"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI GELAP MATA SAKTI
Pandangan Arka buram. Cairan hangat yang mengalir dari matanya bukan lagi air mata, melainkan darah yang mulai mengental. Teknik Nihilitas yang ia gunakan untuk melahap energi Ki Ageng ternyata memiliki harga yang sangat mahal. Di dalam kepalanya, suara teriakan Ki Ageng masih bergema, bercampur dengan ribuan bisikan asing yang mencoba mengoyak kesadarannya.
"Tuan Muda! Arka!"
Suara Clarissa terdengar seperti datang dari dasar sumur yang sangat dalam. Arka merasakan tangan halus Clarissa mencoba menopang tubuhnya yang limbung. Wangi parfum Clarissa yang biasanya menenangkan kini malah tercium seperti bau karat besi yang tajam bagi indra Arka yang sedang kacau.
"Jangan... sentuh aku," desis Arka. Suaranya bukan lagi suaranya sendiri. Ada nada berat dan purba yang ikut bergetar di sana.
Arka mendorong Clarissa perlahan, lalu ia bersimpuh di atas tanah yang hangus. Ia bisa merasakan energi Ki Ageng yang ia hisap sedang mengamuk di dalam pembuluh darahnya. Energi itu tidak menyatu dengan miliknya, melainkan mencoba memberontak, menghantam dinding-dinding meridian tubuhnya seperti banteng liar.
KRETEK! KRETEK!
Sendi-sendi tubuh Arka mengeluarkan suara mengerikan. Di mata Clarissa, pemandangan itu sangat menakutkan. Pembuluh darah di leher dan lengan Arka menonjol keluar, berwarna hitam pekat, seolah-olah ada tinta gelap yang sedang dipompakan ke seluruh tubuhnya.
"Arka, dengerin aku! Kamu harus keluarin energi itu! Tubuhmu belum kuat menampung kultivasi tingkat Earth Realm!" Clarissa berteriak panik. Ia tahu, jika Arka tidak bisa menjinakkan energi itu, jantungnya akan meledak dalam hitungan menit.
Namun Arka tidak mendengar. Ia sedang berada di dalam ruang gelap di pikirannya. Di depannya, berdiri sosok Ki Ageng dalam bentuk bayangan hitam.
"Kau pikir kau bisa memilikiku, Bocah Sombong?" bayangan Ki Ageng tertawa sinis. "Kultivasiku adalah hasil dari lima puluh tahun pertapaan di kawah Merapi. Jiwamu akan hancur tertelan oleh kebencianku!"
Arka merasa dadanya sesak. Kebencian, keserakahan, dan memori masa lalu Ki Ageng mulai membanjiri otaknya. Ia melihat kilasan-kilasan pengkhianatan Konsorsium, wajah-wajah orang yang pernah dibunuh Ki Ageng, dan ketakutan yang paling dalam.
"Hanya... segini?" Arka menggertakkan giginya hingga berdarah. "Hanya segini kekuatan dari kakek tua yang sudah hampir mati?"
Arka memaksa Mata Saktinya untuk berputar ke arah yang berlawanan. Jika sebelumnya ia menghisap, kini ia mulai menggiling. Ia membayangkan energinya sendiri sebagai mesin raksasa yang akan menghancurkan ego Ki Ageng hingga menjadi debu energi murni.
DUAR!
Tubuh Arka menyentak hebat. Aura hitam yang tadi menyelimutinya mulai berubah warna. Hitam itu perlahan memudar, berganti menjadi warna emas yang jauh lebih pekat dan gelap dari sebelumnya—seperti emas yang terbakar.
Arka membuka matanya. Pupil matanya tidak lagi berbentuk lingkaran sempurna, melainkan memanjang seperti pupil reptil. Ia menoleh ke arah Ki Ageng yang masih tergeletak layu.
Tanpa berkata apa-apa, Arka mengangkat tangannya. Sisa-sisa energi di sekitar tempat itu, bahkan oksigen di udara, seolah tersedot ke telapak tangannya.
"Terima kasih untuk energinya, Orang Tua," ucap Arka dingin. "Sekarang, tidurlah selamanya."
POOF.
Hanya dengan satu jentikan jari yang dialiri energi baru, tubuh Ki Ageng yang sudah rapuh itu hancur menjadi debu putih, tertiup angin malam tanpa sisa.
Clarissa mundur dua langkah, tangannya menutupi mulutnya sendiri. Ia melihat Arka berdiri dengan aura yang begitu asing. Arka yang ia kenal adalah pemuda pendendam yang masih punya sisi manusiawi. Tapi sosok di depannya sekarang... terasa seperti dewa kematian yang baru saja naik tahta.
Arka berbalik menghadap Clarissa. Matanya yang merah-emas menatap tajam ke arah bayangan di atap gedung yang tadi sempat ia lihat.
"Dua orang di atas sana," Arka menunjuk ke arah kegelapan. "Kalian mau turun sendiri, atau aku yang harus menjemput kepala kalian?"
Hening sesaat. Lalu, terdengar suara tepuk tangan pelan dari kegelapan atap. Dua sosok melompat turun dengan sangat anggun, mendarat tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Mereka adalah dua tetua lainnya. Yang satu wanita paruh baya dengan kipas besi, Tetua Kedua, Nyai Ratih. Dan yang satu lagi pria kurus dengan mata yang selalu terpejam, Tetua Ketiga, Ki Sadewa.
"Menarik," Nyai Ratih membuka kipasnya, menutupi sebagian wajahnya yang dingin. "Bocah ingusan ini bisa membunuh Ki Ageng dalam kondisi terluka parah. Sepertinya kabar bahwa kau memiliki 'Mata Langit' itu benar adanya."
Ki Sadewa, yang matanya terpejam, mengendus udara. "Baunya... bau naga yang baru lahir. Tapi sayangnya, naga ini akan segera dipenggal sebelum sempat terbang tinggi."
Arka menyeringai, memperlihatkan taringnya yang sedikit memanjang. "Dua tetua sekaligus? Bagus. Aku baru saja makan hidangan pembuka, sekarang saatnya hidangan utama."
Namun, sebelum pertarungan pecah, sebuah helikopter hitam dengan logo Klan Wijaya muncul di langit, menyorotkan lampu laser tepat ke arah mereka. Suara pengeras suara menggelegar dari atas.
"Hentikan pertarungan ini! Perintah langsung dari Konsorsium Pusat: Arka dalam status 'Dilindungi' sampai persidangan Pilar diadakan!"
Arka mendongak, matanya menyipit. "Dilindungi? Mereka pikir aku butuh perlindungan?"
Clarissa segera berlari ke depan Arka, menghalangi pandangan para tetua. "Arka, tolong! Jangan lawan mereka sekarang! Ini jebakan. Jika kamu menyerang mereka di bawah lampu sorot helikopter itu, kamu akan dianggap pemberontak nasional. Asetmu bukan lagi dibekukan, tapi kamu akan diburu militer!"
Arka menatap tangan Clarissa yang gemetar di depannya. Ia bisa melihat ketulusan di mata gadis itu, tapi ia juga bisa merasakan haus darah di dalam nadinya yang terus berteriak minta dipuaskan.
"Pilih, Arka," bisik Nyai Ratih dengan nada mengejek. "Menjadi anjing peliharaan Konsorsium di bawah perlindungan klan Wijaya, atau mati di sini sebagai sampah sejarah?"
Tangan Arka mengepal kuat. Energi di sekitarnya mulai mendidih kembali. Namun, di saat yang sama, ia teringat wajah ibunya yang masih terbaring di dalam. Jika gedung ini runtuh karena pertarungan tingkat tinggi ini, nyawa Maria akan terancam.
"Tunggu saja," Arka menurunkan tangannya. Auranya perlahan meredup, meski matanya masih merah. "Aku akan datang ke persidangan itu. Dan saat aku datang, aku bukan untuk diadili... tapi untuk menjadi hakim bagi kalian semua."
Nyai Ratih tertawa dingin, lalu menghilang bersama Ki Sadewa ke dalam kegelapan secepat mereka datang.
Arka ambruk. Kali ini benar-benar kehilangan kesadaran. Ia jatuh tepat ke pelukan Clarissa yang segera berteriak meminta bantuan medis dari helikopter.
Malam itu, Jakarta gempar. Bukan karena gempa bumi, tapi karena hilangnya salah satu Tetua Gunung dari muka bumi. Dan di balik layar, Konsorsium mulai ketakutan. Mereka sadar, mereka tidak sedang menghadapi seorang pemberontak... mereka sedang menghadapi sebuah bencana yang mereka ciptakan sendiri.
Arka terbangun di sebuah ruangan serba putih yang dijaga ketat. Bukan rumah sakit, tapi penjara bawah tanah milik Klan Wijaya. Di meja samping tempat tidurnya, ada sebuah surat dengan cap darah: "Ibumu aman bersamaku, tapi untuk berapa lama itu tergantung pada jawabanmu di Persidangan Tujuh Pilar besok. - Kakek."
semangat kak👍