Diandra," ucap Kepala Sekolah dengan nada rendah penuh hormat.
Pratama tidak menjawab. Matanya yang tajam terpaku pada foto gadis remaja di atas podium.
Ada sesuatu yang mengusik batinnya saat menatap mata gadis di foto itu—sebuah kesedihan yang entah mengapa terasa begitu dekat dengan jiwanya.
Acara doa bersama dimulai. Ferdian melangkah ke depan mikrofon dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
Ia memegang secarik kertas, bersiap membacakan pidato perpisahan yang penuh kebohongan.
"Gia adalah teman yang baik. Kami semua sangat kehilangan..." Suara Ferdian bergetar, akting yang sempurna untuk menipu seluruh sekolah.
"Kenapa kalian begitu tidak sabar menungguku?"
Suara lantang itu memotong pidato Ferdian seperti sabetan pedang.
Seluruh pasang mata menoleh ke arah koridor utama.
Di sana, sosok yang seharusnya sudah menjadi mayat berjalan dengan langkah penuh percaya diri.
Dagu terangkat, punggung tegak, dan tatapan mata yang berkilat tajam.
"G-Gia?!" Ferdian terbata, mikrofon di tangannya mengeluarkan bunyi denging yang memekakkan telinga.
Para siswa berteriak histeris, beberapa guru hampir pingsan karena mengira mereka melihat hantu.
Diandra mengabaikan kerumunan itu. Matanya terkunci pada sosok pria yang berdiri di barisan depan..
Tanpa memedulikan tatapan ngeri orang-orang, Diandra berlari kecil dan langsung menghambur ke pelukan Pratama.
Ia mendekap pria itu dengan erat, menghirup aroma parfum maskulin yang sangat ia rindukan.
"Mas, ini aku. Aku kembali," bisik Diandra dengan suara yang bergetar karena emosi.
Pratama mematung. Secara logika, ini adalah gadis asing, seorang siswi SMA yang tidak ia kenal. Namun, saat tubuh mungil itu memeluknya, Pratama merasakan detakan jantung yang sangat hebat.
Frekuensi ini, kehangatan ini, dan cara gadis itu memanggilnya.
Semuanya terasa sangat identik dengan istrinya yang sedang koma.
"Gia! Apa-apaan kamu! Kamu sudah gila?!"
Ferdian yang mulai sadar dari keterkejutannya segera berlari maju.
Ia merasa terancam. Jika Gia hidup, maka rahasianya terancam.
Ferdian mencengkeram tangan Diandra dengan kasar, mencoba menariknya menjauh dari Pratama.
"Maaf, Pak Pratama, anak ini sepertinya mengalami gangguan jiwa setelah kecelakaan itu. Biar saya bawa dia—"
PLAK!
Diandra melepaskan tangan Ferdian dengan sentakan kuat dan menepisnya dengan gerakan teknis yang sangat efisien.
Ia menatap Ferdian dengan tatapan yang begitu dingin hingga pemuda itu mundur selangkah.
"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu, Ferdian," desis Diandra.
Suaranya tidak lagi terdengar seperti gadis remaja yang ketakutan, melainkan seperti seorang penguasa yang siap menghancurkan musuhnya.
Ia kembali menoleh ke arah Pratama yang masih terpaku.
Pagi yang seharusnya menjadi upacara duka itu berubah menjadi kekacauan total. Diandra, dalam raga Gia, berdiri tegak di tengah lapangan dengan sisa kehangatan pelukan Pratama yang masih membekas di lengannya. Namun, reaksi pria itu tidak sesuai dengan harapannya.
Pratama melepaskan cengkeraman tangan Diandra perlahan.
Matanya menyiratkan kebingungan yang mendalam, campur aduk antara amarah karena merasa dipermainkan dan rasa sesak yang tak bisa dijelaskan.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Pratama berbalik. Langkah kakinya lebar dan terburu-buru menuju mobil sedan hitamnya.
"Mas! Mas Pratama, tunggu! Ini aku!" teriak Diandra, mencoba mengejar. Suaranya yang melengking khas remaja pecah di tengah kerumunan.
Pratama tidak menghiraukan teriakan itu. Pintu mobil tertutup dengan dentuman keras, dan dalam hitungan detik, kendaraan mewah itu melesat meninggalkan gerbang sekolah, meninggalkan debu yang berterbangan di hadapan Diandra.
"GIA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!"
Suara melengking Kepala Sekolah menggelegar, memecah kebisuan siswa lainnya.
Dalam sekejap, Diandra dikerumuni oleh para guru dengan wajah merah padam.
"Apa ini lelucon? Kamu pura-pura mati, lalu datang ke sini dan berbuat tidak sopan pada donatur terbesar kita?!" bentak Pak guru olahraga sambil menunjuk-nunjuk wajah Diandra.
"Kamu tahu betapa malunya pihak sekolah? Pak Pratama bisa mencabut seluruh beasiswa dan bantuan bangunan karena ulah gila kamu ini!" timpal guru yang lain.
Ferdian, yang tadi sempat ketakutan, kini mulai menemukan celah.
Ia berdiri di belakang barisan guru dengan seringai tipis.
"Sangat memalukan. Gia, kalau kamu mau cari perhatian, jangan bawa-bawa orang penting seperti Pak Pratama. Kamu benar-benar sudah tidak punya urat malu ya?"
Diandra hanya diam. Ia menggelengkan kepalanya perlahan sambil menatap satu per satu wajah orang dewasa di depannya.
Matanya yang tajam menyisir seisi sekolah—dari bangunan mewah yang didanai oleh perusahaannya sendiri, hingga para guru yang lebih peduli pada uang donasi daripada fakta bahwa seorang siswinya hampir tewas dibunuh.
"Sekolah ini benar-benar tidak beres," gumam Diandra rendah.
"Apa kamu bilang?!" Kepala Sekolah mendekat, napasnya memburu.
Diandra menatap langsung ke mata pria tua itu, membuat sang Kepala Sekolah tertegun sejenak karena wibawa yang tidak seharusnya dimiliki seorang siswi SMA.
"Kalian tidak bertanya bagaimana aku bisa selamat? Kalian tidak bertanya siapa yang mendorongku ke sungai?" tanya Diandra dengan nada dingin yang menusuk.
"Kalian lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan nyawa seorang murid."
Ia melirik ke arah Ferdian dan Kinanti yang berdiri tak jauh dari sana.
"Upacara kematiannya batal. Karena mulai hari ini, aku yang akan menjadi mimpi buruk kalian semua."
Diandra berbalik, berjalan melewati kerumunan guru yang masih terpaku.
Ia harus mencari cara lain untuk mendekati Pratama.
Jika kata-kata tidak bisa menembus logika suaminya, maka ia akan menggunakan strategi bisnis yang biasa ia gunakan: menunjukkan bukti yang tidak bisa dibantah.
Diandra melangkah keluar dari lapangan, namun di kepalanya, sebuah rencana besar sudah tersusun rapi.
Ia tidak butuh belas kasihan guru-guru ini. Ia hanya butuh akses kembali ke kekuasaannya.
"Mas, aku akan membuktikannya padamu. Tapi, sekarang, biarkan aku menyelesaikan urusan dengan sampah-sampah ini."
Diandra melangkah masuk ke dalam kelas 12-A dengan langkah yang tenang.
Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak senyap, seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja dihisap keluar.
Semua mata tertuju pada sosok "Gia" yang baru saja mereka anggap mayat.
Langkah Diandra terhenti di depan barisan bangku paling belakang.
Ia melihat bangkunya sudah tidak ada—dibuang ke tumpukan sampah di belakang kelas sebagai bentuk "penghormatan" terakhir yang kejam.
Di atas bangku di sebelahnya, tas bermerk milik Kinanti diletakkan dengan angkuh.
Tanpa ragu, Diandra menyambar tas mahal itu dan melemparkannya hingga mendarat dengan keras di pojok ruangan.
Ia menarik kursi tersebut dan duduk dengan menyilangkan kaki, gaya seorang bos di ruang rapat.
"Gia! Berani-beraninya kamu!" Kinanti menjerit, wajahnya merah padam.
Ferdian melangkah maju, memukul meja Diandra dengan keras. "Pindah sekarang, atau aku akan memukulmu sampai kamu benar-benar mati kali ini!"
Diandra mendongak, menatap mata Ferdian dengan dingin.
Sebuah senyum tipis yang meremehkan muncul di bibirnya.
"Maksud kamu, seperti ini?"
BUGH!
Sebelum Ferdian sempat bereaksi, kepalan tangan Diandra sudah bersarang telak di rahang bawah pemuda itu.
Pukulan itu begitu cepat dan bertenaga, memanfaatkan berat tubuh yang ia pusatkan pada ayunan bahu.
Ferdian terhuyung ke belakang, menabrak meja-meja hingga jatuh terduduk dengan bibir pecah.
Seluruh kelas ternganga. Gia yang lemah baru saja memukul raja sekolah mereka.
"Kamu—" Kalimat Ferdian terputus saat pintu kelas terbuka kasar.
Pak Danu, guru matematika yang dikenal paling kejam, masuk dengan penggaris kayu panjang di tangannya.
Melihat suasana tegang, ia hanya mendengus. Ferdian dan Kinanti segera kembali ke tempat duduk mereka dengan geram, menelan kemarahan mereka sementara waktu.
Pak Danu menatap Diandra dengan jijik. Baginya, Gia adalah noda di kelasnya.
Ia berjalan ke papan tulis, menuliskan serangkaian soal kalkulus kompleks yang biasanya hanya bisa dikerjakan oleh mahasiswa tingkat akhir.
"Gia, maju!" bentak Pak Danu.
"Kerjakan soal ini. Jangan cuma pintar bikin keributan."
Diandra berdiri perlahan.
"Anak tolol tetap saja tolol," ejek Pak Danu sambil memukul meja dengan penggarisnya.
"Paling-paling kamu cuma akan bengong di depan papan tulis."
Murid-murid lain meledak dalam tawa, termasuk Ferdian yang masih memegang rahangnya yang nyeri.
Diandra berjalan ke depan, mengambil kapur dengan gerakan elegan.
Tanpa ragu, tangannya bergerak cepat di atas papan tulis.
Bunyi kapur yang beradu dengan papan terdengar seperti detak jam yang ritmis.
Satu baris... dua baris... hingga soal tersulit itu terpecahkan dengan metode yang jauh lebih efisien daripada yang diajarkan di buku cetak sekolah.
Diandra meletakkan kapur itu kembali, lalu berbalik menatap Pak Danu yang terpaku dengan mulut terbuka.
"Sekarang siapa yang tolol, Pak?" tanya Diandra dengan suara rendah yang mengintimidasi.
Suasana kelas menjadi sangat sunyi. Pak Danu tidak bisa berkata-kata; jawaban itu sempurna, bahkan ia sendiri butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikannya.
Di tempat lain, di sebuah ruangan VVIP yang sunyi, Pratama baru saja sampai di rumah sakit.
Ia duduk di sisi ranjang, menatap tubuh istrinya yang masih terhubung dengan berbagai alat medis.
"Mas, ini aku..."
Pratama membisikkan kata-kata itu, namun pikirannya melayang kembali ke lapangan sekolah tadi.
Ia masih bisa merasakan kehangatan pelukan gadis SMA itu.
Ia masih ingat sorot matanya—sorot mata yang penuh kerinduan, otoritas, dan kepedihan yang sama persis dengan Diandra.
"Tidak mungkin," gumam Pratama sambil memijat pelipisnya.
"Dia hanya anak kecil. Tapi kenapa jantungku berdetak seolah dia benar-benar Diandra?"
Pratama menatap tangan istrinya yang kaku. Di saat yang sama, ia merasa bahwa kunci untuk mengungkap apa yang terjadi pada istrinya ada pada gadis SMA misterius bernama Gia itu.