black hole yang menjadi legenda pembunuhan di masanya kini sedang berbaring lemah menahan rasa sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
" dalam hidup ini aku sudah banyak melakukan dosa, dan sudah tidak terhitung berapa nyawa yang aku hilangkan."
" jika sakit ini menjadi menjadi penebus atas dosaku, maka aku bersumpah di kehidupan keduaku aku akan menjadi seorang yang lebih baik dan tidak akan menghilangkan nya orang lagi kecuali itu terpaksa. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iqbal Pertha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
istri cantik anak cantik rumah baru
" Wira bagai mana tentang penampilanku." tanya ayu pada Wira.
" istriku akan selalu cantik mau memakai baju seperti apapun maka baju itu akan tampak mahal dan orang yang memakainya akan sangat cantik." ucap lugas Wira yang sangat mengagumi kecantikan Ayu.
" ayah apa aku cantik." gadis kecil yang memang begitu cantik siapa lagi jika bukan Sasa.
" anak ayah akan selalu cantik dan teramat cantik ." puji Wira yang tau sejak hubungan mereka membaik Sasa tidak mau kalah saing merebut perhatian Wira dari ayu ibunya.
" aku memang cantik, karena aku anak ayah yang paling cantik." ucap Sasa.
Sasa mendengar itu sangat jengkel mana bisa dia kalah bersaing dengan anaknya sendiri.
" ayah lebih cantik mana aku anak ayah atau mama." ucap Sasa.
" kalian berdua cantik, kalian orang orang spesial dalam hidup ayah dan ayah adalah orang beruntung bisa memiliki kalian. ayah sayang kalian." ucap Wira dengan hangat yang benar benar sampai di hati mereka berdua.
" ayo kita turun seharusnya mobil jemputan nya sudah datang." ucap Wira.
" ayah aku mau gendong." ucap Sasa Wira tidak menolak dan beralasan segera membawa Sasa dalam gendongannya.
" mama tidak tau jika sekarang anak mama ini begitu manja." ucap ayu kesal merasa tersaingi.
" biarin kenapa mama iri...." ujar Sasa.
" what....." Sasa di buat tak percaya.
" udah kenapa ribut, ayo sayang." ucap Wira kemudian menggandeng lembut tangan Ayu.
Setibanya di hotel dimana acara itu diadakan rupanya Wira dan ayu sudah di tunggu oleh firman, Diana dan seluruh keluarga dari Diana.
" terimakasih kak sudah mau datang sebagai keluargaku aku merasa aku tidak sendiri." ujar firman.
" laki laki harus bisa berdiri sendiri dan menjadi kuat." ucap Wira.
" selamat ya firman dan juga Diana...." ucap ayu.
" terimakasih kakak ipar..." ucap firman dan Diana hampir bersamaan.
" selamat datang nak Wira." ujar luhur ayah Diana.
" terimakasih....." ucap Wira berpelukan dengan ayah Diana.
Acara penyambutan dan formalitas itu berjalan syahdu dan penuh kehangatan, sepertinya status sosial tidak menjadikan mereka untuk berjarak, semua bercengkrama dengan sangat baik, apa lagi di tambah bubu lucu nan gemas tingkah dari Sasa, membuat suasana semakin hidup.
acara itu berjalan mulus tidak ada hambatan, Wira dan keluarganya pun menikmati acara itu, kejadian kejadian yang biasa terjadi tidak terjadi di sana. Entah karena kedekatan Wira dengan keluarga mempelai wanita membuat orang orang itu sedikit sungkan, atau memang karena semua yang datang adalah orang orang yang tau cara bersosial tanpa memandang kasta dan status sosial.
" nak Wira Diana sudah menceritakan semuanya, jika memang nak Wira suka dengan rumah itu nak Wira bisa memilikinya dengan harga yang bisa nak Wira tentukan sendiri berapapun nominalnya saya akan menerimanya." ucap ayah Diana.
" rumah apa yah...." tanya ayu.
" oh istri nak Wira belum tau...." ujar ayah Diana.
" begini sayang kita sebelumnya sempat membicarakan tentang rumah baru kan, hari itu setelah kita mengobrol, aku mencoba berbicara dengan firman, eh ternyata ada Diana dan diana mendengar obrolan kita dan sampailah pada rumah. maaf ya saat itu aku lupa untuk membicarakan nya dengan mu." ucap Wira menyesal karena teledor.
" oh... Jadi kamu mau beli rumah dari om Budi." tanya ayu.
" itu jika kamu setuju." ucap Wira.
" nak Wira dan istri mengobrol lah dulu jika sudah mendapatkan keputusan langsung saja hubungi firman saya sudah serahkan sepenuhnya urusan rumah itu padanya." ucap ayah Diana.
" terimakasih." jawab Wira dan ayu.
...****************...
Hari ini firman, Diana, Wira, ayu dan Sasa pergi melihat rumah yang di maksud, ketika sampai di rumah yang di maksud rumah itu cukup besar dengan halaman cukup luas dan hijau suasananya juga asri, tampak dari luar rumah ini sudah merupakan golongan menengah ke atas.
" bagai mana kak apa rumah ini cocok." tanya firman pada Wira.
" jangan tanya aku coba tanya kakak iparmu." ucap Wira.
" bagai mana kakak ipar." lanjut firman.
" rumah ini sangat besar dan bagus bisa di katakan rumah impian, aku suka dan merasa cocok. Firman berapa harga yang harus aku bayar untuk rumah ini." tanya ayu.
" bagus kakak ipar memang memiliki penilaian yang tajam, seperti yang ayah katakan, berapapun nominalnya ayah akan menerimanya dengan senang hati." ucap firman.
" mana boleh seperti itu hal ini tidak ada dalam etika transaksi jual beli, aku merasa tidak enak jika seperti ini." ucap ayu.
" bagai mana jika aku sebutkan harganya." ujar firman.
" ya sebutkan." ucap ayu.
" jika di total semua rumah beserta isinya ini akan mencapai sekitar 1M tapi karena ini adalah kak Wira dan kakak ipar maka aku berikan rumah ini seharga 500jt." ucap firman.
" em 100 JT bagai mana." ayu.
" 450." firman.
" 120jt itu batasnya." ayu.
" tambah sedikit kak untuk calon keponakan mu 300jt." ucap firman
" hah baik lah 150jt, itu sudah akhir." ucap Ayu.
" dill...." ujar firman.
Firman bisa memberikan rumah ini di angka 100 sebenarnya tadi. hanya saja dia tau ayu akan menolak dan merasa di remehkan. Jadi firman membuka harga selangit agar terjadi tawar menawar hingga mendapat harga yang pas.
" ayah mama....." suara Sasa datang bersama Diana.
" Sasa dari mana sayang." tanya Wira.
" Sasa barusaja berkeliling bersama Tante Diana." ujar Sasa.
" Diana.. Maaf ya jika Sasa merepotkan mu." ucap ayu.
" santai saja kak, Sasa anak yang baik tidak merepotkan sama sekali." ucap Diana.
" ayah... Mama... Sasa suka rumah ini apa Sasa bisa memiliki rumah seperti ini nanti." ucap Sasa.
" mengapa harus nanti sekarang pun bisa. " ujar firman.
" memang om firman mau membelikannya untuk Sasa." ujar Sasa.
" boleh saja, tapi panggil om firman ayah dan katakan om firman lebih tampan dari ayah Wira." ucap firman.
" tidak mau, Sasa tidak mau menukar ayah Sasa dengan rumah." ucap Sasa lalu dengan erat memeluk Wira.
Semua yang di sana tertawa riang melihat tingkah lucu manja Sasa.
Setelah harga di sepakati ayu dan firman mulai melakukan pembayaran dan penyerahan dokumen rumah itu. Dan mulai hari ini rumah itu sudah menjadi milik ayu.
Keesokan harinya ayu dan Wira memutuskan untuk pindah kerumah itu, jadi setelah pulang dari rumah baru mereka sibuk mengemas barang barang dan mengepaknya menjadi beberapa bagian agar mudah di bawa dan menatanya kembali.
Tidak banyak yang harus di bawa itu hanya pakaian dan barang barang yang berharga yang tidak banyak jumlahnya, karena di rumah baru yang sudah mereka beli semuanya sudah lengkap, jadi ayu sudah tidak perlu pusing untuk mengisi atau mendekorasi rumah itu lagi.