NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Gamelan ditabuh semakin cepat. Bunyi kendang beradu dengan lengkingan slompret yang melengking tinggi, menciptakan suasana magis yang kental.

Di tengah lingkaran penonton, para penari Jathilan mulai bergerak dengan ritme yang mengguncang, sementara sang Pembarong dengan topeng Singa Barong raksasanya berputar-putar gagah, memamerkan kekuatan leher yang mengundang decak kagum.

Ki Lurah Arjapati tertawa lebar, tampak puas melihat kemeriahan itu. Ia sesekali melirik ke arah Gandraka, berharap bocah itu terhibur.

Dan kali ini, harapannya tak meleset.

Gandraka duduk tegak, matanya berbinar mengikuti setiap gerakan. Tatapannya tidak lagi dingin seperti biasa, melainkan penuh ketertarikan. Ia memperhatikan dengan saksama—bukan hanya gerakan para penari, tetapi juga aliran yang tak kasatmata di balik pertunjukan itu.

“Ayah,” bisiknya pelan, tanpa mengalihkan pandangan. “Warok itu… ia menjaga keseimbangan mereka. Darah ayam hitam yang ia gunakan bukan untuk memanggil, tapi untuk menenangkan.”

Ki Bagaskara melirik sekilas ke arah Warok di pinggir lapangan—seorang pria tua dengan kumis tebal dan sorot mata tajam yang berdiri tenang sambil sesekali menggerakkan cambuknya.

“Hmm,” jawabnya singkat.

Nyai Lodra yang duduk di samping Gandraka memperhatikan anaknya dengan diam. Ada sesuatu yang berbeda—bukan ancaman, bukan pula keganjilan. Lebih seperti… ketertarikan yang dalam.

Di tengah pertunjukan, sang Pembarong mengangkat topeng Singa Barong tinggi-tinggi. Bulu meraknya bergetar, memantulkan cahaya obor, sementara langkahnya tetap kokoh dan terkendali. Para penonton bersorak, beberapa anak kecil bertepuk tangan dengan riang.

Suasana tetap hidup. Tetap meriah.

Tak ada gangguan. Tak ada kejanggalan.

Hanya seni yang berjalan sebagaimana mestinya.

Gandraka sedikit tersenyum.

“Indah…” gumamnya lirih. “Mereka tidak sekadar menari. Mereka… menyatu.”

Nyai Lodra mengelus pelan rambut Gandraka. “Kau menyukainya?”

Gandraka mengangguk kecil. “Aku bisa merasakan getarannya. Tidak liar… tapi juga tidak sepenuhnya jinak.”

Ki Bagaskara memperhatikan itu dalam diam. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia melihat anaknya menikmati sesuatu yang bukan berasal dari kegelapan atau darah.

Dan itu… justru membuatnya sedikit lega.

Pertunjukan terus berlangsung hingga larut malam. Gamelan tetap mengalun, langkah para penari tetap terjaga, dan warga desa larut dalam kegembiraan yang sederhana.

Di bawah cahaya obor dan bulan, untuk sesaat… kehidupan terasa benar-benar damai.

Keesokan paginya, kabut tipis masih menggantung di pinggiran hutan. Cahaya matahari yang menembus sela pepohonan tampak pucat, seakan enggan menyentuh tanah di tempat itu.

Seorang pria berseragam senopati telik sandi berdiri tegak, menatap ke arah hutan dengan sorot mata tajam. Dialah Rangga Jayantaka. Di sampingnya, Ki Lurah Arjapati berdiri dengan gelisah, ditemani tiga orang prajurit yang sejak tadi hanya saling bertukar pandang.

Jayantaka melangkah pelan, ujung kakinya menyentuh tanah yang tampak biasa saja. Ia berhenti, lalu menarik napas dalam-dalam.

“Hm… aneh,” gumamnya lirih. “Baunya masih tercium jelas… tapi aku tak bisa melihat jejaknya.”

Ia berjongkok, menyentuh tanah dengan ujung jarinya. Sekilas tak ada yang berbeda—tanahnya kering, rerumputan tumbuh seperti biasa. Namun bagi seseorang sepertinya, ada sesuatu yang tertutup… sesuatu yang sengaja disembunyikan.

“Ki Lurah,” ucapnya tanpa menoleh. “Kau yakin di sini tempatnya?”

Ki Lurah Arjapati menelan ludah. “Sa-saya yakin, ki Rangga. Saya melihatnya sendiri… darah di mana-mana… tubuh berserakan…”

Jayantaka berdiri kembali. Tatapannya menyapu area sekitar, lebih tajam dari sebelumnya.

“Kalau begitu,” lanjutnya pelan, “yang menghapus jejak ini bukan orang biasa.”

Angin berembus ringan, membawa aroma samar yang masih tertinggal di udara. Bagi orang lain, itu mungkin tak berarti apa-apa. Tapi bagi Jayantaka… itu seperti jejak yang berbisik.

“Bukan hanya kuat,” tambahnya, suaranya kini lebih berat. “Tapi juga rapi. Mereka tahu bagaimana menutup bekasnya… hingga tak menyisakan apa pun.”

Salah satu prajurit maju selangkah. “Apakah ini ulah bandit,ki Rangga?”

Jayantaka menggeleng perlahan.

“Bandit tidak bekerja seperti ini.”

Ia kembali menatap ke arah dalam hutan. Matanya menyipit, seolah mencoba menembus sesuatu yang tak kasatmata.

“Ini… seperti seseorang yang tidak ingin ditemukan,” gumamnya. “Atau… seseorang yang sudah terbiasa menghilang.”

Jayantaka melangkah semakin dalam ke hutan. Bagi Ki Lurah dan para prajurit, tak ada yang tampak janggal—semuanya terlihat seperti hutan biasa. Namun bagi Jayantaka, setiap detail terasa berbicara.

Indra penciumannya menangkap sisa bau yang samar, seperti jejak yang belum sepenuhnya hilang. Matanya menyapu sekeliling dengan tajam, lalu berhenti pada sesuatu yang tak kasatmata bagi orang awam—susunan pepohonan yang terlalu rapi di tengah hutan liar.

Ia mendekat.

Satu per satu batang pohon ia periksa. Jemarinya meraba permukaan kulit kayu, menemukan goresan-goresan tipis yang nyaris tak terlihat. Ia beralih ke ranting yang patah, memperhatikan arah patahannya. Lalu ke semak yang tersibak, mengamati bagaimana daun-daunnya masih menyisakan bentuk yang tidak alami.

Setiap detail ia sentuh. Ia rasakan. Ia simpan.

Hingga akhirnya, setelah merasa cukup, Jayantaka duduk bersila di atas tanah. Matanya perlahan terpejam. Napasnya ditarik dalam, lalu dilepas perlahan.

Di dalam pikirannya, semua potongan itu mulai tersusun.

Goresan demi goresan.

Patahan demi patahan.

Sibakan demi sibakan.

Semua terhubung.

Dan perlahan… terciptalah sebuah gambaran utuh.

Dalam benaknya, hutan yang sunyi itu kembali hidup. Ia melihat bayangan pergerakan—orang-orang yang berlari, arah serangan, titik jatuhnya tubuh. Ia merasakan tekanan, kecepatan, bahkan jeda di antara setiap benturan.

Pembantaian itu terulang kembali… namun kali ini hanya dalam imajinasinya.

Matanya sedikit bergetar.

“Cepat…” gumamnya pelan.

Dalam bayangan itu, para penyerang tumbang satu per satu tanpa sempat memberi perlawanan berarti. Gerakan lawan mereka terlalu bersih, terlalu terlatih.

“Bukan satu…” lanjutnya lirih. “Dua orang.”

Ia membuka mata perlahan.

Tatapannya kini berubah. Lebih dalam. Lebih tajam.

“Dan mereka…” suaranya nyaris berbisik, “…tidak bertarung. Mereka… mengeksekusi.”

Dari semua petunjuk yang ia dapatkan, Jayantaka menarik satu kesimpulan yang tak terbantahkan—susunan pohon yang terlalu rapi itu bukanlah kebetulan. Itu adalah lapisan penutup. Sebuah ilusi yang sengaja diciptakan untuk mengaburkan kenyataan.

Ia kembali memejamkan mata. Napasnya diperlambat, ditarik dalam, lalu dilepas dengan teratur. Bibirnya mulai bergerak, melafalkan mantra dengan suara rendah dan terukur, seolah setiap suku kata mengikat sesuatu yang tersembunyi di bawah permukaan.

Beberapa saat kemudian, ia membuka mata.

Tangannya perlahan menyentuh tanah. Jemarinya menekan permukaan yang tampak biasa, lalu telapak tangannya diputar perlahan, seperti mengunci sesuatu yang tak terlihat.

“Terbukalah…” ucapnya pelan, namun penuh tekanan.

Sekejap, angin di sekitar mereka berhenti.

Tanah di bawah telapak tangan Jayantaka bergetar halus. Lalu, seperti tirai yang disibak, susunan pepohonan yang tadi terlihat rapi mulai berubah. Bayangan-bayangannya beriak, lalu memudar.

Satu per satu, ilusi itu runtuh.

Yang tersembunyi akhirnya menampakkan diri.

Di hadapan mereka, tanah yang tadinya tampak utuh kini terlihat berbeda—warna yang sedikit lebih gelap, tekstur yang lebih padat. Jejak yang sebelumnya tak terlihat mulai muncul perlahan, seperti luka yang dipaksa terbuka kembali.

Ki Lurah Arjapati mundur setengah langkah, napasnya tercekat.

“Ini… ini tempatnya…”

Jayantaka tak menjawab. Tatapannya terpaku pada tanah yang kini terkuak. Ia bisa merasakan sisa energi yang masih tertinggal—dingin, berat, dan penuh niat.

“Rapih sekali…” gumamnya lirih. “Bahkan untuk menyembunyikan pembantaian sebesar ini… mereka hampir berhasil menghapus semuanya.”

Ia berdiri perlahan, matanya menyapu sekeliling dengan kewaspadaan yang kini meningkat.

“Orang seperti ini…” lanjutnya pelan, “…tidak akan tinggal diam terlalu lama.”

1
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg otorrrr
🆓🇵🇸 Jenahara
🔥🔥🔥
🆓🇵🇸 Jenahara
semakin seru 🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll...
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!